"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Senin, 09 Februari 2026

Antara Sehat dan Sakit

 

“Alangkah tidak nikmatnya sakit itu.” Begitulah yang acap kali dikatakan banyak orang. Padahal sakit dan sehat jaraknya hanya setipis benang. Keduanya sama-sama ujian. Allah berfirman:

 “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kalian kembali.” (QS. al Anbiya’: 35)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Allah menguji kita dengan kejelekan dan kebaikan, gembira dan sedih, sehat dan sakit, kaya dan miskin, halal dan haram, taat dan maksiat, petunjuk dan kesesatan.”

 “Betapa nikmatnya sehat.” Itulah yang sering kali diucapkan orang-orang sakit. Padahal keduanya; sakit dan sehat adalah nikmat. Hanya saja tidak banyak orang yang dapat melihat isi.

Kita biasanya hanya melihat bungkus. Ketika melihat sesuatu yang tampaknya tidak menyenangkan, kita akan berhenti di sana dan kemudian membesar-besarkan nya.

Sakit, meski satu sisi adalah suatu yang tidak menyenangkan, tidak diharapkan. Tapi di sisi lain adalah suatu yang indah dan nikmat yang luar biasa. Oleh karena itu, dahulu ada di antara Salafush Shalih yang berharap agar ditimpa sakit.

Al-Imam Ibnu Abi Dunya rahimahullah pernah mengatakan: “Mereka dulu (orang orang shalih terdahulu) berharap mendapat demam satu malam.”

Kenapa? Karena mereka bisa melihat isi, tidak hanya melihat bungkus. Mereka mengetahui hikmah dan sisi lain dari satu penyakit yang menimpa seorang manusia.

Share:

Kita Semua Merasakan

 

“Laut mana yang tidak berombak.” Itulah yang dikatakan orang-orang bijak dahulu. Tak seorang manusia pun yang bebas dari cobaan. Siapa pun dia pasti pernah merasakannya. Allah berfirman:

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, keku rangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 155)

Semua manusia sama. Setiap orang mendapatkan ujian dan cobaannya masing masing. Yang membedakan mereka hanya lah cara menghadapinya. Ada yang berkeluh kesah, merasa sempit lalu mengumpati takdir Allah. Ada pula yang sabar dan bahkan bersyukur terhadap cobaan tersebut. 

Semoga Allah merahmati orang-orang yang beriman. Karena hanya merekalah yang mampu menyikapi segala sesuatu dengan cara yang tepat dan terbaik. Rasulullah bersabda: 

“Urusan seorang mukmin itu sungguh sangat mengagumkan, karena semua urusannya menjadi kebaikan. Dan yang demikian itu hanya terjadi di kalangan orang-orang mukmin. Jika dianugerahi ke baikan maka ia bersyukur, dan syukurnya itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila ia ditimpa kesulitan, maka ia pun bersabar, dan kesabarannya itu menjadi kebaikan baginya.”

Di antara cobaan yang ditimpakan Allah kepada hamba-Nya adalah sakit. Nyaris tiada orang yang hidup tanpa pernah merasakan sakit, betapa pun manusia menginginkannya.

Fulan tak bisa melihat, matanya sakit, tak seperti biasanya. Fulan yang lain tak mampu bangkit dari pembaringannya, seluruh tubuhnya mati rasa, tak bisa digerak kan lagi seperti kemarin lusa. 

Buku: Nikmat Sakit ~ Zahir Al-Minangkabawi

Share:

Ini Cara Mengobati Penyakit dalam Jiwa!

 

Jika tubuh sedang dalam keadaan sehat, tugas seorang dokter ialah menyiapkan petunjuk tentang tindakan apa saja yang harus diperhatikan, guna menjaga dan memelihara kesehatan tersebut. Tetapi jika dia dalam keadaan sakit, tugasnya adalah mengembalikan kondisinya agar menjadi sehat kembali.

Seperti itu pula yang berkaitan dengan jiwa. Apabila jiwa Anda dalam keadaan sehat, bersih, dan lurus, seharusnya Anda berusaha menjaganya, bahkan mengupayakan agar ia bertambah kuat dan menjadi lebih bersih dan jernih maka seyogianya Anda berupaya agar ia dapat menyandang sifat-sifat baik seperti tersebut di atas.

Demikian pula jika tubuh diserang sesuatu yang dapat mengganggu kestabilannya atau menyebabkannya sakit, dia biasanya tidak diobati kecuali dengan sesuatu yang berlawanan dengan penyebab gangguan tersebut. Jika gangguan itu berasal dari sesuatu yang bertabiat panas, dia diobati dengan sesuatu yang bertabiat dingin. Dan jika disebabkan oleh kedinginan, dia diobati dengan sesuatu yang bertabiat panas.

Seperti itu pula keburukan budi pekerti yang merupakan penyakit dalam hati, harus diobati dengan sesuatu yang berlawanan dengannya. Penyakit kebodohan harus diobati dengan belajar. Penyakit kebakhilan, dengan memaksa diri untuk berlaku dermawan. Penyakit sombong, dengan sikap tawadhu. Adapun kerakusan, dengan menahan diri—secara sungguh-sungguh—dari apa yang diinginkan oleh nafsu.

Sebagaimana orang yang sedang sakit harus bersabar dalam menghadapi kepahitan obat dan menahan diri dari apa yang diinginkan nafsunya, demi mengatasi penyakit yang bersarang dalam tubuhnya maka seperti itu pula seharusnya dilakukan untuk menghadapi beratnya kesabaran dari perjuangan batin, demi mengobati berbagai penyakit hati. Bahkan, jauh lebih dari itu. Sebab, penyakit tubuh berakhir dengan datangnya kematian, sedangkan penyakit hati (semoga Allah melindungi kita) akan terus berlangsung terus sampai setelah mati, selama berabad abad yang tak diketahui kapan berakhirnya.

Sebagaimana tidak setiap pendingin akan cocok untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh kepanasan, kecuali apabila dalam ukuran tertentu, sehubungan dengan berat atau ringannya penyakit, lama atau cepatnya, serta banyak atau sedikitnya. Demikian pula dia harus dalam takaran tertentu, sehingga dapat diketahui seberapa banyak yang dapat mendatangkan manfaat baginya. Sebab, apabila tidak dijaga takarannya, dia justru dapat menambah parah penyakit yang hendak diobati. Demikian itu pula keburukan-keburukan akhlak yang ingin diobati, obatnya haruslah dalam ukuran dan takaran tertentu pula.

Sebagaimana kadar dan jenis obat harus disesuaikan dengan kadar dan jenis penyakit, sehingga dokter tidak akan mengobati sebelum mengetahui apakah penyakit itu bersumber dari sesuatu yang bersifat panas atau dingin, dan juga kalau itu dari kepanasan, berapa derajatnya dan berapa besar kekuatannya? Lalu dia juga akan mengamati kondisi tubuh si pasien, juga kondisi suhu udara tempat itu, apa pekerjaan pasien, berapa usianya dan bagaimana keadaannya secara keseluruhan. Baru setelah itu semua, dia memulai pengobatannya sesuai dengan hasil diagnosanya.

 Seperti itu pula, seyogianya yang dilakukan oleh seorang guru yang diikuti, yang hendak mengobati hati para muridnya serta orang-orang yang mengharapkan nasihatnya. Tak sepatut nya dia dengan serta-merta memaksakan atas mereka untuk menjalani latihan-latihan kejiwaan atau melaksanakan tugas-tugas tertentu, dengan jalan (thariqah) tertentu, sebelum dia mengetahui akhlak serta penyakit mereka secara mendalam.

