"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Senin, 09 Februari 2026

Antara Sehat dan Sakit

 

“Alangkah tidak nikmatnya sakit itu.” Begitulah yang acap kali dikatakan banyak orang. Padahal sakit dan sehat jaraknya hanya setipis benang. Keduanya sama-sama ujian. Allah berfirman:

 “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kalian kembali.” (QS. al Anbiya’: 35)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Allah menguji kita dengan kejelekan dan kebaikan, gembira dan sedih, sehat dan sakit, kaya dan miskin, halal dan haram, taat dan maksiat, petunjuk dan kesesatan.”

 “Betapa nikmatnya sehat.” Itulah yang sering kali diucapkan orang-orang sakit. Padahal keduanya; sakit dan sehat adalah nikmat. Hanya saja tidak banyak orang yang dapat melihat isi.

Kita biasanya hanya melihat bungkus. Ketika melihat sesuatu yang tampaknya tidak menyenangkan, kita akan berhenti di sana dan kemudian membesar-besarkan nya.

Sakit, meski satu sisi adalah suatu yang tidak menyenangkan, tidak diharapkan. Tapi di sisi lain adalah suatu yang indah dan nikmat yang luar biasa. Oleh karena itu, dahulu ada di antara Salafush Shalih yang berharap agar ditimpa sakit.

Al-Imam Ibnu Abi Dunya rahimahullah pernah mengatakan: “Mereka dulu (orang orang shalih terdahulu) berharap mendapat demam satu malam.”

Kenapa? Karena mereka bisa melihat isi, tidak hanya melihat bungkus. Mereka mengetahui hikmah dan sisi lain dari satu penyakit yang menimpa seorang manusia.

Share:

Kita Semua Merasakan

 

“Laut mana yang tidak berombak.” Itulah yang dikatakan orang-orang bijak dahulu. Tak seorang manusia pun yang bebas dari cobaan. Siapa pun dia pasti pernah merasakannya. Allah berfirman:

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, keku rangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 155)

Semua manusia sama. Setiap orang mendapatkan ujian dan cobaannya masing masing. Yang membedakan mereka hanya lah cara menghadapinya. Ada yang berkeluh kesah, merasa sempit lalu mengumpati takdir Allah. Ada pula yang sabar dan bahkan bersyukur terhadap cobaan tersebut. 

Semoga Allah merahmati orang-orang yang beriman. Karena hanya merekalah yang mampu menyikapi segala sesuatu dengan cara yang tepat dan terbaik. Rasulullah bersabda: 

“Urusan seorang mukmin itu sungguh sangat mengagumkan, karena semua urusannya menjadi kebaikan. Dan yang demikian itu hanya terjadi di kalangan orang-orang mukmin. Jika dianugerahi ke baikan maka ia bersyukur, dan syukurnya itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila ia ditimpa kesulitan, maka ia pun bersabar, dan kesabarannya itu menjadi kebaikan baginya.”

Di antara cobaan yang ditimpakan Allah kepada hamba-Nya adalah sakit. Nyaris tiada orang yang hidup tanpa pernah merasakan sakit, betapa pun manusia menginginkannya.

Fulan tak bisa melihat, matanya sakit, tak seperti biasanya. Fulan yang lain tak mampu bangkit dari pembaringannya, seluruh tubuhnya mati rasa, tak bisa digerak kan lagi seperti kemarin lusa. 

Buku: Nikmat Sakit ~ Zahir Al-Minangkabawi

Share:

Ini Cara Mengobati Penyakit dalam Jiwa!

 

Jika tubuh sedang dalam keadaan sehat, tugas seorang dokter ialah menyiapkan petunjuk tentang tindakan apa saja yang harus diperhatikan, guna menjaga dan memelihara kesehatan tersebut. Tetapi jika dia dalam keadaan sakit, tugasnya adalah mengembalikan kondisinya agar menjadi sehat kembali.

Seperti itu pula yang berkaitan dengan jiwa. Apabila jiwa Anda dalam keadaan sehat, bersih, dan lurus, seharusnya Anda berusaha menjaganya, bahkan mengupayakan agar ia bertambah kuat dan menjadi lebih bersih dan jernih maka seyogianya Anda berupaya agar ia dapat menyandang sifat-sifat baik seperti tersebut di atas.

