Sumber Ilmu - Mengutip dalam buku Mengobati Penyakit Hati Menumbuhkan Akhlak Mulia ~ Imam Al-Ghazali menuturkan bahwa akhlak yang baik bersumber pada
kekuatan akal yang moderat dan proporsional, hikmah
yang sempurna, emosi (ghadhab) dan ambisi (syahwat) yang
seimbang dan terkendali sepenuhnya oleh akal dan syariat.
Keseimbangan dan keserasian seperti ini dapat dicapai
melalui dua cara:
Cara pertama, melalui anugerah Ilahi dan kesempurnaan fitri. Yaitu, ketika seorang manusia dicipta dan dilahirkan dalam
keadaan memiliki akal yang sempurna dan perangai yang
baik, dengan kekuatan ambisi (syahwat) dan emosi (ghadhab)
yang terkendali, sedang, seimbang, dan proporsional, serta
bersesuaian dengan akal dan syariat.
Dengan kondisi seperti itu, dia adalah seorang berilmu
tanpa belajar dan terdidik tanpa didikan. Contohnya, Isa bin
Maryam, Yahya bin Zakaria a.s. dan para nabi selain keduanya, secara keseluruhan (shalawat dan salam Allah atas mereka
semuanya).
Meskipun demikian, tidaklah dipungkiri bahwa di antara
pelbagai tabiat dan naluri manusia, ada juga yang dapat dimiliki
dengan upaya dan usaha sungguh-sungguh. Maka adakalanya
seorang anak dikenal—sejak dilahirkan—sebagai seorang yang
lurus ucapannya, pemurah, dan pemberani. Sedangkan yang
lainnya, baru memperoleh perangai-perangai seperti itu—
sedikit demi sedikit—dengan kebiasaan serta pergaulannya
dengan orang-orang yang menyandang akhlak seperti itu.
Adakalanya pula dia meraihnya dengan cara belajar dari orang
orang lain sekitarnya.
Cara kedua, ialah dengan memperoleh perangai-perangai
ini melalui perjuangan melawan nafsu (mujahadah) dan latihan
latihan ruhani (riyadhah). Yakni dengan memaksakan—atas
diri seseorang—perbuatan-perbuatan tertentu yang merupakan
buah dari suatu jenis perangai yang ingin dimiliki.
Sebagai misal, seorang yang menginginkan melekatnya sifat
kedermawanan pada dirinya. Untuk itu, dia harus memaksakan
pada dirinya sendiri agar melakukan hal-hal yang biasa
dilakukan oleh seorang dermawan. Yaitu, menginfakkan harta.
Maka, dia terus-menerus menuntut dirinya agar melakukan
hal itu dan menjadikannya sebagai kebiasaannya untuk waktu
yang cukup lama. Sementara itu, dia harus berupaya melawan
kecenderungan dirinya sendiri, sehingga pada akhirnya
perbuatan seperti itu menjadi tabiat baru baginya dan dia
melakukannya dengan hati dan perasaan ringan. Baru setelah
itu, dia dapat disebut sebagai seorang dermawan.
Begitu juga seorang yang ingin menjadikan dirinya bertabiat rendah hati (tawadhu), sedangkan dia sebelumnya telah
dikuasai oleh tabiat sombong. Cara yang harus ditempuh ada
lah membiasakan dirinya—dalam waktu yang cukup lama—
untuk bertindak seperti layaknya orang-orang yang tawadhu,
sambil memaksa dan memerangi hawa nafsunya sendiri. Hal
ini hendaknya dilakukan sampai sifat tawadhu itu melekat dan
menjadi tabiat baru baginya, serta terasa mudah dan ringan ketika
melaksanakannya.