Share:

Jalan Menuju Perbaikan Akhlak

Telah Anda ketahui sebelum ini bahwa sifat sedang, moderat, dan proporsional dalam akhlak menunjukkan kesehatan jiwa seseorang. Adapun penyimpangan dari sifat seperti itu menunjukkan adanya penyakit atau kelainan kepadanya. Seperti itu pula kondisi tubuh yang normal, menunjukkan bahwa dia sehat. Apabila dia tidak normal, hal itu menunjukkan adanya penyakit di dalamnya. Karena itu, marilah kita jadikan tubuh kita sebagai misal dalam uraian di bawah ini:

Upaya mengobati jiwa dengan menjauhkan diri dari segala perbuatan rendah dan perangai yang buruk, di samping mendatangkan pelbagai perbuatan mulia dan perangai yang baik, dapatlah diumpamakan seperti dalam mengobati anggota tubuh. Yaitu, dengan menghilangkan segala penyakit dan mengupayakan kesehatan baginya secara keseluruhan.

Sebagaimana asal mula kondisi tubuh manusia—pada gilirannya—dalam keadaan sedang dan normal (atau tengah tengah, sebagai misal suhu badannya tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, detak jantungnya tidak terlalu cepat dan tidak pula terlalu lambat, dan seterusnya). Kalau setelah itu pencernaannya terganggu, mungkin itu disebabkan oleh kesalahan makanan, perubahan cuaca, dan sebagainya. Dan seperti itu pula, setiap anak dilahirkan dalam keadaan lurus jiwanya dan sehat itrahnya. Kemudian kedua orangtuanyalah yang adakalanya menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi. Artinya, dia melakukan perbuatan-perbuatan buruk itu sebagai akibat dari kebiasaan sehari-hari maupun karena terpengaruh oleh lingkungannya.

Sebagaimana pada mulanya tubuh seseorang tidak tercipta dalam keadaan sempurna, tetapi dalam pertumbuhannya kemudian, dia menjadi sempurna dan kuat dengan makanan yang bergizi dan gerakan-gerakan jasmani yang tepat maka demikian pula jiwanya. Pada mulanya masih dalam keadaan serbakekurangan, tetapi memiliki kemampuan untuk menjadi sempurna. Yaitu, dengan pendidikan akhlak serta pengajaran ilmu pengetahuan kepadanya

Share:

Cara Menumbuhkan Akhlak yang Baik. Yuk Simak Penjelasannya!

Sumber Ilmu - Mengutip dalam buku Mengobati Penyakit Hati Menumbuhkan Akhlak Mulia ~ Imam Al-Ghazali menuturkan bahwa  akhlak yang baik bersumber pada kekuatan akal yang moderat dan proporsional, hikmah yang sempurna, emosi (ghadhab) dan ambisi (syahwat) yang seimbang dan terkendali sepenuhnya oleh akal dan syariat.

Keseimbangan dan keserasian seperti ini dapat dicapai melalui dua cara:

Cara pertama, melalui anugerah Ilahi dan kesempurnaan fitri. Yaitu, ketika seorang manusia dicipta dan dilahirkan dalam keadaan memiliki akal yang sempurna dan perangai yang baik, dengan kekuatan ambisi (syahwat) dan emosi (ghadhab) yang terkendali, sedang, seimbang, dan proporsional, serta bersesuaian dengan akal dan syariat.

Dengan kondisi seperti itu, dia adalah seorang berilmu tanpa belajar dan terdidik tanpa didikan. Contohnya, Isa bin Maryam, Yahya bin Zakaria a.s. dan para nabi selain keduanya, secara keseluruhan (shalawat dan salam Allah atas mereka semuanya).

Meskipun demikian, tidaklah dipungkiri bahwa di antara pelbagai tabiat dan naluri manusia, ada juga yang dapat dimiliki dengan upaya dan usaha sungguh-sungguh. Maka adakalanya seorang anak dikenal—sejak dilahirkan—sebagai seorang yang lurus ucapannya, pemurah, dan pemberani. Sedangkan yang lainnya, baru memperoleh perangai-perangai seperti itu— sedikit demi sedikit—dengan kebiasaan serta pergaulannya dengan orang-orang yang menyandang akhlak seperti itu. Adakalanya pula dia meraihnya dengan cara belajar dari orang orang lain sekitarnya.

Cara kedua, ialah dengan memperoleh perangai-perangai ini melalui perjuangan melawan nafsu (mujahadah) dan latihan latihan ruhani (riyadhah). Yakni dengan memaksakan—atas diri seseorang—perbuatan-perbuatan tertentu yang merupakan buah dari suatu jenis perangai yang ingin dimiliki. 

Sebagai misal, seorang yang menginginkan melekatnya sifat kedermawanan pada dirinya. Untuk itu, dia harus memaksakan pada dirinya sendiri agar melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh seorang dermawan. Yaitu, menginfakkan harta. Maka, dia terus-menerus menuntut dirinya agar melakukan hal itu dan menjadikannya sebagai kebiasaannya untuk waktu yang cukup lama. Sementara itu, dia harus berupaya melawan kecenderungan dirinya sendiri, sehingga pada akhirnya perbuatan seperti itu menjadi tabiat baru baginya dan dia melakukannya dengan hati dan perasaan ringan. Baru setelah itu, dia dapat disebut sebagai seorang dermawan.

Begitu juga seorang yang ingin menjadikan dirinya bertabiat rendah hati (tawadhu), sedangkan dia sebelumnya telah dikuasai oleh tabiat sombong. Cara yang harus ditempuh ada lah membiasakan dirinya—dalam waktu yang cukup lama— untuk bertindak seperti layaknya orang-orang yang tawadhu, sambil memaksa dan memerangi hawa nafsunya sendiri. Hal ini hendaknya dilakukan sampai sifat tawadhu itu melekat dan menjadi tabiat baru baginya, serta terasa mudah dan ringan ketika melaksanakannya.

Semua bagian akhlak yang terpuji menurut syariat, dapat diraih dengan cara seperti itu. Tujuannya adalah agar perbuatan yang timbul darinya terasa nikmat. Seorang yang benar-benar dermawan, misalnya, adalah yang merasakan kenikmatan ketika dia memberikan hartanya. Bukan seperti orang yang memberikan hartanya dengan diiringi perasaan berat dan tidak senang. Sedang kan seorang yang benar-benar rendah hati (tawadhu) adalah yang merasakan kenikmatan dengan sikap rendah hatinya itu.

Demikian itulah, akhlak yang dipujikan oleh agama tidak akan tertanam dengan kuat di dalam jiwa, selama jiwa itu sendiri belum terbiasa dengan semua perilaku dan kebiasaan yang baik, dan selama ia belum meninggalkan semua perbuatan baik. Sikap seperti itu, harus pula dipertahankan secara terus-menerus, sebagaimana layaknya orang yang senantiasa merindukan dan menikmati perbuatan-perbuatan baik dan mulia. Sebaliknya, merasa berat dan tidak senang terhadap perbuatan-perbuatan buruk, bahkan merasakannya sebagai penyebab penderitaan. Nabi Saw. pernah bersabda:

“Telah dijadikan kebahagiaanku bersumber pada pelaksanaan shalat.”

Karena itu, apabila pelaksanaan kewajiban ibadah dan penghindaran diri dari segala yang diharamkan masih terasa berat atau kurang enak di dalam hati, hal itu adalah pertanda suatu kekurangan. Yang pasti, hal itu dapat menjadi penghalang timbulnya kebahagiaan yang sempurna dan sejati.

Walaupun demikian, adanya upaya untuk terus-menerus melakukan perlawanan batin (mujahadah) dalam menghadapi perasaan seperti itu, pasti lebih baik. Yaitu jika dibandingkan dengan meninggalkan sama sekali upaya seperti itu, dan bukannya dibandingkan dengan melaksanakannya secara sukarela dan dengan perasaan yang ringan. Itulah pula sebabnya Allah Swt. berirman:

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang orang yang khusyuk. (QS Al-Baqarah: 45)

Nabi Saw. juga bersabda:

  “Beribadahlah kepada Tuhanmu dengan perasaan ridha (senang ha ). Namun apabila engkau tak mampu melakukannya seperti itu, ketahuilah bahwa dalam kesabaran menghadapi apa yang tak kau kuasai tersimpan kebaikan amat banyak.”

