"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Sabtu, 21 Februari 2026

Rezeki Lahir dan Rezeki Batin

 

Rezeki lahir datang dari gerak anggota tubuh, sedangkan rezeki batin datang dari pergerakan hati. Rezeki sirr diperoleh melalui ketenangan. Sementara rezeki akal diperoleh melalui fana dari ketenangan hingga hamba itu tentram karena Allah dan bersama Allah.

Di dalam makanan yang kita konsumsi tidak ada nutrisi untuk ruh. Nutrisi dari makanan hanya menopang fisik. Nutrisi bagi ruh dan hati adalah dzikir mengingat Allah Yang Maha Mengetahui hal ghaib. Allah Swt. berfirman:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Pada saat kamu berdzikir kepada Allah, orang yang mendengarmu turut berdzikir bersamamu. Hal itu lantaran kamu berdzikir dengan lisanmu, kemudian dengan hatimu, lalu dengan jiwamu, dilanjut dengan ruhmu, lalu akalmu kemudian sirrmu. Semua itu terhimpun dalam dizkir yang satu.

Ketika kamu berdzikir kepada Allah dengan lisanmu, seluruh benda mati turut berdzikir bersama dzikir lisanmu.

Waktu kamu berdzikir kepada Allah dengan hatimu, alam semesta berserta seluruh dunia Allah yang ada di dalamnya turut berdzikir bersama hatimu.

Saat kamu berdzikir dengan kepada Allah dengan jiwamu, langit berserta makhluk yang ada di dalamnya turut berdzikir bersamamu.

Ketika kamu berdzikir kepada Allah dengan ruhmu, Kursi Allah beserta seluruh dunia yang ada di dalamnya turut berdzikir bersamamu.

Sewaktu kamu berdizkir kepada Allah dengan akalmu, para malaikat pemikul ‘Arasy Allah beserta malaikat-malaikat yang mengelilinginya dan ruh-ruh yang berada di dekat Allah turut berdzikir bersamamu.

Saat kamu sudah berdzikir dengan sirrmu, ‘Arasy Allah berserta seluruh dunia yang ada di dalamnya turut berdzikir bersamamu hingga dzikir itu sendiri menyatu dengan dzat-Nya.


Dikutip dalam kitab: Miftah al-falah wa Misbah al-Arwah ~ Ibnu Athaillah as-Sakandari

Share:

Senin, 09 Februari 2026

Antara Sehat dan Sakit

 

“Alangkah tidak nikmatnya sakit itu.” Begitulah yang acap kali dikatakan banyak orang. Padahal sakit dan sehat jaraknya hanya setipis benang. Keduanya sama-sama ujian. Allah berfirman:

 “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kalian kembali.” (QS. al Anbiya’: 35)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Allah menguji kita dengan kejelekan dan kebaikan, gembira dan sedih, sehat dan sakit, kaya dan miskin, halal dan haram, taat dan maksiat, petunjuk dan kesesatan.”

 “Betapa nikmatnya sehat.” Itulah yang sering kali diucapkan orang-orang sakit. Padahal keduanya; sakit dan sehat adalah nikmat. Hanya saja tidak banyak orang yang dapat melihat isi.

Kita biasanya hanya melihat bungkus. Ketika melihat sesuatu yang tampaknya tidak menyenangkan, kita akan berhenti di sana dan kemudian membesar-besarkan nya.

Sakit, meski satu sisi adalah suatu yang tidak menyenangkan, tidak diharapkan. Tapi di sisi lain adalah suatu yang indah dan nikmat yang luar biasa. Oleh karena itu, dahulu ada di antara Salafush Shalih yang berharap agar ditimpa sakit.

Al-Imam Ibnu Abi Dunya rahimahullah pernah mengatakan: “Mereka dulu (orang orang shalih terdahulu) berharap mendapat demam satu malam.”

Kenapa? Karena mereka bisa melihat isi, tidak hanya melihat bungkus. Mereka mengetahui hikmah dan sisi lain dari satu penyakit yang menimpa seorang manusia.

