"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Rabu, 30 Agustus 2023

MENGENAL IBNU MAJAH ULAMA PENTAKHRIJ HADIS

Nama lengkapnya adalah Abū Abdillah Muh ̣ammad bin Yazid bin Mājah al-Quzwini. Lahir di Quzwini, Irak tahun 207 H/ 824 M. Sejak berusia 15 tahun, Ibnu Majah sudah menekuni hadis dan belajar kepada tokoh-tokoh ulama pada zamannya. Ia pun merantau ke berbagai kota di dunia Islam, sebagaimana tokoh-tokoh ulama besar lainnya.

Imam Ibnu Majah, selain terkenal sebagai ulama hadis, juga ahli dalam tafsir AlQur’an, dan sejarah kebudayaan Islam. Hal ini terlihat dari tiga karya besarnya, Sunan Ibnu Mājah, Tafsir Al-Qur’an al-Karim, dan Sejarah perawi hadis (at-Tarikh). Dalam buku yang terakhir ini, beliau mengambil para perawi hadis sejak masa Nabi sampai pada masanya. Dari tiga karya Ibnu Majah tersebut yang sampai ke tangan kita hanya yang pertama, yaitu Kitab Sunan Ibnu Mājah.

Kitab Sunan Ibn Mājah yang disusun seperti bab fikih, jumlah hadisnya sebanyak 4.341 buah hadis. 3002 hadis di antaranya diriwayatkan oleh Aṣhāb al-Khamsah dan 1.339 buah hadis diriwayatkan oleh Ibn Majah. Di dalamnya terdapat hadis ṣaḥiḥ, ḥasan dan ḍa`if

Ibnu Kaśīr berkata : “Muhammad bin Yazid bin Majah pemilik kitab al-Sunan yang terkenal. Kitab ini menunjukkan atas amal, ilmu, kedalaman, ketajaman dan konsistensinya dalam mengikuti sunnah baik dalam masalah-masalah yang mendasar (ushul) maupun masalah cabang (furu’).”

Para ulama sebelum abad ke-6 H belum memasukkannya ke dalam Buku Induk Hadis Enam (Ummahat al-Kutub al-Sittah) kemudian dimasukkannya setingkat (al-Muwatṭ̣,a’) karya Imam Malik. Para ulama mendahulukan Sunan Ibnu Mājah daripada al-Muwatṭ̣,a’’ dalam gabungan Buku Induk Hadis Enam tersebut, karena di dalamnya terdapat beberapa hadis yang tidak didapati dalam kitab lima, dan didapat lebih banyak dari al-Muwatṭ̣,a' bukan berarti ia lebih unggul dari al-Muwatṭ̣,a'. Beliau meninggal dunia pada tanggal 22 Ramadhan 273 H.

Sumber : Ilmu Hadis kementerian Agama RI

NB : Untuk Kalangan Siswa Madrasah Aliyah Kelas X

 

Share:

MENGENAL IMAM AN-NASA'I ULAMA PENTAKRIJ HADIS

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali bin Sinan al- Khurrasanī anNasā’ī. Ia mendapat gelar (kunyah) Abū Abdurrah ̣man an-Nasā’ī. Menurut as-Suyūt ̣ī, ulama ahli hadis ini dilahirkan pada tahun 215 H di Nasa, sebuah kota di Asia Tengah. Kota ini banyak melahirkan tokoh- tokoh ulama besar. Sejak kecil an-Nasā’ī sudah tertarik pada disiplin ilmu hadis. Pada usia 15 tahun, an-Nasā’ī sudah menjelajahi berbagai kota pusat ilmu dan peradaban dunia Islam untuk mempelajari hadis dari ulamaulama besar pada zamannya. Ia mengunjungi kota-kota di Hijaz, al-Ḥaramain (Mekah dan Madinah), Irak, Mesir dan Syiria, bahkan pernah lama menetap di Mesir.