Akan tetapi, dalam upaya meraih kebahagiaan yang dijanjikan, berkaitan dengan akhlak yang baik, tidaklah cukup hanya dengan merasakan kenikmatan dalam melaksanakan ketaatan serta ketidaksenangan dalam berhadapan dengan kemaksiatan, untuk waktu-waktu tertentu saja. Hal itu harus dijalani secara terus-menerus, sepanjang usia seseorang. Karena itu, makin panjang usianya, makin kuat dan sempurna pula kebaikan perilakunya. Dan itulah sebabnya, ketika Rasulullah Saw. ditanya tentang “kebahagiaan”, beliau menjawab:

“Panjang usia dalam ketaatan kepada Allah Swt.”

Itu pula sebabnya, para nabi dan wali tidak menyukai kematian, mengingat bahwa “dunia adalah ladang akhirat”. Makin banyak pelaksanaan ibadah dengan panjangnya usia, makin banyak pula pahala yang diraih, makin suci jiwanya, makin kuat dan mapan akhlaknya. Adapun yang menjadi tujuan ibadah adalah pengaruhnya di dalam hati. Dan, pengaruh itu akan makin menguat dengan dilaksanakannya ibadah secara terus-menerus.

Adapun tujuan utama dari akhlak yang baik adalah terhentinya kecintaan pada dunia dalam hati seseorang, dan sebagai gantinya—makin mantap pula kecintaannya kepada Allah Swt. Maka, tak sesuatu pun yang lebih diinginkannya daripada perjumpaan dengan-Nya Swt. Selanjutnya, dia takkan menggunakan hartanya kecuali sesuai dengan apa yang akan menyampaikannya kepada Allah Swt. Demikian pula seluruh kekuatan emosi (ghadhab) dan ambisi (syahwatnya) kini menjadi tunduk patuh kepadanya, sehingga takkan digunakannya kecuali dalam hal-hal yang akan menyampaikannya pula kepada Allah Swt. Yaitu, dengan senantiasa menimbang kedua kekuatan tersebut dengan timbangan syariat dan akal. Dan— pada akhirnya—semua itu pasti akan dirasakannya sebagai kesenangan dan kenikmatan baginya.

Hendaknya kita tidak meragukan kemungkinannya bahwa shalat dapat menjadi penyejuk hati atau sumber kebahagiaan bagi jiwa, dan bahwa pelbagai ibadah lainnya dapat pula menimbulkan perasaan amat menyenangkan. Hal ini mengingat bahwa sesuatu yang telah menjadi kebiasaan, dapat menimbulkan keajaiban keajaiban yang lebih mengherankan. Misalnya, adakalanya kita melihat para raja atau hartawan sering dirundung kesedihan dan keresahan. Sebaliknya, seorang penjudi yang bangkrut sering diliputi kegembiraan dan kesenangan oleh perjudiannya, yang melampaui kegembiraan orang-orang lainnya yang tidak berjudi. Padahal, perjudian telah merampas hartanya, menghancurkan rumah tangganya, dan menjadikannya bangkrut. Meskipun demikian, dia tetap mencintainya dan merasa amat senang dengannya. Itu disebabkan dia telah lama sekali terbiasa dengannya dan mengonsentrasikan dirinya pada permainan tersebut untuk waktu yang cukup lama.

Demikian pula orang yang gemar bermain-main dengan burung merpati. Adakalanya dia berdiri sepanjang hari di bawah terik matahari. Dia bersabar menanggung rasa lelah, bahkan mungkin dia tidak merasakan kelelahan sama sekali, disebabkan keasyikannya melihat burung-burung itu serta gerakan-gerakannya, cara terbangnya, dan bagaimana mereka berputar-putar di angkasa.

Bahkan kita menyaksikan orang yang dikenal sebagai pendosa yang durhaka dan tak bermoral. Dia merasa bangga dengan hukuman cambuk atau potong tangan yang harus diterimanya. Kalaupun dihadapkan pada hukuman penyaliban, dia tetap menunjukkan ketabahan, dan berbangga-bangga dengan kemampuannya untuk menghadapi semua itu dengan hati yang keras tak bergeming sedikit pun. Dan, sekiranya anggota tubuhnya dirincis dan disayat-sayat agar mengakui perbuatannya atau perbuatan salah seorang dari kelompoknya, dia akan tetap tutup mulut dan tidak peduli dengan hukuman apa pun yang bakal diterimanya. Bahkan, dia makin merasa bangga dengan sikapnya itu, yang baginya merupakan tanda tanda kesempurnaan, keberanian, dan kejantanan. Mengapa? Karena semua ini telah menjadi sumber kesenangannya dan penimbul rasa kebanggaannya.

Barangkali tak ada keadaan yang lebih rendah dan lebih buruk daripada keadaan seorang banci yang menyerupakan dirinya dengan perempuan. Antara lain, dengan menghilangkan rambut dan membuat rajah (tato) di wajahnya, serta pergaulannya yang rapat dengan kaum wanita. Namun Anda melihat bahwa si banci itu merasa senang dengan keadaannya, bahkan makin bangga dengan kemiripannya yang sempurna dengan perempuan. Dan, dia tak segan-segan bersaing dengan kaum banci selainnya dalam kebancian mereka.

Demikian pula, kebanggaan dan saling menonjolkan diri di antara para tukang bekam dan para penyapu jalan, tak kalah serunya dengan apa yang terjadi di antara para raja dan ulama.

Semua ini adalah akibat kebiasaan dengan suatu pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus, dalam jangka waktu yang cukup lama, sebagaimana dapat disaksikan dalam berbagai pengelompokan atau profesi tertentu.

Jelaslah bahwa jika nafsu manusia dapat merasakan kenikmatan dengan berlanjutnya suatu kebiasaan, walaupun batil, dan juga menjadi cenderung padanya walaupun itu termasuk sesuatu yang keji maka bagaimana mungkin dia tidak merasa kenikmatan dengan sesuatu yang haq, seandainya dia dikembalikan kepadanya dan dibiasakan dengannya selama waktu yang cukup?

Pada hakikatnya, kecenderungan nafsu seseorang pada hal hal yang buruk merupakan sesuatu yang berada di luar tabiat aslinya. Hal itu dapat disamakan dengan perbuatan seseorang memakan tanah, yang adakalanya dilakukan karena telah terbiasanya dia melakukan hal seperti itu.

Adapun kecenderungan pada hikmah (kearifan) serta kecintaan kepada Allah Swt., demikian pula upaya mengenal Nya dan menujukan ibadah kepada-Nya, semua itu termasuk tabiat asli manusia yang memang tertanam dalam hati—secara alami dan itri—sama seperti kecenderungan seseorang pada makan dan minum. Hal itu merupakan salah satu urusan Ilahi.

Sedangkan kecenderungan hati untuk mengikuti rangsangan syahwat hawa nafsu adalah sesuatu yang asing melintas dalam tabiat. Sebab, makanan yang sebenarnya bagi hati adalah hikmah, makriat, dan kecintaan kepada Allah Swt. Kalaupun dia adakalanya menyimpang dari naluri aslinya, yang demikian itu adalah akibat adanya suatu penyakit yang menyebabkan seseorang kehilangan selera makan dan minum, sedangkan keduanya adalah penyebab utama kehidupannya sendiri.

Jelaslah, bahwa hati yang cenderung mencintai sesuatu selain Allah Swt., adalah hati yang telah terkena penyakit, sekadar parahnya kecenderungan itu. Kecuali jika dia mencintai sesuatu itu, semata-mata karena dapat membantunya dalam mencintai Allah Swt., serta melaksanakan agama-Nya. Maka, yang demikian itu tidak menunjukkan adanya penyakit tersebut.

