"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Senin, 05 Januari 2026

Manusia itu Lemah! ini kata Al-Quran tentang sifat manusia



“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah"

(QS. An-Nisa: 28)


Manusia adalah makhluk yang sempurna dimuka bumi. Sebagai makhluk ciptaan Allah Yang Maha Esa yang mengemban tugas mengelola dan memelihara alam semesta dengan penuh ketakwaan dan penuh tanggung jawab, oleh pencipta-Nya dianugerahi berbagai potensi. Potensi yang ada pada manusia berupa jasad, ruh, nafsu, akal dan hati. Potensi yang diberikan Allah tersebut di satu sisi sebagai kekuatan dan di sisi lain sebagai kelemahan. Kelemahan-kelemahan yang ada pada semua potensi itu harus menjadi bahan perhatian setiap manusia untuk memperbaiki diri. Karena pada hakikatnya manusia itu diciptakan Allah memiliki kelemahan.

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah”

Ahli Tafsir Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa maksudnya adalah sifat laki-laki yang tidak kuat menahan godaan wanita, beliau mengutip perkataan Thawus Rahimahullah: “Hal tersebut mengenai wanita.” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwasannya laki-laki itu tidak sabar terhadap (godaan) wanita.

Ibnu Asyur menjelaskan bahwa ayat tersebut ditafsirkan demikian, karena konteks ayat sebelumnya berbicara motivasi menikah. Beliau berkata: “Karena hukum-hukum yang dibahas sebelumnya adalah memurahkan (mahar) pernikahan.”

Akan tetapi ada ulama juga yang menafsirkan bahwa lemah tersebut, mencakup lemah dalam berbagai hal yang seorang hamba butuh kepada Allah. Seperti lemah badan, lemah kekuatan, lemah ilmu dan lain-lain.

Ibnul Qayyim menjelaskan yang benar bahwa kelemahan di sini mencakup semuanya secara umum. Kelemahannya lebih dari hal ini dan lebih banyak. Manusia lemah badan, lemah kekuatan, lemah keinginan, dan lemah kesabaran.

Tafsir dari para ahli bahwa laki-laki lemah terhadap wanita ini didukung dengan berbagai nash. Misalnya hadis bahwa wanita adalah fitnah/ujian terbesar bagi laki-laki.

Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalanku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki yaitu (fitnah) wanita.”

Fitnah wanita bisa langsung menghilangkan akal sehat laki-laki walaupun sebelumnya kokoh dan istiqomah beragama seperti yang disampaikan oleh Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.”

Bahkan godaan wanita lebih dahsyat dari godaan setan. Godaan setan itu disebut lemah oleh Al-Quran, sedangkan godaan wanita itu dahsyat.

Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya tipudaya setan itu lemah”

Dan Allah berfirman tentang tipu daya wanita:

“Sesungguhnya tipu daya wanita benar-benar hebat”

Kelemahan yang ada pada manusia akan membuat ia terhina di dunia dan diakhirat. Sebagai pencipta, Allah telah memberikan jalan keluar untuk memperbaiki kelemahan itu dengan jalan tarbiyah. Tarbiyah berarti proses mengubah tingkah laku manusia pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi diantara profesi-profesi asasi dalam masyarakat. Pengertian diatas menunjukkan bahwa ada beberapa potensi yang harus diubah pada diri manusia untuk menjadi pribadi yang baik dalam Islam.

Untuk bisa mengubah potensi yang baik, harus diketahui kelemahan manusia menurut Al-Quran. Kelemahan ini harus diinventarisis dan dianalisis dengan seksama.

Kelemahan Fisik

Manusia memiliki keterbatasan secara fisik. Ia akan kalah berlari dengan kijang, tidak mampu melawan burung untuk terbang, tidak bisa mengalahkan monyet dalam memanjat, dan tidak bisa bersaing dengan ikan dalam berenang. Al Quran membagi fase umur manusia kepada tiga bagian, yaitu lemah, kemudian kuat, kemudian lemah dan beruban.

