"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Kamis, 19 Januari 2023

SEMUA NYA KARENA ALLAH

 

                                  

Rasulullah Saw bersabda: “Seburuk-buruknya ulama adalah mereka yang mengunjungi para pemimpin, dan sebaik-baiknya para pemimpin adalah mereka yang mengunjungi ulama. Sebaik-baik pemimpin adalah ia yang berada di depan pintu orang fakir, dan seburuk-buruknya orang fakir ia yang berada di depan pintu rumah pemimpin”

Banyak orang yang merasa puas hanya dengan memahami makna redaksi hadis ini secara tekstual, bahwa seorang ulama tidak seharusnya mengunjungi para pemimpin agar tidak menjadi seburuk-buruknya ulama. Padahal makna yang sebenarnya dari hadis tersebut bukanlah seperti itu, melainkan bahwa seburuk-buruk ulama adalah mereka yang bergantung kepada para pemimpin, semua yang mereka lakukan demi mendapatkan simpati dari para pemimpin. Sementara ilmu yang mereka miliki, sejak awal diniatkan sebagai media agar mereka dapat bercengkerama dengan para pemimpin, agar diberi penghormatan dan jabatan yang tinggi. Mereka mengubah dirinya dari bodoh menjadi berilmu semata-mata demi para pemimpin.

Ketika ulama itu menjadi terpelajar dan berpendidikan karena takut pada para pemimpin dan ingin dipuji, maka ia akan menjadi tunduk pada kekuasaan dan arahan sang pemimpin. Mereka menyenangkan diri dengan penuh harap agar sang pemimpin memerhatikan. Jadi, tidak peduli apakah ulama itu yang datang mengunjungi pemimpin atau pemimpin itu yang mengunjungi ulama, tetap menjadikan ulama sebagai pengunjung dan pimpinanlah yang dikunjungi.

Sementara ketika seorang ulama menuntut ilmu bukan demi seorang pemimpin, melainkan karena Allah semata sejak awal hingga akhir, maka tingkah laku dan kebiasaannya akan sesuai dengan jalan yang benar karena memang itulah tabiatnya dan mereka tidak akan mampu untuk melakukan hal yang sebaliknya, seperti ikan yang tidak bisa hidup dan tumbuh berkembang kecuali di dalam air. Ulama semacam ini memiliki akal yang dapat mengontrol dan mencegah dirinya dari perbuatan buruk. Pada waktu bersamaan, semua orang yang semasa dengannya akan tercerahkan dan segan kepadanya, serta memperoleh bantuan-bantuan dari cahaya dan perumpamaan-perumpamaannya, baik mereka sadari atau tidak.

Ketika ulama semacam ini datang mengunjungi pemimpin, maka sejatinya dialah yang dikunjungi dan pemimpin adalah pengunjungnya. Karena dalam segala kondisi, pemimpin itulah yang memperoleh pertolongan-pertolongan dan banyak manfaat darinya. Ulama ini tidak butuh kepada pemimpin itu. Ia laksana matahari yang memancarkan cahayanya, yang tugasnya adalah untuk memberi kepada makhluk, yang mengubah bebatuan menjadi akik dan yakut, yang menyulap gunung di bumi menjadi tambang-tambang tembaga, emas, perak dan besi, yang menjadikan bumi hijau bersemi, dan memberkati pepohonan dengan buah-buahan yang berlimpah. pekerjaan ulama ini adalah memberi dan tidak menerima. Dalam sebuah peribahasa Arab disebutkan: “Kami telah belajar untuk memberi, tapi tidak untuk menerima.” Dalam kondisi apapun, ulama yang sebenarnya adalah yang dikunjungi, dan para pemimpin yang mengunjungi.

           

            (Dikutup dalam Kitab Fihi Ma Fihi-Jalaluddin Rumi)

            Desa Medang,

Oleh: Mhd. Reza Fahlevi ZA, M.Pd

Share:

HADIAH TERINDAH UNTUK PEMBACA AL QURAN


                                      

 Semangat membaca Al-Quran pada bulan suci Ramadhan yang demikian besar, karena kita ingin meraih kenikmatan dan kebahagiaan dengan membaca Al-Quran, juga untuk mendapatkan pahala besar dari Allah Swt.

“Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafaat kepada hamba kelak pada hari kiamat. Puasa berkata,”Wahai Rabb, aku telah menghalanginya dari makanan dan syahwat pada siang hari, maka izinkan aku memberi syafaat kepadanya.” Al-Quran berkata, “Aku telah menghalanginya untuk tidur di malam hari, maka izinkan aku memberi syafaat kepadanya.” Maka keduanyapun diizinkan untuk memberi syafaat kepadanya.”(HR. Ahmad).