Kini, pasti Anda telah mengetahui bahwa berbagai perangai dan akhlak yang baik ini, dapat diperoleh dengan latihan-latihan ruhani (riyadhah). Yaitu—pada mulanya—dengan memaksakan diri melakukan hal-hal yang timbulnya dari adanya akhlak yang baik, agar—pada akhirnya—dia menjadi bagian dari tabiat yang mapan. Dan, ini merupakan keterkaitan yang mengagumkan antara hati dan anggota tubuh, atau antara ruhani dan jasmani. Sebab, setiap sifat yang ada dalam hati pasti akan melimpah bekasnya pada anggota tubuh. Sehingga, tubuh takkan bergerak kecuali sesuai dengan sifat tersebut. Sebaliknya, setiap perbuatan yang dilakukan oleh tubuh pasti akan ada pengaruhnya di dalam hati. Maka dalam hal ini, terjadilah daur (proses melingkar) yang terus berputar dan berkesinambungan

Mengenai ini, dapat dijelaskan dengan memberi contoh. Yaitu, seseorang yang ingin memiliki kecakapan dalam hal menulis kaligrai, dan ingin agar kecakapannya itu tertanam kuat dalam dirinya, atau menjadi bakat baru baginya. Maka, tak ada jalan baginya kecuali melatih tangannya melakukan apa yang dilakukan oleh seorang penulis yang benar-benar cakap dan berbakat. Dia akan terus-menerus menulis dan menulis, selama waktu yang cukup panjang, seraya meniru tulisan indah yang digoreskan oleh tangan si penulis berbakat. Dan sepanjang waktu itu, dia berusaha membuat tulisan-tulisan yang menyerupai, atau hampir menyerupainya. Sehingga, pada akhirnya, tergoreslah pula oleh tangannya tulisan indah yang mengalir lancar secara naluriah, walaupun—pada mulanya dahulu—dia melakukannya dengan susah payah dan memaksa diri. Maka, seolah-oleh tulisan indah itulah yang menjadikannya kini sebagai seorang penulis indah. Walaupun pertamanya ia  dilakukan dengan susah payah, tetapi hasilnya tetap membekas dan merasuk ke dalam jiwa penulis, lalu dari situ keluar dan menggerakkan tangannya dan jadilah dia seorang penulis indah secara naluriah.

Demikian itu pula bagi seorang yang ingin memiliki bakat sebagai seorang ahli fiqih. Tak ada jalan lain baginya kecuali melakukan apa yang dilakukan oleh para ahli iqih. Yang mempelajari, dan mempelajari kembali hukum-hukum iqih, sampai akhirnya kecakapan tersebut tertanam di hatinya, dan jadilah seorang yang berjiwa faqih (ahli iqih paripurna).

Begitu pula siapa yang ingin menjadi seorang dermawan, mulia hatinya, penyantun, dan bertawadhu. Pada mulanya, dia harus bersedia melakukan seperti yang dilakukan para dermawan, walaupun dengan cara memaksa dirinya, sampai nanti—pada akhirnya—sifat tersebut menjadi tabiat yang melekat padanya. Itulah satu-satunya cara untuk menumbuhkannya.

Nah, sebagaimana orang tersebut di atas yang ingin menjadi seorang ahli iqih berbakat, tidak akan berputus asa dengan cara mengorbankan malam-malamnya, demi memperoleh tingkatan ini. Dan sementara itu, dia takkan meraihnya dengan hanya mengulang-ulangnya pada satu malam saja. Demikian itu pulalah seseorang yang ingin melakukan tazkiat al-nafs (penyucian batin). Tak mungkin dia menyucikannya, menyempurnakannya, dan menghiasinya dengan amalan amalan mulia, atau menghindarkan diri dari perbuatan maksiat selama satu hari saja.

Itulah makna ucapan kami, bahwa satu perbuatan keji tidak harus mengakibatkan kesengsaraan abadi. Namun, meliburkan diri dalam satu hari saja, dapat mengundang keinginan untuk liburan lainnya. Kemudian pertahanan kita akan runtuh sedikit demi sedikit, sehingga jiwa kita menikmati kemalasan, lalu—setelah itu—meninggalkan perjuangan sama sekali. Dan, hilanglah pula kesempatan untuk meraih keutamaan sebagai ahli fiqih yang benar-benar faqih secara lahir batin.

Demikian itu pula dosa-dosa yang ringan. Jika dilakukan terus-menerus, akan saling tarik-menarik. Sehingga—akhirnya— tercabutlah kebahagiaan itu sama sekali dari dasarnya. Yaitu, dengan hancurnya pertahanan iman di saat-saat menjelang mati.

Sebagaimana pengulangan yang dilakukan pada saat malam saja tidak cukup dirasakan pengaruhnya dalam “memfaqihkan” jiwa, mengingat bahwa yang demikian itu hanya dapat timbul sedikit demi sedikit, seperti dalam hal pertumbuhan badan dan tingginya tubuh maka demikian itu pula, satu kali saja ibadah tidak akan cukup terasa pengaruhnya seketika, dalam upaya tazkiat al-nafs.

Meski demikian, tak sepatutnya pula meremehkan amalan amalan ibadah yang kecil-kecil. Sebab, apabila hal itu telah mencapai jumlah yang cukup besar, ia pasti akan berpengaruh juga, mengingat bahwa suatu jumlah terdiri atas satuan-satuan. Maka, setiap satuan darinya memiliki pengaruh tersendiri. Karena itu, tak ada suatu amalan ketaatan, kecuali dia memiliki pengaruh atau bekas, walaupun tersembunyi. Dan karenanya pula, pasti tersedia pahalanya. Tak ada keraguan dalam hal ini. Sebab, setiap ganjaran berada di samping tiap-tiap bekas atau pengaruh yang ditimbulkan. Begitu pula perbuatan kemaksiatan.

Betapa banyak faqih yang meremehkan peliburan sehari semalam. Kemudian ini diikuti secara berulang-ulang, dengan memberikan kesempatan pada dirinya untuk menunda-nunda tugasnya, sehari demi sehari. Sampai—pada akhirnya—dia keluar dari tabiat “kefaqihannya” secara tak sadar.

Begitu pula orang yang meremehkan perbuatan dosa-dosa kecil, lalu menunda-nunda pertobatannya secara berulang ulang, sampai dia dicabut nyawanya oleh maut yang datang secara tiba-tiba. Atau kegelapan dosa-dosa itu meliputi hatinya, sehingga dia tidak lagi mendapat kesempatan untuk bertobat. Sebab, sesuatu yang sedikit mengundang yang banyak, dan menyebabkan hati terbelenggu oleh rantai-rantai syahwat hawa nafsu, sehingga tak mungkin lagi terlepas dari cengkeramannya. Itulah yang dimaksud dengan “tertutupnya pintu tobat”. Itu pula yang dimaksud oleh irman Allah Swt.:

Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka. (QS Yasin: 9)

Karena itu pula, Ali r.a. menyatakan bahwa iman tampak sebagai suatu (titik) putih di hati, setiap kali iman bertambah, bertambah pula titik-titik putih itu. Apabila telah sempurna iman seseorang, hatinya pun menjadi putih benderang seluruh nya. Adapun kemunaikan sebagai suatu titik hitam itu, makin bertambah kemunaikan, makin bertambah pula titik-titik hitam itu, sehingga apabila telah sempurna kemunaikan itu, hitam kelamlah hati secara keseluruhan.

Kesimpulannya, akhlak yang baik dan mulia, adakalanya memang telah ada dalam tabiat dan itrah manusia. Dan, adakalanya ia tumbuh dengan kebiasaan melakukan perbuatan perbuatan baik. Adakalanya pula dengan menyaksikan orang orang yang memang memiliki kebiasaan perbuatan-perbuatan yang baik, serta berkawan dengan mereka. Mereka itulah teman teman pendamping yang membawa kebaikan, dan saudara saudara yang mendatangkan perbaikan pada jiwa manusia. Sebab, setiap tabiat “mencuri” tabiat lainnya, yang baik maupun yang buruk.

