"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Senin, 05 Januari 2026

Tabiat Lalai Manusia. Simak Penjelasannya!


“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu”

(QS. At-Takatsur: 1)

 

Sesungguhnya ghaflah (lalai) adalah racun yang sangat mematikan, dan penyakit yang sangat berbahaya, yang dapat menguasai hati, merasuk mencengkram jiwa, serta melumpuhkan anggota badan. Lalai adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya yang menimpa setiap manusia dan umat. Ia adalah penyakit yang amat membinasakan, yang membunuh kebaikan dan penghancur semangat. Ia adalah penyakit yang keras, yang membuat seseorang kehilangan tujuannya, dan menghabiskan energinya. Jika ia seorang alim, maka ia akan meninggalkannya dalam keadaan jahil. Jika ia mengenai orang kaya, niscaya ia akan meninggalkannya dan jatuh kepada miskin. Jika ia menimpa orang yang terhormat, niscaya ia akan meninggalkannya menjadi hina.

Menurut At-Thabathaba’i mengatakan bahwa lalai adalah unsur utama dari setiap kesesatan dan kebatilan. Al Ragib al-Asfahani mengurai lalai itu adalah kelupaan yang menimpa seseorang karena kurang hati-hati dan waspada. Bahkan lalai itu bisa menyebabkan seorang muslim menjadi kafir sebagaimana dikatakan oleh Syekh Mutawalli Sya’rawi terjadinya kekafiran pada diri manusia adalah karena adanya faktor kelupaan (lalai) yang menjadi salah satu watak asli manusia. Kelupaan itulah yang menyebabkan pudarnya iman, bahkan iman akan menjadi sirna jika kelalaian itu terjadi secara terus-menerus. Hal ini menurut Al Sya’rawi sejalan dengan kata kufr yang berarti menutupi. Dengan kata lain lalai itulah yang menyebabkan orang menjadi kafir.

Dalam pandangan psikologi Islam, lalai itu termuat dalam persoalan gangguan kepribadian (psikopatologi) Islam. Menurut disiplin ilmu ini, lalai adalah sikap atau pelaku yang sengaja melupakan atau tidak memperhatikan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari esensi kehidupannya. Secara fitrah, manusia berpeluang untuk lupa, ini tidak termasuk dalam kategori psikopatologi Islami, meskipun masuk dalam kategori amnestik, atau bahkan kelupaan itu tidak dapat membebaskan seseorang dari tuntutan dan kewajiban sampai ia sadar kembali. Kelupaan yang menjadi bahasan psikopatologi islami yaitu kelupaan yang dilakukan dengan sengaja terhadap suatu keyakinannya, baik itu nilai-nilai dasar kehidupan maupun berkaitan dengan pandangan hidupnya. Karena ketika seseorang melupakan keyakinan, nilai-nilai hidup dan pandangan hidupnya maka segala tindakannya menjadi tidak teratur, merugikan dan dapat menjerumuskannya kedalam kehancuran.

Mayoritas manusia dalam keadaan lalai, berkata Al Imam Ibnul Qayyim, “Dan barangsiapa memperhatikan keadaan manusia, maka dia pasti dapatkan mereka seluruhnya kecuali sedikit saja, merupakan golongan orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Swt, mereka mengikuti hawa nafsunya, sehingga urusan-urusan dan kepentingan mereka terabaikan, yaitu mereka yang kurang perhatian terhadap hal-hal yang mendatangkan manfaat dan membawa kemaslahatan baginya, sedang mereka menyibukkan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat baginya, bahkan justru mendatangkan malapetaka bagi mereka, baik sekarang maupun di masa mendatang.

Kita perlu merenung kembali seputar hal-hal kecil yang tanpa kita sadari telah melenyapkan waktu yang begitu berharga dalam hidup ini. Waktu kita seringkali terampas begitu saja oleh perkara-perkara kecil disebabkan ketidak mampuan dalam mengendalikan diri. Ada saja godaan untuk menjerumuskan kita, ke lembah nestapa yang membuat kita merugi kemudian.

Perenungan paling sederhana yang melekat dengan keseharian kita misalnya saat berbelanja. Niat ke swalayan untuk membeli produk A saja. Namun sesampai di sana, kita malah menjelajah ke mana-mana. Bahkan tergoda dengan promo atau potongan harga. Dan pada akhirnya dengan niat ingin membeli satu produk malah menjadi membeli beberapa produk. Bahkan ada juga sudah berniat membeli produk A dan yang terbeli produk B dan C.