Semua bagian akhlak yang terpuji menurut syariat, dapat
diraih dengan cara seperti itu. Tujuannya adalah agar perbuatan
yang timbul darinya terasa nikmat. Seorang yang benar-benar
dermawan, misalnya, adalah yang merasakan kenikmatan ketika
dia memberikan hartanya. Bukan seperti orang yang memberikan
hartanya dengan diiringi perasaan berat dan tidak senang. Sedang
kan seorang yang benar-benar rendah hati (tawadhu) adalah yang
merasakan kenikmatan dengan sikap rendah hatinya itu.
Demikian itulah, akhlak yang dipujikan oleh agama tidak
akan tertanam dengan kuat di dalam jiwa, selama jiwa itu sendiri
belum terbiasa dengan semua perilaku dan kebiasaan yang baik,
dan selama ia belum meninggalkan semua perbuatan baik. Sikap
seperti itu, harus pula dipertahankan secara terus-menerus,
sebagaimana layaknya orang yang senantiasa merindukan dan
menikmati perbuatan-perbuatan baik dan mulia. Sebaliknya,
merasa berat dan tidak senang terhadap perbuatan-perbuatan
buruk, bahkan merasakannya sebagai penyebab penderitaan.
Nabi Saw. pernah bersabda:
“Telah dijadikan kebahagiaanku bersumber pada pelaksanaan shalat.”
Karena itu, apabila pelaksanaan kewajiban ibadah dan
penghindaran diri dari segala yang diharamkan masih terasa
berat atau kurang enak di dalam hati, hal itu adalah pertanda
suatu kekurangan. Yang pasti, hal itu dapat menjadi penghalang
timbulnya kebahagiaan yang sempurna dan sejati.
Walaupun demikian, adanya upaya untuk terus-menerus
melakukan perlawanan batin (mujahadah) dalam menghadapi
perasaan seperti itu, pasti lebih baik. Yaitu jika dibandingkan
dengan meninggalkan sama sekali upaya seperti itu, dan
bukannya dibandingkan dengan melaksanakannya secara
sukarela dan dengan perasaan yang ringan. Itulah pula sebabnya
Allah Swt. berirman:
Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar
dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang
orang yang khusyuk. (QS Al-Baqarah: 45)
Nabi Saw. juga bersabda:
“Beribadahlah kepada Tuhanmu dengan perasaan ridha (senang ha ).
Namun apabila engkau tak mampu melakukannya seperti itu, ketahuilah
bahwa dalam kesabaran menghadapi apa yang tak kau kuasai tersimpan
kebaikan amat banyak.”
Akan tetapi, dalam upaya meraih kebahagiaan yang
dijanjikan, berkaitan dengan akhlak yang baik, tidaklah cukup
hanya dengan merasakan kenikmatan dalam melaksanakan
ketaatan serta ketidaksenangan dalam berhadapan dengan
kemaksiatan, untuk waktu-waktu tertentu saja. Hal itu harus dijalani secara terus-menerus, sepanjang usia seseorang. Karena
itu, makin panjang usianya, makin kuat dan sempurna pula
kebaikan perilakunya. Dan itulah sebabnya, ketika Rasulullah
Saw. ditanya tentang “kebahagiaan”, beliau menjawab:
“Panjang usia dalam ketaatan kepada Allah Swt.”
Itu pula sebabnya, para nabi dan wali tidak menyukai
kematian, mengingat bahwa “dunia adalah ladang akhirat”.
Makin banyak pelaksanaan ibadah dengan panjangnya usia,
makin banyak pula pahala yang diraih, makin suci jiwanya,
makin kuat dan mapan akhlaknya. Adapun yang menjadi tujuan
ibadah adalah pengaruhnya di dalam hati. Dan, pengaruh itu
akan makin menguat dengan dilaksanakannya ibadah secara
terus-menerus.