Di Mesir inilah Imam an-Nasā’ī terkenal dalam ilmu hadis; ia terkenal keahliannya dalam bidang al-Jarḥ wa at-Ta’dīl. Karena keluasan ilmunya dan ketakwaannya yang dalam, banyak orang yang menghormatinya. Setiap kali orang menyebut namanya selalu diawali oleh gelar kehormatan, “Al-Imam al-Ḥafiż Syaikh al-Islam Abū Abdirrahman al Nasā’ī". Beliau juga seorang faqih bermazhab Syafi`i, ahli ibadah, berpegang teguh pada sunnah, dan memiliki wibawa kehormatan yang besar.

Imam ad-Daruqut ̣nī memberi komentar tentang an-Nasā’ī : “An-Nasā’ī adalah orang yang paling alim fikih di antara syaikh-syaikh Mesir pada masanya dan orang yang paling mengetahui hadis dan para perawinya.”

Cukup banyak karya beliau. Ada kurang lebih 15 buku, yang paling populer adalah as-Sunan yang disusun seperti bab Fiqh. Di dalamnya tidak ada seorang periwayat yang disepakati kritikus untuk ditinggalkannya. Dari segi kualitas hadisnya terdapat hadis sahīh, h ̣asan dan da`if. Beliau memberi nama kitab itu (as-Sunan al-Kubrā), kemudian diajukan kepada seorang amir di ar-Ramalah, beliau ditanya :“Apakah semua hadis di dalamnya sahih? Beliau menjawab :“Di dalamnya ada yang sahih, hasan, dan yang mendekatinya.” Tuliskan yang shahih saja dari padanya! sahut Amir. Maka beliau menyaring dari kitab itu hadis-hadis shahih saja yang kemudian disebut as-Sunan as-Sugrā dan diberi nama al-Mujtaba min al-Sunan, yang kemudian sampai di tangan kita. Para ahli hadis banyak yang merujuk periwayatan dari al-Nasai, ia bagian dari kitab induk enam yang sedikit memuat hadis d ̣aif dan seimbang atau dekat dengan Sunan Abū Dawūd, kitab kedua dari empat Sunan.

Para guru beliau yang nama harumnya tercatat oleh pena sejarah antara lain; Qut ̣aibah bin Sa’id, Ishāq bin Ibrāhim, Ish ̣āq bin Rahawaih, al-Ḥariś bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imām Abū Dawūd (penyusun Sunan Abī Dawūd), serta Imam Abu ‘Isa at-Tirmiżī (penyusun al-Jāmi`/Sunan at-Tirmiżī). Sedangkan di antara murid-murid beliau adalah Abu Ja’far at-Tah ̣awi, Imam Abu al-Qasim Sulaiman bin Ah ̣mad at ̣-Ṭābrāni, Ahmad bin Umair bi Jausha, Ḥasan bin Rasyid dan lain-lain.

Beliau termasuk ulama yang produktif dalam menulis kitab. Beberapa kitab buah pena beliau selain as-Sunan antara lain; Musnad Malik, Manasik al-Hajj, Kitāb al-Jumu’ah, Igrab Syu’bah Alī Sufyān wa Sufyan Ali Syu’bah, Khaṣaiṣ Alī bin Abī Ṭālib Karramallahu Wajhah, ‘Amāl al-Yaum wa al-Lailah dan lain-lain.

Setelah melaksanakan ibadah haji beliau menetap di Mekkah sampai wafat pada tahun 303 H /915 M. Beliau meninggal di ar-Ramalah dan dimakamkan di Bait al-Maqdis.