“Jika seorang hamba yang beriman sedang menghadap sakaratul maut, maka dikatakan kepada malaikat maut,”Ciumlah kepalanya.” kata malaikat maut, “Aku mendapati Al-Quran dikepalanya.” Dikatakan kepadanya, “Ciumlah hatinya.” Malaikat maut berkata,”Aku mendapati hati puasa di hatinya.” Dikatakan kepadanya,”Ciumlah kedua kakinya.” Malaikat maut berkata,”Aku mendapati sholat malam pada kakinya.” Lalu dikatakan, “Ia memelihara dirinya, maka Allah Swt menjaga.” (perkataan seorang salaf, dikutip dari Ibnu Rajab al Hanbali)

Allah berfirman,”Orang yang menyibukkan diri dengan Al-Quran (membaca Al-Quran) dan mengingat Ku, dari pada ia menyibukkan diri dengan meminta kepada-Ku (berdoa), maka akan Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang telah Aku berikan kepada orang yang meminta (berdoa). Keutmaan Kalamullah (Al-Quran) atau semua perkataan, adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.” (Hadis Qudsi, diriwayatkan oleh Tirmidzi, dari Abu Sa’id Al-Khudri)

Seorang Muslim dilarang iri hati kepada orang lain, tapi ada iri hati yang dibolehkan, yaitu terhadap dua macam manusia. Pertama, boleh iri hati kepada orang yang di ajari Al-Quran oleh Allah, lalu ia membacanya siang dan malam, Lalu orang yang mendengarnya berkata,”Sekiranya aku diberikan sesuatu seperti yang diberikan Allah kepada pembaca Al-Quran itu, maka pasti aku melakukan seperti yang dilakukannya.” Kedua, boleh iri hari kepada orang yang diberi harta oleh Allah, lalu ia membelanjakan hartanya itu di jalan Allah. Kemudian ada orang yang mengetahui lalu berkata, “Sekiranya aku diberikan harta oleh Allah seperti dia, pasti aku akan melakukan seperti yang dilakukannya.” (Berdasarkan hadis Nabi riwayat Imam Bukhari)

Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabat, “Apakah salah satu dari kalian merasa senang, apabila saat ia kembali kepada keluarganya, lalu ia mendapatkan (didalam rumahnya) ada tiga ekor untu yang besar dan gemuk?” Para sahabat menjawab,”Ya” Rasulullah bersabda, “Tiga ayat (Al-Quran) yang dibacakan dalam sholat, adalah lebih baik baginya dari pada tida ekor unta betina yang besar dan gemuk.” (HR Muslim)


Desa Medang

Oleh: Mhd. Reza Fahlevi ZA, M.Pd

Share:

JANGAN MEMBANGGAKAN AMAL

 

                                

Terkadang, ketika seorang muslim melakukan berbagai amal shalih, ia menyangka bahwa itu cukup untuk menyelamatkannya dari api neraka, dan memasukkannya kedalam surga Allah Swt. ia bergantung pada amalan-amalannya itu.

Ketika ia melakukan suatu kemaksiatan maka ia hanya cuek saja. Dalam pikirannya, semua itu akan tergantikan oleh amalan-amalan shalih yang selama ini dilakukannya. Ia menggantungkan harapannya pada amalan-amalan itu, dan mengurangi rasa berharap kepada Allah Swt.

Sebenarnya ini adalah sebuah kesalahan besar. Seorang muslim tidak akan pernah memasuki surga-Nya dengan amalan-amalan shalih saja, akan tetapi dengan rahmat-Nya. Selain itu, tindakan seperti ini juga merupakan sebuah bentuk kesyirikan, karena menggantungkan harapannya pada selain-Nya. Padahal, dalam setiap sholat, kita melantunkan, “Kepada-Mu kami menyembah, dan kepada-Mu pula kami meminta tolong.”

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa seorang ahli ibadah ditanya ketika berada di dekat Mizan, “Apakah engkau ingin masuk surga dengan amalan mu atau dengan rahmat-Ku?” Karena laki-laki ini merasa yakin dengan amalan-amalan yang selama ini dilakukannya, maka ia menjawab, “Dengan amalan-amalanku,” Tatkala di timbang, ternyata amalan-amalannya itu tidak mampu memasukannya ke surga, sehingga ia dilemparkan ke Neraka.