Adapun tujuan utama dari akhlak yang baik adalah
terhentinya kecintaan pada dunia dalam hati seseorang, dan
sebagai gantinya—makin mantap pula kecintaannya kepada
Allah Swt. Maka, tak sesuatu pun yang lebih diinginkannya
daripada perjumpaan dengan-Nya Swt. Selanjutnya, dia takkan
menggunakan hartanya kecuali sesuai dengan apa yang akan
menyampaikannya kepada Allah Swt. Demikian pula seluruh
kekuatan emosi (ghadhab) dan ambisi (syahwatnya) kini menjadi
tunduk patuh kepadanya, sehingga takkan digunakannya
kecuali dalam hal-hal yang akan menyampaikannya pula
kepada Allah Swt. Yaitu, dengan senantiasa menimbang kedua
kekuatan tersebut dengan timbangan syariat dan akal. Dan—
pada akhirnya—semua itu pasti akan dirasakannya sebagai
kesenangan dan kenikmatan baginya.
Hendaknya kita tidak meragukan kemungkinannya bahwa
shalat dapat menjadi penyejuk hati atau sumber kebahagiaan bagi
jiwa, dan bahwa pelbagai ibadah lainnya dapat pula menimbulkan
perasaan amat menyenangkan. Hal ini mengingat bahwa sesuatu
yang telah menjadi kebiasaan, dapat menimbulkan keajaiban
keajaiban yang lebih mengherankan. Misalnya, adakalanya kita
melihat para raja atau hartawan sering dirundung kesedihan
dan keresahan. Sebaliknya, seorang penjudi yang bangkrut
sering diliputi kegembiraan dan kesenangan oleh perjudiannya,
yang melampaui kegembiraan orang-orang lainnya yang
tidak berjudi. Padahal, perjudian telah merampas hartanya,
menghancurkan rumah tangganya, dan menjadikannya bangkrut. Meskipun demikian, dia tetap mencintainya dan merasa
amat senang dengannya. Itu disebabkan dia telah lama sekali
terbiasa dengannya dan mengonsentrasikan dirinya pada permainan tersebut untuk waktu yang cukup lama.
Demikian pula orang yang gemar bermain-main dengan
burung merpati. Adakalanya dia berdiri sepanjang hari di
bawah terik matahari. Dia bersabar menanggung rasa lelah,
bahkan mungkin dia tidak merasakan kelelahan sama sekali,
disebabkan keasyikannya melihat burung-burung itu serta
gerakan-gerakannya, cara terbangnya, dan bagaimana mereka
berputar-putar di angkasa.
Bahkan kita menyaksikan orang yang dikenal sebagai
pendosa yang durhaka dan tak bermoral. Dia merasa bangga
dengan hukuman cambuk atau potong tangan yang harus
diterimanya. Kalaupun dihadapkan pada hukuman penyaliban,
dia tetap menunjukkan ketabahan, dan berbangga-bangga
dengan kemampuannya untuk menghadapi semua itu dengan hati yang keras tak bergeming sedikit pun. Dan, sekiranya
anggota tubuhnya dirincis dan disayat-sayat agar mengakui
perbuatannya atau perbuatan salah seorang dari kelompoknya,
dia akan tetap tutup mulut dan tidak peduli dengan hukuman
apa pun yang bakal diterimanya. Bahkan, dia makin merasa
bangga dengan sikapnya itu, yang baginya merupakan tanda
tanda kesempurnaan, keberanian, dan kejantanan. Mengapa?
Karena semua ini telah menjadi sumber kesenangannya dan
penimbul rasa kebanggaannya.
Barangkali tak ada keadaan yang lebih rendah dan lebih
buruk daripada keadaan seorang banci yang menyerupakan
dirinya dengan perempuan. Antara lain, dengan menghilangkan
rambut dan membuat rajah (tato) di wajahnya, serta
pergaulannya yang rapat dengan kaum wanita. Namun Anda
melihat bahwa si banci itu merasa senang dengan keadaannya,
bahkan makin bangga dengan kemiripannya yang sempurna
dengan perempuan. Dan, dia tak segan-segan bersaing dengan
kaum banci selainnya dalam kebancian mereka.
Demikian pula, kebanggaan dan saling menonjolkan diri
di antara para tukang bekam dan para penyapu jalan, tak kalah
serunya dengan apa yang terjadi di antara para raja dan ulama.
