"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Minggu, 08 Februari 2026

Ini Tingkatan Manusia dalam Menerima Perbaikan!

 

Dalam hal kemungkinan terjadinya perubahan ke arah perbaikan dalam akhlak, manusia dibagi dalam empat tingkatan:

Pertama, seorang yang sepenuhnya lugu atau polos, yang tidak mampu membedakan antara yang haq dan yang batil atau antara yang baik dan yang buruk, tetap dalam keadaan fitrah seperti ketika dilahirkan, dan kosong dari segala kepercayaan. Demikian pula naluri syahwat (hasrat dan ambisi nya) belum begitu kuat untuk mendorongnya mengikuti berbagai kesenangan hidup duniawi. Orang seperti ini, sangat cepat dalam menerima pengobatan bagi hatinya. Tiada yang diperlukannya selain seorang guru atau mursyid, serta timbulnya sedikit kesadaran dalam hatinya, yang mendorongnya untuk melakukan mujahadah. Dengan itu, akhlaknya akan menjadi baik—dalam waktu yang secepatnya.

Kedua, seorang yang telah mengetahui keburukan sesuatu yang buruk, tetapi dia sendiri belum terbiasa mengerjakan amalan yang baik. Bahkan hawa nafsunya memperindah baginya perbuatan buruknya, sehingga dia pun mengerjakannya berulang-ulang. Semata-mata demi mengikuti keinginan nafsu syahwatnya, seraya memalingkan diri dari akal sehatnya, dan sebagai akibat berkuasanya naluri syahwat atas dirinya. Akan tetapi, betapa pun juga, masih ada sedikit pengetahuannya tentang keburukan perbuatannya itu. Maka, perbaikan akhlak orang seperti ini pasti agak lebih sulit dibandingkan dengan orang jenis pertama. Sebab, kini tugasnya berlipat ganda. Di samping harus mencabut apa yang telah berakar dalam pikiran dan jiwanya, akibat kebiasaannya melakukan perbuatan perbuatan buruk, dia kini harus pula menanamkan kebiasaan berbuat baik demi perbaikan dirinya sendiri. Bagaimanapun jiwa orang seperti ini, secara umum, masih mungkin menerima pelatihan kejiwaan (riyadhah) menuju perbaikan, sepanjang hal itu dilaksankan dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh kebijaksanaan.

Ketiga, seorang yang merasa yakin bahwa pelbagai perangai buruk justru merupakan hal-hal yang wajib dikerjakan, dan bahwasanya hal seperti itu adalah baik, benar, dan menguntungkan. Dan, dia tumbuh menjadi dewasa bersama keyakinan seperti itu. Akibatnya, dia hampir-hampir tak mungkin diobati penyakitnya dan tak dapat diharapkan perbaikannya kecuali dalam keadaan yang sangat jarang. Hal itu disebabkan telah bertumpuknya penyebab kesesatan dalam jiwanya.

Keempat, seorang yang diliputi pikiran-pikiran buruk seiring dengan pertumbuhan dirinya, terdidik dalam pengamalan hal hal yang buruk pula. Sehingga, dia menganggap bahwa ketinggian derajat dirinya diukur dengan banyaknya perbuatan jahat yang dia lakukan dan bahkan dengan banyaknya jiwa-jiwa manusia yang dia korbankan. Dia pun membanggakan perbuatannya itu dan mengira bahwa yang demikian itu meninggikan derajatnya di antara manusia. Orang seperti ini, berada dalam tingkatan yang paling sulit diobati. Untuknya dan untuk orang-orang seperti dia, berlaku pepatah mengatakan, “Olahraga berat bagi si tua renta adalah kelelahan yang sia-sia. Dan, memperhalus watak seekor serigala adalah suatu bentuk penyiksaan.”

Kesimpulannya, si orang pertama hanya disebut sebagai seorang yang tidak mengerti atau “bodoh” saja. Yang kedua, bodoh dan sesat. Yang ketiga, bodoh, sesat, dan fasiq (durhaka), dan yang keempat, bodoh, sesat, durhaka, dan jahat.


Dikutip dalam Buku: Mengobati Penyakit Hati Membentuk Akhlak Mulia ~ Imam Al-Ghazali

Share:

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support