Contoh lainnya ialah saat kumandang azan. Tak sedikit dari kita yang tidak segera berwudhu ketika pelantang masjid menyerukan panggilan shalat karena kita lebih memprioritaskan urusan kerja atau pertemuan dengan sejumlah teman. Belum lagi bila Ramadhan tiba. Kita mengabaikan salat maghrib berjamaah demi menyantap hidangan berbuka puasa bersama kawan lama maupun keluarga. 

Itulah sejumlah bukti paling subtil bahwa manusia amat mudah terlena atau lalai atas tujuan utama hidupnya. Lalai tidak semata dimaknai dengan istilah lengah, kurang hati-hati sehingga meninggalkan kewajiban dan lain-lain. 

Dalam Al-Qur’an, setidaknya ada tiga term untuk mendefinisikan kata lalai. Ketiga term tersebut yaitu al-ghaflah (QS. Al-A’raf: 197; QS. An-Nahl: 108; QS. Maryam: 39; QS. Al-Anbiyaa: 97), al-nisyan (QS. Al-Kahfi: 61) dan al-sahwi (QS. Al-Maa’uun: 5; QS. Adz-Dzariyat: 11).

Meskipun ketiganya sama-sama memiliki arti lalai, tapi tetap terdapat perbedaan makna. Al-ghaflah merupakan lalai dari kebenaran. Artinya, seseorang mengetahui kebenaran itu dengan sadar, tetapi ia tetap dengan kelalaiannya. 

Adapun al-nisyan merupakan suatu keadaan yang di luar kesanggupan manusia. Artinya, mereka tidak sadar telah melakukan kesalahan. Dengan kata lain, mereka betul-betul lupa. Selanjutnya, al-sahwi merupakan lalai yang berarti seseorang yang hatinya menuju kepada yang lain, sehingga pada akhirnya ia melalaikan tujuan pokoknya. 

Lalai (ghaflah) terpuji ialah lalai dan tidak peduli terhadap maksiat, kemungkaran dan segala hal yang tidak Allah ridai. Sedangkan lalai (ghaflah) tercela adalah lalai dan tidak peduli pada perintah Allah, enggan untuk taat pada Allah dan tidak pernah mengingat-Nya.

Paling tidak, ada sepuluh sebab yang menjadikan orang lalai: (1) Ingin cepat-cepat melepaskan lelah (tidak mau gerak); (2) Bersemangat yang berlebihan untuk menggapai kelezatan dunia; (3) Hilangnya perasaan bersalah ketika melakukan perbuatan maksiat/dosa; (4) Mengikuti hawa nafsu; (5) Sibuk dengan pekerjaannya; (6) Permainan (semacam game online) dan segala bentuk kesenangan yang berlebihan; (7) Ingin memanjakan diri dengan gaya hidup yang mewah; (8) Lebih condong ke dunia; (9) Bergaul dengan orang-orang yang lalai; dan (10) Terlalu banyak mengerjakan hal mubah. 

Sebagaimana hukum sebab-akibat, sifat lalai yang tercela tentu mendatangkan konsekuensinya. Lalai mengakibatkan seseorang berhak mendapatkan kerugian di dunia seperti dijauhkan dari rahmat Allah Swt., dipalingkan untuk bisa memahami ayat-ayat Allah, doanya dikembalikan atau tidak dikabulkan, memiliki akhir kehidupan yang buruk (su’ul khatimah) hingga dimasukkannya ke dalam neraka jahanam. Naudzubillahi min dzalik.

Terdapat beberapa jenis lalai yang patut dijauhi oleh seorang muslim. Antara lain: Pertama, lalai dengan adanya kehidupan akhirat.. Firman Allah: “Mereka mengetahui yang lahir (tampak) saja dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS. Al Rum: 7). Menurut ulama tafsir ayat ini menggambarkan model kehidupan orang kafir yang memandang kehidupan itu menurut kegunaan dan manfaat yang nyata saja. Seperti bekerja, bercocok tanam, berdagang dan semua yang berhubungan dengan urusan dunia. Setelah itu kehidupan diakhiri dengan kematian. Pada praktiknya model kehidupan orang kafir ini juga telah banyak menjangkiti kehidupan orang muslim sehingga aktivitas hidupnya setiap saat hanya untuk mengumpulkan bekal di dunia berupa kekayaan yang berlimpah, kekuasaan, jabatan, status sosial, tak peduli bagaimana cara meraihnya. Orientasinya hanya dunia dengan segala kemegahannya.

