"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Senin, 14 Maret 2022

BULAN YANG DILUPAKAN



Mhd. Reza Fahlevi, M.Pd

(Dikutip dalam kitab: Mukasyafatul Qulub-Imam Al Ghazali)

 

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang memiliki keutamaan dalam nya. Sesuai dengan kalender Hijriah, Sya’ban adalah bulan kedelapan yang di apit dua bulan istimewa yakni, Rajab dan Ramadhan.

Sya'ban menjadi bulan yang sebaiknya diperlakukan layaknya bulan Rajab. Pasalnya bulan ini kerap diabaikan. Padahal di bulan Sya'ban seluruh amal dilaporkan kepada Allah SWT. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini: 

Artinya: Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan di mana amal-amal diangkat menuju Allah. Saya (Nabi) ingin ketika amal saya diangkat dalam kondisi berpuasa. (HR An-Nasa’i dan Ahmad)

Dari beberapa redaksi hadits di atas dapat dipahami bahwa bulan Sya'ban memiliki keistimewaan yang tidak kalah dengan bulan Rajab. Meningkatkan amal ibadah di bulan Sya'ban juga menjadi momentum diangkatnya seluruh amal kepada Allah SWT

Di sebut Sya’ban karena ada beberapa kebaikan yang sangat banyak. Sya’ban diambil dari kata “Asy-Syi’bi”, yaitu jalan di gunung. Jadi Sya’ban adalah jalan kebaikan. Abi Umamah Al Bahili ra. berkata, Rasulullah Saw. pernah bersabda, ‘Apabila datang bulan Sya’ban, maka bersihkanlah dirimu dan perbaikilah niatmu.” Aisyah ra berkata Rasulullah Saw telah berpuasa, sehingga kami mengatakan beliau tidak akan berbuka puasa (tidak puasa). Beliau selalu berbuka, sehingga kami mengatakan beliau tidak puasa. Dan kebanyakan puasa beliau adalah dalam bulan Sya’ban.” Dalam An-Nasa’I dari hadis Usamah ra, berkata, Ya Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada sebuah bulan dari bulan-bulan ini, seperti puasamu dibulan Sya’ban” Beliau bersabda, “Itu adalah sebuah bulan,yang biasanya manusia lengah, antara Rajab dan Ramadhan. Dia adalah sebuah bulan di mana amal-amal ini diangkat kepada Tuhan seru sekalian alam. Maka aku suka jika kalau amalku diangkat (dilaporkan), sedangkan aku dalam keadaan puasa.” Dalam riwayat dikatakan, “Beliau telah berpuasa penuh dibulan Sya’ban.” Imam Muslim berkata, “Beliau telah berpuasa bulan Sya’ban, kecuali sedikit.” Riwayat ini menjelaskan riwayat pertama. Jadi yang dimaksudkan dengan penuh adalah bagian yang terbesar.

Dikatakan bahwa sesungguhnya malaikat-malaikat dilangit memiliki dua buah malam hari raya. Sebagaimana orang-orang Islam di bumi juga memiliki dua buah malam hari raya. Lalu hari raya malaikat adalah malam Bara’ah yaitu malam nishfu Sya’ban dan malam lailatul qadar. Sedangkan hari raya orang-orang mukmin adalah hari raya Fitri dan Adha. Karena itulah, maka malam Nishfu Sya’ban disebut malam hari raya malaikat. As-Subki menuturkan dalam tafsirnya, “Sesungguhnya malam nishfu Sya’ban bisa menutup dosa-dosa setahun. Sedangkan malam Jumat bisa menutup dosa-dosa seminggu dan malam lailatul qadar dapat menutup dosa seumur hidup.” Artinya menghidupkan malam-malam ini (dengan ibadah) menjadi sebab ditutupnya (dihapus) dosa. Al-Mundziri meriwayatkan dengan Marfu’ “Barangsiapa yang menghidupkan dua malam hari raya dan malam nishfu Sya’ban, maka hatinya tidak akan mati pada saat hati-hati ini mati.”

Pada bulan Sya’ban juga terdapat peristiwa sejarah yang tidak bisa dilupakan oleh umat Islam, yaitu pindahnya kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Ceritanya ketika Nabi Muhammad saw. menanti-nanti datangnya peristiwa ini dengan harapan yang sangat tinggi. Setiap hari Beliau tidak lupa berdoa hingga Allah SWT mengabulkan penantiannya Maka turunlah ayat, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah; 144)

Malam Nishfu Sya’ban adalah malam tanggal 15 bulan Sya’ban atau separuh dari bulan Sya’ban. Lalu kapan malam Nishfu Sya’ban 2022? Berdasarkan keputusan Lembaga Falakiyah, 1 Sya’ban 1443 H jatuh pada hari Jumat, 4 Mater 2022. Atas dasar penetapan Sya’ban tersebut, maka malam nishfu Sya’ban atau pertengahan bulan Sya’ban tahun ini jatuh pada hari Kamis, 17 Maret 2022. Pada hari nishfu Sya’ban inilah umat Islam dianjurkan untuk menunaikan puasa nishfu Sya’ban selama satu hari, yakni pada tanggal 18 Maret 2022.