Share:

Kita Semua Merasakan

 

“Laut mana yang tidak berombak.” Itulah yang dikatakan orang-orang bijak dahulu. Tak seorang manusia pun yang bebas dari cobaan. Siapa pun dia pasti pernah merasakannya. Allah berfirman:

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, keku rangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 155)

Semua manusia sama. Setiap orang mendapatkan ujian dan cobaannya masing masing. Yang membedakan mereka hanya lah cara menghadapinya. Ada yang berkeluh kesah, merasa sempit lalu mengumpati takdir Allah. Ada pula yang sabar dan bahkan bersyukur terhadap cobaan tersebut. 

Semoga Allah merahmati orang-orang yang beriman. Karena hanya merekalah yang mampu menyikapi segala sesuatu dengan cara yang tepat dan terbaik. Rasulullah bersabda: 

“Urusan seorang mukmin itu sungguh sangat mengagumkan, karena semua urusannya menjadi kebaikan. Dan yang demikian itu hanya terjadi di kalangan orang-orang mukmin. Jika dianugerahi ke baikan maka ia bersyukur, dan syukurnya itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila ia ditimpa kesulitan, maka ia pun bersabar, dan kesabarannya itu menjadi kebaikan baginya.”

Di antara cobaan yang ditimpakan Allah kepada hamba-Nya adalah sakit. Nyaris tiada orang yang hidup tanpa pernah merasakan sakit, betapa pun manusia menginginkannya.

Fulan tak bisa melihat, matanya sakit, tak seperti biasanya. Fulan yang lain tak mampu bangkit dari pembaringannya, seluruh tubuhnya mati rasa, tak bisa digerak kan lagi seperti kemarin lusa. 

Buku: Nikmat Sakit ~ Zahir Al-Minangkabawi

Share:

Ini Cara Mengobati Penyakit dalam Jiwa!

 

Jika tubuh sedang dalam keadaan sehat, tugas seorang dokter ialah menyiapkan petunjuk tentang tindakan apa saja yang harus diperhatikan, guna menjaga dan memelihara kesehatan tersebut. Tetapi jika dia dalam keadaan sakit, tugasnya adalah mengembalikan kondisinya agar menjadi sehat kembali.

Seperti itu pula yang berkaitan dengan jiwa. Apabila jiwa Anda dalam keadaan sehat, bersih, dan lurus, seharusnya Anda berusaha menjaganya, bahkan mengupayakan agar ia bertambah kuat dan menjadi lebih bersih dan jernih maka seyogianya Anda berupaya agar ia dapat menyandang sifat-sifat baik seperti tersebut di atas.

Demikian pula jika tubuh diserang sesuatu yang dapat mengganggu kestabilannya atau menyebabkannya sakit, dia biasanya tidak diobati kecuali dengan sesuatu yang berlawanan dengan penyebab gangguan tersebut. Jika gangguan itu berasal dari sesuatu yang bertabiat panas, dia diobati dengan sesuatu yang bertabiat dingin. Dan jika disebabkan oleh kedinginan, dia diobati dengan sesuatu yang bertabiat panas.

Seperti itu pula keburukan budi pekerti yang merupakan penyakit dalam hati, harus diobati dengan sesuatu yang berlawanan dengannya. Penyakit kebodohan harus diobati dengan belajar. Penyakit kebakhilan, dengan memaksa diri untuk berlaku dermawan. Penyakit sombong, dengan sikap tawadhu. Adapun kerakusan, dengan menahan diri—secara sungguh-sungguh—dari apa yang diinginkan oleh nafsu.

Sebagaimana orang yang sedang sakit harus bersabar dalam menghadapi kepahitan obat dan menahan diri dari apa yang diinginkan nafsunya, demi mengatasi penyakit yang bersarang dalam tubuhnya maka seperti itu pula seharusnya dilakukan untuk menghadapi beratnya kesabaran dari perjuangan batin, demi mengobati berbagai penyakit hati. Bahkan, jauh lebih dari itu. Sebab, penyakit tubuh berakhir dengan datangnya kematian, sedangkan penyakit hati (semoga Allah melindungi kita) akan terus berlangsung terus sampai setelah mati, selama berabad abad yang tak diketahui kapan berakhirnya.

