"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Senin, 05 Januari 2026

Sifat Kikir Manusia Dalam Al-Quran


“Katakanlah: ‘kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhan-Ku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.’ Dan manusia itu sangat kikir.”

(QS. Al-Isra: 100)

 

Kikir sering kali dikaitkan dengan harta benda kepemilikan. Seseorang dikatakan kikir apabila ia tidak mau berbagi dengan apa yang ia miliki terkait kewajiban dan hak orang lain. Kikir merupakan penyakit hati yang sulit dideteksi terutama bagi orang yang mengidap penyakit tersebut. Seolah ia merasa baik-baik saja. Dengan tidak memberi, ia beranggapan hartanya akan bertambah, hidupnya berkecukupan, kebutuhannya terpenuhi, sehingga tidak ada yang kurang dan merasa hidupnya aman. Padahal Allah berfirman:

“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (dilehernya) pada hari kiamat. Milik Allah lah warisan (apa yang ada) dilangit dan dibumi. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kikir adalah mempersempit pergaulan, merasa berat memberikan kepunyaannya untuk orang lain dan apa yang ada padanya tidak ingin berkurang. Dalam Al-Quran terdapat empat term yang digunakan untuk menyebut sifat kikir yaitu al-bukhl, asy-syuhh, al-qatura dan aḍḍan.

Salah satu contoh seperti firman Allah dalam QS. An-Nisa: 37

“(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.”

Hamka dalam tafsirnya menjelaskan bahwa bakhil pada ayat ini dipandang lebih luas dan bukan hanya perihal harta benda saja. Seseorang yang punya pengetahuan luas dan mendalam mengenai agama lalu tidak mau mengajarkan kepada penduduk kampungnya yang awam, maka itu juga di sebut bakhil.

Jika dilihat dalam kehidupan bermasyarakat banyak dijumpai sikap dan tindakan yang mencerminkan sifat kikir. Bisa dikatakan sifat kikir ini telah menjadi gejala sosial yang sulit diatasi sampai saat ini. Seperti permasalahan harta warisan yang kerap kali mengakibatkan rusaknya persaudaraan, enggan mengeluarkan zakat dan tidak mau peduli dan berbagi dengan orang disekitarnya yang membutuhkan. Harta memang dipandang sebagai sarana mencapai kebaikan dan merupakan perhiasan hidup serta kunci kesejahteraan untuk kemashlahatan hidup manusia. Sebaliknya harta juga merupakan fitnah terbesar yang menyebabkan sebagian orang terlalu mencintai dan rakus terhadapnya.

Kemudian jika diperhatikan lagi sifat kikir itu bukan hanya terkait tidak mau memberi, akan tetapi orang yang kelihatannya dermawan suka memberi ternyata mereka itulah orang yang sebenarnya kikir. Ketika memberi ada rasa sakit dan ketidakrelaan yang ia rasakan sesungguhnya itu mencerminkan dari sifat kikirnya. Selain itu praktek memberi dengan tujuan mendapatkan hasil yang lebih besar dari apa yang diberikan disertai adanya unsur riya’ yakni ingin mendapatkan pujian dan kemasyhuran di tengah masyarakat. Seperti budaya kampanye dalam kegiatan pemilu. Biasanya oknum-oknum yang mencalonkan diri itu berlagak seolah orang yang paling dermawan dengan memberi sumbangan atau bantuan kepada masyarakat bawah. Pada dasarnya memberi dalam hal itu bukanlah karna rasa dermawan akan tetapi karna ingin memperoleh yang lebih banyak dari apa yang telah diberikan buktinya setelah namanya naik dan terpilih, mereka hanya sibuk memperkaya diri dan tidak lagi menghiraukan kebutuhan masyarakat.

Kemudian ada juga fenomena tahunan tepatnya bisa disaksikan ketika lebaran saat jamaah suatu kampung berkumpul di masjid. Sebelum menunaikan shalat Id, biasanya pengurus masjid menyeru jamaah untuk berinfak atau bersedekah. Nyatanya di antara jamaah ada yang antusias tiap tahun mengeluarkan infak dengan syarat meminta agar pengurus masjid tersebut menyebutkan namanya dan nominal infak yang diberikan. Sehingga dengan demikian menjadikan dia berbangga diri dengan apa yang telah diberikan. Bukankah hal itu sebenarnya mencerminkan sifat kikir dalam jiwa seseorang? Berbuat hanya untuk dinilai dermawan oleh manusia dan berbuat hanya untuk kemasyhuran di tengah masyarakat. Bukan karena Allah semata.

Adapun karakteristik sifat kikir sebenarnya telah disebutkan secara terang-terangan dalam Al-Quran.

1.      Kikir dan Menyuruh Orang Lain Berbuat Kikir serta Menyembunyikan Karunia Allah swt

Sifat kikir yang dimiliki oleh seseorang bukan hanya menjadikan dirinya sendiri yang berlaku kikir akan tetapi sifat ini juga menariknya untuk mengajak dan menyuruh orang lain berlaku kikir serta menyembunyikan karunia Allah swt. Firman-Nya.

“(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.”

Ayat yang lalu Allah menyatakan ketidaksukaan-Nya terhadap orang yang sombong dan membanggakan diri maka pada ayat ini Allah menyebutkan hal yang sama yakni Allah juga tidak menyukai orang-orang yang terus menerus berlaku kikir. Ini dapat dipahami dari penggunaan bentuk kata kerja fi’il muḍariʻ yang menunjukkan masa kini dan masa yang akan datang. Lebih lagi mereka tidak hanya kikir tetapi juga terus menerus menyeruh orang lain untuk berbuat kikir, baik dengan ucapan mereka dengan menghalangi kedermawanan maupun dengan perbuatan mereka yang memberikan contoh buruk dalam memberi sumbangan yang kecil bahkan tidak memberi sama sekali dan terus menerus menyembunyikan apa yang telah Allah anugerahkan kepada mereka dari karunia-Nya, misalnya dengan berkata “saya tidak memiliki sesuatu” saat diminta sumbangan kepadanya.

Orang seperti itu dinamakan dengan al-kufru yakni sikap menutupi nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, menyembunyikan dan mengingkarinya. Sehingga Allah menyebut mereka dengan kafir untuk memberi peringatan bahwa perilaku bakhil merupakan perwujudan dari sifat kufur. Tepatnya kufur terhadap nikmat. Karakter bakhil dalam ayat ini dapat juga berarti mereka yang menginginkan atau mengambil sebanyak-banyaknya dari masyarakat namun amat sedikit sekali dalam memberi. Hanya mau bersahabat dengan mereka yang akan membawa keuntungan dan mendatangkan harta bagi dirinya. Bahkan membanggakan sikapnya yang salah itu dan mengatakan itulah yang benar.

