"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Selasa, 03 Februari 2026

Hikmah diturunkannya Adam ke Bumi

 

Allah Swt. menurunkan, bapak manusia, dari surga karena dibaliknya ada banyak hikmah yang tidak bisa dijangkau akal, tak bisa dilukiskan dengan untaian kata-kata. Diturunkannya Adam dari surga merupakan kesempurnaan Adam itu sendiri, agar dia Kembali lagi ke sana dalam kondisi yang terbaik. Mengutip dari kitab Miftah Daris Sa’adah (Kunci Kebahagiaan Dunia dan Akhirat) Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menuturkan ada beberapa hikmah diturunkannya nabi Adam a.s diantaranya Adalah:

Pertama, Allah ‘Azza Wa Jalla bermaksud agar Adam dan keturunannya merasakan keletihan, duka cita, kesedihan, serta penyakit duniawi yang yang akan memperbesar nilai masuk nilai masuk Surga di akhirat. Karena kenikmatan itu akan terasa lebih indah setelah mengalami penderitaan yang luar biasa. Andaikan mereka terbiasa bersenang-senang di negeri penuh kenikmatan, maka niscaya mereka tidak merasakan tingginya nilai Surga itu sendiri.

Kedua, Allah hendak memerintah, melarang, dan menguji Adam – pasalnya, Surga bukanlah negeri taklif (pembebanan syariat) – sehingga menurunkan mereka (yakni Adam beserta keturunannya) ke bumi. Sebagai imbalannya, Allah menjamin akan memberi mereka pahala terbaik yang tidak dapat diraih tanpa menjalankan perintah dan menjauhi larangannya-Nya.

Ketiga, Allah berkehendak menjadikan di antara mereka sebagai nabi, rasul, wali, dan syuhada yang dicintai dan mereka pun mencintai-Nya. Sehingga, Dia membiarkan mereka menghadapi musuh-musuh-Nya, serta Dia menguji dengannya. Lalu karena mereka lebih memilih-Nya, mengorbankan jiwa dan harta demi menggapai Ridha serta cinta-Nya, mereka pun meraih cinta, Ridha, dan kedekatan dengan-Nya ‘Azza Wa Jalla yang tidak akan dapat diraih tanpa pengorbanan. Karena tingkatan risalah, nubuwah, mati syahid, cinta dan benci karena-Nya, membela wali-Nya, juga melawan musuh-Nya merupakan tingkatan paling utama.

Kesimpulannya, semua kebaikan itu tidak akan bisa diraih tanpa melalui cara yang telah Allah tentukan dan tetapkan. Cara tersebut Adalah dengan menurunkan Adam ke bumi dari negeri kenikmatan tempat pertama dia berada, berikut menjadikan penghidupan kepada Adam dan juga anak-anaknya di negeri yang fan aini.

Keempat, Allah hendak menampakkan hikmah yang terkandung di dalam al-Asma Husna. Untuk itu, Allah menurunkan Adam beserta cucunya di suatu negeri tempat hikmah al-Asmaul Husna itu terlihat. Di sana, Allah mengampuni siapa pun yang Dia kehendaki, merahmati yang Dia kehendaki, mengangkat derajat siapa yang Dia kehendaki, memuliakan siapa yang Dia kehendaki, merendahkan siapa yang Dia kehendaki, membalas siapa yang Dia kehendaki, memberi nikmat kepada siapa saja yang Dia kehendaki atau mencegah nikmat itu dari siapa pun yang dikehendaki-Nya (mempersempit) serta melapangkan rezeki. Masih banyak penampakan hikmah nama-nama dan sifat-sifat-Nya ini.

Kelima, Allah Swt. memiliki nama al Malik (Maharaja), al-Haq (Mahabenar), dan juga al-Mubin (Maha Menjelaskan). Dengan al-Malik, Allah kuasa memerintah dan melarang, memberi pahala dan hukuman, menghinakan dan memuliakan. Kerajaan Allah sudah memutuskan untuk menurunkan Adam serta keturunannya ke suatu negeri tempat hukum-hukum Maharaja berlaku di sana. Selanjutnya, memindahkan mereka ke suatu negeri tempat hukum-hukum tersebut telah selesai diterapkan atas mereka.

