“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah"
(QS. An-Nisa: 28)
Manusia
adalah makhluk yang sempurna dimuka bumi. Sebagai makhluk ciptaan Allah Yang
Maha Esa yang mengemban tugas mengelola dan memelihara alam semesta dengan
penuh ketakwaan dan penuh tanggung jawab, oleh pencipta-Nya dianugerahi
berbagai potensi. Potensi yang ada pada manusia berupa jasad, ruh, nafsu, akal
dan hati. Potensi yang diberikan Allah tersebut di satu sisi sebagai kekuatan
dan di sisi lain sebagai kelemahan. Kelemahan-kelemahan yang ada pada semua
potensi itu harus menjadi bahan perhatian setiap manusia untuk memperbaiki diri.
Karena pada hakikatnya manusia itu diciptakan Allah memiliki kelemahan.
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah”
Ahli
Tafsir Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa maksudnya adalah sifat laki-laki yang
tidak kuat menahan godaan wanita, beliau mengutip perkataan Thawus
Rahimahullah: “Hal tersebut mengenai wanita.” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.
bahwasannya laki-laki itu tidak sabar terhadap (godaan) wanita.
Ibnu
Asyur menjelaskan bahwa ayat tersebut ditafsirkan demikian, karena konteks ayat
sebelumnya berbicara motivasi menikah. Beliau berkata: “Karena hukum-hukum yang
dibahas sebelumnya adalah memurahkan (mahar) pernikahan.”
Akan
tetapi ada ulama juga yang menafsirkan bahwa lemah tersebut, mencakup lemah
dalam berbagai hal yang seorang hamba butuh kepada Allah. Seperti lemah badan,
lemah kekuatan, lemah ilmu dan lain-lain.
Ibnul
Qayyim menjelaskan yang benar bahwa kelemahan di sini mencakup semuanya secara
umum. Kelemahannya lebih dari hal ini dan lebih banyak. Manusia lemah badan,
lemah kekuatan, lemah keinginan, dan lemah kesabaran.
Tafsir
dari para ahli bahwa laki-laki lemah terhadap wanita ini didukung dengan
berbagai nash. Misalnya hadis bahwa wanita adalah fitnah/ujian terbesar bagi
laki-laki.
Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalanku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki yaitu (fitnah) wanita.”
Fitnah wanita bisa langsung menghilangkan akal sehat laki-laki walaupun sebelumnya kokoh dan istiqomah beragama seperti yang disampaikan oleh Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.”
Bahkan
godaan wanita lebih dahsyat dari godaan setan. Godaan setan itu disebut lemah
oleh Al-Quran, sedangkan godaan wanita itu dahsyat.
Allah
Swt berfirman:
“Sesungguhnya tipudaya setan itu lemah”
Dan
Allah berfirman tentang tipu daya wanita:
“Sesungguhnya tipu daya wanita benar-benar hebat”
Kelemahan
yang ada pada manusia akan membuat ia terhina di dunia dan diakhirat. Sebagai
pencipta, Allah telah memberikan jalan keluar untuk memperbaiki kelemahan itu
dengan jalan tarbiyah. Tarbiyah berarti proses
mengubah tingkah laku manusia pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam
sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai
profesi diantara profesi-profesi asasi dalam masyarakat. Pengertian diatas menunjukkan
bahwa ada beberapa potensi yang harus diubah pada diri manusia untuk menjadi pribadi
yang baik dalam Islam.
Untuk
bisa mengubah potensi yang baik, harus diketahui kelemahan manusia menurut
Al-Quran. Kelemahan ini harus diinventarisis dan dianalisis dengan seksama.
Kelemahan Fisik
Manusia
memiliki keterbatasan secara fisik. Ia akan kalah berlari dengan kijang, tidak
mampu melawan burung untuk terbang, tidak bisa mengalahkan monyet dalam
memanjat, dan tidak bisa bersaing dengan ikan dalam berenang. Al Quran membagi
fase umur manusia kepada tiga bagian, yaitu lemah, kemudian kuat, kemudian
lemah dan beruban.
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”
Dalam
Kitab Tafsir Jalalain dijelaskan (Allah, Dialah yang menciptakan kalian dari
keadaan lemah), yaitu dari air mani yang hina lagi lemah itu (kemudian Dia
menjadikan kalian sesudah keadaan lemah) yang lain yaitu masa kanak-kanak
(menjadi kuat) masa muda yang penuh dengan semangat dan kekuatan (kemudian Dia
menjadikan kalian sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban) lemah karena
sudah tua dan rambut pun sudah putih. Lafal dha'fan
pada ketiga tempat tadi dapat dibaca dhu'fan.
(Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya) ada yang lemah, yang kuat, yang
muda, dan yang tua (dan Dialah Yang Maha Mengetahui) mengatur makhluk-Nya (lagi
Maha Kuasa) atas semua yang dikehendaki-Nya.
Setelah
itu ia dilahirkan dari perut ibunya dalam keadaan lemah, kecil, dan tidak
berkekuatan. Kemudian menjadi besar sedikit demi sedikit hingga menjadi anak,
setelah itu berusia baligh dan masa puber, lalu menjadi pemuda. Inilah yang
dimaksud dengan keadaan kuat sesudah lemah. Kemudian mulailah berkurang dan
menua, lalu menjadi manusia yang lanjut usia dan memasuki usia pikun; dan
inilah yang dimaksud keadaan lemah sesudah kuat.
Di
fase ini seseorang mulai lemah keinginannya, gerak, dan kekuatannya; rambutnya
putih beruban, sifat-sifat lahiriah dan batinnya berubah pula. Karena itulah
maka di sebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:
“Kemudian Dia menjadikan
(kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang
dikehendaki-Nya.”
Yakni
Dia berbuat apa yang dikehendaki-Nya dan mengatur hamba-hambaNya menurut apa
yang dikehendaki-Nya.
“Dan Dialah Yang Maha
Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
Dalam
pandangan Islam, kelemahan manusia secara fisik diperbaiki secara terbatas
dengan menjaga kesehatan. Selain itu, kelemahan fisik ini bisa diubah menjadi
potensi dengan berolahraga secara teratur. Itulah sebabnya dalam Islam sangat
dianjurkan untuk berolahraga seperti yang dicontohkan Rasulullah. Rasulullah Saw
bersabda:
“Segala sesuatu yang tidak mengandung Dzikirullah padanya maka itu adalah kesia-siaan dan main-main kecuali empat perkara: yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.”
Kelemahan Manusia dari
Segi Akal
Dalam
Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian, bukan berarti
akal diberi kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan
untuk menempatkan akal sebagaimana mestinya. Bagaimanapun, akal yang sehat akan
selalu cocok dengan syariat Allah Swt dalam permasalahan apapun.
Suatu
nikmat terbesar bagi manusia diberi akal sehat oleh Allah Swt, yang merupakan
salah satu kekayaan yang sangat berharga dimiliki manusia. Keberadaannya
membuat manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lain ciptaan Allah. Bahkan tanpa
akal manusia bagaikan binatang yang hidup dimuka bumi ini. Singkat kata akal
menjadikan manusia sebagai makhluk yang berperadaban.
“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran.”
Orang
yang sempurna dan bersih akalnya akan sampai kepada hikmah yang mengantarkan
manusia memahami dan menghayati berbagai kekuasaan Allah Swt. Dengan
merenungkan penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, hal ini
memperlihatkan kepada akal sebagai alat berfikir meraih pengetahuan.
Seperti
yang dijelaskan Allah Swt:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tandatanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
Akal
yang di isi dengan hikmah akan melahirkan berbagai ilmu pengetahuan dan
teknologi. Kemudian mengantarkan manusia untuk mensyukuri dan meyakini bahwa
segala ciptaan Allah itu ternyata sangat bermanfaat dan tidak ada yang sia-sia.
Akal
manusia yang dihinggapi sifat kebodohan akan membuat manusia itu lemah dan
cendrung memotivasi dirinya untuk berkhianat. Bahkan Allah menjelaskan dalam
Al-Quran tentang manusia yang lemah akal untuk diberi batasan dalam mengelola
hartanya:
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu)”
Bahkan
bagi manusia yang mengabaikan akalnya dalam keadaan lemah mengantarkan ia
tersiksa di dalam neraka:
“Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.”
Manusia
yang tidak memfungsikan pendengaran dan akalnya, seakan-akan mereka tidak
memiliki keduanya, karena mereka tidak dapat memanfaatkannya. Ringkasnya,
mereka mengatakan, “Seandainya kami mendengar ucapan dari pemberi peringatan
itu dan menerimanya, karena ucapan itu jelas dan kami memikirkannya dengan
pemikiran yang sadar serta mengamalkannya, tentulah kami tidak akan berada
bersama golongan orang-orang yang disiksa.” Dan Rasulullah Saw. bersabda: “Manusia
itu tidak akan binasa, sampai mereka mengungkapkan alasan-alasan perbuatan dosa
mereka.”