Karena itu, barangsiapa terhimpun padanya ketiga penyebab tersebut, sehingga dia menjadi seorang amat baik, karena tabiat aslinya, adat kebiasaannya, dan hasil pelajarannya, sungguh dia berada di atas puncak kebaikan dan keutamaan.

Barangsiapa yang memang sudah menjadi manusia rendah dengan tabiat aslinya, dan kebetulan dia mendapat kawan-kawan yang jahat, lalu dia belajar dari mereka, dan tersedia baginya segala sarana dan suasana untuk berbuat kejahatan, sehingga dia menjadi terbiasa dengannya, sungguh dia berada amat jauh dari Allah Swt.

Ada pula orang-orang yang berada di antara kedua ting katan tersebut, masing-masing menduduki derajatnya dalam kedekatan dan kejauhan (dari Allah Swt.), sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh sifat dan keadaannya sendiri.


Share:

Minggu, 08 Februari 2026

Kemungkinan Mengubah Akhlak dengan Jalan Pelatihan

 

Sumber Ilmu - Sebagian orang yang jiwanya telah dikuasai oleh kemalasan, merasa berat sekali untuk memerangi hawa nafsu dan melaksanakan latihan-latihan mental khusus (mujahadah dan riyadhah) serta menyibukkan diri dengan penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs) dan peningkatan akhlak. Maka, dia tidak dapat menerima semua itu disebabkan adanya kelainan ataupun kerusakan pada batinnya. Lalu, dia menyatakan bahwa akhlak atau perangai manusia tidak dapat diubah. Hal itu—katanya— mengingat bahwa watak dan tabiat manusia memang tidak mungkin berubah, berdasarkan dua faktor:

Pertama, bahwa perangai seseorang merupakan gambaran dari batinnya, sebagaimana bentuk isiknya merupakan gambaran dari lahiriahnya. Dalam kenyataannya, bentuk lahiriah seseorang tidak dapat diubah. Misalnya, seorang yang pendek tidak dapat mengubah dirinya menjadi tinggi, sebagai mana yang tinggi tidak dapat mengubah dirinya menjadi pendek. Begitu juga yang jelek tidak dapat menjadi cantik. Maka, demikian pula halnya berkaitan dengan kejelekan batin. 

Kedua, sebagian orang mengatakan bahwa upaya menum buhkan akhlak yang baik dengan cara menekan kuat-kuat sifat syahwat dan ghadhab, tidak mungkin akan berhasil. Hal itu telah dicoba dengan cara melakukan perjuangan melawan nafsu (mujahadah) yang berlangsung lama sekali. Maka, diketahuilah bahwa yang demikian itu disebabkan oleh melekatnya watak dan tabiat pada diri seseorang, sehingga tidak mungkin dapat dihapus atau dihilangkan sama sekali. Karena itu, penyibukan diri dalam upaya pengubahannya adalah sama dengan penyia nyiaan waktu tanpa ada gunanya. Sebab, yang dicari adalah berhentinya hasrat hati sama sekali dari segala keinginan meraih kesenangan duniawi. Padahal, yang demikian itu adalah sesuatu yang mustahil.

Jawabnya adalah, seandainya akhlak manusia tidak mungkin menerima perubahan, niscaya tak ada gunanya semua nasihat, wejangan, dan pengajaran. Dan, Nabi Saw. pun tak akan bersabda:

“Baikkanlah akhlak kalian!”

Bagaimana dapat dipungkiri adanya kemungkinan peng ubahan perangai manusia, sedangkan pengubahan perangai  binatang pun merupakan sesuatu yang mungkin terjadi? Bukankah seekor elang dapat diubah dari burung yang buas menjadi jinak? Anjing dapat diubah dari seekor binatang yang rakus menjadi sopan dan menahan diri? Begitu juga kuda yang liar dan tak dapat dikendalikan, menjadi jinak dan mudah dikendalikan? Semuanya itu adalah realisasi pengubahan watak juga.

Untuk menyingkap semua itu, perlulah dijelaskan sebagai berikut:

Segala sesuatu yang maujud dapat dibagi menjadi dua bagian.

Pertama, yang tidak ada kekuasaan manusia atasnya, baik dalam asal penciptaannya, dalam hal keseluruhannya maupun rinciannya. Misalnya, langit dan planet-planet, atau bagian bagian dari anggota tubuh yang berada di dalam ataupun di luar, serta bagian-bagian lainnya dari tubuh makhluk hidup. Atau, secara umum, segala sesuatu yang telah maujud secara sempurna, telah selesai penciptaannya dan tak lagi kekurangan suatu apa pun.

 Kedua, yang wujudnya masih belum sempurna dan dalam dirinya diberi kekuatan untuk dapat menjadi sempurna, setelah dipenuhinya persyaratan untuk itu. Sedangkan persyaratannya adakalanya berkaitan dengan ikhtiar seorang manusia. Sebagai contoh, biji kurma bukanlah sebuah apel dan bukan pula pohon kurma. Akan tetapi, ia diciptakan demikian rupa sehingga dapat menjadi pohon kurma apabila disertai dengan pemeliharaan atau rekayasa tertentu. Dan, ia tidak mungkin sama sekali menjadi buah apel walaupun dengan rekayasa dan pemeliharaan.

Nah, jika biji kurma dapat dipengaruhi oleh ikhtiar manusia, sehingga dapat menerima sebagian perubahan—bukannya semua macam perubahan, demikian itu pula watak ghadhab (emosi, marah) dan syahwat (hasrat, emosi) dalam diri manusia. Jika kita hendak menekannya dan menghilangkannya sama sekali, sehingga tidak ada sedikit pun tersisa dari keduanya, pasti kita tidak akan berhasil melakukannya. Tetapi, jika kita hanya ingin menjinakkannya dan mengendalikannya dengan latihan-latihan dan mujahadah, niscaya kita akan mampu melakukannya.

Itulah yang diperintahkan kepada kita, dan itu pula yang akan menjadi penyebab keselamatan kita serta keberhasilan kita dalam perjalanan menuju Allah Swt.

Mengapa Manusia Berbeda dalam Menerima Perubahan? 

Watak dan tabiat masing-masing manusia tidaklah sama. Ada di antaranya yang cepat menerima perubahan, tetapi ada pula yang lambat. Adapun penyebabnya ada dua: 

Sebab pertama, kuatnya naluri dalam inti watak seseorang serta keberlangsungannya sepanjang hidup. Kekuatan syahwat, ghadhab, dan takabur memang ada dalam diri setiap manusia. Namun, yang paling sulit dikendalikan dan diubah adalah kekuatan ambisi (syahwat). Kekuatan ini telah ada dalam diri seorang anak sejak awal kelahirannya. Kemudian, mungkin pada usianya yang ketujuh, barulah terwujud kekuatan ghadhab (emosi). Setelah itulah tercipta padanya kekuatan tamyiz (tingkat pengetahuan pertama yang dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk—Penerj.)

Sebab kedua, suatu perangai dapat bertambah kuat apabila seseorang sering berbuat sesuai dengannya, atau mematuhinya, atau dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dan memuaskan.

Share:

Beberapa Ucapan Para Tokoh Terdahulu tentang Akhlak

 

Sumber Ilmu - Telah berkata putra Lukman kepada ayahnya, “Ayah, hal apa yang paling baik untuk manusia?”

“Agama,” jawab Lukman.

“Kalau dua?” tanya sang anak lagi.

“Agama dan harta.”

“Kalau tiga?”

“Agama, harta, dan rasa malu.”

“Kalau empat?”

“Agama, harta, rasa malu, dan akhlak yang baik.”

“Kalau lima?”

“Agama, harta, rasa malu, akhlak yang paling baik, dan kedermawanan.”

“Kalau enam?”

“Wahai anakku,” jawab Lukman. “Jika kelima hal tersebut terhimpun dalam diri seseorang, dia adalah seorang yang berhati suci, bertakwa, kekasih Allah, dan terjauhkan dari setan.”

