
“Bermegah-megahan telah
melalaikan kamu”
(QS. At-Takatsur: 1)
Sesungguhnya
ghaflah (lalai) adalah racun yang
sangat mematikan, dan penyakit yang sangat berbahaya, yang dapat menguasai
hati, merasuk mencengkram jiwa, serta melumpuhkan anggota badan. Lalai adalah
salah satu penyakit hati yang paling berbahaya yang menimpa setiap manusia dan
umat. Ia adalah penyakit yang amat membinasakan, yang membunuh kebaikan dan
penghancur semangat. Ia adalah penyakit yang keras, yang membuat seseorang
kehilangan tujuannya, dan menghabiskan energinya. Jika ia seorang alim, maka ia
akan meninggalkannya dalam keadaan jahil. Jika ia mengenai orang kaya, niscaya
ia akan meninggalkannya dan jatuh kepada miskin. Jika ia menimpa orang yang
terhormat, niscaya ia akan meninggalkannya menjadi hina.
Menurut
At-Thabathaba’i mengatakan bahwa lalai adalah unsur utama dari setiap kesesatan
dan kebatilan. Al Ragib al-Asfahani mengurai lalai itu adalah kelupaan yang
menimpa seseorang karena kurang hati-hati dan waspada. Bahkan lalai itu bisa
menyebabkan seorang muslim menjadi kafir sebagaimana dikatakan oleh Syekh
Mutawalli Sya’rawi terjadinya kekafiran pada diri manusia adalah karena adanya
faktor kelupaan (lalai) yang menjadi salah satu watak asli manusia. Kelupaan
itulah yang menyebabkan pudarnya iman, bahkan iman akan menjadi sirna jika
kelalaian itu terjadi secara terus-menerus. Hal ini menurut Al Sya’rawi sejalan
dengan kata kufr yang berarti
menutupi. Dengan kata lain lalai itulah yang menyebabkan orang menjadi kafir.
Dalam
pandangan psikologi Islam, lalai itu termuat dalam persoalan gangguan
kepribadian (psikopatologi) Islam.
Menurut disiplin ilmu ini, lalai adalah sikap atau pelaku yang sengaja
melupakan atau tidak memperhatikan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari esensi kehidupannya. Secara fitrah, manusia berpeluang
untuk lupa, ini tidak termasuk dalam kategori psikopatologi Islami, meskipun
masuk dalam kategori amnestik, atau bahkan kelupaan itu tidak dapat membebaskan
seseorang dari tuntutan dan kewajiban sampai ia sadar kembali. Kelupaan yang
menjadi bahasan psikopatologi islami yaitu kelupaan yang dilakukan dengan
sengaja terhadap suatu keyakinannya, baik itu nilai-nilai dasar kehidupan
maupun berkaitan dengan pandangan hidupnya. Karena ketika seseorang melupakan
keyakinan, nilai-nilai hidup dan pandangan hidupnya maka segala tindakannya
menjadi tidak teratur, merugikan dan dapat menjerumuskannya kedalam kehancuran.
Mayoritas
manusia dalam keadaan lalai, berkata Al Imam Ibnul Qayyim, “Dan barangsiapa
memperhatikan keadaan manusia, maka dia pasti dapatkan mereka seluruhnya
kecuali sedikit saja, merupakan golongan orang-orang yang hatinya lalai dari
mengingat Allah Swt, mereka mengikuti hawa nafsunya, sehingga urusan-urusan dan
kepentingan mereka terabaikan, yaitu mereka yang kurang perhatian terhadap
hal-hal yang mendatangkan manfaat dan membawa kemaslahatan baginya, sedang
mereka menyibukkan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat
baginya, bahkan justru mendatangkan malapetaka bagi mereka, baik sekarang
maupun di masa mendatang.
Kita perlu merenung kembali seputar hal-hal kecil
yang tanpa kita sadari telah melenyapkan waktu yang begitu berharga dalam hidup
ini. Waktu kita seringkali terampas begitu saja oleh perkara-perkara kecil
disebabkan ketidak mampuan dalam mengendalikan diri. Ada saja godaan untuk
menjerumuskan kita, ke lembah nestapa yang membuat kita merugi kemudian.
Perenungan paling sederhana yang melekat dengan
keseharian kita misalnya saat berbelanja. Niat ke swalayan untuk membeli produk
A saja. Namun sesampai di sana, kita malah menjelajah ke mana-mana. Bahkan
tergoda dengan promo atau potongan harga. Dan pada akhirnya dengan niat
ingin membeli satu produk malah menjadi membeli beberapa produk. Bahkan ada
juga sudah berniat membeli produk A dan yang terbeli produk B dan C.
