
Sahabat Literasi – sekarang kita sudah memasuki awal bulan
Sya’ban. Tidak asing bagi kita dengan bulan yang di dalamnya ada keberkahan,
namun sayang tidak semua umat muslim memedulikannya. Baik kita bahas terlebih
dahulu apa itu Sya’ban?
Saya mengutip dalam kitab Mukasyafatul Qulub – Imam
al-Ghazali sebagai referensi saya dalam menjelaskan keutamaan bulan Sya’ban
yang berkah ini. Disebut Sya’ban karena ada beberapa kebaikan yang sangat
banyak. Sya’ban diambil dari kata ‘Asy-Syi’bi’, yaitu jalan di gunung. Jadi
arti mudahnya Adalah jalan kebaikan.
Karena ini Adalah bulan kebaikan sampai-sampai Rasulullah
Saw. mengingatkan kita untuk membersihkan diri.
“Apabila datang bulan Sya’ban, maka bersihkan dirimu dan
perbaikilah niatmu.”
Selain membersihkan diri dari berbagai maksiat dan
menyucikan niat yaitu ibadah semata-mata mengharapkan riha Allah. Rasulullah Saw.
sangat memperhatikan bulan berkah ini dengan memperbanyak puasa. Hal ini
berdasarkan kesaksian dari istri beliau yaitu Aisyah r.a. “Rasulullah Saw. telah
berpuasa, sehingga kami mengatakan beliau tidak akan berbuka puasa (tidak
puasa). Beliau selalu berbuka, sehingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa. Dan
kebanyakan puasa beliau adalah dalam bulan Sya’ban.”
Dalam Riwayat yang lain alasan Rasulullah Saw. memperbanyak
puasa disampaikan oleh Usamah r.a berkata, “Ya Rasulullah, aku tidak pernah
melihatmu berpuasa pada sebuah bulan dari bulan-bulan ini, seperti puasamu
dalam bulan Sya’ban.” Beliau menjawab, “itu adalah sebuah bulan yang biasanya
manusia lengah, antara Rajab dan Ramadhan. Dia adalah sebuah bulan dimana amal-amal
ini diangkat kepada Tuhan seru sekalian alam. Maka aku suka kalau amalku diangkat
(dilaporkan), sedang aku dalam keadaan puasa.
Dalam sahihain dari Aisyah r.a., “Aku tidak pernah melihat
Rasulullah Saw. menyempurnakan puasa sebulan sama sekali, kecuali bulan
Ramadhan, dan aku pun pernah melihat – beliau dalam sebulan yang lebih banyak
berpuasa daripada bulan Sya’ban.”
Nah, dalil-dalil diatas menunjukkan keseriusan kekasih Allah
yang mulia dalam menjalani aktivitas dibulan Sya’ban yang penuh dengan
keberkahan ini. Lantas bagaimana dengan kita? Sudahkan kita berpuasa dibulan Sya’ban
ini? Atau adakah diantara kita yang membaca sudah memasang niat puasa namun
belum kesampaian untuk menjalani puasanya? Lalu, bagaimana dengan puasa kita
tahun lalu, sudahkan kita qadha?
Bukankah ini kesempatannya! Untuk memperbanyak puasa di
bulan Sya’ban.
Baik, jika hadis dan penjelasan diatas belum menambah
motivasimu untuk mengamalkan ibadah puasa sunnah mari kita Simak penjelasan
selanjutnya.
Dikatakan, bahwa sesungguhnya malaikat-malaikat di langit memiliki
dua bulan hari raya. Sebagaimana umat muslim di bumi memilki dua malam hari
raya. Lalu hari raya malaikat Adalah malam Bara’ah yaitu malam Nishfu
Sya’ban dan malam Lailatul Qadar. Sementara hari raya umat Islam adalah hari
raya idul Fitri dan Adha. Karena itulah, maka malam Nishfu Sya’ban disebut
dengan malam hari raya malaikat.
Mengenai keutamaan malam Nishfu Sya’ban As-Subki menuturkan
dalam tafsirnya, “Sesungguhnya malam nishfu Sya’ban bisa menutup dosa-dosa
setahun. Sedangkan malam jumat bisa menutup dosa-dosa seminggu dan malam lailatul
qadar dapat menutup dosa seumur hidup.”
Kemudian al-Mundziri meriwayatkan dengan marfu’, “Barangsiapa
yang menghiudpkan dua malam hari raya dan malam nishfu Sya’ban, maka hatinya
tidak akan mati pada saat hati-hati ini mati.”
Selanjutnya nishfu Sya’ban juga disebut dengan malam
maghfirah karena imam Ahmad meriwayatkan, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda,
“Sesungguhnya Allah menampakkan kepada hamba-hamba-Nya pada malam setengah dari
Sya’ban lalu mengampuni kepada penghuni bumi, kecuali dua orang laki-laki,
yaitu orang yang musyrik dan orang yang dendam.”
Ada pengecualian dalam riwayat diatas yang tidak memperoleh
ampunan dibulan Sya’ban mereka adalah musyrik dan orang yang suka mendendam.
Dalam riwayat yang lain juga Rasulullah menyampaikan keutamaan
bulan Sya’ban. Rasulullah Saw. bersabda, “Ya Humaira’, bukankah kamu mengetahui
bahwa sesungguhnya malam hari ini Adalah malam nishfu Sya’ban. Sesungguhnya allah
‘Azza Wa Jalla pada malam hari ini membebaskan orang-orang dari neraka
sebanyak bilangan kambing suku kalbin, kecuali enam golongan, yaitu peminum
arak, orang yang berani kepada kedua orang tuanya, orang yang melangsungkan
zina, orang yang memutuskan tali silaturahim, mudharrib (mendorong permusuhan) dan
pengadu domba.”
Apabila nishfu Sya’ban datang, maka sesungguhnya
seorang hamba benar-benar sedang menanam tanaman, mengawini beberapa istri dan
membangun bangunan, padahal namanya disalin dalam deretan orang-orang mati. Dan
tidaklah malaikat maut menunggu, kecuali untuk diperintahkan para hamba itu
lalu dia akan mencabutnya.”







0 Post a Comment:
Posting Komentar