
Ketika kita belajar tentang fitrah manusia, berarti kita
sedang mempelajari manusia. Al-Quran menyebut manusia dengan empat sitilah; basyar,
ins, insan dan nas. Bila dianalisis secara terminologis, manusia ada
yang pada level basyar, level ins, level insan, dan level nas.
Basyar adalah level manusia—jasmaniah atau jasadiahnya. Level inilah
yang membuat Iblis memperotes Allah, karena menciptakan Adam. Kata Iblis, “Aku
tidak akan sujud pada basyar yang diciptakan dari tanah lempung yang dibentuk.”
Adam diciptakan dari tanah. Oleh karena itu, dalam dirinya
ada kandungan tanah, tapi diberi ruh dan dibentuk. Iblis yang merasa lebih
tinggi dari Adam tidak mau sujud. “Ngapain aku sujud pada tanah?” kira-kira
begitulah pikir Iblis. Iblis tidak melihat dibalik kualitas tanah itu. Dia hanya
melihat unsur basyar-nya, unsur fisiknya saja. Begitulah iblis.
Jadi, jika anda melihat orang lain hanya luarnya saja, fisiknya
saja, tidak melihat dalamnya, berarti anda mirip-mirip Iblis.
Orang yang selalu berharap mendapat pasangan yang ganteng atau
cantik, itu juga hanya melihat luarnya saja—hanya lihat basyar-nya. Dan jika
hanya melihat basyar-nya, dia belum bisa menemukan hakikat manusia.
Selanjutnya adalah level Ins. Dalam bahasa Arab,
“Ins” berarti “jinak”. Beda manusia dengan makhluk adalah, manusia itu
jinak. Artinya, jinak dalam hal ini adalah beradab, bisa diatur, mau diatur,
dan mau patuh pada aturan. Kalau anda punya hewan peliharaan yang jinak, ia
pasti mau disuruh lari, disuruh berdiri, atau disuruh apa saja. Itulah yang
disebut jinak. Ins adalah salah satu karakter fitrah manusia.
Dalam Al-Quran, ins sering diperlawankan dengan jin. Manusia
yang jinak biasanya diperlawankan dengan jin yang digambarkan berangasan dan
kasar karena diciptakan dari asap, yang bersumber dari api. Lawan dari
berangasan adalah jinak.
Manusia adalah makhluk yang jinak karena dia beradab. Maka, ketika
ada makian yang menyakitkan, kita menyebutnya “biadab”. Biadab ini bahasa Indonesia,
bukan bahasa Arab. Kalau Bahasa arab bi adab, yang artinya “dengan adab”. Kalau
diartikan dalam bahasa Arab, jadinya malah “beradab”. Dalam Bahasa Indonesia, “biadab”
artinya tidak ins, kehilangan kejinakannya. Istilah ins berlaku
untuk makhluk, artinya jinak, yang berarti bisa ditaklukkan.
Ketiga—ini yang popular—level insan. Insan
merujuk aspek akal budinya. Inilah aspek yang membuat manusia bisa taklif,
mendapatkan banyak fasilitas, tapi karena level ini juga nantinya manusia perlu
dihisab. Dia diangkat jadi khalifah karena insan-nya ini, bukan lantasan basyar-nya
saja.
Level berikutnya adalah nas—yaitu manusia
secara kolektif atau umum. Biasanya, istilah ini merujuk pada jenis. Misalnya, ayyuhannas,
wahai manusia, itu merujuk jenis manusia secara umum. Ada unsur sosialnya. Manusia
Bersama-sama dalam kelompok. Jadi, kita Adalah basyar, ins, insan, juga nas.
Kita sebagai khalifah bertugas mengelola empat level ini.
Basyar kita harus dikelola karena itu amanah dari
Allah. Jiwa kita yang jinak juga harus dikelola, akal budi juga dikelola,
begitu pula kehidupan kita dengan orang lain, sebagai sesama manusia, juga
wajib dikelola. Kita mendapat tugas kekhalifahan untuk menggarap keempatnya.
Dalam Bahasa Al-Quran, manusia adalah makhluk yang
diciptakan dengan mukarram, dimuliakan. Manusia juga mukallaf,
punya tugas yang harus dijalankan. Dia juga mukhayyar, punya potensi,
punya daya untuk memilih. Dan terakhir, dia majzi, pilihannya benar atau
salah, dan semuanya akan dibalas kelak. Kelak pilihannya benar, balasannya
pahala kalua pilihannya salah, balasannya dosa dan siksa.
Jika anda ingin muhasabah, intropeksi diri, ingatlah bahwa
anda adalah makhluk. Anda ada bukan karena diri anda sendiri, tapi karena ada
yang membuat anda menjadi ada, ada yang menciptakan anda. Anda juga mukarram,
dimuliakan. Mukarram berasal kata “karim”, yang berarti mulia. Manusia dimuliakan
Allah di muka bumi ini dengan diciptakan dalam bentuk terbaik, ahsanu taqwim,
di antara semua makhluk lainnya. Kalau anda merasa wajah anda jelek, jangan
galau. Sejelek-jeleknya wajah anda rasakan, anda tetap paling baik, karena anda
adalah makhluk terbaik.