2.      Merasa Dirinya Cukup

Merasa dirinya cukup sehingga tidak lagi butuh orang lain bahkan Allah sekalipun sebagaimana firman-Nya : “Dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup”

Bakhil yakni tidak mau memberikan hartanya kepada mereka yang berhak diberikan serta tidak adanya keinginan untuk beramal jariyah sebab terlena akan hartanya. Ia mengumpulkan harta untuk dikuasai oleh hartanya sendiri sehingga menjadikan hatinya buta tidak mengenal kasih sayang, hidup tolong menolong dan bersilaturrahmi. Orang bakhil dengan hartanya merasa segalanya cukup. Ia takut ditolong orang sebab khawatir nantinya akan membalas budi baik dari orang yang telah menolongnya dengan menolongnya kembali. Sehingga orang yang seperti ini seolah mengingkari adanya kebaikan. Tidak percaya bahwa di dunia ini ada unsur-unsur kebaikan, baik kebaikan yang berhubungan dengan manusia maupun kebaikan dengan Allah selain didapatkan di dunia juga ditemuinya di akhirat kelak.

3.      Menahan dan Takut Membelanjakannya

Firman-Nya: Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". dan adalah manusia itu sangat kikir.

Sikap menahan dan takut mengeluarkan hartanya serta khawatir akan habis seperti ini tidak lain datang dari dorongan naluri kikir yang ada dalam diri manusia itu sendiri yang tidak mampu dikontrol dan dikendalikan sebab terlenanya dengan kehidupan duniawi dan melupakan akhirat. Ini merupakan gambaran yang paling tinggi dari sifat kikir. Padahal rahmat Allah itu meliputi segala sesuatu. Tidak dikhawatirkan akan lenyap ataupun berkurang. Akan tetapi karena jiwa-jiwa manusia yang sudah terlalu kikir serta sangat pelit itu, maka ketika mereka yang punya rahmat-rahmat Allah tersebut niscaya mereka akan tetap menahannya.

4.      Kikir Saat Mendapat Kebaikan dan Lupa Akan Ikrarnya

Sebagaimana firman-Nya: “Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir” Ayat ini menyebutkan tentang sifat naluri manusia. Kata hala’ secara bahasa dapat berarti sangat kikir, sangat buruk dan sangat keji kegelisahannya. Sehingga dipahami maksud ayat itu adalah manusia sesungguhnya tidak mampu bersabar baik terhadap kebaikan maupun pada keburukan, sehingga melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan baik pada kebaikan maupun pada keburukan. Pendapat lain menyebutkan kata al halū’ dapat berarti orang yang tidak pernah puas dan kata manu’ adalah orang yang tidak menunaikan hak Allah dari harta yang didapatkannya. Kemudian kebanyakan manusia lupa dan berpaling saat ia diberi kenikmatan oleh Allah sebagaimana firman-Nya:

“Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).”

Ayat ini turun berkenaan dengan harta Hathib bin Abu Balta‟ah pernah tertahan di negeri Syam maka ia pernah bersumpah di hadapan suatu majelis golongan Anshar bahwa apabila ia telah menerima kembali harta itu maka ia akan menyedekahkan sebagiannya dan memberikan sebagiannya kepada keluarganya. Akan tetapi setelah ia menerima hartanya itu ia menjadi kikir.

Lantas hal ini banyak terjadi di tengah kehidupan masyarakat ketika Allah mengabulkan harapan-harapan di antara mereka yang dulunya miskin sekarang mulai kaya menjadikan mereka bakhil. Mereka menganggap harta yang ada pada mereka tak lain adalah hasil jerih payah mereka sendiri dan mulailah terasa enggan untuk mengeluarkannya. Pada awalnya bakhil kemudian menjadikannya berpaling dan akhirnya menjadi tidak peduli.

Keberpalingan yang dilakukannya itu bukanlah secara tiba-tiba tetapi dengan segenap kekuatan dan dorongan jiwa yang telah menguasai dan mencegah mereka untuk bersedekah. Sehingga saat diingatkan akan kewajiban, mereka tidak akan ingat dan saat diperintahkan untuk memenuhi kewajiban itu, mereka tidak akan melakukannya.

5.      Cintanya terhadap Harta

Orang yang bakhil dengan hartanya disebabkan rasa cinta nya yang begitu besar dan terlalu terhadap hartanya. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.”

Mencintai dengan kecintaan yang banyak maksudnya berlebihan diiringi dengan ketamakan hal ini menjadikan manusia itu berupaya untuk terus mengumpulkannya kemudian menjadikannya kikir dan tidak mau menginfakkannya. Mencintai harta secara berlebihan merupakan sikap yang dikecam disebabkan sikap demikian menjadikannya abai terhadap yang lain. Ini juga menunjukkan cintanya kepada dunia sehingga menjadikannya kikir, congkak, sombong dan terkadang menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginan dan ambisinya, meskipun dengan cara mencuri, merampok dan korupsi. Orang seperti ini lupa bahwa semua itu tidaklah abadi dan tidak dapat dibawa mati. Sama halnya dalam firman-Nya: “Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.”

Kikir adalah salah satu akhlak yang harus dihindari. Anehnya, orang kikir sendiri justru menganggap perkara tersebut adalah sebuah kebaikan. Allah mengancam orang kikir yang melampaui batas kejahatannya (menganjurkan orang lain berbuat kikir) dengan menunjukkan kekuasaan Allah diatas segalanya tanpa bergantung kepada yang lain. Al-Quran mengancam pula logika berfikir orang kikir yang hanya mementingkan diri sendiri dan mencari alasan pembenaran atas sikapnya. Orang kikir itu lupa bahwa harta yang dia dapatkan itu adalah pemberian Allah yang Maha Kaya, maka berpalingnya dia dari ketentuan Allah tidaklah membuat Allah butuh padanya.

Memiliki kehidupan yang berkecukupan adalah idaman semua orang, sehingga dengan kondisi itu manusia tidak perlu bergantung atau mengharap bantuan dari yang lain. Nyatanya, kondisi hidup sering kali berubah-ubah. Manusia terkadang menghadapi hal sulit dalam kehidupannya sehingga berharap bantuan dari sesamanya, namun di waktu lapang manusia diuji dengan keprihatinannya kepada orang yang membutuhkan. Disini jati diri orang pelit akan tampak jelas. Sesuai dengan firman Allah Swt: “Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.”

