"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Selasa, 20 Januari 2026

Sabar Itu Tak Ada Batasnya


(Foto hanya ilustrasi saja)

Dalam dunia tasawuf, Syekh Abū Yazīd Thaifūr al-Bisthāmī adalah seorang tokoh besar. Beliau lahir di Bistam, Persia, pada 804 M dan tinggal di kota tersebut hingga wafatnya pada 261 H/874 M. Thaifūr lahir dari keluarga kaya dan terpandang di kota Bistam, namun hidup dalam kesederhanaan. Kedua orangtuanya Muslim, namun kakeknya, Surūsyān, semula seorang penganut Zoroaster (penyembah api) yang kemudian masuk Islam. Dalam dunia tasawuf, Syekh Abū Yazīd Thaifūr al-Bisthāmī adalah seorang tokoh besar. Beliau lahir di Bistam, Persia, pada 804 M dan tinggal di kota tersebut hingga wafatnya pada 261 H/874 M. Thaifūr lahir dari keluarga kaya dan terpandang di kota Bistam, namun hidup dalam kesederhanaan. Kedua orangtuanya Muslim, namun kakeknya, Surūsyān, semula seorang penganut Zoroaster (penyembah api) yang kemudian masuk Islam.

Syekh Yazid adalah di antara tokoh yang mempopulerkan konsep fanā (annihilation) dalam tasawuf, yakni semacam kondisi kejiwaan yang hadir pada diri seorang sufi dimana berbagai jenis dan level kesombongan dalam dirinya telah runtuh, sehingga dia merasa bahwa diri/ke-aku-annya telah musnah. Capaian ini tentu diperoleh dari latihan ruhani yang panjang dan sangat berat. Dan hanya yang bersangkutan, atau yang telah mencapai dan merasakan maqam itu, yang memahami maksud sejati dari konsep tersebut.

Dalam perjalanan ruhaninya, Syekh Abū Yazīd sering dihadapkan pada ujian-ujian untuk meruntuhkan ego atau ke-aku-annya dan meleburkannya dalam kehendak dan kuasa ilahi.

Dikisahkan, Syekh Abū Yazīd sering berziarah kubur. Suatu malam, beliau pulang dari ziarah kuburnya. Saat itu beliau masih di area pemakaman, ketika seorang pemuda yang sedang mabuk mendekatinya, sambil menyanyi dengan sebuah alat musik (kecapi) yang dibawanya.

“Ya Allah, tolongnya kami,” ucap Syekh Abū Yazīd melihat gelagat tidak baik dari pemuda itu.

Ternyata begitu mendekat, pemuda itu mengangkat kecapinya dan melemparkan ke kepala beliau hingga kecapi itu patah. Darah pun mengucur dari kepala beliau.

Namun, karena mabuk, pemuda itu tidak menyadari siapa orang yang dipukulnya itu. Dengan luka dan darah di kepalanya, Syekh Abu Yazid melanjutkan perjalananya pulang ke Zawiyahnya.

Pagi pun datang. Beliau kemudian memanggil salah seorang muridnya dan bertanya, “Berapa harga sebuah kecapi?”

Setelah diberitahu harga sebuah kecapi, beliau membungkus sejumlah uang seharga kecapi itu dengan sehelai kain, ditambah dengan sedikit makanan. Beliau kemudian mengutusnya untuk memberikan  bungkusan itu kepada pemuda itu.

“Tolong berikan ini kepada pemuda itu dan katakan kepadanya,” beliau berpesan, “Abu Yazid memohon maaf. Katakana kepadanya, ‘tadi malam engkau memukul kepala Abu Yazid dengan kecapimu hingga kecapi itu patah. Dia meminta engkau menerima uang ini sebagai Ganti rugi untuk membeli kecapi yang baru. Dan manisan ini untuk menghibur hatimu yang sedih karena kecapimu rusak.”

Pemuda itu pun terhenyak. Ia menyadari apa yang telah dilakukannya tadi malam. Ia bergegas pergi mendatangi Syekh Abu Yazid . ia meminta maaf dan bertaubat. Setelah itu banyak pemuda lain juga yang ikut bertaubat dengannya.

 

Hikmah

Kisah ini banyak memberikan Pelajaran tentang sabar. Selama ini kita sering mendengar ungkapan orang, “sabar itu ada batasnya.” Jika orang yang mengatakan itu, berarti ia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit atau penderitaan, sehingga ia ingin melakukan sesuatu untuk segera mengakhirinya.

Ungkapan tersebut sebenarnya bisa bermakna sakit atau derita yang dialami sudah terlampau berat dan dia telah menahannya dengan sekuat kemampuan; kedua sakit atau penderitaan yang dialami sebenarnya tidak terlampau berat, hanya saja ia tidak mau menahannya dan ingin segerak berakhir. Oleh karenanya, ungkapan “sabar itu ada batasnya” tak jarang digunakan sekadar justifikasi seseorang untuk meluapkan amarahnya, padahal ia mungkin masih mampu lebih bersabar.

Lalu bagaimanakah sejatinya sabar itu?

Setiap orang pasti sering menghadapi kesulitan dalam kehidupannya. Kesulitan-kesulitan itu memang sengaja Allah ciptakan/hadirkan dalam hidup manusia, sebagai cara untuk menguji kesabaran manusia.

“Dan Kami pasti akan memberikan kalian sesuatu (kesulitan) berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Maka sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Di ayat itu Allah mengabarkan, kesulitan dapat hadir dalam banyak rupa. Namun apapun rupanya, yang jelas itu Adalah sesuatu atau peristiwa yang mengurangi atau menghilangkan kenyamanan yang selama ini dirasakan; atau yang menghambat kita dalam memperoleh kebutuhan, keinginan atau kesenangan yang diinginkan.

Setiap kesulitan sejatinya hadir atas kehendak dan izin Allah. Namun kehadirannya selalu dalam kerangka sunnatullah sebab-akibat. Ia bisa hadir akibat keberadaan atau ulah seseorang, bisa juga akibat dari sebuah keadaan. Akibat ulah seseorang,  misalnya penipuan, pencurian, perampokan, penghinaan, keangkuhan, dan beragam kezaliman dan kejahatan lainnya. Akibat sebuah keadaan, misalnya kemiskinan, PHK, krisis ekonomi, bencana alam, dan lain sebagainya. Pada jenis kedua ini, sulit untuk menunjuk seseorang atau kelompok tertentu untuk dijadikan penyebab kesulitan itu karena mungkin dimunculkan oleh serangkaian faktor dan aktor yang terlibat.

Apapun rupa dan tingkat kesulitannya, orang yang sabar adalah yang selalu sadar bahwa itu semua hakikatnya adalah dari dan oleh Allah Swt.

 

 

Share:

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support