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” 

Dalam Kitab Tafsir Jalalain dijelaskan (Allah, Dialah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah), yaitu dari air mani yang hina lagi lemah itu (kemudian Dia menjadikan kalian sesudah keadaan lemah) yang lain yaitu masa kanak-kanak (menjadi kuat) masa muda yang penuh dengan semangat dan kekuatan (kemudian Dia menjadikan kalian sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban) lemah karena sudah tua dan rambut pun sudah putih. Lafal dha'fan pada ketiga tempat tadi dapat dibaca dhu'fan. (Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya) ada yang lemah, yang kuat, yang muda, dan yang tua (dan Dialah Yang Maha Mengetahui) mengatur makhluk-Nya (lagi Maha Kuasa) atas semua yang dikehendaki-Nya.

Setelah itu ia dilahirkan dari perut ibunya dalam keadaan lemah, kecil, dan tidak berkekuatan. Kemudian menjadi besar sedikit demi sedikit hingga menjadi anak, setelah itu berusia baligh dan masa puber, lalu menjadi pemuda. Inilah yang dimaksud dengan keadaan kuat sesudah lemah. Kemudian mulailah berkurang dan menua, lalu menjadi manusia yang lanjut usia dan memasuki usia pikun; dan inilah yang dimaksud keadaan lemah sesudah kuat.

Di fase ini seseorang mulai lemah keinginannya, gerak, dan kekuatannya; rambutnya putih beruban, sifat-sifat lahiriah dan batinnya berubah pula. Karena itulah maka di sebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:

“Kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.”

Yakni Dia berbuat apa yang dikehendaki-Nya dan mengatur hamba-hambaNya menurut apa yang dikehendaki-Nya.

“Dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”

Dalam pandangan Islam, kelemahan manusia secara fisik diperbaiki secara terbatas dengan menjaga kesehatan. Selain itu, kelemahan fisik ini bisa diubah menjadi potensi dengan berolahraga secara teratur. Itulah sebabnya dalam Islam sangat dianjurkan untuk berolahraga seperti yang dicontohkan Rasulullah. Rasulullah Saw bersabda:

“Segala sesuatu yang tidak mengandung Dzikirullah padanya maka itu adalah kesia-siaan dan main-main kecuali empat perkara: yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.”

Kelemahan Manusia dari Segi Akal

Dalam Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian, bukan berarti akal diberi kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan untuk menempatkan akal sebagaimana mestinya. Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalu cocok dengan syariat Allah Swt dalam permasalahan apapun.

Suatu nikmat terbesar bagi manusia diberi akal sehat oleh Allah Swt, yang merupakan salah satu kekayaan yang sangat berharga dimiliki manusia. Keberadaannya membuat manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lain ciptaan Allah. Bahkan tanpa akal manusia bagaikan binatang yang hidup dimuka bumi ini. Singkat kata akal menjadikan manusia sebagai makhluk yang berperadaban.

 “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran.”

Orang yang sempurna dan bersih akalnya akan sampai kepada hikmah yang mengantarkan manusia memahami dan menghayati berbagai kekuasaan Allah Swt. Dengan merenungkan penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, hal ini memperlihatkan kepada akal sebagai alat berfikir meraih pengetahuan.

Seperti yang dijelaskan Allah Swt:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tandatanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Akal yang di isi dengan hikmah akan melahirkan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemudian mengantarkan manusia untuk mensyukuri dan meyakini bahwa segala ciptaan Allah itu ternyata sangat bermanfaat dan tidak ada yang sia-sia.

Akal manusia yang dihinggapi sifat kebodohan akan membuat manusia itu lemah dan cendrung memotivasi dirinya untuk berkhianat. Bahkan Allah menjelaskan dalam Al-Quran tentang manusia yang lemah akal untuk diberi batasan dalam mengelola hartanya:

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu)”

Bahkan bagi manusia yang mengabaikan akalnya dalam keadaan lemah mengantarkan ia tersiksa di dalam neraka:

Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Manusia yang tidak memfungsikan pendengaran dan akalnya, seakan-akan mereka tidak memiliki keduanya, karena mereka tidak dapat memanfaatkannya. Ringkasnya, mereka mengatakan, “Seandainya kami mendengar ucapan dari pemberi peringatan itu dan menerimanya, karena ucapan itu jelas dan kami memikirkannya dengan pemikiran yang sadar serta mengamalkannya, tentulah kami tidak akan berada bersama golongan orang-orang yang disiksa.” Dan Rasulullah Saw. bersabda: “Manusia itu tidak akan binasa, sampai mereka mengungkapkan alasan-alasan perbuatan dosa mereka.”  