Sumber : Ilmu Hadis kementerian Agama RI

NB : Untuk Kalangan Siswa Madrasah Aliyah Kelas X

 

Share:

BIOGRAFI IMAM TIRMIDZI BESERTA DENGAN KARYA-KARYANYA

Nama lengkapnya adalah Abū ‘Isā Muh ̣ammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin adḌah ̣h ̣āk as-Salam al-Bagawī at-Tirmiżī. Dilahirkan di kota Tirmiżī, Iran pada tahun 209 H/824 M. Sejak kecil, ia sudah memiliki hasrat yang besar untuk mempelajari hadis. Oleh karena itu, mencari ilmu sudah menjadi bagian hidupnya. Ia sebagaimana para ulama yang lain berguru tidak hanya kepada satu orang melainkan kepada banyak ulama di berbagai kawasan negara Islam. Merantau dari satu kota ke kota yang lain untuk mencari ilmu merupakan suatu kehormatan bagi yang ingin mendapatkan ilmu secara mendalam. Ia mengunjungi beberapa kota seperti Hijaz, Irak, dan Khurasan.

Imam at-Tirmiżī memiliki berbagai guru di antaranya; Imam al-Bukhārī, Muslim, Abū Dawūd, dan para guru mereka. Adapun para murid at-Tirmiżī yang terkenal antara lain; Makhlul bin Fad ̣al Muh ̣ammad bin Muhżammad al-Anbār Hammad bin Syākir, Abdurrahman bin Muh ̣ammad an-Nafsiyyun, al-Haisyam bin Kulaib as-Syasyi, Ahmad bin Yusuf al-Nasafi, dan Abu al-Abbas Muhammad bin Mahbub al-Mahbubi. Diapun terkenal sebagai seorang yang amanah, kuat dan cepat hapalannya.

Karyanya yanga terkenal adalah al-Jāmi' atau Sunan at-Tirmiżī. Di dalam kitab ini ia mengklasifikasikan kualitas hadis menjadi sahih ̣, hasan, dan da'if. Setelah selesai menulis kitab ini beliau perlihatkannya kepada para ulama Hijaz, Irak, dan Khurrasan. Mereka bersenang hati dan bangga melihatnya.

Beliau berkata : “Aku tulis bukuku ini dan telah aku sodorkan kepada para ulama Hijaz, Irak, dan Khurrasan dan mereka menyenanginya. Barang siapa di rumahnya terdapat kitab Sunan ini, maka seakan-akan di rumahnya ada seorang Nabi yang berbicara.”

Selain kitab Sunan at-Tirmiżī, beliau juga menulis banyak kitab antara lain: Kitab Al- ‘Ilāl, Kitāb At-Tārikh, Kitab Asy-Syamā’il an-Nabawiyyah, Kitab Az-Zuhd, dan Kitab Al-Asmā’ wal-Kunā. Setelah menjalani perjalanan panjang untuk belajar, mencatat, berdiskusi dan tukar pikiran serta mengarang, ia pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan beberapa tahun lamanya ia hidup sebagai tuna netra; dalam keadaan seperti inilah akhirnya at-Tirmiżī meninggal dunia. Ia wafat di Tirmiz pada malam Senin 13 Rajab tahun 279 H (8 Oktober 892) dalam usia 70 tahun.

Sumber : Ilmu Hadis kementerian Agama RI

NB : Untuk Kalangan Siswa Madrasah Aliyah Kelas X

 

Share:

MENGENAL IMAM ABU DAWUD ULAMA PENTAKHRIJ HADIS

Imam Abu Dawud Nama lengkapnya adalah Sulaimān bin al-Asy’asy bin Ishāq bin Basyir bin Syidād bin Amr bin Umran al-Azdī as-Sijistānī. Dari namanya, ulama ahli hadis ini terlihat bukan dari bangsa Arab, sebagaimana juga Imam al-Bukhārī, Muslim dan al-Nasā’ī, melainkan dari Sijistan, sebuah negeri Muslim di Asia Tengah yang kini termasuk dalam bekas wilayah Uni Soviet. Abu Dawud lahir pada tahun 202 H/ 817 M. Bapak beliau yaitu al-Asy'asy bin Ish ̣āq adalah seorang perawi hadis yang meriwayatkan hadis dari Ḥamad bin Zaid, dan demikian juga saudaranya Muh ̣ammad bin al-Asy'asy termasuk seorang yang menekuni dan menuntut hadis dan ilmu-ilmunya juga merupakan teman perjalanan Abu Dawud dalam menuntut hadis dari para ulama ahli hadis.