Semua ini adalah akibat kebiasaan dengan suatu pekerjaan
yang dilakukan secara terus-menerus, dalam jangka waktu yang
cukup lama, sebagaimana dapat disaksikan dalam berbagai
pengelompokan atau profesi tertentu.
Jelaslah bahwa jika nafsu manusia dapat merasakan
kenikmatan dengan berlanjutnya suatu kebiasaan, walaupun
batil, dan juga menjadi cenderung padanya walaupun itu
termasuk sesuatu yang keji maka bagaimana mungkin dia tidak merasa kenikmatan dengan sesuatu yang haq, seandainya dia
dikembalikan kepadanya dan dibiasakan dengannya selama
waktu yang cukup?
Pada hakikatnya, kecenderungan nafsu seseorang pada hal
hal yang buruk merupakan sesuatu yang berada di luar tabiat
aslinya. Hal itu dapat disamakan dengan perbuatan seseorang
memakan tanah, yang adakalanya dilakukan karena telah
terbiasanya dia melakukan hal seperti itu.
Adapun kecenderungan pada hikmah (kearifan) serta
kecintaan kepada Allah Swt., demikian pula upaya mengenal
Nya dan menujukan ibadah kepada-Nya, semua itu termasuk
tabiat asli manusia yang memang tertanam dalam hati—secara
alami dan itri—sama seperti kecenderungan seseorang pada
makan dan minum. Hal itu merupakan salah satu urusan Ilahi.
Sedangkan kecenderungan hati untuk mengikuti rangsangan
syahwat hawa nafsu adalah sesuatu yang asing melintas dalam
tabiat. Sebab, makanan yang sebenarnya bagi hati adalah
hikmah, makriat, dan kecintaan kepada Allah Swt. Kalaupun
dia adakalanya menyimpang dari naluri aslinya, yang demikian
itu adalah akibat adanya suatu penyakit yang menyebabkan
seseorang kehilangan selera makan dan minum, sedangkan
keduanya adalah penyebab utama kehidupannya sendiri.
Jelaslah, bahwa hati yang cenderung mencintai sesuatu
selain Allah Swt., adalah hati yang telah terkena penyakit,
sekadar parahnya kecenderungan itu. Kecuali jika dia mencintai
sesuatu itu, semata-mata karena dapat membantunya dalam
mencintai Allah Swt., serta melaksanakan agama-Nya. Maka,
yang demikian itu tidak menunjukkan adanya penyakit tersebut.
Kini, pasti Anda telah mengetahui bahwa berbagai perangai
dan akhlak yang baik ini, dapat diperoleh dengan latihan-latihan
ruhani (riyadhah). Yaitu—pada mulanya—dengan memaksakan
diri melakukan hal-hal yang timbulnya dari adanya akhlak yang
baik, agar—pada akhirnya—dia menjadi bagian dari tabiat yang
mapan. Dan, ini merupakan keterkaitan yang mengagumkan
antara hati dan anggota tubuh, atau antara ruhani dan jasmani.
Sebab, setiap sifat yang ada dalam hati pasti akan melimpah
bekasnya pada anggota tubuh. Sehingga, tubuh takkan bergerak
kecuali sesuai dengan sifat tersebut. Sebaliknya, setiap perbuatan
yang dilakukan oleh tubuh pasti akan ada pengaruhnya di dalam
hati. Maka dalam hal ini, terjadilah daur (proses melingkar)
yang terus berputar dan berkesinambungan
Mengenai ini, dapat dijelaskan dengan memberi contoh.