Diantara manusia di waktu mendapatkan kenikmatan, akan timbul rasa enggan untuk berbagi yatu pelit berbagi kepada orang lain yang membutuhkan dan bahkan enggan menunaikan kewajibannya kepada Allah berupa zakat. Ayat diatas menunjukkan karakter orang pelit yang sesungguhnya. Orang pelit enggan berbagi dikala lapang tapi sangat berharap bantuan dikala butuh. Bantuan yang diberikan pun itu sangat terbatas sekali dari kemampuan yang bisa dia berikan. Sangat perhitungan dengan harta yang dimiliki. Allah Swt berfirman: “Serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi.” 

Sifat kikir menumbuhkan rasa yang berlebihan akan kehilangan harta. Makanya, orang kikir hidup penuh perhitungan. Bahkan jika dirinya memiliki harta yang banyak sekalipun dia tetap takut berinfak karena begitulah tabiat dan kecenderungannya.

Yahya bin Mua’dz berkata: “Aku heran dengan seseorang yang kikir dengan hartanya sedangkan Allah meminta pinjaman (menafkahkan hartanya di jalan Allah) tapi tidak ia berikan sedikitpun.” Menafkahkan harta di jalan Allah seperti memberikan modal investasi bisnis yang tidak mengenal rugi. Meskipun begitu, kesadaran sebagian manusia untuk berinfak masih sangat rendah.


Share:

Sifat Buruk Manusia yaitu Suka Berkeluh Kesah

 

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh”

(QS. Al Ma’arij: 19)

 

Setiap manusia tidak akan terlepas dari masalah. Berbagai macam masalah manusia dalam kehidupan ini secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori. Pertama, permasalahan yang berhubungan dengan diri sendiri. Kedua, permasalahan yang berkaitan dengan harta. Ketiga, permasalahan yang berhubungan dengan kehormatan. Keempat, permasalahan yang berkaitan dengan keluarga atau orang yang dicintainya.

Dalam hal ini tidak ada pengkhususan, masalah tersebut sifatnya umum baik itu orang mukmin yang shalih, para pendosa bahkan orang kafir. Para ulama menjelaskan bahwa manusia akan mengalami susah payah dalam menanggulangi suatu urusan dari perkara urusan dunia hingga perkara akhiratnya. Sesuai dengan Al-Quran yang menggambarkan bahwa manusia sejak dalam Rahim ibunya sampai dengan kematian bahkan sesudah kematiannya tidak pernah luput dari kesulitan demi kesulitan.

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”

Semua manusia Allah beri cobaan bukan hanya dalam memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga dalam memelihara serta melindungi diri dan keluarganya. Bahkan dalam upaya melakukan hal-hal yang baik, manusia juga masih harus berjuang menghadapi dirinya sendiri sebelum menghadapi orang lain. Setiap cobaan yang Allah berikan di dunia yang fana ini memiliki hikmah namun sayangnya manusia tidak menyadari hal tersebut dan lebih memilih untuk mengeluh dari pada menghadapinya dengan prasangka baik.

Sebagai contoh ketika manusia sudah menetapkan cita-cita kemudian usaha untuk memperoleh cita-cita tersebut Allah beri ujian, cobaan dan kesulitan dan pada akhirnya cita-cita yang didambakan tidak tercapai. Akibatnya, manusia menjadi stress, frustasi, cemas, dan khawatir. Pada umumnya hal tersebut wajar saja dialami oleh manusia, akan tetapi tentu akan lebih berbahaya jika berlebihan.

Dalam kenyataan sekarang ini, tentu sering terjadi kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Pada akhirnya akan melahirkan perilaku manusia yang suka mengeluh dan ingkar. Sifat dan perilaku tersebut Allah jelaskan dalam Al-Quran:

“Sungguh manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila di timpa kesusahan dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan (harta) ia amat kikir.”

Ayat diatas menegaskan bahwa pada umumnya manusia itu suka mengeluh. Mereka punya sifat buruk berupa keinginan (ambisi) yang berlebihan, sedikit kesabaran, banyak berkeluh kesah. Jika ditimpa kesulitan berupa kemiskinan atau sakit, mereka banyak mengeluh, meratapi nasib, mengutuk keadaan serta diliputi kesedihan yang berkepanjangan.

Tetapi sebaliknya, jika diberi kebaikan dan kemudahan berupa kesehatan yang sempurna, kekayaan melimpah, pangkat yang tinggi, jabatan yang baik, mereka cenderung bersifat kikir, sombong dan tidak peduli dengan orang lain.

Begitulah sifat buruk manusia pada umumnya. Ketika kesulitan hidup datang mendera. Dia merasa seolah-olah langit akan runtuh, bumi bergoncang dan dunia akan kiamat. Dia ceritakan penderitaannya kepada semua orang, dengan tujuan agar orang lain tahu bahwa dia sedang dalam keadaan susah, dengan harapan orang akan iba dan menaruh belas kasihan kepadanya. Sedikitpun dia tidak berpikir tentang betapa besarnya karunia serta nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.

Di sisi lain, ketika manusia tengah diliputi kebaikan dan kemudahan hidup. Lagi-lagi sifat buruknya muncul. Dia menjadi orang yang sangat kikir, tidak mau berbagi sedikit pun kebahagiaan yang dimilikinya kepada orang lain. Dia simpan dan genggam erat-erat nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.

Manusia berbangga diri dengan kekayaan melimpah yang dimilikinya. Dia menjadi jumawa dengan jabatan dan kedudukan yang telah berhasil direngkuhnya. Menjadi sombong dengan segala yang dimilikinya, menjadi lupa bahwa semua yang diperolehnya merupakan nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Karena sesungguhnya semua yang dimilikinya hanyalah titipan Allah semata.

Untuk menyadarkan kita semua akan sifat buruk ini, Allah berfirman: “Katakanlah (Muhammad) wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Allah memberikan uraian yang jelas bahwa segala kekuasaan, kelimpahan harta, kedudukan yang tinggi yang ada pada manusia semua berasal dari Allah. Sebaliknya, segala kehinaan, kerendahan, ketidakberdayaan akan Allah hadirkan kepada mereka yang terlena dan terbuai oleh tipu daya gemerlap dunia.