Orang yang lalai dengan kehidupan diakhirat akan diancam oleh Allah dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu. Dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami mereka itu tempatnya adalah neraka disebabkan apa yang mereka telah lakukan”

Kedua, lalai menunaikan kewajiban beribadah kepada Allah swt. Diriwayatkan pernah terjadi saat ibadah jumat berlangsung dan Rasulullah Saw sedang menyampaikan khutbah. Tiba-tiba masuk ke kota Madinah para kafilah dagang yang membawa barang-barang. Para sahabat satu demi satu meninggalkan masjid menuju pedagang itu guna mendapatkan barang-barang yang amat mereka butuhkan. Ibnu Abbas menceritakan bahwa sahabat yang tersisa dalam mendengarkan Nabi Saw khutbah hanya dua belas orang.

Melihat kenyataan ini Rasulullah Saw prihatin namun tetap melanjutkan khutbahnya, lalu turunlah firman Allah Swt: “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari jumat maka bersegeralah kamu pada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Dan apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi ini; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.”

Menurut para ulama tafsir meski ayat di atas berkenaan dengan ibadah sholat jumat namun berlaku pula untuk waktu-waktu sholat yang lain. Dengan kata lain hendaklah saat azan diperdengarkan segeralah untuk menunaikan ibadah sholat tersebut. Ancaman bagi mereka yang meninggalkan sholat jumat seperti disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda di atas mimbarnya: “Pasti akan ada segolongan orang yang meninggalkan sholat jum’at, lantas Allah Swt kunci hati-hati mereka sehingga menjadi orang-orang yang lalai”.

Ketiga, lalai dalam menuntut ilmu agama. Ilmu agama di sini adalah ilmu yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Imam Abu Hanifah Rahimahullah mengatakan bahwa manfaat ilmu agama bagi sesorang adalah untuk mengenali mana yang baik bagi dirinya dan mana yang buruk untuk dijauhinya. Ilmu agama adalah ‘jembatan’ menuju ketakwaan yang akhirnya menjadi kemuliaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat.

Lantas, kalau hati kita lalai, bagaimana cara mengobatinya?

Syekh Muhammad Shaleh Al-Munajjid membagikan kiat-kiat untuk mengobati hati yang lalai. Caranya adalah sebagai berikut.

1.  Selalu basahi lisan dengan zikir. Zikir mempunyai pengaruh besar dalam menangkal kelalaian. Berzikirlah dengan penuh rasa takut dan kerendahan diri demi mengharap rahmat Allah baik di waktu pagi maupun petang. 

2.     Berdoa kepada Allah . Doa dengan sendirinya akan menghilangkan sikap lalai dan rasa malas Biasakan memanjatkan doa-doa yang shahih sesuai contoh dari Rasulullah saw. Salah satu doa yang berkaitan tentang masalah ini adalah:  Ya Allah, aku memohon perlindungan kepadaMu dari kelemahan, rasa malas, kebakhilan, pikun, kerasnya hati, lalai, kehinaan, kemiskinan, dan aku memohon perlindunganMu dari kefakiran, kekufuran, kesyirikan, nifak, sum'ah (rasa ingin dipuji) dan riya'.[4] 

3.       Membiasakan salat malam. Abdullah bin Amr bin Ash berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa (melakukan) salat malam dengan sepuluh ayat maka tidak akan ditulis sebagai orang-orang yang lalai, siapa (yang salat malam) membaca seratus ayat akan ditulis sebagai orang-orang yang taat, siapa yang (salat malam) membaca seribu ayat maka akan dijadikan sebagai orang-orang yang berkecukupan".[5]

4.      Rutin melakukan ziarah kubur. Dalam satu riwayat hadits disebutkan bahwa Rasulullah sempat melarang umatnya untuk melakukan ziarah kubur. Namun setelah melihat manfaatnya, Rasulullah membolehkan sebab hal tersebut dapat melunakkan hati dan membuat air mata berlinang serta mengingat akhirat. 

5.      Memperhatikan kehidupan dunia ini serta mengingat surga dan neraka. Dunia tidaklah selalu menawarkan kesenangan bahkan kesenangannya bersifat sementara. Dari lapang menjadi sempit, dari terhormat menjadi terhina, dari kaya menjadi miskin dan sebagainya.  Sikap cinta dunia akan mengantarkan kita ke dalam neraka sedangkan mencukupkan diri dari dunia akan menjadikan kita masuk ke surga.

Berangkat dari perenungan sederhana dan berkaca pada realita, sudah sewajarnya kita bersikap hati-hati dan peduli dalam menjalani kehidupan agar tidak tergolong orang yang lalai. Lalai memang suatu kewajaran pada hati manusia. Namun, kehadirannya bisa ditangkis oleh sejumlah upaya penghambaan kepada Allah dan keteladanan Rasulullah.

 

 “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah”

  (QS. Al-Baqarah: 286)

 

 

 



Share:

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support