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa seorang pembunuh 99 jiwa dimasukkan oleh Allah Swt ke surga-Nya, padahal ia belum melakukan amal shalih sedikitpun. Begitu juga halnya dengan seorang pelacur yang berhak memasuki surga-Nya, itu hanya karena menolong seekor anjing yang kehausan. Semua itu semata-mata karena rahmat Allah Swt.

Seorang mukmin sejati yang mengenal Tuhannya selalu bergantung pada Tuhannya, bukan amalan-amalannya.

(Dikutip dalam Kitab Al-Hikam- Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandari)

Desa Medang

Oleh: Mhd. Reza Fahlevi ZA, M.Pd

Share:

GURU BARU


Semua guru pasti pernah mengalami awal karier, dimana ia pertma kali sekali diberi kesempatan oleh guru lain untuk menjadi guru. Maka kesempatan ini tidak akan terjadi kedua kalinya dalam hidup seorang guru. Guru yang pertama kali mengajar mengalami kesuksesan atau mengalami kegagalan sulit dijadikan model untuk langkah seorang guru yang baik di masa depan. Mengapa? karena ukuran kesusksesan dan kegagalan sangat personifikasi dalam kehidupan terlebih pada kegiatan pembelajaran. Walaupun ada ukuran-ukuran normatif namun kadang bisa dalam persepsi.

Bila guru baru mengalami kegagalan menurut dirinya, lantas apa yang harus dilakukan oleh guru-guru lain? Guru baru mungkin tidak menemukan alamat yang tepat dalam mengembangkan profesinya, tapi ada pendapat yang berbeda, guru baru ini mungkin belum mempunyai persiapan yang matang sehingga mengakibatkan kegagalan. Akan tetapi ada pula pendapat yang ketiga yang menyatakan bahwa guru ini mempunyai peluang yang besar untuk menjadi guru hebat dimasa depan. Ketiga pendapat guru senior diatas tentulah memiliki alasan tersendiri, apakah berdasarkan pengalaman mereka ketika menjadi guru dahulu, atau dari pengamatan sesaat yang memaksa dirinya membuat keputusan tentang masa depan seseorang calon guru.

Pendapat pertama yang menyatakan bahwa guru baru bila menangis sebagai ekspresi kegagalan adalah kesalahan dalam menentukan alamat profesi, adalah mereka yang berfikir bahwa guru hanya milik orang-orang tertentu saja, apakah lewat keturunan guru, bakat atau nasib seseorang. Untuk itu kehadiran guru baru sesungguhnya harus diapresiasi bahwa guru bukan nasib, tetapi adalah pilihan. Mungkin dia menangis karena pilihannya justru karena tepat. Menangis ketika awal mengajar bukan hal yang biasa, akan tetapi sesuatu yang sangat berguna dapat memacu, memicu dan memotivasi guru baru agar lebih siap terhadap apapun yang terjadi.

Pendapat yang kedua yang menyatakan bahwa guru baru menangis karena tidak memiliki persiapan yang matang, merka adalah guru yang bergerak secara mekanistik, dimana kegiatan pembelajaran adalah sebagai sebuahsistem yang utuh. Satu sub sistem tidak berfungsi maka akan mengakibatkan sistem yang lain rusak. Namun harus disadari bahwa guru bukan sekedar ilmu bagaimana orang mengajar atau menyampaikan pengetahuan, lebih dari itu guru harus memiliki filling, rasa yang mendalam untuk memaknai tidap tahapan tugas guru. Menangis mungkin merupakan tahapan klimas dari pengetahuan perpaduan sistem yang mekanistik.

Sulit memaknai pendapat ketiga, dimana ketika seorang guru menangis adalah dikarenakan ada peluang untuk mendapatkan keberhasilan di masa depan. Yang pasti calon guru dimasa depan ia harus menyadari bahwa hari ini adalah segala-galanya, dan hari inilah penentu masa depan. Bila kita persepsi masa depan itu adalah keberhasilan, maka segala yang terkait, penentuan cita-cita, persiapan serta peluang adalah bagian yang harus diapresiasi.

Ketika banyak guru yang sukses mempersiapkan awal pengajaran, tapi juga lebih banyak guru yang gagal memaknai apa arti sukses di awal kegiatannya. Kita masih banyak melihat guru yang menangis diawal pertemuan, namun sesungguhnya kita masih banyak yang gagal memberikan apresiasi terhadap apa arti menangis tersebut. Jadi bila guru pertama mengajar menangis, maka menangislah, karena itu adalah ekspresi yang tidak ada hukum untuk melarangnya, tidak ada persiapan yang membuatnya. Maka sekali lagi yang penting adalah maknailah bahwa menangis adalah bagian dari langkah seorang guru yang memiliki masa depan.