Hukum pengerjaannya puasa Sya’ban adalah Sunnah. Cara mengerjakannya sama seperti melakukan puasa Sunnah lainnya. Hanya saja bacaan niat yang membedakannya dengan puasa lainnya. Bacaan niat puasa Sya’ban adalah sebagai berikut:

“Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa’I sunnati Sya’bana lillahi Ta’aala”

Artinya: Aku berniat puasa Sunnah Sya’ban esok hari karena Allah Ta’ala”

            Selain mengamalkan puasa Sya’ban 2022, umat Muslim juga dianjurkan untuk mengerjakan amalan lain seperti membaca Al-Quran, melakukan sholat tasbih, ataupun membaca doa Nishfu Sya’ban seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw.

 

Share:

TIGA HIKMAH ISRA’ MI’RAJ

 


Mhd. Reza Fahlevi, M.Pd


“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya darisuatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya, Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra’ {17}: 1)

            Isra’ Mi’raj yang di alami oleh Rasulullah Saw. merupakan tanda-tanda dari kebesaran Allah Swt. yang diperlihatkan kepada semua manusia, khususnya kaum mukminin. Kita bersama meyakini bahwa semua peristiwa yang terjadi pada diri Rasulullah Saw. merupakan ibrah atau pelajaran yang dapat diambil hikmahnya bagi segenap kaum muslimin. Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, paling tidak terdapat tiga hikmah yang dapat kita jadikan pelajaran:

1.      Sebagai Ujian Keimanan

Salah satu hikmah terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj adalah untuk menguji besarnya keimanan dan keislaman para sahabat kepada Allah Swt. yang saat itu baru tumbuh, Allah hendak menguji mereka dengan peristiwa Isra’ Mi’raj yang secara zhahir tidak masuk akal. Ketika peristiwa Isra’ Mi’raj diceritakan kepada kaum Quraisy, mereka banyak tidak mempercayainya. Bahkan, mereka mengadakan reaksi dengan memfitnah Rasulullah Saw. sebagai tukang sihir, pembohong, dan sebagainya. Namun, tidak demikian dengan Abu Bakar dan kaum muslimin yang keimanannya telah tertanam dalam jiwa mereka. Mereka mempercayai sepenuhnya peristiwa Isra’ Mi’raj yang di alami Rasulullah Saw.

2.      Pentingnya Perintah Sholat

Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. menerima perintah sholat lima waktu, yang langsung disampaikan oleh Allah Swt., bukan melalui Malaikat Jibril. Selain itu, sholat adalah tiang agama, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya sebagai berikut:

“Sholat adalah tiang agama. Barang siapa yang menegakkannya, berarti ia telah menegakkan agama. Dan, barang siapa meninggalkannya, berarti ia telah merobohkan agama.” (HR. Baihaqi)

           Dengan sholat kita dididik dan dilatih sehingga hati dan batin kita menjadi suci. Badan kita bersih dari hadas, pakaian kita suci dari najis, dan hati kita terhindar syirik. Dengan sholat, kita membentuk pandangan hidup bahwa hanya Allah lah Yang Maha Besar. Dengan sholat pula, kita dididik menetapkan tujuan dan arah hidup, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya sebagai berikut:

“Katakannlah, Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”(QS. Al-An’aam {6}:162)

3.      Inspirasi bagi Lahirnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Dengan peristiwa Isra’ Mi’raj, banyak hal yang dijadikan inspirasi bagi lahirnya berbagai teknologi. Di antaranya adalah upaya-upaya yang dilakukan para ilmuan untuk menciptakan sebuah kendaraan super cepat yang dapat mencapai tujuan dalam hitungan detik, seperti cepatnya kendaraan Buraq yang pernah dinaiki oleh Nabi Muhammad Saw. dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

Demikian juga dengan percakapan antara Nabi Muhammad Saw. dengan Allah Swt. di Sidratul Muntaha menjadi inspirasi bagi ilmuan untuk mencoba menginjakkan kaki  di bulan atau di Mars atau lainnya, serta mengadakan penyelidikan untuk mengetahui keadaan dan kemungkinan kehidupan di planet-planet selain bumi.

