
Dzikir itu seperti api yang tidak pernah diam dan menjalar. Ketika
dizkir sudah memasuki sebuah rumah, ia akan berkata, “Ini Aku, tidak ada yang lain
selain Aku.” Demikian ini merupakan salah satu makna dari kalimat tauhid, laa
ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah).
Jika dzikir menemukan kayu bakar di dalamnya, ia akan
memakannya hingga menjadi api. Jika di dalamnya gelap, ia menjadi penerangnya. Jika
sudah ada cahaya di dalam rumah, ia akan menjadi cahaya di atas cahaya.
Demikian pula dzikir yang terjadi pada tubuh. Dzikir mampu
menghilangkan darinya lebihan-lebihan tak bermanfaat yang diakibatkan makan
terlalu banyak dan mengkonsumsi makanan haram. Sementara manfaat yang diperoleh
dari makanan halal tidak terpengaruh oleh dzikir. Ketika bagian-bagian yang
tercela dalam tubuh terbakar dan bagian-bagian yang terpuji bertahan, kamu akan
mendengar dzikir dari setiap bagian tubuh layaknya terompet yang ditiup.
Pada awalnya, dzikir berlangsung di area kepala. Di sana
kamu seperti mendapati suara terompet dan simbal. Dzikir ibarat raja, bila
sudah singgah di suatu tempat, ia akan masuk dengan iringan suara terompet dan
simbalnya. Sebab, dzikir pada hakikatnya menentang apa saja selaian Allah. Ketika
ia sudah menetap di suatu tempat, ia secara aktif berusaha untuk mengusir dan
menyingkirkan lawannya. Keadaan ini seperti yang kita jumpai saat air bertemu
dengan api.
Setelah suara-suara tadi, kamu akan mendengar berbagai suara
lainnya, seperti riak air, embusan bertiup, kobaran api, suara kincir angin,
derap kaki kuda, dan gemerisik dedaunan yang ditiup angin. Hal ini karena fakta
bahwa komposisi manusia terdiri dari subtansi wujud (Jauhar) yang mulia ataupun
yang hina, seperti tanah, air, api, udara, langit, bumi, dan apa yang ada
antara keduanya. Jadi, suara-suara tersebut merupakan sifat dasar dan unsur
dari tiap-tiap subtansi tadi.
Siapapun yang medengar sesuatu dari suara-suara tersebut,
pasti akan bertasbih mensucikan Allah dengan seluruh lidahnya. Inilah buah yang
dipetik dari berdzikir melalui lisan yang disertai maqam istighraq (peleburan
diri)
Mungkin seorang hamba
akan mencapai satu maqam di mana jika lisannya berhenti berdzikir, hatinya ganti
bergerak-gerak mencari dzikir, selayaknya janin bergerak-gerak dalam rahim ibunya.
Banyak yang mengatakan bahwa hati itu seperti Isa putra Maryam
dan dzikir itu air susu ibu. Ketika hati sudah tumbuh besar dan menjadi kuat,
muncul dalam hati kerinduan kepada Allah serta desahan dan goncangan akibat
kerinduannya pada dizkir dan Subjek yang didzikirkan.
Dzikir hati bagaikan dengungan lebah. Ia tidak berwujud
suara yang nyaring, keras, dan mengganggu. Ia juga tidak tersembunyi dan
misterius. Ketika Subjek yang didzikirkan sudah mengambil tempat dari hati dan
dizkir pun terhapuskan serta lenyap, orang yang berdzikir sudah tidak lagi
memperhatikan dzikir dan hatinya. Jika di Tengah-tengah itu, dirinya justru
mengurusi dzikir atau hatinya, hal itulah hijab yang mengalihkan dirinya dan
Subjek yang dia dizkirkan.
Momen-momen ketika Subjek yang didzikirkan sudah menguasai
hati ini disebut dengan fana atau kepunahan diri. Artinya, seseorang fana dari
dirinya sendiri sehingga tidak merasakan apa pun dari anggota tubuhnya atau
hal-hal yang ada di luar dirinya, termasuk, fenomena batiniah apa pun.
Pada maqam ini, seorang hamba sudah tidak merasakan semua
itu dan semua yang lenyap darinya pertama-tama pergi kepada Tuhannya, kemudian kembali
lagi kepada dirinya sendiri, pikiran itu sejatinya adalah belang dan noda.
