
Apapun dzikir yang kamu praktikkan, ia akan memberimu
manfaat yang tersimpan di dalamnya. Apabila dzikir disertai dengan persiapan
batin, ia akan mengantarkan hamba kepada futuh (terbukanya hati akan hal-hal
ghaib), tetapi sesuai dengan kapasitas hamba yang berdzikir tersebut.
Imam al-Ghazali mengatakan,
“Pada hakikatnya, dzikir adalah suatu kondisi spiritual di
mana Subjek yang diingat dan disebut menguasai hati, sedangkan orang yang
berdzikir terhapus, tidak mengada dan lenyap.”
Imam al-Ghazali melanjutkan, “Namun, hakikat dzikir demikian
dilapisi oleh tiga lapis penutup. Sebagian lapisnya lebih dekat ke inti
daripada sebagian yang lain dan inti itu berada di dalam tiga lapis tersebut.”
Menurut beliau, tiap-tiap lapis penutup itu justru menjadi
anugerah karena keberadaannya sebagai jalan menuju inti.
Lapisan terluar adalah dzikir lisan saja, di mana orang yang
berdzikir tak henti-hentinya menyebut dengan lisannya. Dia berjuang
menghadirkan hati Bersama dzikirnya, karena hati perlu dikondisikan agar
seirama hingga betul-betul dalam kondisi hadir bersama dzikir. Jika hati
dibiarkan lepas dengan tabiatnya sendiri, ia pasti akan bebas mengembara dalam
pelbagai macam pikiran. Hati harus dihadirkan agar mengikuti lisan dalam
berdzikir sehingga cahaya hati akan membakar habis syahwat dan setan dalam
diri.
Hati kemudian mendominasi dalam dzikir sehingga lidah akan
menjadi lebih lemah. Bila sudah sampai di keadaan ini, tubuh dan jiwa akan
dipenuhi dengan Cahaya, hati akan tersucikan dari selain Allah. Pada momen
subtil ini, bisikan dan godaan akan terhenti dan tidak ada tempat tinggal bagi
iblis. Hati menjadi wadah yang menampung anugerah luar biasa yang datang dari
Allah (waridat) dan cermin mengkilap yang mampu memancarkan penampakan atau
manifestasi (tajalliyat) dan pengetahuan ilahiah (ma’arif ilahiyah).
Ketika dzikir sudah mengalir ke dalam hati dan menyebar ke
seluruh tubuh, setiap anggota tubuh akan berdzikir kepada Allah sesuai dengan
keadaan spiritual masing-masing.
Al-Jariri bercerita, “Di antara sahabat kami ada seorang
laki-laki yang sering berkata, ‘Allah, Allah.’ Pada suatu hari, sebatang pohon
jatuh menimpa kepalanya hingga menyebabkan tengkoraknya retak. Darahnya tumpah
ke tanah dan menuliskan kalimat, ‘Allah, Allah.’”
Dikutip dalam kitab: Miftah al Falah wa Misbah al-Arwah ~ Ibnu Athaillah as-Sakandari







0 Post a Comment:
Posting Komentar