Kenyataannya, pada zaman sekarang, banyak orang yang mampu menciptakan kendaraan-kendaraan udara yang super cepat dan canggih. Beberapa ahli astronomi mampu mencapai bulan dan Mars. Semuanya itu tentu dengan bekal ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, Islam sangat mewajibkan menuntut ilmu.

Dari uraian tersebut, dapat diketahui tentang beberapa hal, yaitu:

1)      Setiap keimanan seseorang akan selalu diuji oleh Allah Swt. kapan dan di mana pun, sehingga diketahui kadar dan kualitas keimanannya. Maka, meningkatkan iman dan takwa setiap saat adalah sebuah keniscayaan agar bisa lulus dalam menghadapi ujian apa pun dari Allah Swt.

2)      Sholat harus dilakukan dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Sebab, sholat adalah tiang agama dan besar sekali manfaatnya bagi kehidupan orang-orang yang beriman.

3)      Banyak-banyaklah mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang disampaikan oleh Allah Swt. melalui al-Quran. Sebab, di dalamnya pasti banyak pelajaran bagi manusia.

Mudah-mudahan Allah Swt. berkenan memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita. Sehingga, semua aktivitas kita bermanfaat bagi orang lain dan di ridhoi oleh Allah Swt. Aaaaamiiiiinnnn.

Share:

SULITNYA MENCARI TELADAN DI ZAMAN SEKARANG

 

Mhd. Reza Fahlevi, M.Pd 

Saya teringat ungkapan yang disampaikan oleh alm. KH. Zainuddin MZ, semoga Allah menempatkan beliau di sisi-Nya. aaamiiiinnn. Beliau berkata:”Dizaman sekarang tontonan dijadikan tuntunan dan tuntunan hanya dijadikan tontonan.” Saya pahami dan saya renungkan disaat ini, ungkapan itu bukanlah kalimat biasa namun memiliki makna yang sangat luar biasa apabila kita tafsirkan. Menurut hemat pikir saya ungkapan itu memiliki makna yang dalam “tontonan dijadikan tuntunan” maksudnya adalah banyak tayangan ditelevisi maupun di media sosial yang menyajikan tontonan yang kurang mendidik atau bermoral bahkan tontonan tersebut mencontohkan hal-hal yang tidak baik, ada tontonan tentang percintaan, ada tayangan membahas kehidupan sehari-hari artis lokal, ada film india seharian penuh ditayangkan, yang saya pikir tidak bermanfaat sama sekali. Kemudian ada tayangan acara dangdut yang membuka aurat dan bergoyang di depan panggung serta dilihat seluruh kalangan penduduk Indonesia. Kemudian saya tidak sengaja mendengar ungkapan motivasi salah satu pedangdut yang berpakaian seksi itu mengatakan bahwa dia menjadi pedangdut ini merupakan usahanya untuk membahagiakan ayahnya yang sudah meninggal karena cita-cita sang ayah adalah ingin melihat si anak menyanyi di panggung dangdut, dalam kacamata Islam anak perempuan yang keluar rumah dalam keadaan terbuka auratnya, itu sama saja ia menambah beban siksa kepada ayahnya sendiri. Jadi ungkapan itu sangat keliru jika kita pandang dari sisi agama bahkan membuka aurat merupakan salah satu larangan Allah swt didalam Al-Quran. Seharusnya kalau ingin membahagiakan kelurganya cukup dengan ia paham dengan ilmu agama dan menutup auratnya dan berakhlakul karimah dalam kehiduapn sehari-hari.

Kasus lain kita lihat remaja saat ini terkhususnya perempuan banyak mengidolakan artis-artis korea, bukan hanya sekedar mengidolakan akan tetapi mereka rela melakukan apa saja demi idolanya. Mirisnya lagi aqidah mereka rusak, mereka melebih-lebihkan idolanya sendiri dan menghina siapa saja yang berani menjelek-jelekkan idola mereka. Salah satu komentar yang saya kutip dari salah satu media sosial adalah:”kalian boleh hina agama dan orang tua ku tetapi jangan kalian hina BTS ku.” Naudzubillahi min dzalik. Dan fans dari artis korea tersebut kebanyakan dari remaja Indonesia.

Ini yang di khawatirkan oleh alm. KH. Zainuddin MZ beliau menyampaikan pada saat dakwahnya :”Untuk menghancurkan generasi muda Indonesia ini tidak perlu menutup pesantren, tidak perlu melarang pengajian-pengajian, serta tidak perlu membakar Masjid. Untuk menghancurkan genarasi muda Islam di masa kini adalah cukup dengan racuni genarasi muda tersebut dengan memasukkan budaya-budaya barat ke Indonesia maka rusaklah generasinya.” Ungkapan itu sangat benar jika kita lihat faktanya saat ini.