Ketika akal melakukan fungsinya sebagai alat untuk memahami apa yang tersirat dibalik yang tersurat, dan dari padanya ia menemukan rahasia kekuasaan Allah, kemudian ia patuh dan tunduk kepada Allah, maka pada saat itulah akal dinamai pula al-qalb.

Dalam Islam kelemahan itu bisa diatasi dengan belajar. Makanya ayat yang pertama sekali diturunkan Allah memerintahkan manusia untuk membaca, meneliti dan menelaah ayat-ayat qauliyah dan kauniyah. Selain itu banyak sekali ayat-ayat yang menyuruh manusia untuk menuntut ilmu.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Kelemahan Dari Segi Hati

Kata qalb terambil dari akar kata yang bermakna membalik, karena sering kali ia berbolak balik. Suatu saat senang dan disaat lain susah, suatu waktu setuju dan diwaktu lain menolak.

Qalb sangat berpotensi untuk tidak konsisten. Qalbu adalah potensi immateri yang diberikan Allah kepada manusia. Sering kali qalbu dihinggapi prasangka yang tidak baik. Manusia sering kali tidak bisa mengontrol perasaannya sehingga salah dalam mempersepsikan sesuatu.

Kelemahan qalbu ini dalam pendidikan Islam diatasi dengan banyak berzikir kepada Allah. Makanya dalam Islam ada ilmu tasawuf yang khusus belajar bagaimana mengasah qalbu yang baik menurut Islam.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram.”

Kelemahan dari Segi Nafsu

Bukan manusia namanya jika tidak memiliki nafsu. Karena hanya malaikat saja yang tidak memiliki hal itu. Nafsu dapat dikatakan sebagai dorongan syahwat yang ada dalam diri manusia. Nafsu juga terdiri dari beberapa jenis atau masih terbagi kepada beberapa bagian. Kalau dilihat lebih jauh, nafsu dapat dikelompokkan pada dua, yakni nafsu baik dan nafsu jahat.

Namun pada asalnya, nafsu itu tidak baik. Dalam riwayatnya dikisahkan, pada saat pertama kali ketika pencipataan nafsu, ia enggan mengaku dirinya sebagai ciptaan Tuhan. Ia memiliki sifat sombong terhadap dirinya sendiri. Artinya ia tidak mau tunduk pada siapapun tak terkecuali kepada tuannya. Siapa tuannya? Itulah manusia yang diamanahkan untuk mendidik nafsu tersebut.

Kalau begitu apakah nafsu harus dicabut dari manusia? Tentu hal itu tidak mungkin terjadi, sebab itu sudah menjadi kodrat atau sunnatullah. Justru disisi lain, nafsu merupakan sebuah potensi. Yang namanya potensi berarti sesuatu yang mungkin akan memberikan keuntungan. Boleh jadi menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat.

Maka, ketika sampai pada titik ini. Yang harus dilakukan oleh setiap kita sebagai manusia adalah mendidik nafsu yang tadinya tidak baik menjadi nafsu yang baik. Bagaimana mengukurnya? Mana kala dorongan manusia untuk lebih kuat melakukan hal-hal baik dalam kehidupannya. Maka disitulah kita ketahui bahwa orang tersebut berhasil mendidik nafsunya.

Dalam istilah umum, pendidikan hawa nafsu sering disebut dengan 'nafs tazkiyah'. Proses ini dimulai dengan upaya pengendalian diri hari hal-hal yang merugikan, maksiat, perbuatan-perbuatan terlarang, dan lain sebagainya oleh orang yang bersangkutan. Setelah itu baru kemudian sang tuan dapat menguasai nafsunya sendiri untuk diarahkan pada kebaikan, ketaqwaan, dan jalan yang benar.

Sebaliknya, mereka yang gagal mendidik dan menguasai nafsunya sendiri. Ia akan menjadi tawanan dan budak sang nafsu. Yang seharusnya manusia itu menjadi tuan bagi nafsunya namun justru mereka menjadi budak nafsu mereka sendiri. Akibatnya manusia digunakan oleh nafsu untuk melakukan apa saja yang diinginkan oleh tuannya.