Yaitu, seseorang yang ingin memiliki kecakapan dalam hal
menulis kaligrai, dan ingin agar kecakapannya itu tertanam
kuat dalam dirinya, atau menjadi bakat baru baginya. Maka,
tak ada jalan baginya kecuali melatih tangannya melakukan apa
yang dilakukan oleh seorang penulis yang benar-benar cakap
dan berbakat. Dia akan terus-menerus menulis dan menulis,
selama waktu yang cukup panjang, seraya meniru tulisan
indah yang digoreskan oleh tangan si penulis berbakat. Dan
sepanjang waktu itu, dia berusaha membuat tulisan-tulisan
yang menyerupai, atau hampir menyerupainya. Sehingga, pada
akhirnya, tergoreslah pula oleh tangannya tulisan indah yang
mengalir lancar secara naluriah, walaupun—pada mulanya
dahulu—dia melakukannya dengan susah payah dan memaksa
diri. Maka, seolah-oleh tulisan indah itulah yang menjadikannya
kini sebagai seorang penulis indah. Walaupun pertamanya ia dilakukan dengan susah payah, tetapi hasilnya tetap membekas
dan merasuk ke dalam jiwa penulis, lalu dari situ keluar dan
menggerakkan tangannya dan jadilah dia seorang penulis indah
secara naluriah.
Demikian itu pula bagi seorang yang ingin memiliki bakat
sebagai seorang ahli fiqih. Tak ada jalan lain baginya kecuali
melakukan apa yang dilakukan oleh para ahli iqih. Yang
mempelajari, dan mempelajari kembali hukum-hukum iqih,
sampai akhirnya kecakapan tersebut tertanam di hatinya, dan
jadilah seorang yang berjiwa faqih (ahli iqih paripurna).
Begitu pula siapa yang ingin menjadi seorang dermawan,
mulia hatinya, penyantun, dan bertawadhu. Pada mulanya, dia
harus bersedia melakukan seperti yang dilakukan para dermawan,
walaupun dengan cara memaksa dirinya, sampai nanti—pada
akhirnya—sifat tersebut menjadi tabiat yang melekat padanya.
Itulah satu-satunya cara untuk menumbuhkannya.
Nah, sebagaimana orang tersebut di atas yang ingin menjadi
seorang ahli iqih berbakat, tidak akan berputus asa dengan
cara mengorbankan malam-malamnya, demi memperoleh
tingkatan ini. Dan sementara itu, dia takkan meraihnya
dengan hanya mengulang-ulangnya pada satu malam saja.
Demikian itu pulalah seseorang yang ingin melakukan tazkiat
al-nafs (penyucian batin). Tak mungkin dia menyucikannya,
menyempurnakannya, dan menghiasinya dengan amalan
amalan mulia, atau menghindarkan diri dari perbuatan maksiat
selama satu hari saja.
Itulah makna ucapan kami, bahwa satu perbuatan keji tidak
harus mengakibatkan kesengsaraan abadi. Namun, meliburkan
diri dalam satu hari saja, dapat mengundang keinginan untuk liburan lainnya. Kemudian pertahanan kita akan runtuh
sedikit demi sedikit, sehingga jiwa kita menikmati kemalasan,
lalu—setelah itu—meninggalkan perjuangan sama sekali. Dan,
hilanglah pula kesempatan untuk meraih keutamaan sebagai
ahli fiqih yang benar-benar faqih secara lahir batin.
Demikian itu pula dosa-dosa yang ringan. Jika dilakukan
terus-menerus, akan saling tarik-menarik. Sehingga—akhirnya—
tercabutlah kebahagiaan itu sama sekali dari dasarnya. Yaitu,
dengan hancurnya pertahanan iman di saat-saat menjelang mati.
Sebagaimana pengulangan yang dilakukan pada saat malam
saja tidak cukup dirasakan pengaruhnya dalam “memfaqihkan”
jiwa, mengingat bahwa yang demikian itu hanya dapat timbul
sedikit demi sedikit, seperti dalam hal pertumbuhan badan dan
tingginya tubuh maka demikian itu pula, satu kali saja ibadah
tidak akan cukup terasa pengaruhnya seketika, dalam upaya
tazkiat al-nafs.