Wanita tidak lagi menutup aurat, mengikuti tren berpakaian orang barat, laki-laki baru dikatakan jago kalau mampu meneguk minuman khamar, merokok dan berzina menjalani kehidupan seperti orang barat. Mirisnya lagi hal tersebut dianggap lumrah oleh masyarakat. Hal ini terjadi karena tontonan yang tidak baik dibiarkan tayang oleh KPI, yang berakibat rusaknya generasi muda Indonesia, mereka lebih taat kepada idolanya dari pada Tuhannya.

Ungkapan yang kedua “Tuntunan hanya dijadikan tontonan” maksudnya adalah banyak acara keagamaan yang bermanfaat yang bisa kita akses baik itu di Televisi maupun di media sosial. Sebagai contoh pada saat pagi hari televisi juga menayangkan acara-acara dakwah, ceramah-ceramah yang sangat bermanfaat menambah wawasan kelimuan khususnya agama. Sayangnya sebagian mereka hanya melihat dan mendengar dan memahami akan tetapi tidak mengamalkan ilmu yang disampaikan ustdaz atau ustadzah tersebut. Kemudian juga ungkapan tersebut memiliki makna lain yang serupa banyak di sekitar kita ada ulama, ada ustadz, da’i, tokoh masyarakat dan lain sebagainya yang bisa dijadikan panutan di dalam kehidupan sehari-hari, tetapi mereka mengabaikannya dan lebih memilih panutan lain. Bahkan orang tua mereka saja tidak dijadikan idola maupun panutan, sebagian mereka (remaja) banyak mengabaikan perintah orang tua bahkan acuh tak acuh kepadanya. Terjadinya hal tersebut siapa yang hendak kita salahkan? Mari sama kita renungkan dan cari solusi bersama untuk memperbaiki rusaknya akhlak genarasi muda saat ini.

Mari bersama-sama  kita perbaiki kerusakan yang sudah berkembang ini, saya tidak peduli dengan status anda, apakah anda memiliki nama yang besar atau tidak, memiliki gelar atau tidak, selagi anda memiliki sifat kepedulian yang tinggi terhadap keluarga anda, kerabat anda, tetangga anda bahkan kepada orang yang tidak anda kenal, anda merupakan orang yang luar biasa. Karena sifat kepedulian sosial manusia saat ini sudah langka, mereka bersimpati tapi tidak sepenuhnya, mereka bersedekah tetapi tidak dengan ikhlas, buktinya mereka akan mengambil gambar pada saat penyerahan sedekah terjadi dan mempostingnya. Bagi mereka yang memiliki nama organisasi mungkin baik untuk nama organisasi nya, bagi mereka yang punya niat yang tulus, baik untuk merangsang orang lain untuk melakukan hal yang sama itu juga bagus, tapi tolong pikirkan perasaan orang yang menerima sedekah anda. Cukuplah Allah dan para malaikatnya saja yang tahu dan memuji anda.

Mari kita perkenalkan kembali sosok teladan yang sesungguhnya yaitu Rasulullah Saw sosok teladan yang benar-benar memikirkan umatnya. Bahkan diakhir hidupnya beliau hanya memikirkan umatnya bukan harta, keluarga apalagi dirinya sendiri. Sosok ini yang seharusnya anak-anak muda kita teladani dalam kehidupan sehari-hari bahkan mencintainya sepenuh hati melebihi cinta kita kepada orang tua kita. Rasul yang Allah jadikan sosok suri tauladan di Al-Quran Surah Al Ahzab ayat 21 yang berbunyi:”Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan banyak mengingat Allah.