Pada titik ini, maka kehidupan manusia menjadi menyimpang dari desain awal kehidupan manusia berdasarkan konsep ilahiyah. Ia hanya akan melakukan perbuatan-perbuatan manifestasi memperturutkan hawa nafsu saja. Ia menjadi lupa siapa penciptanya, sebagaimana kisah pertama nafsu itu diciptakan. Inilah yang terjadi, awal kehancuran kehidupan seseorang ketika ia lupa pada sang Khaliq, Tuhan semesta alam.

Ketiadaan cahaya Tuhan dalam hati dan jiwanya, membuat manusia seperti hidup di dalam kegelapan. Tidak terlihat lagi mana yang benar, mana yang salah, karena semua gelap gulita, kelam tanpa pelita. Dalam kehidupan nyata, mereka menjadi apa saja. Wujudnya boleh berbeda namun perbuatannya relatif sama.

Dalam Islam, kepemimpinan dan kekuasaan adalah sebuah amanah yang harus dipertangungjawabkan baik kepada manusia maupun kepada Allah. Terkait dengan nafsu kekuasaan, ada sebuah nasehat bagus yang perlu kita cermati. 

Ada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmizi "Barangsiapa yang meminta kekuasaan, maka dia telah menjadi wakil atas hawa nafsunya, dan barangsiapa yang diberikan kepadanya kekuasaan (tanpa meminta) maka malaikat akan turun kepadanya untuk menolongnya dalam kepemimpinannya".

Nafsu kekuasaan dapat dilihat dari dua arah yang berbeda. Pertama, jika nafsu kekuasaan terdapat pada orang yang 'alim, soleh, dan dipercaya oleh orang yang dipimpinnya bahwa ia sosok yang mampu mengendalikan nafsu dengan baik. Maka nafsu kekuasaan cenderung akan menjadi alat untuk kemaslahatan umum.

Kedua, mana kala orang yang lemah secara aqidah, pengetahuan, dan jauh dari Tuhannya. Maka nafsu kekuasaan akan menjadi alat yang dapat menghancurkan dirinya sendiri dan orang yang dibawah kepemimpinannya. Alhasil, jika ia berada pada sebuah organisasi, tentu saja berbagai konflik akan ia ciptakan dan bahkan sengaja mengadu domba untuk tujuan-tujuan tertentu. Hal ini terjadi bukan karena ia tidak tahu, tetapi itulah perwujudan dari liarnya hawa nafsu.

Dalam konteks perpolitikan dan sebagai politisi maupun pejabat, hawa nafsu juga dapat menghancurkan negeri ini. Jika seseorang telah memiliki nafsu kekuasaan dalam dirinya, maka nafsu itu bukan saja akan merusak pribadinya, tetapi juga akan meningkat menjadi nafsu yang lebih berbahaya yaitu menjerumuskan rakyatnya kepada nafsu liberalisme, militerisme, permisisivisme (serba boleh), dan lain sebagainya.

Akhir dari penjelasan nafsu ini saya ingin menukilkan beberapa hal. (1) manusia memang diciptakan dengan kondisinya yang sangat lemah, karenanya manusia membutuhkan tempat ia bersandar untuk meneguhkan kekuatan-kekuatannya. (2) nafsu pada umumnya adalah kelemahan terbesar manusia. 

Disebabkan nafsu tersebut, banyak manusia yang terjerumus pada hal-hal penuh kenistaan, narkoba, korupsi, dan perilaku negatif lainnya. (3) hawa nafsu ingin memiliki kekuasaan dan memperlihatkan bahwa ia berkuasa adalah bagian dari kelemahan yang gagal dikendalikan oleh seseorang. 

Oleh karena itu, ia kerab memperlihat kekuasaannya (show of power). (4) karena nafsu berkuasa bersifat kurang baik, maka alangkah lebih baik jika tidak ingin berkuasa, tetapi jika ia dibutuhkan dan dipanggil untuk mengemban sebuah amanah, maka terimalah kekuasaan itu untuk kebenaran, kehormatan, dan membuat ia semakin bijaksana dan rendah hati.

“Aku meminta kekuatan dan Allah memberikan ku kesulitan untuk membuatku semakin kuat”

~ Salahuddin Al-Ayyubi ~

 

 

 



Share:

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support