
“Katakanlah: ‘kalau seandainya kamu
menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhan-Ku, niscaya perbendaharaan
itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.’ Dan manusia itu sangat kikir.”
(QS. Al-Isra: 100)
Kikir
sering kali dikaitkan
dengan harta benda kepemilikan. Seseorang dikatakan kikir apabila ia tidak mau
berbagi dengan apa yang ia miliki terkait kewajiban dan hak orang lain. Kikir
merupakan penyakit hati yang sulit dideteksi terutama bagi orang yang mengidap
penyakit tersebut. Seolah ia merasa baik-baik saja. Dengan tidak memberi, ia
beranggapan hartanya akan bertambah, hidupnya berkecukupan, kebutuhannya
terpenuhi, sehingga tidak ada yang kurang dan merasa hidupnya aman. Padahal
Allah berfirman:
“Dan
jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah
kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka,
padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu
akan dikalungkan (dilehernya) pada hari kiamat. Milik Allah lah warisan (apa
yang ada) dilangit dan dibumi. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu
kerjakan.”
Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kikir
adalah mempersempit pergaulan, merasa berat memberikan kepunyaannya untuk orang
lain dan apa yang ada padanya tidak ingin berkurang. Dalam Al-Quran terdapat
empat term yang digunakan untuk menyebut sifat kikir yaitu al-bukhl, asy-syuhh, al-qatura dan aḍḍan.
Salah satu contoh seperti firman Allah
dalam QS. An-Nisa: 37
“(yaitu)
orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan
menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami
telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.”
Hamka dalam tafsirnya menjelaskan bahwa
bakhil pada ayat ini dipandang lebih luas dan bukan hanya perihal harta benda
saja. Seseorang yang punya pengetahuan luas dan mendalam mengenai agama lalu
tidak mau mengajarkan kepada penduduk kampungnya yang awam, maka itu juga di
sebut bakhil.
Jika dilihat dalam kehidupan bermasyarakat
banyak dijumpai sikap dan tindakan yang mencerminkan sifat kikir. Bisa
dikatakan sifat kikir ini telah menjadi gejala sosial yang sulit diatasi sampai
saat ini. Seperti permasalahan harta warisan yang kerap kali mengakibatkan
rusaknya persaudaraan, enggan mengeluarkan zakat dan tidak mau peduli dan
berbagi dengan orang disekitarnya yang membutuhkan. Harta memang dipandang
sebagai sarana mencapai kebaikan dan merupakan perhiasan hidup serta kunci
kesejahteraan untuk kemashlahatan hidup manusia. Sebaliknya harta juga
merupakan fitnah terbesar yang menyebabkan sebagian orang terlalu mencintai dan
rakus terhadapnya.
Kemudian jika diperhatikan lagi sifat
kikir itu bukan hanya terkait tidak mau memberi, akan tetapi orang yang
kelihatannya dermawan suka memberi ternyata mereka itulah orang yang sebenarnya
kikir. Ketika memberi ada rasa sakit dan ketidakrelaan yang ia rasakan
sesungguhnya itu mencerminkan dari sifat kikirnya. Selain itu praktek memberi
dengan tujuan mendapatkan hasil yang lebih besar dari apa yang diberikan
disertai adanya unsur riya’ yakni ingin mendapatkan pujian dan kemasyhuran di
tengah masyarakat. Seperti budaya kampanye dalam kegiatan pemilu. Biasanya
oknum-oknum yang mencalonkan diri itu berlagak seolah orang yang paling
dermawan dengan memberi sumbangan atau bantuan kepada masyarakat bawah. Pada
dasarnya memberi dalam hal itu bukanlah karna rasa dermawan akan tetapi karna
ingin memperoleh yang lebih banyak dari apa yang telah diberikan buktinya
setelah namanya naik dan terpilih, mereka hanya sibuk memperkaya diri dan tidak
lagi menghiraukan kebutuhan masyarakat.
