
Dzikir Adalah perjuangan membebaskan diri dari kelalaian
dengan cara selalu menghadirkan hati bersama Dzat yang Mahabenar. Ada yang
mengartikan dzikir dengan mengulang penyebutan nama dari hati dan lisan, baik
yang disebutkan itu Adalah:
- Nama Allah
- Salah satu sifat-Nya
- Perintah-Nya;
- Perbuatan-Nya;
- Merenungkan kesimpulan berdasarkan salah satu dari yang disebutkan tadi;
- Memanjatkan doa kepada-Nya;
- Mengingat rasul, nabi, atau wali atau siapa saja yang berhubungan atau mendekat kepada-Nya dalam pelbagai cara; ataupun
- Melakukan perbuatan tertentu seperti membaca Al-Quran, dzikir, puisi, nyanyian, percakapan atau cerita.
Oleh karena itu, seorang ahli kalam (teolog), ahli fikih,
guru, mufti, dan pemberi nasihat adalah orang yang berzikir. Begitu pula orang
yang mengamati dan merenungkan keagungan Allah dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di
langit dan bumi serta orang yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya. Mereka berdua juga termasuk orang yang berzikir.
Berzikir dapat dilakukan melalui lisan, hati, dan anggota
badan. Bisa dikerjakan secara tersembunyi maupun secara terbuka
terang-terangan. Yang bisa menghimpun ketiga cara itu berarti betul-betul
berzikir secara sempurna.
Dzikir lisan adalah menyebut huruf demi huruf tanpa disertai
kehadiran hati. Ini yang disebut dzikir lahiriah. Meski demikian, ia tetap
memiliki keutamaan besar seperti ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Quran, hadis
Rasulullah dan atsar sahabat.
Dizkir lisan, ada yang terikat waktu dan tempat (muqayyad),
dan ada yang bersifat mutlak (muthlaq). Contoh dzikir muqayyad Adalah dzikir
dalam shalat dan setelahnya, dzikir selama beribadah haji, dzikir ketika hendak
makan, dzikir saat menaiki kendaraan, juga dzikir di pagi serta sore hari, dan
lain sebagainya.
Sementara dzikir muthlaq adalah segala jenis dzikir yang
tidak dibatasi oleh waktu, tempat, dan keadaan. Diantara bentuknya Adalah apa
saja yang berwujud ungkapan menyanjung Allah sebagaimana yang terkandung dalam
kalimat tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (la ilaha
illallah), takbir (Allahu akbar) dan haqalah (la haula wala quwwata illa
billah).
Wujud dzikir mutlak berikutnya adalah dzikir yang memuat
ungkapan doa dan munajat seperti dalam ayat Al-Quran berikut ini:
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa
atau salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang
berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami….” (QS.
Al-Baqarah: 286)
Begitu pula bacaan shalawat untuk Rasulullah Saw. seperti:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami
Muhammad.”
Berzikir dengan unsur munajat lebih membekas dan sangat
menyentuh hati pemula ketimbang dzikir yang tidak mengandung unsur tersebut. Sebab,
orang yang bermunajat merasa hatinya Tengah dekat dengan orang yang diajak
bicara dalam munajatnya. Cara seperti ini menimbulkan getaran efek yang luar
biasa di dalam hatinya dan membuatnya mudah tercapai kekhusyukan.
Selain memuat doa dan munajat, bentuk dzikir yang bersifat
mutlak adalah dzikir yang mengandung perlindungan dan permintaan urusan-urusan
duniawi dan ukhrawi. Contoh dzikir perlindungan Adalah kamu berkata:
“Allah bersamaku, Allah mengamatiku, Allah melihatku.”
Di dalam kalimat-kalimat itu, terkandung unsur perlindungan
untuk kemashlahatan hati. Pada hakikatnya, dzikir merupakan sarana yang
digunakan untuk untuk memperteguh kehadiran dan kesadaran diri hamba bahwa dia
agar berakhlak baik terhadap-Nya, menjaga diri dari kelengahan, melindungi kita
dari setan yang terkutuk, dan membantu menumbuhkan kekhusyukan selama
mengerjakan ibadah-ibadah.







0 Post a Comment:
Posting Komentar