Keenam, Allah ‘Azza Wa Jalla menurunkan mereka ke suatu negeri tempat keimanan terhadap hal ghaib dapat mendatangkan manfaat bagi mereka. Adapun keimanan terhadap hal nyata, siapapun tentu akan mengimani pada hari kiamat kelak, namun pada hari itu keimanan tidak berguna lagi bagi mereka selain keimanan sewaktu di dunia. Andai mereka diciptakan di negeri penuh kenikmatan (Surga), derajat keimanan atas hal-hal ghaib niscaya tidak berarti apa-apa. Kenikmatan serta kemuliaan yang ada di Surga tidak akan bisa diraih kecuali dengan mengimani hal ghaib Ketika di dunia. Bahkan, kenikmatan yang mereka rasakan di dalam Surga – andaikan mereka diciptakan di dalamnya – tidak setara dengannya.

Ketujuh, Allah menciptakan Adam dari segenggamtanah yang diambil dari seluruh tanah di bumi. Di bumi, ada orang yang baik dan ada orang yang buruk, ada yang ramah dan ada yang kasar, ada yang mulia dan ada pula yang tercela. Allah tahu bahwa pada punggung Adam ada manusia yang tidak layak ditempatkan di dalam Surga-Nya. Untuk itulah Dia menurunkannya ke bumi guna mengeluarkan manusia yang baik dan yang buruk, lalu Dia pisahkan mereka di dua negeri. Orang-orang baik dijadikan sebagai orang yang dekat-Nya hingga menghuni negeri kemuliaan-Nya (surga). Sementara orang-orang yang buruk dijadikan penghuni negeri kesengsaraan dan negeri orang-orang buruk (Neraka).

Allah Swt. berfirman:

“Agar Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya dan dimasukkan-Nya ke dalam Neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Anfal: 37)

Kedelapan, Allah ‘Azza Wa jalla ingin memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya tentang orang-orang yang telah dianugerahinnikmat yang sempurna, dan (Dia memberitahukan kepada mereka) ihwal kadar nikmat tersebut, agar mereka (lebih mencintai-Nya) lebih banyak bersyukur, dan lebih merasakan berbagai nikmat yang telah diberikan kepada mereka.

Kesembilan, Allah ‘Azza Wa Jalla menciptakan makhluk tidak lain agar mereka beribadah kepada-Nya semata. Ibadah itu sendiri tak lain Adalah tujuan (yang dituntut) dari hidup mereka selama di dunia.

Kesepuluh, di antara kesempurnaan Allah Swt. yang dicurahkan kepada Adam dan keturunan-Nya yaitu diperlihatkannya keburukan yang dilakukan oleh si musuh (Iblis) kepada mereka (dan ayah mereka), sehingga mereka segera mempersiapkan diri dan perlengkapan untuk menghadapinya.

Kesebelas, selain itu Allah menjadikan Surga sebagai negeri balasan serta tebusan pahala, membagi tingkatan-tingkatannya untuk para penghuninya sesuai nilai amal perbuatan. Inilah alasan Allah menciptakan Surga; Dia memiliki hikmah di baliknya, yang ditetapkan oleh nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Karena Surga terdiri dari beberapa tingkatan yang posisi Sebagian darinya ada di atas tingkatan lain, dan jarak antar dua tingkatan Bagai jarak antara langit dan bumi. Seperti disebutkan dalam ash-Shahih bahwa nabi Saw. bersabda: “Sungguh, Surga itu (terdiri dari) serratus derajat; (dan jarak) di antara dua derajat seperti (jarak) antara langit dan bumi.”

Keduabelas, selain itu Allah menciptakan Adam serta keturunanya sebagai khalifah di bumi. Allah berkehendak untuk memindahkan Adam serta keturunanya dari kekhalifahan di bumi menuju ke negeri akhirat yang diwariskan oleh-Nya kepada mereka; Surga abadi. Allah ‘Azza Wa Jalla mengetahui – melalui ilmu-Nya yang Qadim (azali) – lemah dan dangkalnya pikiran manusia yang kadang lebih memilih dunia yang hina daripada akhirat yang tak ternilai harganya. Sebab jiwa cenderung menyukai dan mengutamakan dunia dibandingkan akhirat.

Dengan demikian, tidaklah Allah mengeluarkan Adam a.s dari Surga kecuali Dia hendak mengembalikan dirinya – beserta keturunannya – kesana dengan kondisi atau keadaan yang sebaik-baiknya.

 

 

 


Share:

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support