Demikian pula jika tubuh diserang sesuatu yang dapat mengganggu kestabilannya atau menyebabkannya sakit, dia biasanya tidak diobati kecuali dengan sesuatu yang berlawanan dengan penyebab gangguan tersebut. Jika gangguan itu berasal dari sesuatu yang bertabiat panas, dia diobati dengan sesuatu yang bertabiat dingin. Dan jika disebabkan oleh kedinginan, dia diobati dengan sesuatu yang bertabiat panas.

Seperti itu pula keburukan budi pekerti yang merupakan penyakit dalam hati, harus diobati dengan sesuatu yang berlawanan dengannya. Penyakit kebodohan harus diobati dengan belajar. Penyakit kebakhilan, dengan memaksa diri untuk berlaku dermawan. Penyakit sombong, dengan sikap tawadhu. Adapun kerakusan, dengan menahan diri—secara sungguh-sungguh—dari apa yang diinginkan oleh nafsu.

Sebagaimana orang yang sedang sakit harus bersabar dalam menghadapi kepahitan obat dan menahan diri dari apa yang diinginkan nafsunya, demi mengatasi penyakit yang bersarang dalam tubuhnya maka seperti itu pula seharusnya dilakukan untuk menghadapi beratnya kesabaran dari perjuangan batin, demi mengobati berbagai penyakit hati. Bahkan, jauh lebih dari itu. Sebab, penyakit tubuh berakhir dengan datangnya kematian, sedangkan penyakit hati (semoga Allah melindungi kita) akan terus berlangsung terus sampai setelah mati, selama berabad abad yang tak diketahui kapan berakhirnya.

Sebagaimana tidak setiap pendingin akan cocok untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh kepanasan, kecuali apabila dalam ukuran tertentu, sehubungan dengan berat atau ringannya penyakit, lama atau cepatnya, serta banyak atau sedikitnya. Demikian pula dia harus dalam takaran tertentu, sehingga dapat diketahui seberapa banyak yang dapat mendatangkan manfaat baginya. Sebab, apabila tidak dijaga takarannya, dia justru dapat menambah parah penyakit yang hendak diobati. Demikian itu pula keburukan-keburukan akhlak yang ingin diobati, obatnya haruslah dalam ukuran dan takaran tertentu pula.

Sebagaimana kadar dan jenis obat harus disesuaikan dengan kadar dan jenis penyakit, sehingga dokter tidak akan mengobati sebelum mengetahui apakah penyakit itu bersumber dari sesuatu yang bersifat panas atau dingin, dan juga kalau itu dari kepanasan, berapa derajatnya dan berapa besar kekuatannya? Lalu dia juga akan mengamati kondisi tubuh si pasien, juga kondisi suhu udara tempat itu, apa pekerjaan pasien, berapa usianya dan bagaimana keadaannya secara keseluruhan. Baru setelah itu semua, dia memulai pengobatannya sesuai dengan hasil diagnosanya.

 Seperti itu pula, seyogianya yang dilakukan oleh seorang guru yang diikuti, yang hendak mengobati hati para muridnya serta orang-orang yang mengharapkan nasihatnya. Tak sepatut nya dia dengan serta-merta memaksakan atas mereka untuk menjalani latihan-latihan kejiwaan atau melaksanakan tugas-tugas tertentu, dengan jalan (thariqah) tertentu, sebelum dia mengetahui akhlak serta penyakit mereka secara mendalam.

Share:

Jalan Menuju Perbaikan Akhlak

Telah Anda ketahui sebelum ini bahwa sifat sedang, moderat, dan proporsional dalam akhlak menunjukkan kesehatan jiwa seseorang. Adapun penyimpangan dari sifat seperti itu menunjukkan adanya penyakit atau kelainan kepadanya. Seperti itu pula kondisi tubuh yang normal, menunjukkan bahwa dia sehat. Apabila dia tidak normal, hal itu menunjukkan adanya penyakit di dalamnya. Karena itu, marilah kita jadikan tubuh kita sebagai misal dalam uraian di bawah ini:

Upaya mengobati jiwa dengan menjauhkan diri dari segala perbuatan rendah dan perangai yang buruk, di samping mendatangkan pelbagai perbuatan mulia dan perangai yang baik, dapatlah diumpamakan seperti dalam mengobati anggota tubuh. Yaitu, dengan menghilangkan segala penyakit dan mengupayakan kesehatan baginya secara keseluruhan.