Dzikir yang sempurna adalah Ketika seseorang fana dari
dirinya sendiri dan dari keadaan fana itu sendiri. Oleh karena itu, fana dari
keadaan fana adalah puncak dari kefanaan. Fana adalah awal dari perjalanan,
sebuah titik awal keberangkatan menuju Allah. Sementara hidayah datang
setelahnya. Yang aku maksudkan dengan hidayah adalah hidayah, sebagaimana
dikatakan oleh Nabi Ibrahim dalam Al-Quran:
“Aku benar-benar pergi menghadap kepada Tuhanku yang akan
memberi petunjuk (hidayah) kepadaku.” (QS. Ash-Shaffat: 99)
Peleburan total ini jarang bertahan dan berlangsung lama. Jika
seseorang berdizkir secara tekun, itu bisa menjadi kebiasaan yang mengakar dan
keadaan permanen yang dengannya ia dapat naik ke alam tertinggi; melihat wujud
hakiki yang nyata; tercetak dalam dirinya sufat alam yang tidak terlihat
(malakut); serta termanifestasi ketuhanan (lahut) yang suci dalam dirinya.
Yang pertama dilihat di alam ini adalah bentuk indah dari
subtansi para malaikat serta ruh para nabi dan wali yang melaluinya sebagian hakikat
meluap ke permukaan. Itulah awalnya, sampai tingkat realitasnya lebih tinggi
dari bentuk-bentuk pemisalan hingga menemukan bukti-bukti dari Allah dalam
segala hal.
Inilah buah dari inti dzikir. Awal mula dzikir memang hanya
dengan lisan, kemudian dilanjut dzikir hati yang masih diupayakan, lalu dzikir
hati secara alamiah, kemudian terkuasainya ruang hati oleh Subjek yang
didzikirkan sembari orang yang berdizkir terhapus lenyap dalam fana. Inilah rahasia
sabda nabi Muhammad Saw.,
“Siapapun yang senang berpesta di taman surga, hendaklah ia
memperbanyak dzikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Begitu juga sabda berikut,
“Dizkir yang tersembunyi (hingga tak terdengar) itu tujuh
puluh kali lipat lebih mulia ketimbang dzikir yang didengar oleh para malaikat
penjaga yang bertugas mengawasi amal perbuatan manusia.” (HR. az-Zabidi dan
al-Iraqi)
Adapun tanda dari dzikir telah mencapai sirr (bagian
terdalam) adalah lenyapnya orang yang berdzikir dari dzikir dan Subjek yang
didzikirkan. Dzikir sirr tercapai bila sudah mengalamai ekstasi dzikir dan
tenggelam di dalamnya. Di antara tanda-tandanya adalah ketika kamu meninggal
dzikir, ia tidak meninggalkanmu. Dzikir sirr ini terbang dalam dirimu untuk
membangunmu dari ketiadaanmu kesadaran menuju kehadiran hati.
Tanda lainnya adalah perasaan bahwa kepala dan anggota
badanmu terikat seolah-olah tubuhmu dibelenggu dengan rantai. Tanda lain lagi adalah
bahwa apinya tidak pernah padam dan cahayanya tidak menghilang. Sebaliknya,
kamu akan melihat cahaya-cahaya yang naik dan cahaya-cahaya lainnya yang turun,
sementara api di sekitarmu jernih, berkobar, dan menyala-nyala.
Ketika dzikir telah mencapai sirr dan orang yang berdzikir
diam, dzikir itu berubah menjadi seperti jarum yang menusuk lidahnya atau
seluruh wajahnya seolah-olah menjadi lidah yang berdzikir melalui cahaya yang
memancar darinya.
Ketahuilah bahwa setiap dzikir yang dirasakan oleh hatimu
itu didengar oleh para malaikat penjaga. Apa yang dirasakan mereka berbarengan dengan
apa yang kamu rasakan. Di dalamnya ada sirr sehingga ketika dzikirmu absen dari
apa yang kamu rasa dengan kelenyapan dalam Subjek yang dzikirkan secara total. Dzikirmu
akan absen dari apa yang dirasakan para malaikat penjaga.
Dikutip dalam kitab: Miftah al-falah wa Misbah al-Arwah ~ Ibnu
Athaillah as-Sakandari







0 Post a Comment:
Posting Komentar