Kemudian ada juga fenomena tahunan
tepatnya bisa disaksikan ketika lebaran saat jamaah suatu kampung berkumpul di
masjid. Sebelum menunaikan shalat Id, biasanya pengurus masjid menyeru jamaah
untuk berinfak atau bersedekah. Nyatanya di antara jamaah ada yang antusias
tiap tahun mengeluarkan infak dengan syarat meminta agar pengurus masjid
tersebut menyebutkan namanya dan nominal infak yang diberikan. Sehingga dengan
demikian menjadikan dia berbangga diri dengan apa yang telah diberikan.
Bukankah hal itu sebenarnya mencerminkan sifat kikir dalam jiwa seseorang?
Berbuat hanya untuk dinilai dermawan oleh manusia dan berbuat hanya untuk
kemasyhuran di tengah masyarakat. Bukan karena Allah semata.
Adapun
karakteristik sifat kikir sebenarnya telah disebutkan secara terang-terangan
dalam Al-Quran.
1. Kikir
dan Menyuruh Orang Lain Berbuat Kikir serta Menyembunyikan Karunia Allah swt
Sifat
kikir yang dimiliki oleh seseorang bukan hanya menjadikan dirinya sendiri yang
berlaku kikir akan tetapi sifat ini juga menariknya untuk mengajak dan menyuruh
orang lain berlaku kikir serta menyembunyikan karunia Allah swt. Firman-Nya.
“(yaitu)
orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan
karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah
menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.”
Ayat
yang lalu Allah menyatakan ketidaksukaan-Nya terhadap orang yang sombong dan
membanggakan diri maka pada ayat ini Allah menyebutkan hal yang sama yakni
Allah juga tidak menyukai orang-orang yang terus menerus berlaku kikir. Ini
dapat dipahami dari penggunaan bentuk kata kerja fi’il muḍariʻ yang menunjukkan
masa kini dan masa yang akan datang. Lebih lagi mereka tidak hanya kikir tetapi
juga terus menerus menyeruh orang lain untuk berbuat kikir, baik dengan ucapan
mereka dengan menghalangi kedermawanan maupun dengan perbuatan mereka yang
memberikan contoh buruk dalam memberi sumbangan yang kecil bahkan tidak memberi
sama sekali dan terus menerus menyembunyikan apa yang telah Allah anugerahkan
kepada mereka dari karunia-Nya, misalnya dengan berkata “saya tidak memiliki
sesuatu” saat diminta sumbangan kepadanya.
Orang
seperti itu dinamakan dengan al-kufru yakni sikap menutupi nikmat Allah yang
telah diberikan kepadanya, menyembunyikan dan mengingkarinya. Sehingga Allah
menyebut mereka dengan kafir untuk memberi peringatan bahwa perilaku bakhil
merupakan perwujudan dari sifat kufur. Tepatnya kufur terhadap nikmat. Karakter
bakhil dalam ayat ini dapat juga berarti mereka yang menginginkan atau
mengambil sebanyak-banyaknya dari masyarakat namun amat sedikit sekali dalam
memberi. Hanya mau bersahabat dengan mereka yang akan membawa keuntungan dan
mendatangkan harta bagi dirinya. Bahkan membanggakan sikapnya yang salah itu
dan mengatakan itulah yang benar.
2. Merasa
Dirinya Cukup
Merasa
dirinya cukup sehingga tidak lagi butuh orang lain bahkan Allah sekalipun
sebagaimana firman-Nya : “Dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya
cukup”
Bakhil
yakni tidak mau memberikan hartanya kepada mereka yang berhak diberikan serta
tidak adanya keinginan untuk beramal jariyah sebab terlena akan hartanya. Ia
mengumpulkan harta untuk dikuasai oleh hartanya sendiri sehingga menjadikan
hatinya buta tidak mengenal kasih sayang, hidup tolong menolong dan
bersilaturrahmi. Orang bakhil dengan hartanya merasa segalanya cukup. Ia takut
ditolong orang sebab khawatir nantinya akan membalas budi baik dari orang yang
telah menolongnya dengan menolongnya kembali. Sehingga orang yang seperti ini
seolah mengingkari adanya kebaikan. Tidak percaya bahwa di dunia ini ada
unsur-unsur kebaikan, baik kebaikan yang berhubungan dengan manusia maupun
kebaikan dengan Allah selain didapatkan di dunia juga ditemuinya di akhirat
kelak.