Sebagaimana asal mula kondisi tubuh manusia—pada gilirannya—dalam keadaan sedang dan normal (atau tengah tengah, sebagai misal suhu badannya tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, detak jantungnya tidak terlalu cepat dan tidak pula terlalu lambat, dan seterusnya). Kalau setelah itu pencernaannya terganggu, mungkin itu disebabkan oleh kesalahan makanan, perubahan cuaca, dan sebagainya. Dan seperti itu pula, setiap anak dilahirkan dalam keadaan lurus jiwanya dan sehat itrahnya. Kemudian kedua orangtuanyalah yang adakalanya menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi. Artinya, dia melakukan perbuatan-perbuatan buruk itu sebagai akibat dari kebiasaan sehari-hari maupun karena terpengaruh oleh lingkungannya.

Sebagaimana pada mulanya tubuh seseorang tidak tercipta dalam keadaan sempurna, tetapi dalam pertumbuhannya kemudian, dia menjadi sempurna dan kuat dengan makanan yang bergizi dan gerakan-gerakan jasmani yang tepat maka demikian pula jiwanya. Pada mulanya masih dalam keadaan serbakekurangan, tetapi memiliki kemampuan untuk menjadi sempurna. Yaitu, dengan pendidikan akhlak serta pengajaran ilmu pengetahuan kepadanya

Share:

Cara Menumbuhkan Akhlak yang Baik. Yuk Simak Penjelasannya!

Sumber Ilmu - Mengutip dalam buku Mengobati Penyakit Hati Menumbuhkan Akhlak Mulia ~ Imam Al-Ghazali menuturkan bahwa  akhlak yang baik bersumber pada kekuatan akal yang moderat dan proporsional, hikmah yang sempurna, emosi (ghadhab) dan ambisi (syahwat) yang seimbang dan terkendali sepenuhnya oleh akal dan syariat.

Keseimbangan dan keserasian seperti ini dapat dicapai melalui dua cara:

Cara pertama, melalui anugerah Ilahi dan kesempurnaan fitri. Yaitu, ketika seorang manusia dicipta dan dilahirkan dalam keadaan memiliki akal yang sempurna dan perangai yang baik, dengan kekuatan ambisi (syahwat) dan emosi (ghadhab) yang terkendali, sedang, seimbang, dan proporsional, serta bersesuaian dengan akal dan syariat.

Dengan kondisi seperti itu, dia adalah seorang berilmu tanpa belajar dan terdidik tanpa didikan. Contohnya, Isa bin Maryam, Yahya bin Zakaria a.s. dan para nabi selain keduanya, secara keseluruhan (shalawat dan salam Allah atas mereka semuanya).

Meskipun demikian, tidaklah dipungkiri bahwa di antara pelbagai tabiat dan naluri manusia, ada juga yang dapat dimiliki dengan upaya dan usaha sungguh-sungguh. Maka adakalanya seorang anak dikenal—sejak dilahirkan—sebagai seorang yang lurus ucapannya, pemurah, dan pemberani. Sedangkan yang lainnya, baru memperoleh perangai-perangai seperti itu— sedikit demi sedikit—dengan kebiasaan serta pergaulannya dengan orang-orang yang menyandang akhlak seperti itu. Adakalanya pula dia meraihnya dengan cara belajar dari orang orang lain sekitarnya.

Cara kedua, ialah dengan memperoleh perangai-perangai ini melalui perjuangan melawan nafsu (mujahadah) dan latihan latihan ruhani (riyadhah). Yakni dengan memaksakan—atas diri seseorang—perbuatan-perbuatan tertentu yang merupakan buah dari suatu jenis perangai yang ingin dimiliki. 

