"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Senin, 05 Januari 2026

Sifat Kikir Manusia Dalam Al-Quran


“Katakanlah: ‘kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhan-Ku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.’ Dan manusia itu sangat kikir.”

(QS. Al-Isra: 100)

 

Kikir sering kali dikaitkan dengan harta benda kepemilikan. Seseorang dikatakan kikir apabila ia tidak mau berbagi dengan apa yang ia miliki terkait kewajiban dan hak orang lain. Kikir merupakan penyakit hati yang sulit dideteksi terutama bagi orang yang mengidap penyakit tersebut. Seolah ia merasa baik-baik saja. Dengan tidak memberi, ia beranggapan hartanya akan bertambah, hidupnya berkecukupan, kebutuhannya terpenuhi, sehingga tidak ada yang kurang dan merasa hidupnya aman. Padahal Allah berfirman:

“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (dilehernya) pada hari kiamat. Milik Allah lah warisan (apa yang ada) dilangit dan dibumi. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kikir adalah mempersempit pergaulan, merasa berat memberikan kepunyaannya untuk orang lain dan apa yang ada padanya tidak ingin berkurang. Dalam Al-Quran terdapat empat term yang digunakan untuk menyebut sifat kikir yaitu al-bukhl, asy-syuhh, al-qatura dan aḍḍan.

Salah satu contoh seperti firman Allah dalam QS. An-Nisa: 37

“(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.”

Hamka dalam tafsirnya menjelaskan bahwa bakhil pada ayat ini dipandang lebih luas dan bukan hanya perihal harta benda saja. Seseorang yang punya pengetahuan luas dan mendalam mengenai agama lalu tidak mau mengajarkan kepada penduduk kampungnya yang awam, maka itu juga di sebut bakhil.

Jika dilihat dalam kehidupan bermasyarakat banyak dijumpai sikap dan tindakan yang mencerminkan sifat kikir. Bisa dikatakan sifat kikir ini telah menjadi gejala sosial yang sulit diatasi sampai saat ini. Seperti permasalahan harta warisan yang kerap kali mengakibatkan rusaknya persaudaraan, enggan mengeluarkan zakat dan tidak mau peduli dan berbagi dengan orang disekitarnya yang membutuhkan. Harta memang dipandang sebagai sarana mencapai kebaikan dan merupakan perhiasan hidup serta kunci kesejahteraan untuk kemashlahatan hidup manusia. Sebaliknya harta juga merupakan fitnah terbesar yang menyebabkan sebagian orang terlalu mencintai dan rakus terhadapnya.

Kemudian jika diperhatikan lagi sifat kikir itu bukan hanya terkait tidak mau memberi, akan tetapi orang yang kelihatannya dermawan suka memberi ternyata mereka itulah orang yang sebenarnya kikir. Ketika memberi ada rasa sakit dan ketidakrelaan yang ia rasakan sesungguhnya itu mencerminkan dari sifat kikirnya. Selain itu praktek memberi dengan tujuan mendapatkan hasil yang lebih besar dari apa yang diberikan disertai adanya unsur riya’ yakni ingin mendapatkan pujian dan kemasyhuran di tengah masyarakat. Seperti budaya kampanye dalam kegiatan pemilu. Biasanya oknum-oknum yang mencalonkan diri itu berlagak seolah orang yang paling dermawan dengan memberi sumbangan atau bantuan kepada masyarakat bawah. Pada dasarnya memberi dalam hal itu bukanlah karna rasa dermawan akan tetapi karna ingin memperoleh yang lebih banyak dari apa yang telah diberikan buktinya setelah namanya naik dan terpilih, mereka hanya sibuk memperkaya diri dan tidak lagi menghiraukan kebutuhan masyarakat.

Kemudian ada juga fenomena tahunan tepatnya bisa disaksikan ketika lebaran saat jamaah suatu kampung berkumpul di masjid. Sebelum menunaikan shalat Id, biasanya pengurus masjid menyeru jamaah untuk berinfak atau bersedekah. Nyatanya di antara jamaah ada yang antusias tiap tahun mengeluarkan infak dengan syarat meminta agar pengurus masjid tersebut menyebutkan namanya dan nominal infak yang diberikan. Sehingga dengan demikian menjadikan dia berbangga diri dengan apa yang telah diberikan. Bukankah hal itu sebenarnya mencerminkan sifat kikir dalam jiwa seseorang? Berbuat hanya untuk dinilai dermawan oleh manusia dan berbuat hanya untuk kemasyhuran di tengah masyarakat. Bukan karena Allah semata.

Adapun karakteristik sifat kikir sebenarnya telah disebutkan secara terang-terangan dalam Al-Quran.