Al-Hasan pernah berkata, “Barangsiapa rusak akhlaknya, sungguh dia telah menganiaya dirinya sendiri.”

Anas bin Malik berkata, “Seorang hamba—dengan akhlaknya yang baik—dapat mencapai derajat tertinggi di surga, sedangkan dia bukanlah seorang ahli ibadah. Dan—dengan akhlaknya yang buruk—dapat terhempas ke dasar paling bawah Neraka Jahanam, sedangkan dia seorang ahli ibadah.

Telah berkata Yahya bin Muadz, “Dalam kelapangan akhlak tersimpan harta karun rezeki.”

Wahb bin Munabbih berkata, “Perumpamaan seorang yang berakhlak buruk seperti tembikar yang pecah, tidak dapat ditambal dan tidak pula dapat dikembalikan menjadi tanah lagi.”

Telah berkata Al-Fudhail, “Sekiranya aku ditemani seorang pendosa yang baik akhlaknya, lebih kusenangi daripada aku ditemani seorang ahli ibadah yang buruk akhlaknya.”

Ibn Al-Mubarak pernah mendapat seorang teman seper jalanan yang buruk akhlaknya. Namun, dia tetap bersabar dan senantiasa berusaha mengikuti kemauan temannya itu. Ketika akhirnya mereka berpisah, Ibn Al-Mubarak menangis. Seseorang menanyakan hal itu kepadanya, dan dia pun berkata, “Aku menangisi orang itu. Kini aku telah berpisah darinya, sedangkan akhlaknya yang buruk masih bersamanya, tidak berpisah darinya.”

Al-Junaid berkata, “Empat hal yang mengangkat seseorang ke derajat tertinggi, meski amalan dan ilmunya hanya sedikit saja: kesantunan, tawadhu (kerendahhatian), kedermawanan, dan kebaikan akhlak. Itulah pula kesempurnaan iman.”

Telah berkata Al-Kinani, “Tasawuf adalah akhlak. Siapa saja yang mengunggulimu dalam akhlak maka dia mengunggulimu dalam tasawuf.”

Umar bin Khaththab r.a. pernah berkata, “Pergaulilah ma nu sia dengan akhlak dan bersamalah dengan mereka dalam amalan.”

Yahya bin Muadz berkata, “Akhlak yang buruk adalah kejahatan yang mengakibatkan tak bergunanya perbuatan baik walaupun banyak jumlahnya. Adapun akhlak yang baik adalah kebajikan yang mengakibatkan tidak berpengaruhnya perbuatan buruk walaupun banyak jumlahnya.”

Abdullah bin Abbas pernah ditanya, “Apa kemuliaan itu?” Maka dia menjawab, “Kemuliaan adalah sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam kitab-Nya yang agung, Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa dari kamu” (QS Al-Hujarat: 13). Kemudian dia ditanya lagi, “Apa ketinggian derajat seseorang?” Jawabnya, “Yang paling baik akhlaknya di antara kamu adalah yang paling tinggi derajatnya.”

Ibn Abbas juga pernah berkata, “Setiap bangunan memiliki pondasi, dan pondasi Islam adalah akhlak yang baik.”

Telah berkata Atha, “Tak seorang pun meningkat martabat nya kecuali dengan akhlak yang baik.”

Tak seorang pun meraih kesempurnaan akhlak selain Rasulullah Al-Musthafa Saw. Oleh karena itu, manusia-manusia yang paling dekat kepada beliau adalah mereka yang mengikuti jejaknya dengan akhlak yang mulia.

Share:

Kuatamaan Akhlak yang Baik dan Tercelanya Akhlak yang Buruk!

 

Sumber Ilmu- Allah Swt. telah berirman kepada Nabi-Nya dan Kekasih-Nya (Muhammad Saw.) seraya memujinya dan menunjukkan karunia-Nya atas dirinya:

... Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur. (QS Al-Qalam: 4)

Aisyah r.a. menyatakan bahwa, “Akhlak Rasulullah Saw. adalah Al-Quran.”

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang akhlak yang baik maka beliau membacakan kepadanya irman Allah Swt., Jadilah engkau seorang pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang maruf dan berpalinglah dari orang orang jahil (QS Al-Araf: 199). Kemudian beliau menambahkan:

“Itu dapat terwujud dengan tetap memelihara tali silaturahim terhadap siapa yang memutuskannya terhadapmu, memberi siapa yang menahan pemberiannya kepadamu, dan memaa‾an siapa yang telah melakukan kezaliman terhadapmu.”

Rasulullah Saw. juga pernah bersabda:

“Sesungguhnya aku hanyalah diutus demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Sabda beliau lagi:

“Timbangan paling berat dari apa yang diletakkan di atas neraca Hari Kiamat kelak, adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.”

Seorang laki-laki pernah datang menghadap Rasulullah Saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, apa sesungguhnya agama itu?” Beliau menjawab, “Akhlak yang baik!” Orang itu mendatangi beliau lagi, kini dari arah kanan beliau, dan bertanya, “Ya Rasulullah, apa sesungguhnya agama itu?” Beliau menjawab, “Akhlak yang baik.” Namun, orang itu mendatangi beliau lagi, kini dari arah kiri beliau, dan bertanya, “Ya Rasulullah, apa sesungguhnya agama itu?” Beliau pun menjawab lagi, “Akhlak yang baik.” Orang itu mendatangi beliau lagi, kini dari arah belakang, seraya bertanya, “Ya Rasulullah, apa sesungguhnya agama itu?” Maka, beliau menoleh kepadanya dan bersabda, “Tidakkah kau mengerti? Itu adalah dengan upayamu untuk tidak marah.”

Rasulullah Saw. juga pernah ditanya, “Apakah kesialan itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Akhlak yang buruk!”

Diriwayatkan pula bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah Saw., “Berilah aku nasihat.” Beliau pun mengatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah, di mana pun engkau berada.” Orang itu berkata lagi, “Tambahkan untukku.” Sabda beliau, “Ikutilah perbuatan burukmu (yang telanjur kau kerjakan) dengan suatu perbuatan baik, sehingga (dengan perbuatan seperti itu) engkau dapat menghapusnya.” Orang itu berkata lagi, “Tambahkanlah untukku.” Sabda beliau pula, “Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”

Rasulullah Saw. juga pernah ditanya, “Amalan apakah yang paling utama?” Jawab beliau, “Akhlak yang baik.”

Pernah pula beliau bersabda:

“Allah Swt. takkan membaikkan tubuh dan akhlak seseorang, kemudian menjadikannya umpan bagi api neraka.”

Al-Fudhail meriwayatkan bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah Saw., “Ada seorang perempuan yang berpuasa di siang hari dan bertahajud di malam hari, sementara akhlaknya buruk.

Dia mengganggu para tetangganya dengan ucapan lidahnya.” Maka, Rasulullah Saw. bersabda: Tak sedikit pun kebaikan ada padanya. Dia adalah penghuni neraka.”

Abu Darda berkata bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesuatu yang pertama kali akan diletakkan di atas mizan (neraca amalan manusia pada Hari Kiamat) adalah akhlak yang baik dan keder mawanan.”

Ketika Allah Swt. menciptakan keimanan, ia berkata, “Ya Allah, kuatkanlah aku.” Maka, Allah menguatkannya dengan akhlak yang baik serta kedermawanan. Ketika Allah menciptakan kekufuran, ia berkata, “Ya Allah, kuatkanlah aku.” Maka, Allah menguatkannya dengan kebakhilan dan akhlak yang buruk.

Rasulullah Saw. juga pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi diri-Nya, dan tak ada sesuatu yang layak bagi agama kalian ini selain kedermawanan dan akhlak yang baik. Karena itu, perindahlah agama kalian dengan kedua-duanya.

Sabda beliau:

“Akhlak yang baik adalah ciptaan Allah Swt. yang teragung.”

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah Saw., “Siapakah yang paling utama di antara kaum mukmin?” Jawab beliau, “Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.