Keluh kesah merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Penyakit ini timbul disebabkan pengaruh kehidupan dunia yang penuh dengan ujian dan cobaan. Semua itu karena manusia disibukkan oleh kepentingan dunia. Sifat keluh kesah menunjukkan tidak adanya rasa percaya diri dan juga mengekspresikan keputusasaan. Sifat keluh kesah juga menurunkan rasa syukur dan lebih bahayanya seseorang yang memiliki sifat berkeluh kesah ini akan menunjukkan tidak antusias menghadapi hidup.

Penderita keluh kesah akan menjadikan seseorang murung, sedih, tidak menaruh harapan yang tinggi dalam hidup, dan lain sebagainya.  Penyakit ini akan mendobrak hati untuk berbuat dzalim, menimbulkan permusuhan, kebodohan, bahkan terjadinya pembunuhan.

Tidak ada satupun manusia yang tercipta secara sempurna. Setiap manusia pasti memiliki permasalahan untuk dikeluhkan, tetapi tidak dibenarkan untuk berkeluh kesah dalam ajaran Islam. Keluh kesah termasuk penyakit hati yang hanya akan menjadi penutup pintu-pintu solusi dari masalah yang sedang menimpa. Sifat tercela tersebut akibat ulah manusia yang menggunakan nikmat dan cobaan Allah dengan jalan yang tidak sesuai dengan jalan-Nya.

Allah Yang Maha Sempurna menjawab semua keluh kesah manusia dalam Al-Quran.

Keluhan manusia : “Saya lelah”

Allah menjawab dalam Surah An-Naba’ ayat 9: “….dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.”

Keluhan manusia: “Saya tidak sanggup dengan ujian/cobaan ini.”

Allah menjawab dalam surah Al-Baqarah ayat 286: “Aku tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Keluhan manusia: “Mengapa masalah ini sulit sekali?”

Allah menjawab dalam surah Asy-Syarh ayat 5-6: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Keluhan manusia: “Saya tidak mungkin bisa”

Allah menjawab dalam surah Yaa Siin ayat 82: “Apabila Allah menghendaki sesuatu, Allah hanya berkata: ‘Jadilah! Maka jadilah sesuatu.”

Keluhan manusia : Saya Stress”

Allah menjawab dalam surah Ar-Ra’d ayat 28: “Hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang.”

Keluhan manusia: Sia-sia sudah usaha yang telah saya lakukan.”

Allah menjawab dalam surah Al-Zalzalah ayat 7: “Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarrah niscaya ia akan melihat blasannya.”

Keluhan manusia: “Saya bersedih”

Allah menjawab dalam surah At-Taubah ayat 40: “Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”

Keluhan manusia: “Tidak ada orang yang mau membantu saya.”

Allah menjawab dalam surah Al-Mu’min ayat 60: “Dan Tuhanmu berkata, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.”




Share:

Manusia yang Melampaui Batas dan Berlebih-lebihan dalam Al-Quran!

 

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas”

(QS Al-Alaq: 6)

 


Sifat yang melekat pada manusia pada umumnya yang ketiga ialah suka berlebih-lebihan atau melampaui batas. Dalam Islam, perilaku melampaui batas disebut dengan ghuluw ini adalah sikap tercela dan di larang oleh syariat. Ghuluw sama sekali tidak akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya, juga tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam segala urusan. Terlebih lagi dalam urusan agama.

Allah Swt berfirman:

“Hai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Setelah Allah menurunkan kepada bani Adam pakaian untuk menutupi auratnya dan pakaian indah untuk perhiasaan Allah berfirman “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid” yakni tutuplah auratmu ketika shalat, baik yang wajib atau yang sunnah karena menutupnya adalah perhiasan bagi tubuh sebagaimana membukanya berarti membiarkan tubuh dalam keadaan buruk dan tidak pantas. Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan perhiasan disini adalah lebih dari sekedar berpakaian yaitu pakaian yang dikenakan harus menutupi aurat dan bersih dari kotoran serta najis. Ayat ini dijadikan dalil dalam mewajibkan penutupan aurat didalam shalat. Demikian pendapat mayoritas ahli ilmu.

Kemudian Allah berfirman “dan makanlah” makanan yang halal, enak, bermanfaat lagi bergizi, dan berdampak baik bagi tubuh. “serta minumlah” apa saja, yang kamu sukai selama tidak memabukkan, serta tidak juga mengganggu kesehatan. “dan janganlah berlebih-lebihan” dalam hal itu berlebih-lebihan bisa dengan melampaui batas kemewahan dalam makan, minum dan berpakaian, dan bisa pula dengan melampaui batas yang halal kepada yang haram. Jadi harus seimbang, tidak terlalu hemat, tidak pula berlebih-lebihan. Diantara sikap berlebihan adalah makan bukan karena kebutuhan dan dilakukan pada waktu kenyang. Imam Bukhari berkata, “lbnu Abbas berkata, Makanlah apa yang kamu inginkan dan pakailah apa yang kamu inginkan selama kamu tidak jatuh dalam dua kesalahan: berlebih-lebihan dan sombong. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” dalam hal apa saja, karena pada akhirnya nanti akan cenderung boros. Dan Allah tidak akan melimpahkan rahmat dan ganjaran bagi orang yang berlebihlebihan. Sederhana atau berlaku tengah-tengah adalah prinsip dari setiap perbuatan baik.

Dari penafsiran diatas ayat ini menjelaskan tentang anjuran untuk berpakaian yang sepantasnya terutama ketika akan menghadap Allah. Dan anjuran mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal, enak, bergizi, dan berdampak baik bagi tubuh. Dengan syarat tidak berlebih-lebihan dalam hal tersebut.

Selain dilarang oleh Allah, sikap berlebihan juga lebih banyak mendatangkan mudharat dibandingkan dengan manfaat. Oleh karena itu, orang-orang yang berlebihan dalam suatu hal pasti akan merugi kemudian hari.

Allah Swt bahkan memuji orang-orang yang senantiasa mengingat-Nya dengan mengatakan bahwa dalam urusan dunia mereka adalah orang yang tidak berlebihan. Allah Swt, berfirman:

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, tetapi pembelanjaan yang berada ditengah-tengah.”