Sebagai misal, seorang yang menginginkan melekatnya sifat kedermawanan pada dirinya. Untuk itu, dia harus memaksakan pada dirinya sendiri agar melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh seorang dermawan. Yaitu, menginfakkan harta. Maka, dia terus-menerus menuntut dirinya agar melakukan hal itu dan menjadikannya sebagai kebiasaannya untuk waktu yang cukup lama. Sementara itu, dia harus berupaya melawan kecenderungan dirinya sendiri, sehingga pada akhirnya perbuatan seperti itu menjadi tabiat baru baginya dan dia melakukannya dengan hati dan perasaan ringan. Baru setelah itu, dia dapat disebut sebagai seorang dermawan.

Begitu juga seorang yang ingin menjadikan dirinya bertabiat rendah hati (tawadhu), sedangkan dia sebelumnya telah dikuasai oleh tabiat sombong. Cara yang harus ditempuh ada lah membiasakan dirinya—dalam waktu yang cukup lama— untuk bertindak seperti layaknya orang-orang yang tawadhu, sambil memaksa dan memerangi hawa nafsunya sendiri. Hal ini hendaknya dilakukan sampai sifat tawadhu itu melekat dan menjadi tabiat baru baginya, serta terasa mudah dan ringan ketika melaksanakannya.

Semua bagian akhlak yang terpuji menurut syariat, dapat diraih dengan cara seperti itu. Tujuannya adalah agar perbuatan yang timbul darinya terasa nikmat. Seorang yang benar-benar dermawan, misalnya, adalah yang merasakan kenikmatan ketika dia memberikan hartanya. Bukan seperti orang yang memberikan hartanya dengan diiringi perasaan berat dan tidak senang. Sedang kan seorang yang benar-benar rendah hati (tawadhu) adalah yang merasakan kenikmatan dengan sikap rendah hatinya itu.

Demikian itulah, akhlak yang dipujikan oleh agama tidak akan tertanam dengan kuat di dalam jiwa, selama jiwa itu sendiri belum terbiasa dengan semua perilaku dan kebiasaan yang baik, dan selama ia belum meninggalkan semua perbuatan baik. Sikap seperti itu, harus pula dipertahankan secara terus-menerus, sebagaimana layaknya orang yang senantiasa merindukan dan menikmati perbuatan-perbuatan baik dan mulia. Sebaliknya, merasa berat dan tidak senang terhadap perbuatan-perbuatan buruk, bahkan merasakannya sebagai penyebab penderitaan. Nabi Saw. pernah bersabda:

“Telah dijadikan kebahagiaanku bersumber pada pelaksanaan shalat.”

Karena itu, apabila pelaksanaan kewajiban ibadah dan penghindaran diri dari segala yang diharamkan masih terasa berat atau kurang enak di dalam hati, hal itu adalah pertanda suatu kekurangan. Yang pasti, hal itu dapat menjadi penghalang timbulnya kebahagiaan yang sempurna dan sejati.

Walaupun demikian, adanya upaya untuk terus-menerus melakukan perlawanan batin (mujahadah) dalam menghadapi perasaan seperti itu, pasti lebih baik. Yaitu jika dibandingkan dengan meninggalkan sama sekali upaya seperti itu, dan bukannya dibandingkan dengan melaksanakannya secara sukarela dan dengan perasaan yang ringan. Itulah pula sebabnya Allah Swt. berirman:

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang orang yang khusyuk. (QS Al-Baqarah: 45)

Nabi Saw. juga bersabda:

  “Beribadahlah kepada Tuhanmu dengan perasaan ridha (senang ha ). Namun apabila engkau tak mampu melakukannya seperti itu, ketahuilah bahwa dalam kesabaran menghadapi apa yang tak kau kuasai tersimpan kebaikan amat banyak.”