Nabi Muhammad adalah manusia paling komplit yang Allah ciptakan, apa yang anda kerjakan saat ini pernah Rasul kerjakan. Jika anda seorang tentara, Nabi merupakan sosok panglima perang memimpin perang melawan kafir Quraisy, jika anda seorang pedagang Nabi juga pedagang usia 9 tahun ikut kakek nya berdagang di negeri Syam, jika anda seorang pengembala, Nabi juga pengembala, jika anda seorang pemimpin suatu pemerintahan, Nabi juga seorang pemimpin, pemimpin dunia dan akhirat. Jika anda memiliki istri 4, nabi memiliki lebih banyak dari anda, jika anda memiliki wajah yang ganteng dan rupawan wajah Nabi lebih tampan dan rupawan mengalahkan idola anda. Sosok yang sempurna kan?  Nabi merupakan sosok yang hebat dimata sahabat bahkan dimata musuh-musuhnya, setiap kegiatan yang dilakukan nabi merupakan hal yang memiliki manfaat baik itu cara beliau makan, duduk, berbicara, berjalan, hingga beliau tidur semua kegiatan tersebut mengandung kesehatan jasmani dan rohani. Bahkan kebiasaan Nabi Muhammad Saw diteliti oleh orang barat dan sebagian mereka mengakui kehebatan Nabi Muhammad Saw dan masuk Islam karena takjub dengan beliau. Bahkan seorang penulis buku menuliskan buku dengan judul “Rasulullah is My Doctor” hebat bukan? Sosok ini yang harusnya kita kenalkan kepada keluarga dan kerabat kita serta meneladani nya dalam kehdiupan sehari-hari.

Share:

SINDIRAN HALUS DARI ALLAH UNTUK KITA

 

Islam adalah agama Rahmatan lil ‘alamin yang didalamnya sudah diatur begitu banyak aspek kehidupan di dunia. Agar semua itu bisa diatur, maka diperlukan dasar hukum Islam serta peraturan yang sudah disusun rapi dalam Al Quran, sunnah Rasulullah SAW, ijma ulama, qiyas dan sebagainya. Hal ini juga berlaku dengan hukum menjaga seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan dosa besar dalam Islam mulai dari menjaga mata, mulut, lidah, hidung, perut, kemaluan, kaki dan bagian tubuh lain sehingga selalu berbuat kebaikan dan terlindungi dari berbagai perbuatan tercela seperti contohnya menyindir orang yang akan kita ulas dalam kesempatan kali ini.

Apabila dilihat dari bahasa, menyindir merupakan mencela atau mengejek orang lain secara tidak langsung. Dalam kaca mata Islam seperti dalam buku Al-fiqhu Al-islam Wa Adillatuhu karangan  Dr. Wahbah Zuhaili dijelaskan jika Al Umuru Bimaqoshidiha yang berarti segala permasalahan tergantung tujuan atau niat. Dalam hal ini, menyindir orang lain dengan tujuan yang hina seperti balas dendam, syirik dalam Islam, iri atau dengki pada orang yang kita sindir, maka hal tersebut tidak diperbolehkan agama.

Sebaliknya, jika perbuatan menyindir orang lain bertujuan sesuatu hal yang baik seperti merubah sikap dan juga akhlak yang dimiliki, maka hal tersebut dianjurkan oleh agama namun tetap tidak boleh memakai cara yang menyakitkan hati. Sindiran merupakan sesuatu yang tajam dan sangat pedih sehingga akan masuk ke dalam hati dan membuat orang tersebut terluka dan luka tersebut bahkan sangat sulit dihilangkan serta menjadi bentuk kedzoliman. Sindiran yang sering terjadi pada pergaulan dalam Islam juga bisa mengakibatkan sesuatu yang buruk seperti prasangkan tidak baik bagi orang yang mendengarnya atau membaca sindiran yang dilontarkan sampai akhirnya mereka juga ikut bersikap atas sindiran yang diberikan tersebut.

 

Lantas bagaimana kalau Allah yang menyindir manusia, dan sifat manusia yang bagaimana yang di sindir oleh Allah? Dalam Al-Quran Allah menjelaskan sifat manusia yang terdapat pada surah Al-Ma’arij ayat 19 sampai 22 yang berbunyi.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.(QS. Al Ma’arij: 19-22)

Ayat di atas menegaskan bahwa pada umumnya manusia itu suka mengeluh. Mereka punya sifat buruk berupa keinginan (ambisi) yang berlebihan, sedikit kesabaran, banyak berkeluh kesah. Jika di timpa kesulitan berupa kemiskinan atau sakit, mereka banyak mengeluh, meratapi nasib, mengutuk keadaan, serta diliputi kesedihan berkepanjangan. Tetapi sebaliknya, jika di beri kebaikan dan kemudahan berupa kesehatan yang sempurna, kekayaan melimpah, pangkat yang tinggi, jabatan yang tinggi, mereka cenderung bersifat kikir, sombong dan tidak peduli dengan orang lain.