Islam mengajarkan bahwa dalam memenuhi kebutuhan hendaknya secara adil, artinya tidak kurang dan tidak berlebihan dari yang semestinya. Jangan kikir dan jangan pula boros, pemborosan adalah perbuatan tercela, dan oleh Allah dikategorikan sebagai saudara setan. Membelanjakan harta untuk kebutuhan pribadi dan keluarga yang menjadi tanggungan, dianjurkan dengan ukuran kewajaran. Namun karena teknologi pada zaman modern ini semakin canggih dan dapat memudahkan manusia belanja sepuasnya secara online. Sering kali, mereka membeli barang yang sesungguhnya tidak diperlukan. Akibatnya, barang tersebut menjadi tidak bermanfaat. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku belanja mereka tidak sekedar untuk memenuhi kebutuhan saja, tetapi untuk bergaya, bermegah-megahan dan menunjukkan kemewahan yang mereka miliki. Inilah yang dinamakan perilaku berlebih-lebihan (konsumtif). Manusia membelanjakan semua hartanya dalam rangka memuaskan keinginannya. Sebagian dari keinginannya sangat penting bagi kehidupannya, seperti makanan, pakaian, tempat bernaung dan lain sebagainya. Sementara sebagian lainnya perlu untuk mempertahankan atau meningkatkan efisiensi kerjanya.

Begitupun mengadakan perayaan yang tidak perlu dan yang tidak dicontohkan dalam Islam, seperti pesta tahun baru Masehi, pesta ulang tahun dan semacamnya yang banyak memakan biaya dan tentunya itu sia-sia. Perilaku semacam ini adalah perilaku isrᾱf dan tabzῑr. Jika isrᾱf menekankan pada berlebih-lebihannya maka tabzῑr menekankan pada kesia-siaan benda yang digunakan itu. Orang yang dapat membebaskan diri dari godaan materi dan gemerlapnya dunia, maka dialah yang lulus ujiannya.

Tidak hanya dalam hal membelanjakan harta, tetapi berlebih-lebihan dalam hal makan, minum, berpakaian juga dilarang oleh Allah. Bahkan dalam hal kebaikan dan ibadah seperti bersedekah, shalat, berwudhu, dan lain-lain, jika dilakukan secara berlebih-lebihan, maka itu juga dilarang. Segala sesuatu jika dilakukan secara berlebih-lebihan itu dilarang oleh Allah.

Tidak ada satu pun perintah melainkan pasti mengandung maslahat dan sebaliknya tidak ada satu pun larangan melainkan mengandung mafsadah. Adapun mafsadᾱt dari larangan berlebih-lebihan ini salah satunya ialah banyak orang yang berlebih-lebihan dalam menggunakan harta untuk kepentingan pribadi yang menjadi bakhil akan harta karena lebih mementingkan diri sendiri dan keluarganya daripada orang lain. Kemudian terdapat juga orang yang terlalu berlebih-lebihan dalam bersedekah bahkan sampai memberikan semua yang dimilikinya kepada orang lain yang membutuhkan tanpa melihat kebutuhan keluarganya serta kerabatnya yang juga masih belum tercukupi. Bahkan, akibat dari sikap berlebih-lebihan ini, mereka sering terjebak dalam rusaknya hubungan rumah tangga. Mereka cenderung mengabaikan hak-hak orang lain yang ada disekitar mereka dan terjadi konflik diantara mereka.

Sebagaimana firman Allah Swt:

“Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan jangan (pula) engkau mengulurkannya secara berlebihan sebab nanti engkau menjadi tercela lagi menyesal.”

Melalui anjuran ini, Allah dan Rasul mengantar manusia untuk dapat memelihara hartanya, tidak memboroskan sehingga habis, tetapi dalam saat yang sama tidak menahannya (pelit) sehingga mengorbankan kepentingan pribadi, keluarga, atau siapapun yang butuh. An-Nahhas berkata “Pendapat yang paling cocok mengenai makna ayat ini adalah, barangsiapa membelanjakan harta untuk selain ketaatan kepada Allah, maka itulah pemborosan, sedangkan menahan diri untuk membelanjakan harta dalam ketaatan kepada Allah, maka itulah kikir. Adapun yang membelanjakan harta untuk menaati Allah, maka itulah pertengahan.”

Yazid bin Abi Habib berkata “Mereka adalah para sahabat Nabi Muhammad Saw. Mereka tidak memakan-makanan untuk kesenangan dan kenikmatan, serta tidak mengenakan pakaian untuk keindahan, akan tetapi mereka menginginkan dari makanan itu agar menutupi rasa lapar mereka dan menegakkan tubuh mereka agar bisa beribadah kepada Allah, dan menginginkan dari pakaian itu agar dapat menutupi aurat mereka serta melindungi mereka dari panas dan dingin.

Dalam Al-Quran telah jelas, bahwa Allah melarang sikap berlebih-lebihan. Adapun macam-macam bentuk berlebih-lebihan yang dilarang Allah dalam Al-Quran, diantaranya:

Berlebih-lebihan dalam hal berakidah/beragama.

Kita sebagai umat Islam memang dianjurkan untuk amar ma’ruf nahi munkar. Namun kita hanya bisa mengingatkan mereka tanpa memaksakan apa yang menurut kita benar (agama kita) untuk mereka ikuti, karena itu adalah wewenang Allah. Kita juga tidak boleh mencemooh agama orang lain, karena dikhawatirkan mereka dapat mencemooh agama kita.

Berlebih-lebihan dalam hal berperilaku.

Seperti berlebih-lebihan dalam memiliki keturunan. Yang dimaksud disini ialah memperbanyak keturunan dengan tujuan berlomba-lomba serta menyombongkan diri  tanpa mengerjakan kewajiban mereka sebagai orang tua/wali. Faktor inilah yang menyebabkan perkara tersebut tergolong berlebih-lebihan. Allah memang menganjurkan umatnya untuk memperbanyak keturunan, namun disamping itu juga terdapat kewajiban yang harus dilakukan oleh orang tua/wali, yakni memberikan pendidikan agama yang benar dan lingkungan yang baik, sehingga keturunan mereka dapat menjadi anak yang sholeh dan bermanfaat bagi umat.

Berlebih-lebihan dalam tindakan pembunuhan

Berlebih-lebihan dalam pembunuhan yang penulis maksud disini ialah pembalasan yang diberikan wali korban pembunuhan kepada si pembunuh (qishash), seperti dengan mencincang atau membunuh selain si pelaku. Hal ini seperti kebiasaan orang-orang Jahiliyah dan orang-orang bodoh pada zaman ini yang membunuh orang banyak disebabkan salah seorang dari mereka terbunuh. Mereka melakukan hal tersebut untuk memuaskan nafsu dendam dan karena kesombongan. Padahal membunuh seorang manusia berarti membunuh semua manusia, sebagaimana memelihara kehidupan seorang manusia berarti memelihara kehidupan semua manusia. Apabila pembunuhan itu diperbolehkan, tentu sumber daya manusia (SDM) akan berkurang, dan pendapatan negara juga akan berkurang.