Akan tetapi, dalam upaya meraih kebahagiaan yang dijanjikan, berkaitan dengan akhlak yang baik, tidaklah cukup hanya dengan merasakan kenikmatan dalam melaksanakan ketaatan serta ketidaksenangan dalam berhadapan dengan kemaksiatan, untuk waktu-waktu tertentu saja. Hal itu harus dijalani secara terus-menerus, sepanjang usia seseorang. Karena itu, makin panjang usianya, makin kuat dan sempurna pula kebaikan perilakunya. Dan itulah sebabnya, ketika Rasulullah Saw. ditanya tentang “kebahagiaan”, beliau menjawab:

“Panjang usia dalam ketaatan kepada Allah Swt.”

Itu pula sebabnya, para nabi dan wali tidak menyukai kematian, mengingat bahwa “dunia adalah ladang akhirat”. Makin banyak pelaksanaan ibadah dengan panjangnya usia, makin banyak pula pahala yang diraih, makin suci jiwanya, makin kuat dan mapan akhlaknya. Adapun yang menjadi tujuan ibadah adalah pengaruhnya di dalam hati. Dan, pengaruh itu akan makin menguat dengan dilaksanakannya ibadah secara terus-menerus.

Adapun tujuan utama dari akhlak yang baik adalah terhentinya kecintaan pada dunia dalam hati seseorang, dan sebagai gantinya—makin mantap pula kecintaannya kepada Allah Swt. Maka, tak sesuatu pun yang lebih diinginkannya daripada perjumpaan dengan-Nya Swt. Selanjutnya, dia takkan menggunakan hartanya kecuali sesuai dengan apa yang akan menyampaikannya kepada Allah Swt. Demikian pula seluruh kekuatan emosi (ghadhab) dan ambisi (syahwatnya) kini menjadi tunduk patuh kepadanya, sehingga takkan digunakannya kecuali dalam hal-hal yang akan menyampaikannya pula kepada Allah Swt. Yaitu, dengan senantiasa menimbang kedua kekuatan tersebut dengan timbangan syariat dan akal. Dan— pada akhirnya—semua itu pasti akan dirasakannya sebagai kesenangan dan kenikmatan baginya.

Hendaknya kita tidak meragukan kemungkinannya bahwa shalat dapat menjadi penyejuk hati atau sumber kebahagiaan bagi jiwa, dan bahwa pelbagai ibadah lainnya dapat pula menimbulkan perasaan amat menyenangkan. Hal ini mengingat bahwa sesuatu yang telah menjadi kebiasaan, dapat menimbulkan keajaiban keajaiban yang lebih mengherankan. Misalnya, adakalanya kita melihat para raja atau hartawan sering dirundung kesedihan dan keresahan. Sebaliknya, seorang penjudi yang bangkrut sering diliputi kegembiraan dan kesenangan oleh perjudiannya, yang melampaui kegembiraan orang-orang lainnya yang tidak berjudi. Padahal, perjudian telah merampas hartanya, menghancurkan rumah tangganya, dan menjadikannya bangkrut. Meskipun demikian, dia tetap mencintainya dan merasa amat senang dengannya. Itu disebabkan dia telah lama sekali terbiasa dengannya dan mengonsentrasikan dirinya pada permainan tersebut untuk waktu yang cukup lama.

Demikian pula orang yang gemar bermain-main dengan burung merpati. Adakalanya dia berdiri sepanjang hari di bawah terik matahari. Dia bersabar menanggung rasa lelah, bahkan mungkin dia tidak merasakan kelelahan sama sekali, disebabkan keasyikannya melihat burung-burung itu serta gerakan-gerakannya, cara terbangnya, dan bagaimana mereka berputar-putar di angkasa.

Bahkan kita menyaksikan orang yang dikenal sebagai pendosa yang durhaka dan tak bermoral. Dia merasa bangga dengan hukuman cambuk atau potong tangan yang harus diterimanya. Kalaupun dihadapkan pada hukuman penyaliban, dia tetap menunjukkan ketabahan, dan berbangga-bangga dengan kemampuannya untuk menghadapi semua itu dengan hati yang keras tak bergeming sedikit pun. Dan, sekiranya anggota tubuhnya dirincis dan disayat-sayat agar mengakui perbuatannya atau perbuatan salah seorang dari kelompoknya, dia akan tetap tutup mulut dan tidak peduli dengan hukuman apa pun yang bakal diterimanya. Bahkan, dia makin merasa bangga dengan sikapnya itu, yang baginya merupakan tanda tanda kesempurnaan, keberanian, dan kejantanan. Mengapa? Karena semua ini telah menjadi sumber kesenangannya dan penimbul rasa kebanggaannya.

