"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Selasa, 03 Februari 2026

Dzikir Laksana Api

 

Dzikir itu seperti api yang tidak pernah diam dan menjalar. Ketika dizkir sudah memasuki sebuah rumah, ia akan berkata, “Ini Aku, tidak ada yang lain selain Aku.” Demikian ini merupakan salah satu makna dari kalimat tauhid, laa ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah).

Jika dzikir menemukan kayu bakar di dalamnya, ia akan memakannya hingga menjadi api. Jika di dalamnya gelap, ia menjadi penerangnya. Jika sudah ada cahaya di dalam rumah, ia akan menjadi cahaya di atas cahaya.

Demikian pula dzikir yang terjadi pada tubuh. Dzikir mampu menghilangkan darinya lebihan-lebihan tak bermanfaat yang diakibatkan makan terlalu banyak dan mengkonsumsi makanan haram. Sementara manfaat yang diperoleh dari makanan halal tidak terpengaruh oleh dzikir. Ketika bagian-bagian yang tercela dalam tubuh terbakar dan bagian-bagian yang terpuji bertahan, kamu akan mendengar dzikir dari setiap bagian tubuh layaknya terompet yang ditiup.

Pada awalnya, dzikir berlangsung di area kepala. Di sana kamu seperti mendapati suara terompet dan simbal. Dzikir ibarat raja, bila sudah singgah di suatu tempat, ia akan masuk dengan iringan suara terompet dan simbalnya. Sebab, dzikir pada hakikatnya menentang apa saja selaian Allah. Ketika ia sudah menetap di suatu tempat, ia secara aktif berusaha untuk mengusir dan menyingkirkan lawannya. Keadaan ini seperti yang kita jumpai saat air bertemu dengan api.

Setelah suara-suara tadi, kamu akan mendengar berbagai suara lainnya, seperti riak air, embusan bertiup, kobaran api, suara kincir angin, derap kaki kuda, dan gemerisik dedaunan yang ditiup angin. Hal ini karena fakta bahwa komposisi manusia terdiri dari subtansi wujud (Jauhar) yang mulia ataupun yang hina, seperti tanah, air, api, udara, langit, bumi, dan apa yang ada antara keduanya. Jadi, suara-suara tersebut merupakan sifat dasar dan unsur dari tiap-tiap subtansi tadi.

Siapapun yang medengar sesuatu dari suara-suara tersebut, pasti akan bertasbih mensucikan Allah dengan seluruh lidahnya. Inilah buah yang dipetik dari berdzikir melalui lisan yang disertai maqam istighraq (peleburan diri)

Mungkin seorang hamba akan mencapai satu maqam di mana jika lisannya berhenti berdzikir, hatinya ganti bergerak-gerak mencari dzikir, selayaknya janin bergerak-gerak dalam rahim ibunya.

Banyak yang mengatakan bahwa hati itu seperti Isa putra Maryam dan dzikir itu air susu ibu. Ketika hati sudah tumbuh besar dan menjadi kuat, muncul dalam hati kerinduan kepada Allah serta desahan dan goncangan akibat kerinduannya pada dizkir dan Subjek yang didzikirkan.

Dzikir hati bagaikan dengungan lebah. Ia tidak berwujud suara yang nyaring, keras, dan mengganggu. Ia juga tidak tersembunyi dan misterius. Ketika Subjek yang didzikirkan sudah mengambil tempat dari hati dan dizkir pun terhapuskan serta lenyap, orang yang berdzikir sudah tidak lagi memperhatikan dzikir dan hatinya. Jika di Tengah-tengah itu, dirinya justru mengurusi dzikir atau hatinya, hal itulah hijab yang mengalihkan dirinya dan Subjek yang dia dizkirkan.

Momen-momen ketika Subjek yang didzikirkan sudah menguasai hati ini disebut dengan fana atau kepunahan diri. Artinya, seseorang fana dari dirinya sendiri sehingga tidak merasakan apa pun dari anggota tubuhnya atau hal-hal yang ada di luar dirinya, termasuk, fenomena batiniah apa pun.

Pada maqam ini, seorang hamba sudah tidak merasakan semua itu dan semua yang lenyap darinya pertama-tama pergi kepada Tuhannya, kemudian kembali lagi kepada dirinya sendiri, pikiran itu sejatinya adalah belang dan noda.