3. Menahan
dan Takut Membelanjakannya
Firman-Nya:
Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan
rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut
membelanjakannya". dan adalah manusia itu sangat kikir.
Sikap
menahan dan takut mengeluarkan hartanya serta khawatir akan habis seperti ini
tidak lain datang dari dorongan naluri kikir yang ada dalam diri manusia itu
sendiri yang tidak mampu dikontrol dan dikendalikan sebab terlenanya dengan kehidupan
duniawi dan melupakan akhirat. Ini merupakan gambaran yang paling tinggi dari
sifat kikir. Padahal rahmat Allah itu meliputi segala sesuatu. Tidak
dikhawatirkan akan lenyap ataupun berkurang. Akan tetapi karena jiwa-jiwa
manusia yang sudah terlalu kikir serta sangat pelit itu, maka ketika mereka
yang punya rahmat-rahmat Allah tersebut niscaya mereka akan tetap menahannya.
4. Kikir
Saat Mendapat Kebaikan dan Lupa Akan Ikrarnya
Sebagaimana
firman-Nya: “Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir” Ayat ini menyebutkan
tentang sifat naluri manusia. Kata hala’ secara bahasa dapat berarti sangat
kikir, sangat buruk dan sangat keji kegelisahannya. Sehingga dipahami maksud
ayat itu adalah manusia sesungguhnya tidak mampu bersabar baik terhadap
kebaikan maupun pada keburukan, sehingga melakukan sesuatu yang tidak
seharusnya dilakukan baik pada kebaikan maupun pada keburukan. Pendapat lain
menyebutkan kata al halū’ dapat berarti orang yang tidak pernah puas dan kata
manu’ adalah orang yang tidak menunaikan hak Allah dari harta yang
didapatkannya. Kemudian kebanyakan manusia lupa dan berpaling saat ia diberi
kenikmatan oleh Allah sebagaimana firman-Nya:
“Maka
setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka
kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang
selalu membelakangi (kebenaran).”
Ayat
ini turun berkenaan dengan harta Hathib bin Abu Balta‟ah pernah tertahan di
negeri Syam maka ia pernah bersumpah di hadapan suatu majelis golongan Anshar
bahwa apabila ia telah menerima kembali harta itu maka ia akan menyedekahkan
sebagiannya dan memberikan sebagiannya kepada keluarganya. Akan tetapi setelah
ia menerima hartanya itu ia menjadi kikir.
Lantas
hal ini banyak terjadi di tengah kehidupan masyarakat ketika Allah mengabulkan
harapan-harapan di antara mereka yang dulunya miskin sekarang mulai kaya
menjadikan mereka bakhil. Mereka menganggap harta yang ada pada mereka tak lain
adalah hasil jerih payah mereka sendiri dan mulailah terasa enggan untuk
mengeluarkannya. Pada awalnya bakhil kemudian menjadikannya berpaling dan
akhirnya menjadi tidak peduli.
Keberpalingan
yang dilakukannya itu bukanlah secara tiba-tiba tetapi dengan segenap kekuatan
dan dorongan jiwa yang telah menguasai dan mencegah mereka untuk bersedekah.
Sehingga saat diingatkan akan kewajiban, mereka tidak akan ingat dan saat
diperintahkan untuk memenuhi kewajiban itu, mereka tidak akan melakukannya.