“Sungguh, kalian takkan mampu memuaskan manusia semuanya dengan harta kalian maka puaskanlah mereka dengan wajah yang cerah dan akhlak yang baik.”

Sabda beliau pula:

“Akhlak yang buruk merusak amalan yang baik seperti halnya cuka merusak madu.”

Jarir bin Abdullah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“Sungguh engkau adalah seorang yang diberi Allah bentuk tubuh yang baik maka baikkanlah pula akhlakmu.”

Al-Bara bin Azib berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Saw. adalah seorang yang paling tampan wajahnya dan paling baik akhlaknya di antara semua manusia.”

Diriwayatkan dari Amu Masud Al-Badry, katanya, “Rasulullah Saw. biasa mengucapkan dalam doanya:

‘Ya Allah, telah Engkau beri aku tubuh yang baik maka baikkanlah pula akhlakku.’”

Anas merawikan bahwa Ummu Habibah pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., “Bagaimana kiranya seorang wanita yang mempunyai dua orang suami di dunia (yakni dalam dua kali perkawinan), lalu dia dan kedua suami itu meninggal dunia dan masuk surga. Siapakah di antara keduanya yang akan menjadi suaminya di sana?” Maka Nabi Saw. menjawab:

“Yang terbaik akhlaknya bagi si istri ketika masih di dunia. Wahai Ummu Habibah, akhlak yang baik senantiasa akan bersama-sama dengan semua kebaikan dunia dan akhirat.”

Diriwayatkan bahwa Umar r.a. pernah meminta izin untuk menemui Nabi Saw. Ketika itu, ada beberapa wanita dari kalangan Quraisy yang sedang berbicara dengan beliau; suara mereka terdengar lebih keras dari suara Nabi Saw. Tiba-tiba, ketika mengetahui bahwa Umar meminta izin untuk masuk, mereka bergegas menyembunyikan diri mereka di balik hijab. Dan masuklah Umar sementara Rasulullah Saw. tertawa. Umar pun bertanya, “Demi ayah dan ibuku, mengapa Anda tertawa, ya Rasulullah?” Jawab beliau:

“Sungguh aku merasa heran melihat ピngkah laku wanita-wanita yang baru saja bersamaku; keピka mendengar suaramu, mereka segera bersembunyi di balik hijab.”

Mendengar itu, Umar berkata, “Sungguh engkaulah ya Rasulullah, yang lebih patut mereka takuti daripada aku.” Kemudian dia menoleh ke arah para wanita itu, seraya berkata, “Hai musuh-musuh diri mereka sendiri, adakah kalian takut kepadaku dan tidak takut kepada Rasulullah?” Jawab mereka, “Ya, karena Anda begitu keras dan begitu kasar, tidak seperti Rasulullah Saw.! Maka beliau pun bersabda:

“Wahai Ibn Khaththab, demi Tuhan Yang jiwaku berada di tangan-Nya, tak sekali pun setan berjumpa denganmu di suatu lembah, kecuali ia akan menghindar dan melintasi lembah lainnya.”

Sabda Rasulullah Saw.:

“Akhlak yang buruk adalah dosa yang tak terampuni, sedangkan per sangkaan buruk (suuzhan) adalah kesalahan yang berbau busuk.”

Sabda beliau pula:

“Seseorang dapat terjatuh ke dalam dasar Jahanam yang terdalam, dengan akhlaknya yang buruk.”

Share:

Ini Tingkatan Manusia dalam Menerima Perbaikan!

 

Dalam hal kemungkinan terjadinya perubahan ke arah perbaikan dalam akhlak, manusia dibagi dalam empat tingkatan:

Pertama, seorang yang sepenuhnya lugu atau polos, yang tidak mampu membedakan antara yang haq dan yang batil atau antara yang baik dan yang buruk, tetap dalam keadaan fitrah seperti ketika dilahirkan, dan kosong dari segala kepercayaan. Demikian pula naluri syahwat (hasrat dan ambisi nya) belum begitu kuat untuk mendorongnya mengikuti berbagai kesenangan hidup duniawi. Orang seperti ini, sangat cepat dalam menerima pengobatan bagi hatinya. Tiada yang diperlukannya selain seorang guru atau mursyid, serta timbulnya sedikit kesadaran dalam hatinya, yang mendorongnya untuk melakukan mujahadah. Dengan itu, akhlaknya akan menjadi baik—dalam waktu yang secepatnya.

Kedua, seorang yang telah mengetahui keburukan sesuatu yang buruk, tetapi dia sendiri belum terbiasa mengerjakan amalan yang baik. Bahkan hawa nafsunya memperindah baginya perbuatan buruknya, sehingga dia pun mengerjakannya berulang-ulang. Semata-mata demi mengikuti keinginan nafsu syahwatnya, seraya memalingkan diri dari akal sehatnya, dan sebagai akibat berkuasanya naluri syahwat atas dirinya. Akan tetapi, betapa pun juga, masih ada sedikit pengetahuannya tentang keburukan perbuatannya itu. Maka, perbaikan akhlak orang seperti ini pasti agak lebih sulit dibandingkan dengan orang jenis pertama. Sebab, kini tugasnya berlipat ganda. Di samping harus mencabut apa yang telah berakar dalam pikiran dan jiwanya, akibat kebiasaannya melakukan perbuatan perbuatan buruk, dia kini harus pula menanamkan kebiasaan berbuat baik demi perbaikan dirinya sendiri. Bagaimanapun jiwa orang seperti ini, secara umum, masih mungkin menerima pelatihan kejiwaan (riyadhah) menuju perbaikan, sepanjang hal itu dilaksankan dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh kebijaksanaan.

Ketiga, seorang yang merasa yakin bahwa pelbagai perangai buruk justru merupakan hal-hal yang wajib dikerjakan, dan bahwasanya hal seperti itu adalah baik, benar, dan menguntungkan. Dan, dia tumbuh menjadi dewasa bersama keyakinan seperti itu. Akibatnya, dia hampir-hampir tak mungkin diobati penyakitnya dan tak dapat diharapkan perbaikannya kecuali dalam keadaan yang sangat jarang. Hal itu disebabkan telah bertumpuknya penyebab kesesatan dalam jiwanya.

Keempat, seorang yang diliputi pikiran-pikiran buruk seiring dengan pertumbuhan dirinya, terdidik dalam pengamalan hal hal yang buruk pula. Sehingga, dia menganggap bahwa ketinggian derajat dirinya diukur dengan banyaknya perbuatan jahat yang dia lakukan dan bahkan dengan banyaknya jiwa-jiwa manusia yang dia korbankan. Dia pun membanggakan perbuatannya itu dan mengira bahwa yang demikian itu meninggikan derajatnya di antara manusia. Orang seperti ini, berada dalam tingkatan yang paling sulit diobati. Untuknya dan untuk orang-orang seperti dia, berlaku pepatah mengatakan, “Olahraga berat bagi si tua renta adalah kelelahan yang sia-sia. Dan, memperhalus watak seekor serigala adalah suatu bentuk penyiksaan.”

Kesimpulannya, si orang pertama hanya disebut sebagai seorang yang tidak mengerti atau “bodoh” saja. Yang kedua, bodoh dan sesat. Yang ketiga, bodoh, sesat, dan fasiq (durhaka), dan yang keempat, bodoh, sesat, durhaka, dan jahat.


Dikutip dalam Buku: Mengobati Penyakit Hati Membentuk Akhlak Mulia ~ Imam Al-Ghazali

Share:

Apa Itu Khuluq atau Akhlak. Yuk Simak Penjelasannya!

 

Kata khuluq berarti suatu perangai (watak, tabiat) yang menetap kuat dalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu dari dirinya, secara mudah dan ringan, tanpa perlu dipikirkan atau direncanakan sebelumnya. Maka, apabila dari perangai tersebut timbul perbuatan perbuatan yang baik dan yang terpuji menurut akal sehat dan syariat, dapatlah ia disebut sebagai perangai atau khuluq yang baik. Sebaliknya, apabila yang timbul darinya adalah perbuatan-perbuatan yang buruk, ia disebut sebagai khuluq yang buruk pula.