Sebagaimana tidak setiap pendingin akan cocok untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh kepanasan, kecuali apabila dalam ukuran tertentu, sehubungan dengan berat atau ringannya penyakit, lama atau cepatnya, serta banyak atau sedikitnya. Demikian pula dia harus dalam takaran tertentu, sehingga dapat diketahui seberapa banyak yang dapat mendatangkan manfaat baginya. Sebab, apabila tidak dijaga takarannya, dia justru dapat menambah parah penyakit yang hendak diobati. Demikian itu pula keburukan-keburukan akhlak yang ingin diobati, obatnya haruslah dalam ukuran dan takaran tertentu pula.

Sebagaimana kadar dan jenis obat harus disesuaikan dengan kadar dan jenis penyakit, sehingga dokter tidak akan mengobati sebelum mengetahui apakah penyakit itu bersumber dari sesuatu yang bersifat panas atau dingin, dan juga kalau itu dari kepanasan, berapa derajatnya dan berapa besar kekuatannya? Lalu dia juga akan mengamati kondisi tubuh si pasien, juga kondisi suhu udara tempat itu, apa pekerjaan pasien, berapa usianya dan bagaimana keadaannya secara keseluruhan. Baru setelah itu semua, dia memulai pengobatannya sesuai dengan hasil diagnosanya.

 Seperti itu pula, seyogianya yang dilakukan oleh seorang guru yang diikuti, yang hendak mengobati hati para muridnya serta orang-orang yang mengharapkan nasihatnya. Tak sepatut nya dia dengan serta-merta memaksakan atas mereka untuk menjalani latihan-latihan kejiwaan atau melaksanakan tugas-tugas tertentu, dengan jalan (thariqah) tertentu, sebelum dia mengetahui akhlak serta penyakit mereka secara mendalam.

Share:

Jalan Menuju Perbaikan Akhlak

Telah Anda ketahui sebelum ini bahwa sifat sedang, moderat, dan proporsional dalam akhlak menunjukkan kesehatan jiwa seseorang. Adapun penyimpangan dari sifat seperti itu menunjukkan adanya penyakit atau kelainan kepadanya. Seperti itu pula kondisi tubuh yang normal, menunjukkan bahwa dia sehat. Apabila dia tidak normal, hal itu menunjukkan adanya penyakit di dalamnya. Karena itu, marilah kita jadikan tubuh kita sebagai misal dalam uraian di bawah ini:

Upaya mengobati jiwa dengan menjauhkan diri dari segala perbuatan rendah dan perangai yang buruk, di samping mendatangkan pelbagai perbuatan mulia dan perangai yang baik, dapatlah diumpamakan seperti dalam mengobati anggota tubuh. Yaitu, dengan menghilangkan segala penyakit dan mengupayakan kesehatan baginya secara keseluruhan.

Sebagaimana asal mula kondisi tubuh manusia—pada gilirannya—dalam keadaan sedang dan normal (atau tengah tengah, sebagai misal suhu badannya tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, detak jantungnya tidak terlalu cepat dan tidak pula terlalu lambat, dan seterusnya). Kalau setelah itu pencernaannya terganggu, mungkin itu disebabkan oleh kesalahan makanan, perubahan cuaca, dan sebagainya. Dan seperti itu pula, setiap anak dilahirkan dalam keadaan lurus jiwanya dan sehat itrahnya. Kemudian kedua orangtuanyalah yang adakalanya menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi. Artinya, dia melakukan perbuatan-perbuatan buruk itu sebagai akibat dari kebiasaan sehari-hari maupun karena terpengaruh oleh lingkungannya.

Sebagaimana pada mulanya tubuh seseorang tidak tercipta dalam keadaan sempurna, tetapi dalam pertumbuhannya kemudian, dia menjadi sempurna dan kuat dengan makanan yang bergizi dan gerakan-gerakan jasmani yang tepat maka demikian pula jiwanya. Pada mulanya masih dalam keadaan serbakekurangan, tetapi memiliki kemampuan untuk menjadi sempurna. Yaitu, dengan pendidikan akhlak serta pengajaran ilmu pengetahuan kepadanya

Share:

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support