Contoh lainnya ialah saat kumandang azan. Tak
sedikit dari kita yang tidak segera berwudhu ketika pelantang masjid menyerukan
panggilan shalat karena kita lebih memprioritaskan urusan kerja atau pertemuan
dengan sejumlah teman. Belum lagi bila Ramadhan tiba. Kita mengabaikan salat
maghrib berjamaah demi menyantap hidangan berbuka puasa bersama kawan lama
maupun keluarga.
Itulah sejumlah bukti paling subtil bahwa manusia
amat mudah terlena atau lalai atas tujuan utama hidupnya. Lalai tidak semata
dimaknai dengan istilah lengah, kurang hati-hati sehingga meninggalkan
kewajiban dan lain-lain.
Dalam Al-Qur’an, setidaknya ada tiga term untuk
mendefinisikan kata lalai. Ketiga term tersebut yaitu al-ghaflah (QS.
Al-A’raf: 197; QS. An-Nahl: 108; QS. Maryam: 39; QS. Al-Anbiyaa: 97), al-nisyan (QS.
Al-Kahfi: 61) dan al-sahwi (QS. Al-Maa’uun: 5; QS.
Adz-Dzariyat: 11).
Meskipun ketiganya sama-sama memiliki arti lalai, tapi
tetap terdapat perbedaan makna. Al-ghaflah merupakan lalai dari
kebenaran. Artinya, seseorang mengetahui kebenaran itu dengan sadar, tetapi ia
tetap dengan kelalaiannya.
Adapun al-nisyan merupakan
suatu keadaan yang di luar kesanggupan manusia. Artinya, mereka tidak sadar
telah melakukan kesalahan. Dengan kata lain, mereka betul-betul lupa.
Selanjutnya, al-sahwi merupakan lalai yang berarti seseorang
yang hatinya menuju kepada yang lain, sehingga pada akhirnya ia melalaikan
tujuan pokoknya.
Lalai (ghaflah) terpuji ialah
lalai dan tidak peduli terhadap maksiat, kemungkaran dan segala hal yang tidak
Allah ridai. Sedangkan lalai (ghaflah) tercela adalah lalai dan tidak
peduli pada perintah Allah, enggan untuk taat pada Allah dan tidak pernah
mengingat-Nya.
Paling tidak, ada sepuluh sebab yang menjadikan
orang lalai: (1) Ingin cepat-cepat melepaskan lelah (tidak mau gerak); (2)
Bersemangat yang berlebihan untuk menggapai kelezatan dunia; (3) Hilangnya
perasaan bersalah ketika melakukan perbuatan maksiat/dosa; (4) Mengikuti hawa
nafsu; (5) Sibuk dengan pekerjaannya; (6) Permainan (semacam game
online) dan segala bentuk kesenangan yang berlebihan; (7) Ingin memanjakan
diri dengan gaya hidup yang mewah; (8) Lebih condong ke dunia; (9) Bergaul
dengan orang-orang yang lalai; dan (10) Terlalu banyak mengerjakan hal
mubah.
Sebagaimana hukum sebab-akibat, sifat lalai yang
tercela tentu mendatangkan konsekuensinya. Lalai mengakibatkan seseorang berhak
mendapatkan kerugian di dunia seperti dijauhkan dari rahmat Allah Swt.,
dipalingkan untuk bisa memahami ayat-ayat Allah, doanya dikembalikan atau tidak
dikabulkan, memiliki akhir kehidupan yang buruk (su’ul khatimah) hingga dimasukkannya ke dalam neraka jahanam. Naudzubillahi
min dzalik.
Terdapat beberapa jenis lalai yang patut dijauhi oleh seorang
muslim. Antara lain: Pertama, lalai dengan adanya kehidupan akhirat.. Firman
Allah: “Mereka mengetahui yang lahir
(tampak) saja dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka
lalai.” (QS. Al Rum: 7). Menurut ulama tafsir ayat ini menggambarkan model
kehidupan orang kafir yang memandang kehidupan itu menurut kegunaan dan manfaat
yang nyata saja. Seperti bekerja, bercocok tanam, berdagang dan semua yang
berhubungan dengan urusan dunia. Setelah itu kehidupan diakhiri dengan
kematian. Pada praktiknya model kehidupan orang kafir ini juga telah banyak
menjangkiti kehidupan orang muslim sehingga aktivitas hidupnya setiap saat
hanya untuk mengumpulkan bekal di dunia berupa kekayaan yang berlimpah,
kekuasaan, jabatan, status sosial, tak peduli bagaimana cara meraihnya.
Orientasinya hanya dunia dengan segala kemegahannya.
Orang yang lalai dengan kehidupan diakhirat akan diancam oleh Allah dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu. Dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami mereka itu tempatnya adalah neraka disebabkan apa yang mereka telah lakukan”
Kedua, lalai menunaikan kewajiban beribadah kepada Allah swt.