Dzikir yang sempurna adalah Ketika seseorang fana dari dirinya sendiri dan dari keadaan fana itu sendiri. Oleh karena itu, fana dari keadaan fana adalah puncak dari kefanaan. Fana adalah awal dari perjalanan, sebuah titik awal keberangkatan menuju Allah. Sementara hidayah datang setelahnya. Yang aku maksudkan dengan hidayah adalah hidayah, sebagaimana dikatakan oleh Nabi Ibrahim dalam Al-Quran:

“Aku benar-benar pergi menghadap kepada Tuhanku yang akan memberi petunjuk (hidayah) kepadaku.” (QS. Ash-Shaffat: 99)

Peleburan total ini jarang bertahan dan berlangsung lama. Jika seseorang berdizkir secara tekun, itu bisa menjadi kebiasaan yang mengakar dan keadaan permanen yang dengannya ia dapat naik ke alam tertinggi; melihat wujud hakiki yang nyata; tercetak dalam dirinya sufat alam yang tidak terlihat (malakut); serta termanifestasi ketuhanan (lahut) yang suci dalam dirinya.

Yang pertama dilihat di alam ini adalah bentuk indah dari subtansi para malaikat serta ruh para nabi dan wali yang melaluinya sebagian hakikat meluap ke permukaan. Itulah awalnya, sampai tingkat realitasnya lebih tinggi dari bentuk-bentuk pemisalan hingga menemukan bukti-bukti dari Allah dalam segala hal.

Inilah buah dari inti dzikir. Awal mula dzikir memang hanya dengan lisan, kemudian dilanjut dzikir hati yang masih diupayakan, lalu dzikir hati secara alamiah, kemudian terkuasainya ruang hati oleh Subjek yang didzikirkan sembari orang yang berdizkir terhapus lenyap dalam fana. Inilah rahasia sabda nabi Muhammad Saw.,

“Siapapun yang senang berpesta di taman surga, hendaklah ia memperbanyak dzikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Begitu juga sabda berikut,

“Dizkir yang tersembunyi (hingga tak terdengar) itu tujuh puluh kali lipat lebih mulia ketimbang dzikir yang didengar oleh para malaikat penjaga yang bertugas mengawasi amal perbuatan manusia.” (HR. az-Zabidi dan al-Iraqi)

Adapun tanda dari dzikir telah mencapai sirr (bagian terdalam) adalah lenyapnya orang yang berdzikir dari dzikir dan Subjek yang didzikirkan. Dzikir sirr tercapai bila sudah mengalamai ekstasi dzikir dan tenggelam di dalamnya. Di antara tanda-tandanya adalah ketika kamu meninggal dzikir, ia tidak meninggalkanmu. Dzikir sirr ini terbang dalam dirimu untuk membangunmu dari ketiadaanmu kesadaran menuju kehadiran hati.

Tanda lainnya adalah perasaan bahwa kepala dan anggota badanmu terikat seolah-olah tubuhmu dibelenggu dengan rantai. Tanda lain lagi adalah bahwa apinya tidak pernah padam dan cahayanya tidak menghilang. Sebaliknya, kamu akan melihat cahaya-cahaya yang naik dan cahaya-cahaya lainnya yang turun, sementara api di sekitarmu jernih, berkobar, dan menyala-nyala.

Ketika dzikir telah mencapai sirr dan orang yang berdzikir diam, dzikir itu berubah menjadi seperti jarum yang menusuk lidahnya atau seluruh wajahnya seolah-olah menjadi lidah yang berdzikir melalui cahaya yang memancar darinya.

Ketahuilah bahwa setiap dzikir yang dirasakan oleh hatimu itu didengar oleh para malaikat penjaga. Apa yang dirasakan mereka berbarengan dengan apa yang kamu rasakan. Di dalamnya ada sirr sehingga ketika dzikirmu absen dari apa yang kamu rasa dengan kelenyapan dalam Subjek yang dzikirkan secara total. Dzikirmu akan absen dari apa yang dirasakan para malaikat penjaga.

 

Dikutip dalam kitab: Miftah al-falah wa Misbah al-Arwah ~ Ibnu Athaillah as-Sakandari


Share:

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support