
Jika tubuh sedang dalam keadaan sehat, tugas seorang dokter ialah menyiapkan petunjuk tentang tindakan apa saja yang harus diperhatikan, guna menjaga dan memelihara kesehatan tersebut. Tetapi jika dia dalam keadaan sakit, tugasnya adalah mengembalikan kondisinya agar menjadi sehat kembali.
Seperti itu pula yang berkaitan dengan jiwa. Apabila jiwa Anda dalam keadaan sehat, bersih, dan lurus, seharusnya Anda berusaha menjaganya, bahkan mengupayakan agar ia bertambah kuat dan menjadi lebih bersih dan jernih maka seyogianya Anda berupaya agar ia dapat menyandang sifat-sifat baik seperti tersebut di atas.
Demikian pula jika tubuh diserang sesuatu yang dapat mengganggu kestabilannya atau menyebabkannya sakit, dia biasanya tidak diobati kecuali dengan sesuatu yang berlawanan dengan penyebab gangguan tersebut. Jika gangguan itu berasal dari sesuatu yang bertabiat panas, dia diobati dengan sesuatu yang bertabiat dingin. Dan jika disebabkan oleh kedinginan, dia diobati dengan sesuatu yang bertabiat panas.
Seperti itu pula keburukan budi pekerti yang merupakan penyakit dalam hati, harus diobati dengan sesuatu yang berlawanan dengannya. Penyakit kebodohan harus diobati dengan belajar. Penyakit kebakhilan, dengan memaksa diri untuk berlaku dermawan. Penyakit sombong, dengan sikap tawadhu. Adapun kerakusan, dengan menahan diri—secara sungguh-sungguh—dari apa yang diinginkan oleh nafsu.
Sebagaimana orang yang sedang sakit harus bersabar dalam menghadapi kepahitan obat dan menahan diri dari apa yang diinginkan nafsunya, demi mengatasi penyakit yang bersarang dalam tubuhnya maka seperti itu pula seharusnya dilakukan untuk menghadapi beratnya kesabaran dari perjuangan batin, demi mengobati berbagai penyakit hati. Bahkan, jauh lebih dari itu. Sebab, penyakit tubuh berakhir dengan datangnya kematian, sedangkan penyakit hati (semoga Allah melindungi kita) akan terus berlangsung terus sampai setelah mati, selama berabad abad yang tak diketahui kapan berakhirnya.
Sebagaimana tidak setiap pendingin akan cocok untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh kepanasan, kecuali apabila dalam ukuran tertentu, sehubungan dengan berat atau ringannya penyakit, lama atau cepatnya, serta banyak atau sedikitnya. Demikian pula dia harus dalam takaran tertentu, sehingga dapat diketahui seberapa banyak yang dapat mendatangkan manfaat baginya. Sebab, apabila tidak dijaga takarannya, dia justru dapat menambah parah penyakit yang hendak diobati. Demikian itu pula keburukan-keburukan akhlak yang ingin diobati, obatnya haruslah dalam ukuran dan takaran tertentu pula.
Sebagaimana kadar dan jenis obat harus disesuaikan dengan kadar dan jenis penyakit, sehingga dokter tidak akan mengobati sebelum mengetahui apakah penyakit itu bersumber dari sesuatu yang bersifat panas atau dingin, dan juga kalau itu dari kepanasan, berapa derajatnya dan berapa besar kekuatannya? Lalu dia juga akan mengamati kondisi tubuh si pasien, juga kondisi suhu udara tempat itu, apa pekerjaan pasien, berapa usianya dan bagaimana keadaannya secara keseluruhan. Baru setelah itu semua, dia memulai pengobatannya sesuai dengan hasil diagnosanya.
Seperti itu pula, seyogianya yang dilakukan oleh seorang guru yang diikuti, yang hendak mengobati hati para muridnya serta orang-orang yang mengharapkan nasihatnya. Tak sepatut nya dia dengan serta-merta memaksakan atas mereka untuk menjalani latihan-latihan kejiwaan atau melaksanakan tugas-tugas tertentu, dengan jalan (thariqah) tertentu, sebelum dia mengetahui akhlak serta penyakit mereka secara mendalam.







0 Post a Comment:
Posting Komentar