Diriwayatkan pernah terjadi saat ibadah jumat berlangsung dan Rasulullah Saw
sedang menyampaikan khutbah. Tiba-tiba masuk ke kota Madinah para kafilah
dagang yang membawa barang-barang. Para sahabat satu demi satu meninggalkan
masjid menuju pedagang itu guna mendapatkan barang-barang yang amat mereka
butuhkan. Ibnu Abbas menceritakan bahwa sahabat yang tersisa dalam mendengarkan
Nabi Saw khutbah hanya dua belas orang.
Melihat kenyataan ini Rasulullah Saw prihatin namun tetap melanjutkan khutbahnya, lalu turunlah firman Allah Swt: “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari jumat maka bersegeralah kamu pada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Dan apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi ini; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.”
Menurut para ulama tafsir meski ayat di atas berkenaan dengan ibadah sholat jumat namun berlaku pula untuk waktu-waktu sholat yang lain. Dengan kata lain hendaklah saat azan diperdengarkan segeralah untuk menunaikan ibadah sholat tersebut. Ancaman bagi mereka yang meninggalkan sholat jumat seperti disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda di atas mimbarnya: “Pasti akan ada segolongan orang yang meninggalkan sholat jum’at, lantas Allah Swt kunci hati-hati mereka sehingga menjadi orang-orang yang lalai”.
Ketiga, lalai dalam menuntut ilmu agama. Ilmu agama di sini
adalah ilmu yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Imam Abu Hanifah Rahimahullah
mengatakan bahwa manfaat ilmu agama bagi sesorang adalah untuk mengenali mana
yang baik bagi dirinya dan mana yang buruk untuk dijauhinya. Ilmu agama adalah
‘jembatan’ menuju ketakwaan yang akhirnya menjadi kemuliaan dan keselamatan di
dunia dan di akhirat.
Lantas,
kalau hati kita lalai, bagaimana cara mengobatinya?
Syekh Muhammad Shaleh Al-Munajjid membagikan
kiat-kiat untuk mengobati hati yang lalai. Caranya adalah sebagai berikut.
1. Selalu basahi
lisan dengan zikir. Zikir mempunyai pengaruh besar dalam menangkal kelalaian.
Berzikirlah dengan penuh rasa takut dan kerendahan diri demi mengharap rahmat
Allah baik di waktu pagi maupun petang.
2. Berdoa kepada
Allah . Doa dengan sendirinya akan menghilangkan sikap lalai dan rasa
malas Biasakan memanjatkan doa-doa yang shahih sesuai contoh dari Rasulullah
saw. Salah satu doa yang berkaitan tentang masalah ini adalah: Ya Allah, aku memohon
perlindungan kepadaMu dari kelemahan, rasa malas, kebakhilan, pikun, kerasnya
hati, lalai, kehinaan, kemiskinan, dan aku memohon perlindunganMu dari
kefakiran, kekufuran, kesyirikan, nifak, sum'ah (rasa ingin dipuji) dan riya'.[4]
3.
Membiasakan salat malam. Abdullah bin Amr bin
Ash berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa (melakukan) salat malam
dengan sepuluh ayat maka tidak akan ditulis sebagai orang-orang yang lalai,
siapa (yang salat malam) membaca seratus ayat akan ditulis sebagai orang-orang
yang taat, siapa yang (salat malam) membaca seribu ayat maka akan dijadikan
sebagai orang-orang yang berkecukupan".[5]
4.
Rutin melakukan
ziarah kubur. Dalam satu riwayat hadits disebutkan bahwa Rasulullah sempat
melarang umatnya untuk melakukan ziarah kubur. Namun setelah melihat
manfaatnya, Rasulullah membolehkan sebab hal tersebut dapat melunakkan hati dan
membuat air mata berlinang serta mengingat akhirat.
5.
Memperhatikan
kehidupan dunia ini serta mengingat surga dan neraka. Dunia tidaklah selalu
menawarkan kesenangan bahkan kesenangannya bersifat sementara. Dari lapang
menjadi sempit, dari terhormat menjadi terhina, dari kaya menjadi miskin dan
sebagainya. Sikap cinta dunia akan mengantarkan kita ke dalam neraka
sedangkan mencukupkan diri dari dunia akan menjadikan kita masuk ke surga.
Berangkat dari perenungan sederhana dan berkaca
pada realita, sudah sewajarnya kita bersikap hati-hati dan peduli dalam
menjalani kehidupan agar tidak tergolong orang yang lalai. Lalai memang suatu
kewajaran pada hati manusia. Namun, kehadirannya bisa ditangkis oleh sejumlah
upaya penghambaan kepada Allah dan keteladanan Rasulullah.
“Ya
Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah” (QS. Al-Baqarah: 286)







0 Post a Comment:
Posting Komentar