Berlebih-lebihan dalam harta

Berlebih-lebihan yang dimaksud disini ialah, dalam menahan harta ataupun boros dalam menggunakan harta. Dalam menahan harta, ia mengabaikan hak-hak yang wajib seperti kepentingan pribadi, keluarga, atau seseorang yang butuh. Dan dalam menggunakan harta, ia menggunakannya sampai habis (lebih besar pengeluaran daripada pemasukan) atau bahkan sampai berhutang-hutang. Kedua perkara ini dapat menyebabkan timbulnya keluarga yang tidak harmonis dan masalah sosial.

Berlebih-lebihan dalam makan, minum, dan berpakaian

Dalam point ini, berlebih-lebihan yang dimaksud ialah yang melebihi kebutuhan. Perintah makan dan minum lagi tidak berlebihan, yakni tidak melampaui batas, merupakan tuntunan yang harus disesuaikan dengan kondisi setiap orang. Ini karena kadar tertentu yang dinilai cukup untuk seseorang, boleh jadi telah dinilai melampaui batas atau belum cukup untuk orang lain. Atas dasar itu kita dapat berkata bahwa penggalan ayat 31 QS. Al-A’raf, mengajarkan sikap proporsional dalam makan dan minum. Dalam hal ini ditemukan pesan Nabi Saw mengenai proporsi dalam makan dan minum yakni 1/3 untuk makan, 1/3 untuk minum, dan 1/3 untuk pernafasannya.

Berlebih-lebihan dalam berpakaian yang dimaksud yaitu memakai pakaian yang mewah. Awalnya fungsi pakaian itu sangat sederhana yaitu hanya sebagai penutup aurat dan penutup rasa malu serta melindungi manusia dari panas dan dingin. Namun kenyataannya banyak kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan manusia dalam berpakaian. Dalam usahanya mencoba menghias diri dengan pakaian, manusia lupa akan tujuan utama dalam berpakaian, kini pakaian menjadi trend utama yang berpotensi tinggi dalam berperilaku konsumtif. Pakaian dijadikan tolak ukur kemuliaan seseorang dalam masyarakat. Semakin pakaiannya bagus, semakin dimuliakanlah dia. Memang Al-Quran menganjurkan manusia (anak Adam) untuk berpakaian yang bagus, namun tidak dengan ukuran berlebihan. Dalam hal berpakaian ini, Allah dan Rasul-Nya juga melarang memakai pakaian yang menjulur ke bawah, atau dengan sombong.

Melebihi kapasitas (tabzir)

Secara istilah tabzir (boros) adalah membelanjakan/mengeluarkan harta benda yang tidak ada manfaatnya dan bukan dijalan Allah, misalnya: boros dalam menggunakan harta, boros dalam menggunakan waktu, dan semacamnya. Tabzir menekankan pada kesia-sian benda yang digunakan itu. Contohnya kaum hawa yang mempunyai hobi belanja barang-barang trend masa kini dengan tanpa memikirkan manfaatnya. Remaja dalam masa peralihan dari masa kanak-kanak dengan suasana hidup penuh ketergantungan pada orang tua menuju masa dewasa yang bebas, mandiri dan matang. Termasuk bagaimana individu menampilkan diri secara fisik, hal ini agar sesuai dengan komunitas mereka. Atau bisa juga dengan pengaruh iklan, karena akan timbul keinginan untuk berbelanja seperti halnya iklan yang ditayangkan di televisi. Keinginan ini mendorong remaja cenderung untuk boros.

Tindakan yang tergolong sebagai perbuatan tabzir, yaitu:

1.      Membantu orang lain dalam kemaksiatan. Seperti: memberi sumbangan kepada orang untuk meminum-minuman keras.

2.   Membeli semua makanan dan minuman yang diinginkannya, namun hanya memakannya sebagian, dan membuang sisanya.

3.      Orang yang bersedekah tetapi tidak ikhlas.

4.      Merayakan hari raya lebaran dengan berlebihan.

5.      Merayakan pesta pernikahan dengan berlebihan tidak sesuai syariat.

Sebagaimana dijelaskan diatas, sikap tabzir dipicu oleh sikap pamer, sikap sombong serta mengikuti hawa nafsu, dimana sikap tersebut mengakibatkan kehancuran pada diri sendiri karena tidak memiliki kontrol pribadi dan sosial. Jika diri sudah lepas kontrol, maka akan menimbulkan sikap boros.

Sikap mendambakan kemewahan dunia semata, yang ditimbulkan oleh sifat pamer dan sombong merupakan tabiat buruk yang harus dihindari. Allah telah memberikan isyarat dalam Al-Quran, bahwa akibat kesombongan dan kecongkakan, Qarun beserta harta kekayaannya yang menjadi kebanggaan dan keangkuhannya dibenamkan oleh Allah kedalam perut bumi. Hal ini memberikan peringatan kepada umat sesudahnya bahwa, janganlah bersikap pamer dan sombong dengan apa yang kita miliki karena kekayaan yang kita terima merupakan nikmat yang Allah titipkan kepada kita dan Allah dapat mengambilnya kapanpun. Setiap perkara yang dilarang dalam Islam sudah tentu mengandung mudharat yang dapat merugikan manusia. Sementara setiap perintah pasti juga memiliki manfaat yang akan menguntungkan bagi keselamatan hidup. Orang yang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, akan menerima dengan baik dan ikhlas apa yang telah ditentukan Allah terhadapnya sikap-sikap diatas termasuk dalam berlebih-lebihan yang dilarang.


Share:

Tabiat Lalai Manusia. Simak Penjelasannya!


“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu”

(QS. At-Takatsur: 1)

 

Sesungguhnya ghaflah (lalai) adalah racun yang sangat mematikan, dan penyakit yang sangat berbahaya, yang dapat menguasai hati, merasuk mencengkram jiwa, serta melumpuhkan anggota badan. Lalai adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya yang menimpa setiap manusia dan umat. Ia adalah penyakit yang amat membinasakan, yang membunuh kebaikan dan penghancur semangat. Ia adalah penyakit yang keras, yang membuat seseorang kehilangan tujuannya, dan menghabiskan energinya. Jika ia seorang alim, maka ia akan meninggalkannya dalam keadaan jahil. Jika ia mengenai orang kaya, niscaya ia akan meninggalkannya dan jatuh kepada miskin. Jika ia menimpa orang yang terhormat, niscaya ia akan meninggalkannya menjadi hina.