Allah memuliakan kita dengan segala fasilitas yang membuat
kita berharga; seperti akal, pancaindra, intuisi, imajinasi, membuat kita
indah, dan seterusnya. Karena itu, sungguh terlalu jika ada orang yang tidak
bersyukur. Padahal Allah sudah memberi fasilitas dan kenikmatan yang sangat
banyak, sudah memuliakan, tapi masih saja mengeluh.
Tapi, pemuliaan itu ada implikasinya. Kita jadi mukallaf
punya tugas. Kita punya kewajiban-kewajiban, punya tanggung jawab, secara vertical
dan horizontal. Tanggung jawab vertical kita adalah sebagai ‘abdullah,
hamba Allah. Sedangkan tanggung jawab horizontal kita sebagai khalifatullah.
Kita punya tanggung jawab untuk mengelola alam semesta dan beribadah, mengabdi
pada Allah. Itu menunjukkan bahwa kita adalah mukallaf. Kalau makhluk yang
lain, seperti hewan dan tumbuhan, tidak diberi tugas karena tugas mereka
hanyalah melayani manusia—untuk menyukseskan misinya sebagai ‘abdullah
maupun khalifatullah.
Hewan dan tumbuhan ditundukkan Allah untuk manusia. Ada istilah
taskhir, sakhkhara lana, artinya bahwa alam semesta ini
ditundukkan Allah untuk manusia. Ini juga di antara bentuk pemuliaan Allah pada
manusia. Mereka semua ditundukkan untuk menyukseskan tugas yang dibebankan
Allah kepada manusia. Tidak ada tumbuhan atau hewan yang membantah manusia. Kita
atur mereka jadi apa saja, mereka menurut.
Manusia diberi tugas tapi juga diberi daya untuk memilih. Anda
mau menjalankan tugas silakan, tidak menjalankan juga silakan. Ini yang disebut
mukhayyar, manusia boleh memilih. Selain manusia tidak bisa memilih. Kucing
misalnya, ia tidak bisa menolak makan ikan asin. Ia tidak bisa sesekali memilih
rawon. Ia tidak punya daya kreasi untuk membuat rawon. Ia hidup setia dengan
instingnya. Tapi, kalau manusia bisa mukhayyar; bisa memilih yang baik
ataupun yang jelek. Manusia bisa kreasi menurut versinya sendiri atau mengikuti
orang lain. Itulah keistimewaan manusia.
Apa yang dirasakan, dialami, atau dikerjakan manusia dalam
hidupnya, semua itu adalah hasil pilihannya sendiri. Seseorang itu Ketika mendapat
musibah berpikir bahwa yang menimpanya adalah takdir. Namun, Ketika mendapat
kesenangan dia lupa seolah-olah itu semua hasil perjuangannya sendiri. Padahal,
pada hakikatnya, semua Adalah dampak dari pilihan kita. Barangsiapa yang
melakukan kebaikan sekecil apapun, anda akan merasakan akibatnya, dan
barangsiapa yang melakukan kejelekan sekecil apapun, dia juga akan merasakan
akibatnya. Anda mau beriman atau mau kafir, terserah anda. Anda punya daya
untuk memilih salah satu dari keduanya. Semua tergantung anda. Anda bisa jadi
pahlawan, anda juga bisa jadi penjahat.
Yang terakhir, pilihan anda bukan sekadar untuk memilih saja.
Masih ada hakikat kelima, bahwa kita majzi, kita akan mendapat balasan
atas pilihan. Kalau anda jujur, rasakan sendiri efeknya. Kalau anda curang,
bohong, itu juga ada dampaknya yang bakal anda rasakan juga. Dalam bahasa budha,
semua ada karmanya. Kalau anda rajin mengaji, pasti ada efeknya. Anda malas pun
pasti juga ada efeknya. Pikir saja sendiri. Minum teh ada efeknya. Minum kopi
ada efeknya. Tidak minum pun ada efeknya, haus. Inilah hakikat manusia.
Hakikat manusia jelas adalah makhluk. Dia tidak “ada” dengan
sendirinya. Karena itu, jangan banyak bertingkah, tidak boleh sombong. Kita ini
cuma “diadakan”, kemudian dimuliakan. Maka, jangan melakukan apapun yang bisa
menjatuhkan kemanusiaan anda. Kita ini mulia, jangan sampai kita jatuh kepada asfala
safilin, serendah-rendahnya makhluk. Kita ini diposisikan mulia di sisi
Allah.
Selain manusia mukallaf, mukhayyar, dan majzi,
harus selalu diingat bahwa manusia punya tugas. Manusia makhluk yang mulia dan
manusia harus menentukan pilihan. Tapi jangan lupa apapun yang kita pilih,
semua akan ada balasannya. Itulah manusia.
Dikutip dalam Buku: Menjadi Manusia Menjadi Hamba ~ Dr.
Fakhruddin Faiz