Ketika
akal melakukan fungsinya sebagai alat untuk memahami apa yang tersirat dibalik
yang tersurat, dan dari padanya ia menemukan rahasia kekuasaan Allah, kemudian
ia patuh dan tunduk kepada Allah, maka pada saat itulah akal dinamai pula al-qalb.
Dalam
Islam kelemahan itu bisa diatasi dengan belajar. Makanya ayat yang pertama
sekali diturunkan Allah memerintahkan manusia untuk membaca, meneliti dan
menelaah ayat-ayat qauliyah dan kauniyah.
Selain itu banyak sekali ayat-ayat yang menyuruh manusia untuk menuntut ilmu.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Kelemahan Dari Segi Hati
Kata
qalb terambil dari akar kata yang
bermakna membalik, karena sering kali ia berbolak balik. Suatu saat senang dan
disaat lain susah, suatu waktu setuju dan diwaktu lain menolak.
Qalb
sangat berpotensi untuk tidak konsisten. Qalbu adalah potensi immateri yang diberikan
Allah kepada manusia. Sering kali qalbu dihinggapi prasangka yang tidak baik.
Manusia sering kali tidak bisa mengontrol perasaannya sehingga salah dalam
mempersepsikan sesuatu.
Kelemahan
qalbu ini dalam pendidikan Islam diatasi dengan banyak berzikir kepada Allah.
Makanya dalam Islam ada ilmu tasawuf yang khusus belajar bagaimana mengasah
qalbu yang baik menurut Islam.
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram.”
Kelemahan dari Segi Nafsu
Bukan
manusia namanya jika tidak memiliki nafsu. Karena hanya malaikat saja yang
tidak memiliki hal itu. Nafsu dapat dikatakan sebagai dorongan syahwat yang ada
dalam diri manusia. Nafsu juga terdiri dari beberapa jenis atau masih terbagi
kepada beberapa bagian. Kalau dilihat lebih jauh, nafsu dapat dikelompokkan
pada dua, yakni nafsu baik dan nafsu jahat.
Namun
pada asalnya, nafsu itu tidak baik. Dalam riwayatnya dikisahkan, pada saat
pertama kali ketika pencipataan nafsu, ia enggan mengaku dirinya sebagai
ciptaan Tuhan. Ia memiliki sifat sombong terhadap dirinya sendiri. Artinya ia
tidak mau tunduk pada siapapun tak terkecuali kepada tuannya. Siapa tuannya?
Itulah manusia yang diamanahkan untuk mendidik nafsu tersebut.
Kalau
begitu apakah nafsu harus dicabut dari manusia? Tentu hal itu tidak mungkin
terjadi, sebab itu sudah menjadi kodrat atau sunnatullah. Justru disisi lain,
nafsu merupakan sebuah potensi. Yang namanya potensi berarti sesuatu yang mungkin
akan memberikan keuntungan. Boleh jadi menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat.
Maka,
ketika sampai pada titik ini. Yang harus dilakukan oleh setiap kita sebagai
manusia adalah mendidik nafsu yang tadinya tidak baik menjadi nafsu yang baik.
Bagaimana mengukurnya? Mana kala dorongan manusia untuk lebih kuat melakukan
hal-hal baik dalam kehidupannya. Maka disitulah kita ketahui bahwa orang
tersebut berhasil mendidik nafsunya.
Dalam
istilah umum, pendidikan hawa nafsu sering disebut dengan 'nafs tazkiyah'. Proses ini dimulai dengan upaya pengendalian diri
hari hal-hal yang merugikan, maksiat, perbuatan-perbuatan terlarang, dan lain
sebagainya oleh orang yang bersangkutan. Setelah itu baru kemudian sang tuan
dapat menguasai nafsunya sendiri untuk diarahkan pada kebaikan, ketaqwaan, dan
jalan yang benar.
Sebaliknya,
mereka yang gagal mendidik dan menguasai nafsunya sendiri. Ia akan menjadi
tawanan dan budak sang nafsu. Yang seharusnya manusia itu menjadi tuan bagi
nafsunya namun justru mereka menjadi budak nafsu mereka sendiri. Akibatnya
manusia digunakan oleh nafsu untuk melakukan apa saja yang diinginkan oleh
tuannya.