Pada akhirnya awal karier menjadi seorang guru, adalah awal dari kehidupan dunia pendidikan dan pembelajaran. Bila dipersepsi secara positif, maka akan memberikan dampak terhadap karier selanjutnya, namun bila sebaliknya, justru guru tersebut sangat sulit memahami bahwa pendidikan adalah sebuah kebaikan untuk masa depan.

 

Oleh: Mhd. Reza Fahlevi ZA, M.Pd

Share:

Minggu, 01 Januari 2023

PARA ULAMA JUGA MENCARI NAFKAH

Sayyidina Umar bin Khattab r.a pernah mengatakan kepada orang-orang yang memahami tawakal sebagai pasrah kepada Tuhan sepenuhnya tanpa harus bekerja atau berusaha (kasab): “Tuhan tidak akan menurunkan emas dari langit”

“Janganlah kalian duduk-duduk saja dalam mencari rezeki lalu berdoa, : ‘Ya Allah, berilah aku rezeki. Kalian tahu bahwa langit tidak menurunkan emas, tidak juga perak.”

Ucapan ini mengandung arti bahwa rezeki tidak bisa diperoleh dengan mengandalkan atau menunggu pertolongan Tuhan semata atau mengharapkan pemberian orang lain, melainkan harus dicari melalui usaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh.

Nabi SAW bersabda ketika disebutkan nama “burung”. Burung itu pergi pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang sore dalam keadaan  kenyang.” Artinya, burung itu pergi mencari makanan.

Para ulama besar dan kaum sufi selalu menekankan pentingnya bekerja atau memiliki pekerjaan. Mereka sendiri juga terlibat dalam usaha perdagangan, pertanian, perkebunan, peternakan, menjahit, bertenun, dan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan masanya.

Abu Hanifah dikenal sebagai al-Bazzzar, pedagang kain. Ia mempunyai took dan melayani sendiri. Pada saat-saat tidak ada pembeli, Abu Hanifah mengisi waktunya dengan membaca kitab atau memberi fatwa. Ayah Imam Al-Ghazali juga seorang pemintal benang untuk dijadikan kain. Sari al-Saqathi, seorang sufi besar (w. 225 H/871 M), adalah seorang saudagar bangunan di pasar. Abu al-Qasim al-Junaidi (w. 295H/910 M) memiliki took pemotong kaca dan melayani sendiri para pembelinya.

Abu Husain al-Nuri pernah menceritkan sosok al-Qusyairi (w. 465H/1072M), sufi besar dan penulis buku tasawuf terkenal risalah al-Qusyairiyah. katanya:

“Setiap pagi ia (al-Qusyairi) berangkat dari rumahnya menuju tokonya dan membeli beberapa potong roti ditengah jalan. ia memberikan sebagian roti yang dibelinya tersebut kepada orang yang memerlukannya. Menjelang sholat zuhur, ia pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah kepada Allah. Setelah itu, ia kembali ke tokonya. Tidak banyak orang yang tahu bahwa setiap hari ia berpuasa. Para pedagang yang lain menyangka bahwa ia telah sarapan atau makan dirumahnya. Sementara orang rumah menduga ia sudah makan di pasar. Selama dua puluh tahun ia melakukan pekerjaan seperti itu.

Ibnu Khafif memberitahukan kepada kita: “Pada masaku, kebanyakan guru sufi memiliki pekerjaan sebagai penghidupan (penopang hidup) mereka. Aku sendiri belajar memintal benang. Hasilnya aku jual di pasar untuk menghidupi keluargaku.”

Ketika Nabi saw. bersama sahabat-sahabatnya melakukan sebuah perjalanan perang diluar kota, mereka melihat seorang pemuda dengan tubuh yang kekar tengah mencangkul di sawah. Salah seorang sahabat bergumam sendiri,: “Andaikan saja ia kita tarik untuk ikut berperang bersama kita.”

Nabi saw. mendengar gumaman sahabat tersebut lalu memberi komentar: “Jika ia bekerja untuk menghidupi dirinya dan keluarganya maka ia adalah pejuang sama seperti kita.”

(Dikutip Dalam kitab Lisanul Hal)

Oleh : Mhd. Reza Fahlevi ZA

Share:

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support