Barangkali tak ada keadaan yang lebih rendah dan lebih buruk daripada keadaan seorang banci yang menyerupakan dirinya dengan perempuan. Antara lain, dengan menghilangkan rambut dan membuat rajah (tato) di wajahnya, serta pergaulannya yang rapat dengan kaum wanita. Namun Anda melihat bahwa si banci itu merasa senang dengan keadaannya, bahkan makin bangga dengan kemiripannya yang sempurna dengan perempuan. Dan, dia tak segan-segan bersaing dengan kaum banci selainnya dalam kebancian mereka.

Demikian pula, kebanggaan dan saling menonjolkan diri di antara para tukang bekam dan para penyapu jalan, tak kalah serunya dengan apa yang terjadi di antara para raja dan ulama.

Semua ini adalah akibat kebiasaan dengan suatu pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus, dalam jangka waktu yang cukup lama, sebagaimana dapat disaksikan dalam berbagai pengelompokan atau profesi tertentu.

Jelaslah bahwa jika nafsu manusia dapat merasakan kenikmatan dengan berlanjutnya suatu kebiasaan, walaupun batil, dan juga menjadi cenderung padanya walaupun itu termasuk sesuatu yang keji maka bagaimana mungkin dia tidak merasa kenikmatan dengan sesuatu yang haq, seandainya dia dikembalikan kepadanya dan dibiasakan dengannya selama waktu yang cukup?

Pada hakikatnya, kecenderungan nafsu seseorang pada hal hal yang buruk merupakan sesuatu yang berada di luar tabiat aslinya. Hal itu dapat disamakan dengan perbuatan seseorang memakan tanah, yang adakalanya dilakukan karena telah terbiasanya dia melakukan hal seperti itu.

Adapun kecenderungan pada hikmah (kearifan) serta kecintaan kepada Allah Swt., demikian pula upaya mengenal Nya dan menujukan ibadah kepada-Nya, semua itu termasuk tabiat asli manusia yang memang tertanam dalam hati—secara alami dan itri—sama seperti kecenderungan seseorang pada makan dan minum. Hal itu merupakan salah satu urusan Ilahi.

Sedangkan kecenderungan hati untuk mengikuti rangsangan syahwat hawa nafsu adalah sesuatu yang asing melintas dalam tabiat. Sebab, makanan yang sebenarnya bagi hati adalah hikmah, makriat, dan kecintaan kepada Allah Swt. Kalaupun dia adakalanya menyimpang dari naluri aslinya, yang demikian itu adalah akibat adanya suatu penyakit yang menyebabkan seseorang kehilangan selera makan dan minum, sedangkan keduanya adalah penyebab utama kehidupannya sendiri.

Jelaslah, bahwa hati yang cenderung mencintai sesuatu selain Allah Swt., adalah hati yang telah terkena penyakit, sekadar parahnya kecenderungan itu. Kecuali jika dia mencintai sesuatu itu, semata-mata karena dapat membantunya dalam mencintai Allah Swt., serta melaksanakan agama-Nya. Maka, yang demikian itu tidak menunjukkan adanya penyakit tersebut.

Kini, pasti Anda telah mengetahui bahwa berbagai perangai dan akhlak yang baik ini, dapat diperoleh dengan latihan-latihan ruhani (riyadhah). Yaitu—pada mulanya—dengan memaksakan diri melakukan hal-hal yang timbulnya dari adanya akhlak yang baik, agar—pada akhirnya—dia menjadi bagian dari tabiat yang mapan. Dan, ini merupakan keterkaitan yang mengagumkan antara hati dan anggota tubuh, atau antara ruhani dan jasmani. Sebab, setiap sifat yang ada dalam hati pasti akan melimpah bekasnya pada anggota tubuh. Sehingga, tubuh takkan bergerak kecuali sesuai dengan sifat tersebut. Sebaliknya, setiap perbuatan yang dilakukan oleh tubuh pasti akan ada pengaruhnya di dalam hati. Maka dalam hal ini, terjadilah daur (proses melingkar) yang terus berputar dan berkesinambungan