Sejak kecil Abū Dāwud sangat mencintai ilmu dan bergaul dengan para ulama. Minat dan kepribadiannya terbentuk oleh lingkungan. Ia harus mengembara keluar dari Sijistan demi menuntut ilmu. Ia mengunjungi berbagai ulama hadis untuk belajar dari mereka. Sejak usia anak, Abu Dawud sudah mengembara ke Hijaz, Syiria, Khurasan dan kawasan lainnya yang menjadi pusat ilmu dan kebudayaan pada saat itu. Tradisi mengembara sudah menjadi keharusan bagi siapa saja yang hendak mencari ilmu. Terlebih di dalam ilmu hadis, ada keharusan mencari, melacak sanad, meneliti keotentikan matan dan kualifikasi rawi, apakah memenuhi syarat atau tidak.

Abu Dawud sering berkunjung ke Baghdad dan menetap lama di sana. Atas permintaan Gubernur Basrah, al-Muwaffiq, ia diminta menetap di Basrah untuk mengajar dan menulis buku. Abu Dawudpun memenuhi permintaan gubernur tersebut. Hal ini sudah menjadi kewajaran, karena setiap penguasa muslim berlomba-lomba mengharumkan daerahnya dengan ilmu. Menjadikan daerahnya sebagai “kiblat” ilmu pengetahuan senantiasa menjadi program setiap penguasa pada saat itu.

Guru Imam Abu Dawud sangat banyak, di antaranya: Imam Ah ̣mad bin Ḥanbal, ahli hadis dan salah satu pendiri mazhab fikih, Al-Qanabi, Abū Amr ad-Darīr, Muslim bin Raja’, dan al-Walid al-Ṭayālisī. Sedangkan murid Abū Dāwūd yang terkenal di antaranya Abū ‘Isā at-Tirmużī, Abū Abdirrahman al-Nasa’ī, Abū Bakar bin Abi Dāwūd (putranya sendiri), Abu Awanah, Abu Sa’id al-‘Arabī, Abī ‘Alī al-Lu’lu’, Abu Bakr bin Dassah dan Abū Salim Muh ̣ammad bin Sa’īd al-Jaldawi.

Imam Abu Dawud disebut-sebut sebagai penganut fikih mazhab Hanbali. Memang ia murid utama Imam Ahmad bin Hahbal dalam bidang hadis, bukan dalam bidang fikih. Sebab itu ada yang menyebutkan bahwa ia penganut mazhab Syafi’i. Perbedaan ini karena tidak ada informasi yang jelas tentang mazhab fikih Imam Abu Dawud. Ketidakjelasan itu menurut pendapat ketiga, karena Abu Dawud seorang mujtahid sehingga ia membangun mazhab sendiri. Abu Dawud bukan penganut mazhab yang ada. Sungguhpun demikian, informasi yang sampai kepada kita menegaskan bahwa Abu Dawud penganut mazhab Hanbali. Abū Ishāq as-Syairazī dalam Tabaqat al-Fuqaha, dan Qāḍi Abū al-Husain bin Qāḍi Abu Ya’la dalam Tabaqat al-Hanābilah ̣ mencantumkan Abū Dāwud sebagai penganut mazhab Hanbali.

Imam Abū Dāwud seorang ḥāfiẓ, memiliki ilmu yang luas, terpercaya, dan memiliki keilmuan yang tinggi terutama dalam bidang hadis. Masa hidupnya dihabiskan di Tursus kurang lebih 20 tahun. Para ulama sangat menghormati kemampuan, kejujuran, dan ketakwaan beliau yang luar biasa. Abu Dawud tidak hanya sebagai seorang periwayat, penghimpun, dan penyusun hadis, tetapi juga sebagai seorang ahli hukum yang handal dan kritikus hadis yang baik.