Meski demikian, tak sepatutnya pula meremehkan amalan
amalan ibadah yang kecil-kecil. Sebab, apabila hal itu telah
mencapai jumlah yang cukup besar, ia pasti akan berpengaruh
juga, mengingat bahwa suatu jumlah terdiri atas satuan-satuan.
Maka, setiap satuan darinya memiliki pengaruh tersendiri.
Karena itu, tak ada suatu amalan ketaatan, kecuali dia memiliki
pengaruh atau bekas, walaupun tersembunyi. Dan karenanya
pula, pasti tersedia pahalanya. Tak ada keraguan dalam hal ini.
Sebab, setiap ganjaran berada di samping tiap-tiap bekas atau
pengaruh yang ditimbulkan. Begitu pula perbuatan kemaksiatan.
Betapa banyak faqih yang meremehkan peliburan sehari
semalam. Kemudian ini diikuti secara berulang-ulang, dengan
memberikan kesempatan pada dirinya untuk menunda-nunda tugasnya, sehari demi sehari. Sampai—pada akhirnya—dia
keluar dari tabiat “kefaqihannya” secara tak sadar.
Begitu pula orang yang meremehkan perbuatan dosa-dosa
kecil, lalu menunda-nunda pertobatannya secara berulang
ulang, sampai dia dicabut nyawanya oleh maut yang datang
secara tiba-tiba. Atau kegelapan dosa-dosa itu meliputi hatinya,
sehingga dia tidak lagi mendapat kesempatan untuk bertobat.
Sebab, sesuatu yang sedikit mengundang yang banyak, dan
menyebabkan hati terbelenggu oleh rantai-rantai syahwat hawa
nafsu, sehingga tak mungkin lagi terlepas dari cengkeramannya.
Itulah yang dimaksud dengan “tertutupnya pintu tobat”. Itu pula
yang dimaksud oleh irman Allah Swt.:
Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang
mereka. (QS Yasin: 9)
Karena itu pula, Ali r.a. menyatakan bahwa iman tampak
sebagai suatu (titik) putih di hati, setiap kali iman bertambah,
bertambah pula titik-titik putih itu. Apabila telah sempurna
iman seseorang, hatinya pun menjadi putih benderang seluruh
nya. Adapun kemunaikan sebagai suatu titik hitam itu, makin
bertambah kemunaikan, makin bertambah pula titik-titik
hitam itu, sehingga apabila telah sempurna kemunaikan itu,
hitam kelamlah hati secara keseluruhan.
Kesimpulannya, akhlak yang baik dan mulia, adakalanya
memang telah ada dalam tabiat dan itrah manusia. Dan,
adakalanya ia tumbuh dengan kebiasaan melakukan perbuatan
perbuatan baik. Adakalanya pula dengan menyaksikan orang
orang yang memang memiliki kebiasaan perbuatan-perbuatan yang baik, serta berkawan dengan mereka. Mereka itulah teman
teman pendamping yang membawa kebaikan, dan saudara
saudara yang mendatangkan perbaikan pada jiwa manusia.
Sebab, setiap tabiat “mencuri” tabiat lainnya, yang baik maupun
yang buruk.
Karena itu, barangsiapa terhimpun padanya ketiga penyebab
tersebut, sehingga dia menjadi seorang amat baik, karena tabiat
aslinya, adat kebiasaannya, dan hasil pelajarannya, sungguh dia
berada di atas puncak kebaikan dan keutamaan.
Barangsiapa yang memang sudah menjadi manusia rendah
dengan tabiat aslinya, dan kebetulan dia mendapat kawan-kawan
yang jahat, lalu dia belajar dari mereka, dan tersedia baginya
segala sarana dan suasana untuk berbuat kejahatan, sehingga
dia menjadi terbiasa dengannya, sungguh dia berada amat jauh
dari Allah Swt.
Ada pula orang-orang yang berada di antara kedua ting
katan tersebut, masing-masing menduduki derajatnya dalam
kedekatan dan kejauhan (dari Allah Swt.), sesuai dengan apa
yang ditunjukkan oleh sifat dan keadaannya sendiri.