Itulah beberapa sifat buruk manusia pada umumnya. Ketika kesulitan hidup datang mendera dia seolah-olah langit akan runtuh, bumi bergoncang dan dunia akan kiamat. Dia kabarkan ke setiap orang yang dijumpainya bahwa dia tengah dalam kesulitan dan kesengsaraan. Dia ceritakan penderitaannya kepada semua orang. Dia ingin orang lain tahu bahwa dia sedang dalam keadaan susah, dengan harapan setiap orang akan iba dan menaruh belas kasihan kepadanya. Kemudian kebanyakan manusia apabila manusia ingin mencapai suatu tujuan apakah itu ujian PNS, mencalon sebagai pemimpin atau caleg maka mereka akan mendekatkan diri kepada Allah emlalui ulama, atau rajin sholat baik wajib maupun Sunnah nya di perbanyak. Akan tetapi ketika mereka sudah mendapatkan tujuannya, mereka lulus PNS atau mereka menang pemilihan dan duduk sebagai pemimpin maka mereka lupa dengan Allah sehingga mereka lupa akan janji nya sendiri. Mereka mendekati Allah hanya karena memiliki tujuan semata, setelah dapat mereka lupa bahkan ingkar. Dia tidak pernah berfikir sedikitpun tentang karunia serta nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Dia hilangkan semua kebaikan Allah kepadanya.

Di sisi lain, ketika dia tengah diliputi kebaikan dan kemudahan hidup. Lagi-lagi sifat buruknya muncul. Dia menjadi orang yang sangat kikir, tidak mau berbagi sedikit pun kebahagiaan yang dimilikinya kepada orang lain. Dia simpan dan genggam erat-erat nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Dia berbangga diri dengan kekayaan melimpah yang dimilikinya. Dia menjadi jumawa dengan jabatan dan kedudukan yang telah berhasil direngkuhnya. Dia menjadi sombong dengan segala yang dimilikinya. Dia lupa bahwa semua yang saat ini ada dalam kehidupannya adalah nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Semua yang dimilikinya sesungguhnya hanyalah titipan Allah semata.

Sifat manusia seperti dijelaskan di atas inilah yang sindir, namun sindiran Allah tersebut bukan untuk mencela atau mengejek manusia melainkan agar manusia merenungi dan berfikir atas apa yang telah ia perbuat. Dalam hal ini Allah berfirman:

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Yunus :12)

            Dalam Tafsir Al Maraghi menjelaskan bahwa apabila manusia di timpa bahaya, yang dia rasakan sangat menyakitkan atau mengancam keselamatan jiwanya, seperti tenggelam, kelaparan, dan penyakit berat, maka dia merengek-rengek meminta dan berdoa kepada Kami agar bahaya yang itu dihilangkan. Dia berdoa kepada ketika berbaring atau duduk disalah satu  sudut rumahnya. Atau dengan berdiri di atas kedua kakinya dalam keadaan kebingungan, dan ia tidak melupakan kebutuhannya kepada rahmat Ilahi, selagi dia masih merasakan bahaya dan ancaman tersebut, dan mengetahui dirinya sangat lemah untuk menyelamatkan diri daripadanya. Dan di antara ketiga bahaya yang mengancam tersebut, manusia mengemukakan mana di antara yang dia rasakan paling lemah untuk menghindari dan dia rasakan sangat butuh kepada pertolongan Tuhan, kemudian barulah dia menyampaikan permohonan selamat dari ancaman berikut dan seterusnya.

            Namun setelah Kami hilangkan dari manusia bahaya yang mereka mohon supaya dihilangkan, ketika dia merasa lemah untuk menghilangkannya sendiri, atau dengan perantara sebab-sebab lain, maka manusia itu meneruskan kebiasaan kelakuannya seperti semula, yaitu tetap lalai dan kafir terhadap Tuhannya, seolah-olah keadaan tidak berubah, dan dia tidak pernah menyeru Kami untuk melakukan sesuatu, dan seolah-olah Kami tidak menghilangkan bahaya.

            Cara mengenal Allah seperti ini, yaitu ikhlas berdoa kepada-Nya semata-mata ketika mengalami kesusahan, namun kemudian lupa dan kafir terhadap-Nya, bila kesusahan itu telah dihilangkan, merupakan cara yang dipandang baik oleh orang-orang musyrik, yang mereka itu terdiri dari para tirani Mekah dan yang lainnya dalam melakukan perbuatan-perbuatan kemusyrikan. Oleh karena begitu kerasnya mereka menantang Rasulullah Saw dan mengolok-olok siksa yang beliau peringatkan kepada mereka, maka mereka ingin agar siksa itu segera di datangkan. Mereka katakana “Ya Allah, hujanilah kami dengan batu-batu dari langit.”

Al-Qur'an sering menyinggung agar manusia untuk selalu berpikir dan merenungi sekelilingnya. Cara itu tidak lepas untuk memberikan kesadaran kepada dirinya sebagai makhluk Tuhan.