Al-Hāfiz ̣ Musa bin Harun berkata : “Abū Dāwud diciptakan di dunia untuk hadis, di akhirat untuk surga, dan tidak ada orang yang lebih baik ketimbang Abū Dāwud”

Abū Dāwud mewariskan banyak karya, khususnya dalam bidang hadis dan sebagian ilmu syariah. Karya-karya beliau tersebut antara lain: Sunan Abū Dāwūd, Al-Marasi, Masā’il al-Imām Aḥmad, An-Nāsikh wa al-Mansūkh, Risālah fī Wasfi Kitāb as-Sunan, AlZuhd, Ijabāt ‘an Ṣawalāt al-Ajuri, As’ilah ‘an Aḥmad bin Ḥanbal, Tasmiyāt al-Akhwān, Qaul Qadr, Al-Ba’ś wa al-Nusyūr, ‘Ilallati Halafa ‘Alaih al-Imām Aḥmad, Dalāil AnNubuwwāt, dan Faḍāi’l al-Anṣār.

Sistematika pembahasan dalam kitab Sunan Abu Dawud seperti fiqh, yaitu banyak bicara tentang hukum. Kitab ini berisikan 5.274 hadis secara berulang-ulang (mukarrar) yang disaring dan diteliti sebanyak 500.000 hadis kemudian diseleksi lagi menjadi 4.800 hadis. Di dalamnya terdapat hadis s ̣ah ̣īh ̣, h ̣asan, dan d ̣a`if. Beliau berkata : “Aku sebutkan yang sahih, yang serupa, dan yang mendekatinya. Hadis yang sangat lemah aku jelaskan.”

Kedudukan kitab Sunan Abū Dāwud dalam Buku Induk Hadis menempati ranking pertama dari empat kitab Sunan dan mendekati dua kitab Ṣah ̣īh ̣ al-Bukhārī dan Ṣah ̣īh ̣ Muslim. Abū Dāwud wafat di kota Bashrah tanggal 16 Syawal 275 H, pada usia 70/71 tahun.

Sumber : Ilmu Hadis kementerian Agama RI

NB : Untuk Kalangan Siswa Madrasah Aliyah Kelas X

 

Share:

BIOGRAFI SINGKAT IMAM MUSLIM ULAMA PENTAKHRIJ HADIS

Imam Muslim Nama lengkap Imam Muslim adalah Abū Ḥusain Muslim bin Hajjāj bin Muslim bin Kausyaż al-Qusyairī an-Naisaburī. Dilahirkan di Naisabur, Iran pada tahun 204 H. Tidak ada informasi yang menjelaskan siapa dan bagaimana keluarganya. Menurut sebuah sumber, Imam Muslim berasal dari keluarga saudagar yang bernasib baik, memiliki reputasi dan sikap yang ramah. Aż-Żahabi menyebut keluarga Imam Muslim dengan sebutan “Muhsin Naisabur” (dermawan Naisabur). Seperti anak-anak pada zamannya, Imam Muslim memulai pendidikan pertamanya dengan belajar Al-Qur’an dan bahasa Arab. Pada usia 12 tahun ia memulai mempelajari hadis. Untuk keperluan ini, Imam Muslim harus meninggalkan kota kelahirannya, Naisabur. Ia mulai tekun mempelajari matan hadis dan melacak sanadnya dengan berguru kepada ulama-ulama ahli hadis di berbagai kawasan dunia Islam. Imam Muslim mengunjungi berbagai ulama hadis ternama di Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan lain-lain.

Di Khurasan ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishāq bin Rahawaih; di Rai, Asia Tengah, ia belajar kepada Muh ̣ammad bin Marham dan Abū Ansār. Di Irak ia belajar kepada Imam Ah ̣mad bin Ḥanbal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz ia berguru kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’ab; dan di Mesir ia berguru kepada Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya. Ketika Imam al-Bukhārī berkunjung ke Naisabur, Imam Muslim sering menemuinya untuk berguru. Selain aktif belajar dan mengajar ilmu hadis, Imam Muslim juga aktif menulis berbagai kitab.