Pada
titik ini, maka kehidupan manusia menjadi menyimpang dari desain awal kehidupan
manusia berdasarkan konsep ilahiyah. Ia hanya akan melakukan
perbuatan-perbuatan manifestasi memperturutkan hawa nafsu saja. Ia menjadi lupa
siapa penciptanya, sebagaimana kisah pertama nafsu itu diciptakan. Inilah yang
terjadi, awal kehancuran kehidupan seseorang ketika ia lupa pada sang Khaliq,
Tuhan semesta alam.
Ketiadaan
cahaya Tuhan dalam hati dan jiwanya, membuat manusia seperti hidup di dalam
kegelapan. Tidak terlihat lagi mana yang benar, mana yang salah, karena semua
gelap gulita, kelam tanpa pelita. Dalam kehidupan nyata, mereka menjadi apa
saja. Wujudnya boleh berbeda namun perbuatannya relatif sama.
Dalam
Islam, kepemimpinan dan kekuasaan adalah sebuah amanah yang harus
dipertangungjawabkan baik kepada manusia maupun kepada Allah. Terkait dengan
nafsu kekuasaan, ada sebuah nasehat bagus yang perlu kita cermati.
Ada
hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmizi "Barangsiapa yang meminta
kekuasaan, maka dia telah menjadi wakil atas hawa nafsunya, dan barangsiapa
yang diberikan kepadanya kekuasaan (tanpa meminta) maka malaikat akan turun
kepadanya untuk menolongnya dalam kepemimpinannya".
Nafsu
kekuasaan dapat dilihat dari dua arah yang berbeda. Pertama, jika nafsu
kekuasaan terdapat pada orang yang 'alim, soleh, dan dipercaya oleh orang yang
dipimpinnya bahwa ia sosok yang mampu mengendalikan nafsu dengan baik. Maka
nafsu kekuasaan cenderung akan menjadi alat untuk kemaslahatan umum.
Kedua,
mana kala orang yang lemah secara aqidah, pengetahuan, dan jauh dari Tuhannya.
Maka nafsu kekuasaan akan menjadi alat yang dapat menghancurkan dirinya sendiri
dan orang yang dibawah kepemimpinannya. Alhasil, jika ia berada pada sebuah
organisasi, tentu saja berbagai konflik akan ia ciptakan dan bahkan sengaja
mengadu domba untuk tujuan-tujuan tertentu. Hal ini terjadi bukan karena ia
tidak tahu, tetapi itulah perwujudan dari liarnya hawa nafsu.
Dalam
konteks perpolitikan dan sebagai politisi maupun pejabat, hawa nafsu juga dapat
menghancurkan negeri ini. Jika seseorang telah memiliki nafsu kekuasaan dalam
dirinya, maka nafsu itu bukan saja akan merusak pribadinya, tetapi juga akan
meningkat menjadi nafsu yang lebih berbahaya yaitu menjerumuskan rakyatnya
kepada nafsu liberalisme, militerisme, permisisivisme (serba boleh), dan lain
sebagainya.
Akhir
dari penjelasan nafsu ini saya ingin menukilkan beberapa hal. (1) manusia
memang diciptakan dengan kondisinya yang sangat lemah, karenanya manusia
membutuhkan tempat ia bersandar untuk meneguhkan kekuatan-kekuatannya. (2)
nafsu pada umumnya adalah kelemahan terbesar manusia.
Disebabkan
nafsu tersebut, banyak manusia yang terjerumus pada hal-hal penuh kenistaan,
narkoba, korupsi, dan perilaku negatif lainnya. (3) hawa nafsu ingin memiliki
kekuasaan dan memperlihatkan bahwa ia berkuasa adalah bagian dari kelemahan
yang gagal dikendalikan oleh seseorang.
Oleh
karena itu, ia kerab memperlihat kekuasaannya (show of power). (4) karena nafsu berkuasa bersifat kurang baik,
maka alangkah lebih baik jika tidak ingin berkuasa, tetapi jika ia dibutuhkan
dan dipanggil untuk mengemban sebuah amanah, maka terimalah kekuasaan itu untuk
kebenaran, kehormatan, dan membuat ia semakin bijaksana dan rendah hati.
“Aku
meminta kekuatan dan Allah memberikan ku kesulitan untuk membuatku semakin
kuat” ~
Salahuddin Al-Ayyubi ~








0 Post a Comment:
Posting Komentar