Menurut At-Thabathaba’i mengatakan bahwa lalai adalah unsur utama dari setiap kesesatan dan kebatilan. Al Ragib al-Asfahani mengurai lalai itu adalah kelupaan yang menimpa seseorang karena kurang hati-hati dan waspada. Bahkan lalai itu bisa menyebabkan seorang muslim menjadi kafir sebagaimana dikatakan oleh Syekh Mutawalli Sya’rawi terjadinya kekafiran pada diri manusia adalah karena adanya faktor kelupaan (lalai) yang menjadi salah satu watak asli manusia. Kelupaan itulah yang menyebabkan pudarnya iman, bahkan iman akan menjadi sirna jika kelalaian itu terjadi secara terus-menerus. Hal ini menurut Al Sya’rawi sejalan dengan kata kufr yang berarti menutupi. Dengan kata lain lalai itulah yang menyebabkan orang menjadi kafir.

Dalam pandangan psikologi Islam, lalai itu termuat dalam persoalan gangguan kepribadian (psikopatologi) Islam. Menurut disiplin ilmu ini, lalai adalah sikap atau pelaku yang sengaja melupakan atau tidak memperhatikan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari esensi kehidupannya. Secara fitrah, manusia berpeluang untuk lupa, ini tidak termasuk dalam kategori psikopatologi Islami, meskipun masuk dalam kategori amnestik, atau bahkan kelupaan itu tidak dapat membebaskan seseorang dari tuntutan dan kewajiban sampai ia sadar kembali. Kelupaan yang menjadi bahasan psikopatologi islami yaitu kelupaan yang dilakukan dengan sengaja terhadap suatu keyakinannya, baik itu nilai-nilai dasar kehidupan maupun berkaitan dengan pandangan hidupnya. Karena ketika seseorang melupakan keyakinan, nilai-nilai hidup dan pandangan hidupnya maka segala tindakannya menjadi tidak teratur, merugikan dan dapat menjerumuskannya kedalam kehancuran.

Mayoritas manusia dalam keadaan lalai, berkata Al Imam Ibnul Qayyim, “Dan barangsiapa memperhatikan keadaan manusia, maka dia pasti dapatkan mereka seluruhnya kecuali sedikit saja, merupakan golongan orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Swt, mereka mengikuti hawa nafsunya, sehingga urusan-urusan dan kepentingan mereka terabaikan, yaitu mereka yang kurang perhatian terhadap hal-hal yang mendatangkan manfaat dan membawa kemaslahatan baginya, sedang mereka menyibukkan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat baginya, bahkan justru mendatangkan malapetaka bagi mereka, baik sekarang maupun di masa mendatang.

Kita perlu merenung kembali seputar hal-hal kecil yang tanpa kita sadari telah melenyapkan waktu yang begitu berharga dalam hidup ini. Waktu kita seringkali terampas begitu saja oleh perkara-perkara kecil disebabkan ketidak mampuan dalam mengendalikan diri. Ada saja godaan untuk menjerumuskan kita, ke lembah nestapa yang membuat kita merugi kemudian.

Perenungan paling sederhana yang melekat dengan keseharian kita misalnya saat berbelanja. Niat ke swalayan untuk membeli produk A saja. Namun sesampai di sana, kita malah menjelajah ke mana-mana. Bahkan tergoda dengan promo atau potongan harga. Dan pada akhirnya dengan niat ingin membeli satu produk malah menjadi membeli beberapa produk. Bahkan ada juga sudah berniat membeli produk A dan yang terbeli produk B dan C.

Contoh lainnya ialah saat kumandang azan. Tak sedikit dari kita yang tidak segera berwudhu ketika pelantang masjid menyerukan panggilan shalat karena kita lebih memprioritaskan urusan kerja atau pertemuan dengan sejumlah teman. Belum lagi bila Ramadhan tiba. Kita mengabaikan salat maghrib berjamaah demi menyantap hidangan berbuka puasa bersama kawan lama maupun keluarga. 

Itulah sejumlah bukti paling subtil bahwa manusia amat mudah terlena atau lalai atas tujuan utama hidupnya. Lalai tidak semata dimaknai dengan istilah lengah, kurang hati-hati sehingga meninggalkan kewajiban dan lain-lain. 

Dalam Al-Qur’an, setidaknya ada tiga term untuk mendefinisikan kata lalai. Ketiga term tersebut yaitu al-ghaflah (QS. Al-A’raf: 197; QS. An-Nahl: 108; QS. Maryam: 39; QS. Al-Anbiyaa: 97), al-nisyan (QS. Al-Kahfi: 61) dan al-sahwi (QS. Al-Maa’uun: 5; QS. Adz-Dzariyat: 11).

Meskipun ketiganya sama-sama memiliki arti lalai, tapi tetap terdapat perbedaan makna. Al-ghaflah merupakan lalai dari kebenaran. Artinya, seseorang mengetahui kebenaran itu dengan sadar, tetapi ia tetap dengan kelalaiannya. 

Adapun al-nisyan merupakan suatu keadaan yang di luar kesanggupan manusia. Artinya, mereka tidak sadar telah melakukan kesalahan. Dengan kata lain, mereka betul-betul lupa. Selanjutnya, al-sahwi merupakan lalai yang berarti seseorang yang hatinya menuju kepada yang lain, sehingga pada akhirnya ia melalaikan tujuan pokoknya. 

Lalai (ghaflah) terpuji ialah lalai dan tidak peduli terhadap maksiat, kemungkaran dan segala hal yang tidak Allah ridai. Sedangkan lalai (ghaflah) tercela adalah lalai dan tidak peduli pada perintah Allah, enggan untuk taat pada Allah dan tidak pernah mengingat-Nya.

Paling tidak, ada sepuluh sebab yang menjadikan orang lalai: (1) Ingin cepat-cepat melepaskan lelah (tidak mau gerak); (2) Bersemangat yang berlebihan untuk menggapai kelezatan dunia; (3) Hilangnya perasaan bersalah ketika melakukan perbuatan maksiat/dosa; (4) Mengikuti hawa nafsu; (5) Sibuk dengan pekerjaannya; (6) Permainan (semacam game online) dan segala bentuk kesenangan yang berlebihan; (7) Ingin memanjakan diri dengan gaya hidup yang mewah; (8) Lebih condong ke dunia; (9) Bergaul dengan orang-orang yang lalai; dan (10) Terlalu banyak mengerjakan hal mubah. 