1.      Kikir dan Menyuruh Orang Lain Berbuat Kikir serta Menyembunyikan Karunia Allah swt

Sifat kikir yang dimiliki oleh seseorang bukan hanya menjadikan dirinya sendiri yang berlaku kikir akan tetapi sifat ini juga menariknya untuk mengajak dan menyuruh orang lain berlaku kikir serta menyembunyikan karunia Allah swt. Firman-Nya.

“(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.”

Ayat yang lalu Allah menyatakan ketidaksukaan-Nya terhadap orang yang sombong dan membanggakan diri maka pada ayat ini Allah menyebutkan hal yang sama yakni Allah juga tidak menyukai orang-orang yang terus menerus berlaku kikir. Ini dapat dipahami dari penggunaan bentuk kata kerja fi’il muḍariʻ yang menunjukkan masa kini dan masa yang akan datang. Lebih lagi mereka tidak hanya kikir tetapi juga terus menerus menyeruh orang lain untuk berbuat kikir, baik dengan ucapan mereka dengan menghalangi kedermawanan maupun dengan perbuatan mereka yang memberikan contoh buruk dalam memberi sumbangan yang kecil bahkan tidak memberi sama sekali dan terus menerus menyembunyikan apa yang telah Allah anugerahkan kepada mereka dari karunia-Nya, misalnya dengan berkata “saya tidak memiliki sesuatu” saat diminta sumbangan kepadanya.

Orang seperti itu dinamakan dengan al-kufru yakni sikap menutupi nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, menyembunyikan dan mengingkarinya. Sehingga Allah menyebut mereka dengan kafir untuk memberi peringatan bahwa perilaku bakhil merupakan perwujudan dari sifat kufur. Tepatnya kufur terhadap nikmat. Karakter bakhil dalam ayat ini dapat juga berarti mereka yang menginginkan atau mengambil sebanyak-banyaknya dari masyarakat namun amat sedikit sekali dalam memberi. Hanya mau bersahabat dengan mereka yang akan membawa keuntungan dan mendatangkan harta bagi dirinya. Bahkan membanggakan sikapnya yang salah itu dan mengatakan itulah yang benar.

2.      Merasa Dirinya Cukup

Merasa dirinya cukup sehingga tidak lagi butuh orang lain bahkan Allah sekalipun sebagaimana firman-Nya : “Dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup”

Bakhil yakni tidak mau memberikan hartanya kepada mereka yang berhak diberikan serta tidak adanya keinginan untuk beramal jariyah sebab terlena akan hartanya. Ia mengumpulkan harta untuk dikuasai oleh hartanya sendiri sehingga menjadikan hatinya buta tidak mengenal kasih sayang, hidup tolong menolong dan bersilaturrahmi. Orang bakhil dengan hartanya merasa segalanya cukup. Ia takut ditolong orang sebab khawatir nantinya akan membalas budi baik dari orang yang telah menolongnya dengan menolongnya kembali. Sehingga orang yang seperti ini seolah mengingkari adanya kebaikan. Tidak percaya bahwa di dunia ini ada unsur-unsur kebaikan, baik kebaikan yang berhubungan dengan manusia maupun kebaikan dengan Allah selain didapatkan di dunia juga ditemuinya di akhirat kelak.

3.      Menahan dan Takut Membelanjakannya

Firman-Nya: Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". dan adalah manusia itu sangat kikir.

Sikap menahan dan takut mengeluarkan hartanya serta khawatir akan habis seperti ini tidak lain datang dari dorongan naluri kikir yang ada dalam diri manusia itu sendiri yang tidak mampu dikontrol dan dikendalikan sebab terlenanya dengan kehidupan duniawi dan melupakan akhirat. Ini merupakan gambaran yang paling tinggi dari sifat kikir. Padahal rahmat Allah itu meliputi segala sesuatu. Tidak dikhawatirkan akan lenyap ataupun berkurang. Akan tetapi karena jiwa-jiwa manusia yang sudah terlalu kikir serta sangat pelit itu, maka ketika mereka yang punya rahmat-rahmat Allah tersebut niscaya mereka akan tetap menahannya.

4.      Kikir Saat Mendapat Kebaikan dan Lupa Akan Ikrarnya

Sebagaimana firman-Nya: “Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir” Ayat ini menyebutkan tentang sifat naluri manusia. Kata hala’ secara bahasa dapat berarti sangat kikir, sangat buruk dan sangat keji kegelisahannya. Sehingga dipahami maksud ayat itu adalah manusia sesungguhnya tidak mampu bersabar baik terhadap kebaikan maupun pada keburukan, sehingga melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan baik pada kebaikan maupun pada keburukan. Pendapat lain menyebutkan kata al halū’ dapat berarti orang yang tidak pernah puas dan kata manu’ adalah orang yang tidak menunaikan hak Allah dari harta yang didapatkannya. Kemudian kebanyakan manusia lupa dan berpaling saat ia diberi kenikmatan oleh Allah sebagaimana firman-Nya:

“Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).”