Mengenai ini, dapat dijelaskan dengan memberi contoh. Yaitu, seseorang yang ingin memiliki kecakapan dalam hal menulis kaligrai, dan ingin agar kecakapannya itu tertanam kuat dalam dirinya, atau menjadi bakat baru baginya. Maka, tak ada jalan baginya kecuali melatih tangannya melakukan apa yang dilakukan oleh seorang penulis yang benar-benar cakap dan berbakat. Dia akan terus-menerus menulis dan menulis, selama waktu yang cukup panjang, seraya meniru tulisan indah yang digoreskan oleh tangan si penulis berbakat. Dan sepanjang waktu itu, dia berusaha membuat tulisan-tulisan yang menyerupai, atau hampir menyerupainya. Sehingga, pada akhirnya, tergoreslah pula oleh tangannya tulisan indah yang mengalir lancar secara naluriah, walaupun—pada mulanya dahulu—dia melakukannya dengan susah payah dan memaksa diri. Maka, seolah-oleh tulisan indah itulah yang menjadikannya kini sebagai seorang penulis indah. Walaupun pertamanya ia  dilakukan dengan susah payah, tetapi hasilnya tetap membekas dan merasuk ke dalam jiwa penulis, lalu dari situ keluar dan menggerakkan tangannya dan jadilah dia seorang penulis indah secara naluriah.

Demikian itu pula bagi seorang yang ingin memiliki bakat sebagai seorang ahli fiqih. Tak ada jalan lain baginya kecuali melakukan apa yang dilakukan oleh para ahli iqih. Yang mempelajari, dan mempelajari kembali hukum-hukum iqih, sampai akhirnya kecakapan tersebut tertanam di hatinya, dan jadilah seorang yang berjiwa faqih (ahli iqih paripurna).

Begitu pula siapa yang ingin menjadi seorang dermawan, mulia hatinya, penyantun, dan bertawadhu. Pada mulanya, dia harus bersedia melakukan seperti yang dilakukan para dermawan, walaupun dengan cara memaksa dirinya, sampai nanti—pada akhirnya—sifat tersebut menjadi tabiat yang melekat padanya. Itulah satu-satunya cara untuk menumbuhkannya.

Nah, sebagaimana orang tersebut di atas yang ingin menjadi seorang ahli iqih berbakat, tidak akan berputus asa dengan cara mengorbankan malam-malamnya, demi memperoleh tingkatan ini. Dan sementara itu, dia takkan meraihnya dengan hanya mengulang-ulangnya pada satu malam saja. Demikian itu pulalah seseorang yang ingin melakukan tazkiat al-nafs (penyucian batin). Tak mungkin dia menyucikannya, menyempurnakannya, dan menghiasinya dengan amalan amalan mulia, atau menghindarkan diri dari perbuatan maksiat selama satu hari saja.

Itulah makna ucapan kami, bahwa satu perbuatan keji tidak harus mengakibatkan kesengsaraan abadi. Namun, meliburkan diri dalam satu hari saja, dapat mengundang keinginan untuk liburan lainnya. Kemudian pertahanan kita akan runtuh sedikit demi sedikit, sehingga jiwa kita menikmati kemalasan, lalu—setelah itu—meninggalkan perjuangan sama sekali. Dan, hilanglah pula kesempatan untuk meraih keutamaan sebagai ahli fiqih yang benar-benar faqih secara lahir batin.

Demikian itu pula dosa-dosa yang ringan. Jika dilakukan terus-menerus, akan saling tarik-menarik. Sehingga—akhirnya— tercabutlah kebahagiaan itu sama sekali dari dasarnya. Yaitu, dengan hancurnya pertahanan iman di saat-saat menjelang mati.

Sebagaimana pengulangan yang dilakukan pada saat malam saja tidak cukup dirasakan pengaruhnya dalam “memfaqihkan” jiwa, mengingat bahwa yang demikian itu hanya dapat timbul sedikit demi sedikit, seperti dalam hal pertumbuhan badan dan tingginya tubuh maka demikian itu pula, satu kali saja ibadah tidak akan cukup terasa pengaruhnya seketika, dalam upaya tazkiat al-nafs.