Oleh: Mhd. Reza Fahlevi, M.Pd

Share:

ALAM SAJA BERTASBIH KEPADA ALLAH SWT, MASA MANUSIA NGGAK

 

Mhd. Reza Fahlevi, M.Pd

Manusia merupakan mahkluk yang paling sempurna yang Allah ciptakan dimuka bumi ini baik dari segi bentuk fisik maupun cara berfikir yang membedakan ia dengan makhluk lainnya, sehingga bisa membedakan mana yang terbaik untuk dirinya dan mana yang buruk untuk dirinya. Kebebasan dalam berfikir maupun berbuat yang dimiliki oleh manusia membuat manusia menjadi makhluk yang berpotensi taat kepada Allah atau berpotensi menantang Allah. Hal tersebutlah yang menjadi manusia itu istimewa ketika manusia taat kepada Allah maka ia lebih mulia dari para malaikat, namun jika melakukan kemaksiatan maka ia lebih hina dari binatang. Allah Swt menjelaskan kesempuranaan manusia di dalam surah At-Tin ayat 4 yang berbunyi:

 لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ٤

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS-At-Tin:4)

Dalam Tafsir Al-Maraghi mengungkapkan bahwa Allah mengistimewakan manusia dengan akalnya, agar bisa berfikir dan menimba berbagai ilmu pengetahuan serta mewujudkan segala inspirasinya yang dengannya manusia bisa berkuasa atas segala makhluk. Manusia memiliki kekuatan dan pengaruh yang dengan keduanya bisa menjangkau segala sesuatu.tetapi manusia itu memang pelupa. Ia tidak menyadari keistimewaan yang dimilikinya. Bahkan ia menyangka seolah-olah dirinya tak ubahnya makhluk jenis lain. Akibatnya ia melintang dalam berbagai perbuatan yang bertentangan dengan akal sehat dan fitrah kejadiannya. Ia gemar mengumpulkan harta benda dan bersenang-senang memenuhi kemauan hawa nafsu. Ia berpaling dari hal-hal yang mendatangkan keridhaan-Nya yang bisa mengantarkan kepada perolehan kenikmatan yang abadi.

Hal ini Allah pertegas dalam ayat lain, Allah berfirman:

 يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

 (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS Asy-Syu’ara:88-89)

Padahal sama kita ketahui bahwasannya manusia itu diciptakan tidak lain tidak bukan hanya untuk beribadah kepada Allah Swt sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS Adz-Dzariyat: 56)

Allah menciptakan jin dan manusia bertujuan agar manusia beribadah dalam bentuk pengabdian kepada Allah. Maksud pengabdian disini adalah tidak menyekutukan Allah dengan yang lain, kemudian melakukan ibadah-ibadah yang di perintah kan Allah Swt yang terdapat dalam Al-Quran maupun as Sunnah apakah itu sholat, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya yang sifatnya amalan yang di sukai dan di cintai oleh Allah Swt termasuklah di dalamnya bertasbih kepada Allah Swt.

Berkaitan dengan bertasbih atau berzikir kepada Allah, manusia bukanlah satu-satunya mahkluk yang mengesakan kebesaran Allah. Apakah kalian menyangka bahwa selama ini yang berzikir atau bertasbih kepada Allah hanyalah manusia saja ? itu adalah pernyataan yang sangat keliru. Karena banyak ayat Al-Quran yang menerangkan bahwa alam semesta bertasbih kepada Allah Swt. semua mahkluk di muka bumi ini bertasbih kepada Allah. Salah satu ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang hal ini adalah surah al-Isra’ ayat 44 yang berbunyi:

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا ٤٤

 

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun (Qs. Al-Isra’: 44)

            Dalam tafsir Al-Maraghi menjelaskan bahwa sesungguhnya tujuh langit dan bumi beserta seluruh mahkluk yang ada pada masing-masing, semuanya mensucikan Allah dan mengagungkan-Nya dari apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrik itu menyaksikan bahwa Allah Maha Esa dalam Rububiyah maupun Uluhiyah-Nya, sebagaimana pernyataan yang dikatakan oleh Abu Nawas:

“Pada tiap-tiap sesuatu terdapat tanda bagi Allah. Yang menunjukkan bahwa Dia Maha Esa”

Makhluk yang mukallaf dan berakal, bertasbih kepada Tuhannya kadang-kadang dengan perkataan, seperti kata-kata subhanallah, terkadang dengan keadaan masing-masing yang menunjukkan keesaan Allah dan Maha suci-Nya. sedang yang tidak berakal hanya mampu bertasbih kepada Allah dengan cara yang kedua. Yakni dengan keadaannya sebagai makhluk  yang bersifat baru, menunjukkan dengan jelas tentang mesti adanya Allah Ta’ala dengan keesaan dan kekuasaan-Nya, serta maha suci dari sifat baru. Karena adanya bekas itu menunjukkan adanya pemberi bekas. Kesimpulannya adalah seluruh alam semesta menyaksikan akan kemahasucian Allah Swt dari bersekutu dengan makhluk-Nya mengenai sifat-sifat-Nya sebagai Yang Maha Pencipta.

