"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Minggu, 08 Februari 2026

Hakikat Akhlak yang Baik dan Buruk

 

Banyak orang telah mencoba berbicara tentang apa hakikatnya akhlak yang baik itu? Namun, sebenarnya mereka belum sampai pada hakikatnya. Mereka hanya berbicara tentang buahnya. Itu pun belum mencakup semua buahnya. Sebab, setiap orang dari mereka hanya menyebutkan tentang salah satu di antara buah-buahnya. Yaitu, yang terlintas dalam pikirannya, atau kebetulan hadir dalam ingatannya. Mereka tidak berupaya sungguh-sungguh untuk menyebutkan batasan-batasannya, serta hakikatnya yang meliputi semua buahnya, secara rinci dan menyeluruh.

Misalnya, seperti yang dinyatakan oleh Al-Hasan, “Akhlak yang baik adalah menghadapi manusia dengan wajah cerah, memberi bantuan setiap kali diperlukan, serta menjaga diri sendiri dari mengganggu orang lain.”

Menurut Al-Washithy, “Akhlak yang baik adalah keadaan seseorang yang tidak mau bertengkar ataupun diajak bertengkar oleh siapa pun, disebabkan makrifatnya yang mendalam berkaitan dengan Allah Swt.” 

Syah Al-Karmaniy berkata, “Akhlak yang baik adalah mencegah diri sendiri daripada mengganggu orang lain, serta bersabar dalam melaksanakan kewajiban, betapa pun beratnya.” 

Sebagian orang berkata, “Seseorang dapat disebut sebagai berakhlak baik apabila dia berada dengan manusia, tetapi dia sendiri bagaikan seorang asing di antara mereka.”

Al-Washity juga pernah berkata, “Berakhlak baik adalah dengan membuat orang lain merasa puas, baik di kala sedang kesusahan maupun kesenangan.”

Menurut Abu Utsman, “Berakhlak baik adalah senantiasa merasa ridha (puas dan pasrah sepenuhnya) kepada Allah Swt.” Sahl At-Tustury pernah ditanya tentang akhlak yang baik, lalu dia menjawab, “Sedikitnya, seorang yang berakhlak baik akan selalu tabah menghadapi kesulitan, tidak mengharapkan balasan atas apa yang dilakukannya, mengasihani orang yang melakukan kezaliman terhadapnya, dan memohonkan ampunan baginya serta mengasihaninya.”

 Di lain kesempatan, dia juga menyatakan bahwa seorang yang baik akhlaknya tidak sekali-kali akan meragukan Allah Swt. mengenai rezeki yang Dia berikan kepadanya. Bahkan, dia percaya sepenuhnya kepada Allah Swt., dan senantiasa memenuhi kewajibannya berkenaan dengan rezeki yang telah dijaminkan Allah baginya. Kemudian, dia akan selalu taat kepada-Nya dan takkan membangkang terhadap-Nya mengenai apa saja yang berkaitan antara dia dan Allah Swt., dan antara dia dan orang-orang sekitarnya.

Ali r.a. pernah berkata, “Akhlak yang baik terkandung dalam tiga hal: menjauhi segala yang diharamkan, mencari yang halal dan menyenangkan para anggota keluarga.”

Husain bin Manshur berkata, “Akhlak yang baik ialah apabila engkau takkan terpengaruh oleh ketidakramahan manusia kepadamu, setelah engkau berhasil mendekat ke arah Dia Yang Mahabenar.”

Abu Said Al-Kharraz pernah berkata, “Akhlak yang baik ialah apabila engkau tak lagi memedulikan sesuatu kecuali Allah Swt.”

Contoh-contoh seperti itu amat banyak. Namun, semua itu hanya ucapan tentang “buah-buah akhlak yang baik”, dan bukannya tentang hakikat atau “esensi akhlak baik” itu sendiri. Di samping itu, ia tidak pula meliputi semua buahnya. Maka, upaya penyingkapan tentang hakikat itu lebih utama daripada penyajian ucapan-ucapan manusia yang bermacam-macam.


Dikutip dalam Buku: Mengobati Penyakit Hati Membentuk Akhlak Mulia ~ Imam Al-Ghazali

Share:

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support