
(Foto hanya ilustrasi saja)
Dalam dunia tasawuf, Syekh Abū Yazīd
Thaifūr al-Bisthāmī adalah seorang tokoh besar. Beliau lahir di Bistam, Persia,
pada 804 M dan tinggal di kota tersebut hingga wafatnya pada 261 H/874 M.
Thaifūr lahir dari keluarga kaya dan terpandang di kota Bistam, namun hidup
dalam kesederhanaan. Kedua orangtuanya Muslim, namun kakeknya, Surūsyān, semula
seorang penganut Zoroaster (penyembah api) yang kemudian masuk Islam. Dalam
dunia tasawuf, Syekh Abū Yazīd Thaifūr al-Bisthāmī adalah seorang tokoh besar.
Beliau lahir di Bistam, Persia, pada 804 M dan tinggal di kota tersebut hingga
wafatnya pada 261 H/874 M. Thaifūr lahir dari keluarga kaya dan terpandang di
kota Bistam, namun hidup dalam kesederhanaan. Kedua orangtuanya Muslim, namun
kakeknya, Surūsyān, semula seorang penganut Zoroaster (penyembah api) yang
kemudian masuk Islam.
Syekh Yazid adalah di antara tokoh yang
mempopulerkan konsep fanā (annihilation) dalam tasawuf, yakni semacam
kondisi kejiwaan yang hadir pada diri seorang sufi dimana berbagai jenis dan
level kesombongan dalam dirinya telah runtuh, sehingga dia merasa bahwa
diri/ke-aku-annya telah musnah. Capaian ini tentu diperoleh dari latihan ruhani
yang panjang dan sangat berat. Dan hanya yang bersangkutan, atau yang telah
mencapai dan merasakan maqam itu, yang memahami maksud sejati dari konsep
tersebut.
Dalam perjalanan ruhaninya, Syekh Abū
Yazīd sering dihadapkan pada ujian-ujian untuk meruntuhkan ego atau
ke-aku-annya dan meleburkannya dalam kehendak dan kuasa ilahi.
Dikisahkan, Syekh Abū Yazīd sering
berziarah kubur. Suatu malam, beliau pulang dari ziarah kuburnya. Saat itu
beliau masih di area pemakaman, ketika seorang pemuda yang sedang mabuk
mendekatinya, sambil menyanyi dengan sebuah alat musik (kecapi) yang dibawanya.
“Ya Allah, tolongnya kami,” ucap Syekh
Abū Yazīd melihat gelagat tidak baik dari pemuda itu.
Ternyata begitu mendekat, pemuda itu
mengangkat kecapinya dan melemparkan ke kepala beliau hingga kecapi itu patah.
Darah pun mengucur dari kepala beliau.
Namun, karena mabuk, pemuda itu tidak
menyadari siapa orang yang dipukulnya itu. Dengan luka dan darah di kepalanya,
Syekh Abu Yazid melanjutkan perjalananya pulang ke Zawiyahnya.
Pagi pun datang. Beliau kemudian
memanggil salah seorang muridnya dan bertanya, “Berapa harga sebuah kecapi?”
Setelah diberitahu harga sebuah kecapi,
beliau membungkus sejumlah uang seharga kecapi itu dengan sehelai kain,
ditambah dengan sedikit makanan. Beliau kemudian mengutusnya untuk
memberikan bungkusan itu kepada pemuda
itu.
“Tolong berikan ini kepada pemuda itu
dan katakan kepadanya,” beliau berpesan, “Abu Yazid memohon maaf. Katakana
kepadanya, ‘tadi malam engkau memukul kepala Abu Yazid dengan kecapimu hingga
kecapi itu patah. Dia meminta engkau menerima uang ini sebagai Ganti rugi untuk
membeli kecapi yang baru. Dan manisan ini untuk menghibur hatimu yang sedih
karena kecapimu rusak.”
Pemuda itu pun terhenyak. Ia menyadari
apa yang telah dilakukannya tadi malam. Ia bergegas pergi mendatangi Syekh Abu
Yazid . ia meminta maaf dan bertaubat. Setelah itu banyak pemuda lain juga yang
ikut bertaubat dengannya.
Hikmah
Kisah ini banyak memberikan Pelajaran
tentang sabar. Selama ini kita sering mendengar ungkapan orang, “sabar itu ada
batasnya.” Jika orang yang mengatakan itu, berarti ia sudah tidak sanggup lagi
menahan rasa sakit atau penderitaan, sehingga ia ingin melakukan sesuatu untuk
segera mengakhirinya.
Ungkapan tersebut sebenarnya bisa
bermakna sakit atau derita yang dialami sudah terlampau berat dan dia telah
menahannya dengan sekuat kemampuan; kedua sakit atau penderitaan yang dialami
sebenarnya tidak terlampau berat, hanya saja ia tidak mau menahannya dan ingin
segerak berakhir. Oleh karenanya, ungkapan “sabar itu ada batasnya” tak jarang
digunakan sekadar justifikasi seseorang untuk meluapkan amarahnya, padahal ia
mungkin masih mampu lebih bersabar.
Lalu bagaimanakah sejatinya sabar itu?
Setiap orang pasti sering menghadapi
kesulitan dalam kehidupannya. Kesulitan-kesulitan itu memang sengaja Allah
ciptakan/hadirkan dalam hidup manusia, sebagai cara untuk menguji kesabaran
manusia.
“Dan Kami pasti akan memberikan kalian
sesuatu (kesulitan) berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. Maka sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang sabar.” (QS.
Al-Baqarah: 155)
Di ayat itu Allah mengabarkan, kesulitan
dapat hadir dalam banyak rupa. Namun apapun rupanya, yang jelas itu Adalah
sesuatu atau peristiwa yang mengurangi atau menghilangkan kenyamanan yang
selama ini dirasakan; atau yang menghambat kita dalam memperoleh kebutuhan,
keinginan atau kesenangan yang diinginkan.
Setiap kesulitan sejatinya hadir atas
kehendak dan izin Allah. Namun kehadirannya selalu dalam kerangka sunnatullah
sebab-akibat. Ia bisa hadir akibat keberadaan atau ulah seseorang, bisa juga
akibat dari sebuah keadaan. Akibat ulah seseorang, misalnya penipuan, pencurian, perampokan,
penghinaan, keangkuhan, dan beragam kezaliman dan kejahatan lainnya. Akibat
sebuah keadaan, misalnya kemiskinan, PHK, krisis ekonomi, bencana alam, dan
lain sebagainya. Pada jenis kedua ini, sulit untuk menunjuk seseorang atau
kelompok tertentu untuk dijadikan penyebab kesulitan itu karena mungkin
dimunculkan oleh serangkaian faktor dan aktor yang terlibat.
Apapun rupa dan tingkat kesulitannya,
orang yang sabar adalah yang selalu sadar bahwa itu semua hakikatnya adalah
dari dan oleh Allah Swt.







0 Post a Comment:
Posting Komentar