
Rezeki lahir datang dari gerak anggota tubuh, sedangkan
rezeki batin datang dari pergerakan hati. Rezeki sirr diperoleh melalui ketenangan.
Sementara rezeki akal diperoleh melalui fana dari ketenangan hingga hamba itu
tentram karena Allah dan bersama Allah.
Di dalam makanan yang kita konsumsi tidak ada nutrisi untuk
ruh. Nutrisi dari makanan hanya menopang fisik. Nutrisi bagi ruh dan hati adalah
dzikir mengingat Allah Yang Maha Mengetahui hal ghaib. Allah Swt. berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi
tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya mengingat Allah hati menjadi
tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Pada saat kamu berdzikir kepada Allah, orang yang
mendengarmu turut berdzikir bersamamu. Hal itu lantaran kamu berdzikir dengan
lisanmu, kemudian dengan hatimu, lalu dengan jiwamu, dilanjut dengan ruhmu,
lalu akalmu kemudian sirrmu. Semua itu terhimpun dalam dizkir yang satu.
Ketika kamu berdzikir kepada Allah dengan lisanmu, seluruh
benda mati turut berdzikir bersama dzikir lisanmu.
Waktu kamu berdzikir kepada Allah dengan hatimu, alam
semesta berserta seluruh dunia Allah yang ada di dalamnya turut berdzikir bersama
hatimu.
Saat kamu berdzikir dengan kepada Allah dengan jiwamu,
langit berserta makhluk yang ada di dalamnya turut berdzikir bersamamu.
Ketika kamu berdzikir kepada Allah dengan ruhmu, Kursi Allah
beserta seluruh dunia yang ada di dalamnya turut berdzikir bersamamu.
Sewaktu kamu berdizkir kepada Allah dengan akalmu, para
malaikat pemikul ‘Arasy Allah beserta malaikat-malaikat yang mengelilinginya
dan ruh-ruh yang berada di dekat Allah turut berdzikir bersamamu.
Saat kamu sudah berdzikir dengan sirrmu, ‘Arasy Allah
berserta seluruh dunia yang ada di dalamnya turut berdzikir bersamamu hingga
dzikir itu sendiri menyatu dengan dzat-Nya.
Dikutip dalam kitab: Miftah al-falah wa Misbah al-Arwah ~
Ibnu Athaillah as-Sakandari