Ayat ini turun berkenaan dengan harta Hathib bin Abu Balta‟ah pernah tertahan di negeri Syam maka ia pernah bersumpah di hadapan suatu majelis golongan Anshar bahwa apabila ia telah menerima kembali harta itu maka ia akan menyedekahkan sebagiannya dan memberikan sebagiannya kepada keluarganya. Akan tetapi setelah ia menerima hartanya itu ia menjadi kikir.

Lantas hal ini banyak terjadi di tengah kehidupan masyarakat ketika Allah mengabulkan harapan-harapan di antara mereka yang dulunya miskin sekarang mulai kaya menjadikan mereka bakhil. Mereka menganggap harta yang ada pada mereka tak lain adalah hasil jerih payah mereka sendiri dan mulailah terasa enggan untuk mengeluarkannya. Pada awalnya bakhil kemudian menjadikannya berpaling dan akhirnya menjadi tidak peduli.

Keberpalingan yang dilakukannya itu bukanlah secara tiba-tiba tetapi dengan segenap kekuatan dan dorongan jiwa yang telah menguasai dan mencegah mereka untuk bersedekah. Sehingga saat diingatkan akan kewajiban, mereka tidak akan ingat dan saat diperintahkan untuk memenuhi kewajiban itu, mereka tidak akan melakukannya.

5.      Cintanya terhadap Harta

Orang yang bakhil dengan hartanya disebabkan rasa cinta nya yang begitu besar dan terlalu terhadap hartanya. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.”

Mencintai dengan kecintaan yang banyak maksudnya berlebihan diiringi dengan ketamakan hal ini menjadikan manusia itu berupaya untuk terus mengumpulkannya kemudian menjadikannya kikir dan tidak mau menginfakkannya. Mencintai harta secara berlebihan merupakan sikap yang dikecam disebabkan sikap demikian menjadikannya abai terhadap yang lain. Ini juga menunjukkan cintanya kepada dunia sehingga menjadikannya kikir, congkak, sombong dan terkadang menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginan dan ambisinya, meskipun dengan cara mencuri, merampok dan korupsi. Orang seperti ini lupa bahwa semua itu tidaklah abadi dan tidak dapat dibawa mati. Sama halnya dalam firman-Nya: “Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.”

Kikir adalah salah satu akhlak yang harus dihindari. Anehnya, orang kikir sendiri justru menganggap perkara tersebut adalah sebuah kebaikan. Allah mengancam orang kikir yang melampaui batas kejahatannya (menganjurkan orang lain berbuat kikir) dengan menunjukkan kekuasaan Allah diatas segalanya tanpa bergantung kepada yang lain. Al-Quran mengancam pula logika berfikir orang kikir yang hanya mementingkan diri sendiri dan mencari alasan pembenaran atas sikapnya. Orang kikir itu lupa bahwa harta yang dia dapatkan itu adalah pemberian Allah yang Maha Kaya, maka berpalingnya dia dari ketentuan Allah tidaklah membuat Allah butuh padanya.

Memiliki kehidupan yang berkecukupan adalah idaman semua orang, sehingga dengan kondisi itu manusia tidak perlu bergantung atau mengharap bantuan dari yang lain. Nyatanya, kondisi hidup sering kali berubah-ubah. Manusia terkadang menghadapi hal sulit dalam kehidupannya sehingga berharap bantuan dari sesamanya, namun di waktu lapang manusia diuji dengan keprihatinannya kepada orang yang membutuhkan. Disini jati diri orang pelit akan tampak jelas. Sesuai dengan firman Allah Swt: “Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.”

Diantara manusia di waktu mendapatkan kenikmatan, akan timbul rasa enggan untuk berbagi yatu pelit berbagi kepada orang lain yang membutuhkan dan bahkan enggan menunaikan kewajibannya kepada Allah berupa zakat. Ayat diatas menunjukkan karakter orang pelit yang sesungguhnya. Orang pelit enggan berbagi dikala lapang tapi sangat berharap bantuan dikala butuh. Bantuan yang diberikan pun itu sangat terbatas sekali dari kemampuan yang bisa dia berikan. Sangat perhitungan dengan harta yang dimiliki. Allah Swt berfirman: “Serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi.” 

Sifat kikir menumbuhkan rasa yang berlebihan akan kehilangan harta. Makanya, orang kikir hidup penuh perhitungan. Bahkan jika dirinya memiliki harta yang banyak sekalipun dia tetap takut berinfak karena begitulah tabiat dan kecenderungannya.

Yahya bin Mua’dz berkata: “Aku heran dengan seseorang yang kikir dengan hartanya sedangkan Allah meminta pinjaman (menafkahkan hartanya di jalan Allah) tapi tidak ia berikan sedikitpun.” Menafkahkan harta di jalan Allah seperti memberikan modal investasi bisnis yang tidak mengenal rugi. Meskipun begitu, kesadaran sebagian manusia untuk berinfak masih sangat rendah.


Share:

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support