Meski demikian, tak sepatutnya pula meremehkan amalan amalan ibadah yang kecil-kecil. Sebab, apabila hal itu telah mencapai jumlah yang cukup besar, ia pasti akan berpengaruh juga, mengingat bahwa suatu jumlah terdiri atas satuan-satuan. Maka, setiap satuan darinya memiliki pengaruh tersendiri. Karena itu, tak ada suatu amalan ketaatan, kecuali dia memiliki pengaruh atau bekas, walaupun tersembunyi. Dan karenanya pula, pasti tersedia pahalanya. Tak ada keraguan dalam hal ini. Sebab, setiap ganjaran berada di samping tiap-tiap bekas atau pengaruh yang ditimbulkan. Begitu pula perbuatan kemaksiatan.

Betapa banyak faqih yang meremehkan peliburan sehari semalam. Kemudian ini diikuti secara berulang-ulang, dengan memberikan kesempatan pada dirinya untuk menunda-nunda tugasnya, sehari demi sehari. Sampai—pada akhirnya—dia keluar dari tabiat “kefaqihannya” secara tak sadar.

Begitu pula orang yang meremehkan perbuatan dosa-dosa kecil, lalu menunda-nunda pertobatannya secara berulang ulang, sampai dia dicabut nyawanya oleh maut yang datang secara tiba-tiba. Atau kegelapan dosa-dosa itu meliputi hatinya, sehingga dia tidak lagi mendapat kesempatan untuk bertobat. Sebab, sesuatu yang sedikit mengundang yang banyak, dan menyebabkan hati terbelenggu oleh rantai-rantai syahwat hawa nafsu, sehingga tak mungkin lagi terlepas dari cengkeramannya. Itulah yang dimaksud dengan “tertutupnya pintu tobat”. Itu pula yang dimaksud oleh irman Allah Swt.:

Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka. (QS Yasin: 9)

Karena itu pula, Ali r.a. menyatakan bahwa iman tampak sebagai suatu (titik) putih di hati, setiap kali iman bertambah, bertambah pula titik-titik putih itu. Apabila telah sempurna iman seseorang, hatinya pun menjadi putih benderang seluruh nya. Adapun kemunaikan sebagai suatu titik hitam itu, makin bertambah kemunaikan, makin bertambah pula titik-titik hitam itu, sehingga apabila telah sempurna kemunaikan itu, hitam kelamlah hati secara keseluruhan.

Kesimpulannya, akhlak yang baik dan mulia, adakalanya memang telah ada dalam tabiat dan itrah manusia. Dan, adakalanya ia tumbuh dengan kebiasaan melakukan perbuatan perbuatan baik. Adakalanya pula dengan menyaksikan orang orang yang memang memiliki kebiasaan perbuatan-perbuatan yang baik, serta berkawan dengan mereka. Mereka itulah teman teman pendamping yang membawa kebaikan, dan saudara saudara yang mendatangkan perbaikan pada jiwa manusia. Sebab, setiap tabiat “mencuri” tabiat lainnya, yang baik maupun yang buruk.

Karena itu, barangsiapa terhimpun padanya ketiga penyebab tersebut, sehingga dia menjadi seorang amat baik, karena tabiat aslinya, adat kebiasaannya, dan hasil pelajarannya, sungguh dia berada di atas puncak kebaikan dan keutamaan.

Barangsiapa yang memang sudah menjadi manusia rendah dengan tabiat aslinya, dan kebetulan dia mendapat kawan-kawan yang jahat, lalu dia belajar dari mereka, dan tersedia baginya segala sarana dan suasana untuk berbuat kejahatan, sehingga dia menjadi terbiasa dengannya, sungguh dia berada amat jauh dari Allah Swt.

Ada pula orang-orang yang berada di antara kedua ting katan tersebut, masing-masing menduduki derajatnya dalam kedekatan dan kejauhan (dari Allah Swt.), sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh sifat dan keadaannya sendiri.


Share:

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support