Kami menyebutnya sebagai perangai atau watak yang menetap kuat dalam jiwa, karena seseorang yang jarang atau hanya sesekali saja menyumbangkan hartanya untuk keperluan tertentu, tidak dapat disebut sebagai seorang yang berwatak dermawan. Yaitu, sepanjang hal itu tidak merupakan sesuatu yang menetap kuat dalam jiwanya. Karena itu, kami mempersyaratkan bahwa ia harus merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu secara mudah dan ringan, tanpa harus dipikirkan atau direncanakan sebelumnya—atau—ketika menahan amarah hatinya—melakukan semua itu dengan berat hati atau dengan susah payah maka tidaklah dapat dikatakan bahwa orang itu berwatak dermawan atau pemaaf.

Oleh sebab itu, haruslah dipenuhi empat persyaratan, yaitu:

  • Adanya perbuatan yang baik dan buruk.
  • Adanya kemampuan untuk melakukan kedua-duanya.
  • Pengetahuan seseorang tentang kedua-duanya

Adanya sesuatu dalam jiwa, yang membuatnya cenderung pada salah satu dari kedua-duanya, serta dengan mudah dapat dikerjakan yang baik atau yang buruk.

Jelas bahwa suatu khuluq (perangai, watak, tabiat) tidaklah identik dengan perbuatan. Sebab, adakalanya seseorang berwatak dermawan, tetapi dia tidak menyumbangkan sesuatu. Baik karena dia tidak memiliki sesuatu ataupun karena adanya hambatan lainnya. Sebaliknya, adakalanya dia berwatak kikir, tetapi dia menyumbang, baik karena terdorong oleh suatu kepentingan dirinya ataupun karena ingin dipuji.

Dia juga tidak identik dengan kemampuan (atau kuasa diri). Sebab, kaitan kemampuan seseorang dalam hal memberi atau tidak memberi, itu sama saja. Setiap orang—secara naluriah— memiliki kemampuan atau kuasa untuk memberi ataupun tidak. Hal itu tidak mengharuskan adanya watak kekikiran ataupun kedermawanan dalam dirinya.

Dia juga tidak identik dengan pengetahuan tentang sesuatu. Sebab, pengetahuan berkaitan dengan yang baik maupun yang buruk. Keduanya sama saja

Yang benar adalah bahwa apa yang disebut perangai atau watak (khuluq) ialah sesuatu yang dengannya jiwa manusia memiliki kesiapan bagi timbulnya kedermawanan ataupun kekikiran. Dengan kata lain, ia adalah bentuk atau rupa batiniah dari jiwa seseorang.

Sudah tentu, keindahan bentuk lahiriah tak mungkin terwujud dengan keindahan bentuk kedua mata saja, misalnya, tanpa keindahan bentuk hidung, mulut, dan pipi. Tetapi hanya dengan keindahan semua itu, secara keseluruhan, akan terwujud keindahan lahiriah seseorang secara sempurna.

Demikian pula yang berkaitan dengan batin seseorang. Diperlukan adanya empat hal potensial yang kesemuanya harus dalam keadaan baik, sehingga dengannya akhlak baik seseorang dapat menjadi sempurna. Keempat hal potensial ini adalah: kemampuan dasar atau kekuatan pengetahuan, kekuatan emosi (ghadhab), kekuatan ambisi (syahwat), dan kekuatan yang menyeimbangkan antara ketiga potensi tersebut. Maka, apabila keempat hal potensial ini ada pada diri seseorang, secara seimbang dan serasi, dapatlah dikatakan bahwa dia memiliki akhlak atau perangai yang baik.

Dengan demikian, kemampuan atau kekuatan pengetahuan akan menjadi naik dan sempurna bagi seseorang, apabila hal itu mampu memudahkan baginya untuk membedakan antara ketulusan dan kebohongan dalam hal ucapan, antara yang hak dan yang batil dalam hal kepercayaan, antara yang baik dan yang buruk dalam hal perbuatan. Maka, jika kekuatan ini dalam keadaan sempurna, niscaya akan membuahkan hikmah (kearifan). Sebab, hikmah adalah puncak dari akhlak yang baik. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt.

"Barangsiapa diberi hikmah, sungguh dia telah diberi kebaikan yang banyak." (QS Al-Baqarah [2]: 269)

Adapun kekuatan emosi (ghadhab), ia menjadi baik apabila tetap berada di dalam batas yang dibenarkan oleh hikmah, baik dalam keadaan emosi itu sedang memuncak ataupun mereda. 

 Adapun yang dimaksud dengan kekuatan keseimbangan adalah dikendalikannya ambisi dan emosi oleh akal dan syariat. Akal dapat diumpamakan sebagai seorang pemberi nasihat dan arahan. Sedangkan kekuatan keseimbangan adalah sesuatu yang mampu bertindak dan yang melaksanakan apa yang diarahkan atau diperintahkan oleh akal. Adapun emosi adalah objek yang padanya perintah tersebut ditujukan. Ia dapat diumpamakan sebagai anjing berburu yang perlu dilatih sedemikian rupa, sehingga melakukan pengejaran atau berhenti sesuai dengan yang diperintahkan, dan bukannya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya sendiri. Adapun kekuatan ambisi dapat diumpamakan sebagai seekor kuda yang ditunggangi dalam suatu perburuan. Adakalanya ia terlatih baik dan jinak, dan adakalanya ia bersifat liar dan tak terkendali. 

Barangsiapa memiliki semua sifat ini dalam keadaan sedang, moderat, dan seimbang maka dia—tak diragukan lagi—adalah seorang yang berakhlak sempurna. Barangsiapa memiliki sebagiannya saja—bukan semuanya—dalam keadaan sedang dan seimbang, dia dapat dianggap berakhlak baik dalam kaitannya dengan sifat tersebut secara khusus. Sama halnya seperti seorang yang memiliki keindahan pada bagian bagian tertentu saja dari wajahnya, bukan pada wajahnya secara keseluruhan.

Adanya kebaikan, sifat “sedang”, dan moderat dalam kekuatan emosional (kemarahan, ghadhabiyah) disebut “keberanian”, sedangkan kebaikan dalam kekuatan ambisi (hawa nafsu, syahwat) disebut ifah (penahanan nafsu dari perbuatan tercela). Manakala kekuatan emosional menyimpang dari sifat moderatnya dan lebih cenderung ke arah yang ekstrem atau berlebihan, hal itu disebut “kenekatan”. Sebaliknya, jika ia lebih cenderung ke arah kekurangan, hal itu disebut “kepengecutan”

Jika kekuatan ambisi (syahwat, hasrat) lebih cenderung ke arah berlebihan, hal itu disebut “kerakusan”. Adapun jika ia lebih cenderung ke arah kekurangan, hal itu disebut “kebekuan” atau “kejumudan”.

Hal yang paling dipujikan adalah keadaan “tengah-tengah”, dan itulah yang disebut fadhilah (kebajikan). Sedangkan kedua ujung yang ekstrem adalah keburukan yang tercela.

Jika sifat keseimbangan (keadilan) telah hilang, tak ada lagi ujung yang berlebihan ataupun yang berkurangan. Yang ada hanyalah sifat yang sama sekali berlawanan dengannya, yaitu kezaliman. 

Adapun jika sifat hikmah digunakan secara gegabah dan berlebihan dalam tujuan-tujuan yang buruk, hal itu disebut perbuatan dosa dan kejahatan. Sedangkan jika digunakan secara berkurangan, hal itu disebut kedunguan. Pada hakikatnya, posisi yang tengah-tengah itulah yang layak dan khusus disebut hikmah.


Dikutip dalam buku: Mengobati Penyakit Hati Membentuk Akhlak Mulia ~ Imam Al-Ghazali

Share:

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support