5. Cintanya
terhadap Harta
Orang
yang bakhil dengan hartanya disebabkan rasa cinta nya yang begitu besar dan
terlalu terhadap hartanya. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Dan kamu mencintai harta benda dengan
kecintaan yang berlebihan.”
Mencintai
dengan kecintaan yang banyak maksudnya berlebihan diiringi dengan ketamakan hal
ini menjadikan manusia itu berupaya untuk terus mengumpulkannya kemudian
menjadikannya kikir dan tidak mau menginfakkannya. Mencintai harta secara
berlebihan merupakan sikap yang dikecam disebabkan sikap demikian menjadikannya
abai terhadap yang lain. Ini juga menunjukkan cintanya kepada dunia sehingga
menjadikannya kikir, congkak, sombong dan terkadang menghalalkan segala cara
demi memenuhi keinginan dan ambisinya, meskipun dengan cara mencuri, merampok
dan korupsi. Orang seperti ini lupa bahwa semua itu tidaklah abadi dan tidak
dapat dibawa mati. Sama halnya dalam firman-Nya: “Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.”
Kikir
adalah salah satu akhlak yang harus dihindari. Anehnya, orang kikir sendiri
justru menganggap perkara tersebut adalah sebuah kebaikan. Allah mengancam
orang kikir yang melampaui batas kejahatannya (menganjurkan orang lain berbuat
kikir) dengan menunjukkan kekuasaan Allah diatas segalanya tanpa bergantung
kepada yang lain. Al-Quran mengancam pula logika berfikir orang kikir yang
hanya mementingkan diri sendiri dan mencari alasan pembenaran atas sikapnya.
Orang kikir itu lupa bahwa harta yang dia dapatkan itu adalah pemberian Allah
yang Maha Kaya, maka berpalingnya dia dari ketentuan Allah tidaklah membuat
Allah butuh padanya.
Memiliki
kehidupan yang berkecukupan adalah idaman semua orang, sehingga dengan kondisi
itu manusia tidak perlu bergantung atau mengharap bantuan dari yang lain.
Nyatanya, kondisi hidup sering kali berubah-ubah. Manusia terkadang menghadapi
hal sulit dalam kehidupannya sehingga berharap bantuan dari sesamanya, namun di
waktu lapang manusia diuji dengan keprihatinannya kepada orang yang
membutuhkan. Disini jati diri orang pelit akan tampak jelas. Sesuai dengan
firman Allah Swt: “Dan apabila ia
mendapat kebaikan ia amat kikir.”
Diantara
manusia di waktu mendapatkan kenikmatan, akan timbul rasa enggan untuk berbagi
yatu pelit berbagi kepada orang lain yang membutuhkan dan bahkan enggan
menunaikan kewajibannya kepada Allah berupa zakat. Ayat diatas menunjukkan
karakter orang pelit yang sesungguhnya. Orang pelit enggan berbagi dikala
lapang tapi sangat berharap bantuan dikala butuh. Bantuan yang diberikan pun itu
sangat terbatas sekali dari kemampuan yang bisa dia berikan. Sangat perhitungan
dengan harta yang dimiliki. Allah Swt berfirman: “Serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi.”
Sifat
kikir menumbuhkan rasa yang berlebihan akan kehilangan harta. Makanya, orang
kikir hidup penuh perhitungan. Bahkan jika dirinya memiliki harta yang banyak
sekalipun dia tetap takut berinfak karena begitulah tabiat dan
kecenderungannya.
Yahya
bin Mua’dz berkata: “Aku heran dengan seseorang yang kikir dengan hartanya sedangkan
Allah meminta pinjaman (menafkahkan hartanya di jalan Allah) tapi tidak ia
berikan sedikitpun.” Menafkahkan harta di jalan Allah seperti memberikan modal
investasi bisnis yang tidak mengenal rugi. Meskipun begitu, kesadaran sebagian
manusia untuk berinfak masih sangat rendah.







0 Post a Comment:
Posting Komentar