Sebagaimana hukum sebab-akibat, sifat lalai yang tercela tentu mendatangkan konsekuensinya. Lalai mengakibatkan seseorang berhak mendapatkan kerugian di dunia seperti dijauhkan dari rahmat Allah Swt., dipalingkan untuk bisa memahami ayat-ayat Allah, doanya dikembalikan atau tidak dikabulkan, memiliki akhir kehidupan yang buruk (su’ul khatimah) hingga dimasukkannya ke dalam neraka jahanam. Naudzubillahi min dzalik.

Terdapat beberapa jenis lalai yang patut dijauhi oleh seorang muslim. Antara lain: Pertama, lalai dengan adanya kehidupan akhirat.. Firman Allah: “Mereka mengetahui yang lahir (tampak) saja dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS. Al Rum: 7). Menurut ulama tafsir ayat ini menggambarkan model kehidupan orang kafir yang memandang kehidupan itu menurut kegunaan dan manfaat yang nyata saja. Seperti bekerja, bercocok tanam, berdagang dan semua yang berhubungan dengan urusan dunia. Setelah itu kehidupan diakhiri dengan kematian. Pada praktiknya model kehidupan orang kafir ini juga telah banyak menjangkiti kehidupan orang muslim sehingga aktivitas hidupnya setiap saat hanya untuk mengumpulkan bekal di dunia berupa kekayaan yang berlimpah, kekuasaan, jabatan, status sosial, tak peduli bagaimana cara meraihnya. Orientasinya hanya dunia dengan segala kemegahannya.

Orang yang lalai dengan kehidupan diakhirat akan diancam oleh Allah dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu. Dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami mereka itu tempatnya adalah neraka disebabkan apa yang mereka telah lakukan”

Kedua, lalai menunaikan kewajiban beribadah kepada Allah swt. Diriwayatkan pernah terjadi saat ibadah jumat berlangsung dan Rasulullah Saw sedang menyampaikan khutbah. Tiba-tiba masuk ke kota Madinah para kafilah dagang yang membawa barang-barang. Para sahabat satu demi satu meninggalkan masjid menuju pedagang itu guna mendapatkan barang-barang yang amat mereka butuhkan. Ibnu Abbas menceritakan bahwa sahabat yang tersisa dalam mendengarkan Nabi Saw khutbah hanya dua belas orang.

Melihat kenyataan ini Rasulullah Saw prihatin namun tetap melanjutkan khutbahnya, lalu turunlah firman Allah Swt: “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari jumat maka bersegeralah kamu pada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Dan apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi ini; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.”

Menurut para ulama tafsir meski ayat di atas berkenaan dengan ibadah sholat jumat namun berlaku pula untuk waktu-waktu sholat yang lain. Dengan kata lain hendaklah saat azan diperdengarkan segeralah untuk menunaikan ibadah sholat tersebut. Ancaman bagi mereka yang meninggalkan sholat jumat seperti disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda di atas mimbarnya: “Pasti akan ada segolongan orang yang meninggalkan sholat jum’at, lantas Allah Swt kunci hati-hati mereka sehingga menjadi orang-orang yang lalai”.

Ketiga, lalai dalam menuntut ilmu agama. Ilmu agama di sini adalah ilmu yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Imam Abu Hanifah Rahimahullah mengatakan bahwa manfaat ilmu agama bagi sesorang adalah untuk mengenali mana yang baik bagi dirinya dan mana yang buruk untuk dijauhinya. Ilmu agama adalah ‘jembatan’ menuju ketakwaan yang akhirnya menjadi kemuliaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat.

Lantas, kalau hati kita lalai, bagaimana cara mengobatinya?

Syekh Muhammad Shaleh Al-Munajjid membagikan kiat-kiat untuk mengobati hati yang lalai. Caranya adalah sebagai berikut.

1.  Selalu basahi lisan dengan zikir. Zikir mempunyai pengaruh besar dalam menangkal kelalaian. Berzikirlah dengan penuh rasa takut dan kerendahan diri demi mengharap rahmat Allah baik di waktu pagi maupun petang. 

2.     Berdoa kepada Allah . Doa dengan sendirinya akan menghilangkan sikap lalai dan rasa malas Biasakan memanjatkan doa-doa yang shahih sesuai contoh dari Rasulullah saw. Salah satu doa yang berkaitan tentang masalah ini adalah:  Ya Allah, aku memohon perlindungan kepadaMu dari kelemahan, rasa malas, kebakhilan, pikun, kerasnya hati, lalai, kehinaan, kemiskinan, dan aku memohon perlindunganMu dari kefakiran, kekufuran, kesyirikan, nifak, sum'ah (rasa ingin dipuji) dan riya'.[4] 

3.       Membiasakan salat malam. Abdullah bin Amr bin Ash berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa (melakukan) salat malam dengan sepuluh ayat maka tidak akan ditulis sebagai orang-orang yang lalai, siapa (yang salat malam) membaca seratus ayat akan ditulis sebagai orang-orang yang taat, siapa yang (salat malam) membaca seribu ayat maka akan dijadikan sebagai orang-orang yang berkecukupan".[5]

4.      Rutin melakukan ziarah kubur. Dalam satu riwayat hadits disebutkan bahwa Rasulullah sempat melarang umatnya untuk melakukan ziarah kubur. Namun setelah melihat manfaatnya, Rasulullah membolehkan sebab hal tersebut dapat melunakkan hati dan membuat air mata berlinang serta mengingat akhirat. 

5.      Memperhatikan kehidupan dunia ini serta mengingat surga dan neraka. Dunia tidaklah selalu menawarkan kesenangan bahkan kesenangannya bersifat sementara. Dari lapang menjadi sempit, dari terhormat menjadi terhina, dari kaya menjadi miskin dan sebagainya.  Sikap cinta dunia akan mengantarkan kita ke dalam neraka sedangkan mencukupkan diri dari dunia akan menjadikan kita masuk ke surga.

Berangkat dari perenungan sederhana dan berkaca pada realita, sudah sewajarnya kita bersikap hati-hati dan peduli dalam menjalani kehidupan agar tidak tergolong orang yang lalai. Lalai memang suatu kewajaran pada hati manusia. Namun, kehadirannya bisa ditangkis oleh sejumlah upaya penghambaan kepada Allah dan keteladanan Rasulullah.

 

 “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah”

  (QS. Al-Baqarah: 286)

 

 

 



Share:

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support