Akan tetapi, kalian tidak memahami, hai orang-orang musyrik! Penunjukan tersebut, karena tatkala kalian menganggap adanya tuhan-tuhan selain Allah, maka seolah-olah kamu tidak bisa memandang dan berfikir. Karena pemandangan yang benar dan berfikir yang hak akan membawa kepada keyakinan, tidak seperti keyakinan yang kamu anut. Dengan demikian, berarti kamu tidak memahami tasbih yang dilakukan oleh makhluk-makhluk itu, dan kamu tidak bisa mengetahui penunjukan adanya Pencipta.

Kemudian didalam surah An-Nur ayat 41 menjelaskan tentang hal yang sama.

أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلطَّيۡرُ صَٰٓفَّٰتٖۖ كُلّٞ قَدۡ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسۡبِيحَهُۥۗ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ ٤١

Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan (QS An-Nur: 41)

            Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran al-‘Adhim menuturkan bahwa yang dimaksud apa yang ada dilangit dan bumi adalah seluruh makhluk baik dari kalangan malaikat, manusia, jin, semua hewan serta benda mati. Hal ini pun senada dengan keterangan dari Wahbah Zuhayli dalam Tafsir Al-Wajiz bahwa seluruh makhluk Allah yang bertasbih itu berasal dari bangsa hewan maupun benda-benda mati.

            Dalam suatu hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah menyebutkan bahwa semut juga bertasbih. Rasulullah saat menceritakan kepada sahabat-sahabatnya bahwa pada zaman dahulu Nabi Musa pernah duduk dibawah pohon yang rindang. Pada saat bersantai tiba-tiba ia merasa kesakitan karena ada seekor semut. Nabi Musa pun marah lantas menyuruh pasukannya untuk membakar sarang semut tersebut. Namun Nabi Musa di tegur Allah perihal tersebut seperti yang di sabdakan Rasulullah SAW; “Hanya karena kamu digigit seekor semut, lalu kamu membinasakan sebuah umat yang bertasbih” (HR Bukhari dan Muslim)

            Dalam ayat lain Allah memberikan keterangan perihal benda mati yang juga bertasbih. Allah memberikan satu contoh yaitu gunung-gunung. Ayat-ayat tersebut pada waktu itu merujuk kepada Nabi Daud yang diberikan mukjizat oleh Allah mengerti Bahasa hewan dan memiliki kerajaan bukan dari manusia saja, melaikan dari makhluk lain. Gunung-gunung tersebut diperintahkan Allah untuk bertasbih bersama-sama dengan Nabi Daud. Seperti yang terdapat di dalam surah Saba’ ayat 10 yang artinya:

“Dan sesungguhnya telah kami berikan kepada Daud dari kami. (kami berfirman), “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”. (QS Saba’:10)

Seperti penjelasan oleh Ibnu Katsir dan Wahbah Zuhayli di atas, bahwa pada dasarnya semua makhluk Allah itu bertasbih. Baik yang ada di langit maupun di bumu, baik yang hidup maupun yang mati. Semua alam bertasbih memuji Allah tanpa terkecuali. Dan bahwa manusia yang congkak saja yang tidak mau bertasbih memuji dan menyucikan-Nya.

Pendapat para mufassir di atas di sepakati oleh Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengungkapkan bahwa seluruh makhluk Allah di alam semesta ini bertasbih menyucikan-Nya dan mengungkapkan-Nya baik dengan lisan maupun dengan isyarat aktivitas tubuhnya.

Kebesaran Allah memang tidak akan berkurang meskipun manusia tidak mengagungkan-Nya, bahkan jika pun manusia tidak menyembah-Nya. Sebagai makhluk yang sempurna yang memiliki keistimewaan baik bentuk fisik maupun yang lainnya, seharusnya manusia lah yang taat dan patuh kepada yang pencipta melalui kalimah tasbih dan mensucikan Allah. Manusia yang hakikatnya adalah seorang hamba maka selayaknya ia mengagungkan nama-Nya dan menyucikannya. Menyucikan dan mengagungkan-Nya adalah wujud amal seorang hamba yang saleh karena ia tunduk dan taat kepada Sang Pencipta.

 

 

 

 

 

Share:

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support