Di antara karya-karya Imam Muslim adalah Al-Jāmi’ aṣ-Ṣaḥīḥ, al-Musnad al Kubra, Kitāb al-Asma wa al-Kuna, Kitāb al-‘Ilal, kitāb al-Aqran, kitāb Su’alatih Ahmad bin Hambal, kitāb al-Intifa bi Uhub al-Siba’, Kitāb al-Muhaḍramain, Kitāb Man Laisa Lahu Ila Rawin Wahid, Kitāb Aulād as-Sahabah, Kitāb Auham, dan lain-lain. Di antara buku hadis yang beliau tulis tersebut, al-Jāmi’ aṣ-Ṣaḥīḥ atau yang lebih dikenal dengan Saḥ īḥ Muslim ̣ berisikan 4.000 hadis yang merupakan hasil penyeleksian dari 12.000 hadis yang dihitung secara berulang, atau pendapat lain sebanyak 7.275 hadis secara terulang-ulang. Menurut Fuad Abd al-Baqī sebanyak 3.033 hadis tanpa diulang. Buku itu disusun selama 12 tahun. Para ulama menilai baik Sahīḥ al-Bukhāri ̣ dan Ṣaḥīḥ Muslim, keduanya merupakan kitab yang paling sahih setelah al-Qur’an, dan mayoritas mereka menilai Ṣaḥīḥ al-Bukhāri lebih sahih, sedangkan Ṣaḥīḥ Muslim lebih indah sistematika penulisannya.

Al-Khātib al-Bagdādī berkata: “Saya melihat Abu Zar’ah dan Abu Ḥātῑm, keduanya mendahulukan Muslim bin Hajaj dalam hal mengetahui hadis sahih dari guru-guru keduanya.”

Menurut penelitian para ulama, persyaratan yang ditetapkan Imam Muslim dalam kitabnya pada dasarnya sama dengan penetapan Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Ibnu Ṣalāh ̣ mengatakan bahwa persyaratan Imam Muslim dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya adalah : Hadis itu bersambung sanadnya - Hadis diriwayatkan oleh orang kepercayaan (śiqqah) dari generasi permulaan sampai akhir - Terhindar dari syużūż dan `illah. Hanya saja yang membedakan antara Imam al-Bukhāri dan Imam Muslim adalah pada pengertian ittisāl as-sanad bersambsung sanad. Menurut al-Bukhari, ittisal as-sanad berarti seorang periwayat harus benar-benar bertemu (dengan penyampai hadis. Sedang menurut Imam Muslim, ittisal as-sanad itu berarti hidup semasa.

Karena kercermatan, ketelitian, ketekunan, dan kejujurannya dalam mencari, mengumpulkan dan menuliskan hadis, maka peringkat Imam Bukhari dan Muslim diantara pemuka-pemuka hadis, masing-masing berada pada peringkat pertama dan kedua. Imam Bukhari dan Muslim disebut dengan panggilan kehormatan “al-Syaikhani” (dua guru besar”) dalam hadis. Sedangkan hadis yang disepakati oleh keduanya disebut Muttafaqun ‘Alaih.

Imam Muslim wafat pada Minggu sore, dan dimakamkan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur, pada hari Senin, 25 Rajab 261 H / 5 Mei 875 M. dalam usia 55 tahun.

Abū Dāwud pernah memperlihatkan kitab Sunan Abū Dāwud kepada Imam Ahmad bin Hanbal. Dengan bangga Imam Ahmad memujinya.

Sumber : Ilmu Hadis kementerian Agama RI

NB : Untuk Kalangan Siswa Madrasah Aliyah Kelas X

 

Share:

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support