"Dengan membaca kamu mengenal dunia. Dengan Menulis kamu dikenal Dunia."

murevi18.blogspot.com

Selasa, 06 Januari 2026

Nabi Muhammad Saw. Adalah Manusia Pertama yang dibukakan Pintu Surga

 


Dirirwayatkan dalam sebuah hadis tentang penggambaran akhirat. Para ahli surga dibuatkan kolam setelah mereka melintasi jembatan shirath. Ketika telah tiba di pintu surga, mereka meminta syafaat kepada Nabi Adam, lalu kepada Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, kemudian kepada Nabi Muhammad saw. Rasulullah saw. adalah nabi yang bisa memberi syafaat atau pertolongan kepada semuanya, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis shahih riwayat Imam Muslim, dari Abu Nadhir, Hasyim, dan seterusnya.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis dari Sulaiman bin Mughirah, dari Tsabit, dari Anas bin Malik, yang ia terima langsung dari Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Setelah aku tiba di pintu surga, pada hari kiamat, aku meminta agar pintu surga dibuka. Penjaga pintu surga bertanya, ‘Anda siapa?’ Aku pun menjawab, ‘Aku Muhammad.’ Ia berkata, ‘Untukmu aku diperintah agar tidak membukakan pintu untuk siapa pun sebelum engkau memasukinya.’” (HR Muslim dan Ahmad)

Imam Muslim mengatakan bahwa ia menerima hadis dari Abu Kuraib dan Muhammad bin Al-‘Ala’, sebagaimana ia menerima hadis dari Mu’awiyah Ibnu Hisyam, dari Sufyan, dari Mukhtar bin Fulful, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari kiamat nanti, di antara para nabi, akulah yang paling banyak pengikutnya, dan aku adalah orang pertama yang mengetuk pintu surga.” (HR Muslim)

Dalam Shahih Muslim disebutkan, “Pada hari kiamat, Allah mengumpulkan manusia. Orang-orang beriman pun bangkit saat surga telah dekat. Lalu, mereka menemui Nabi Adam a.s. seraya berkata, ‘Wahai bapak kami semua, tolong bukakanlah pintu surga untuk kami.’ Nabi Adam menjawab, ‘Bukankah kalian dikeluarkan dari surga karena kesalahan bapak kalian ini? Tidak, aku bukan orang yang bisa melakukan akan hal tersebut ….’” (hingga akhir hadis).

Hadis tersebut merupakan hadis yang kuat, yang disebut hadis shuwar (kisah yang menggambarkan). Mereka datang kepada para nabi mereka untuk kedua kalinya untuk minta pertolongan (syafaat) dari Allah agar segera masuk surga, sekaligus mereka minta izin kepada-Nya. Giliran itu pun dipersingkat. Rasulullah saw. yang ditentukan untuk mereka, sebagaimana istimewanya syafa’atul ‘udzma yang pertama, seperti sudah dijelaskan. Wallahu A’lam. (HR Muslim)

Share:

Cara Setan Menyesatkan Manusia. Berikut Trik dan Metodenya!

 

Mengamati berita yang tersiar melalui media massa baik media cetak seperti koran dan majalah, maupun media elektronik semacam radio, televisi maupun internet, sering kali kita lihat dan kita dengar sejumlah kasus yang dilakukan oleh orang yang beragama Islam, seperti kita ini. Setiap saat sering kita saksikan pejabat, pegawai negeri, pengusaha, akademisi, pelajar maupun warga masyarakat bisa tersangkut kasus-kasus hukum yang berat. Sederet kasus-kasus besar tersebut mulai dari penyalahgunaan narkoba, korupsi, perselingkuhan, pertengakaran pelajar, pembunuhan, perjudian seta penipuan. Kasus-kasus tersebut turut mencoreng nama baik Islam, karena dilakukan oleh orang yang beragama Islam, yaitu agama kita. Dengan kata lain, pelanggaran atau kejahatan tersebut dilakukan oleh saudara kita seagama. Sehingga kita sedikit atau banyak turut menanggung malu atau citra buruk.

Kita patut prihatin atas hal tersebut. Mereka yang telah terbujuk tipu daya setan. Oleh karena kita jangan sampai ikut terperosok. Dari berbagai kasus yang kita lihat hendaklah mengambil pelajaran dari hal tersebut, selanjutnya mewaspadainya agar di masa-masa mendatang bisa menghindarinya. Dalam Al-Quran Iblis mengatakan akan memperdayakan manusia dengan berbagai cara.

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya".

Kisah tragedi perang uhud.

Setan menghiasi dan mengelabuhi manusia itu sehingga mereka memandang baik perbuatan mereka, dan setan membisikkan: "Kalian akan menang, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu". Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah". Dan Allah sangat keras siksa-Nya.

Bila tersirat di hatimu untuk berjudi, itu rayuan setan

Bila tersirat di hatimu ingin berzina, itu nyanyian setan

Bila tersirat di hatimu ingin mencuri, itu nyanyian setan

Mewaspadai Pintu Masuk Setan

Sesungguhnya setiap detik dari hidup kita, setiap hembusan nafas, setiap pikiran yang yang tersirat, setiap amal perbuatan yang kita kerjakan, tidak  akan pernah lepas dari upaya setan untuk menggoda, menyesatkan, menyelewengkan dari tujuan yang benar dan menggiring kepada dosa dan maksiat. Kita mungkin tidak menyadari  dan memang tanpa kita sadari, setan terus berupaya menenggelamkan, menghanyutkan kita agar semakin jauh dari jalan yang benar, meninggalkan ketaatan secara perlahan dan halus, tanpa terasa oleh kita. Dan itulah tugas utama setan dan iblis, sebagai mana ia telah terusir dari surga dan terjauhkan dari rahmat Allah maka diapun ingin menjauhkan manusia dari dari rahmat Allah dan kemudian sesat bersamanya. Begitulah ungkapan setan ketika mendapatkan laknat Allah:

Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk, Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan." Iblis berkata: "Ya Tuhanku, berilah penangguhan kepadaku sampai hari mereka dibangkitkan." Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)." Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shad: 77-83)

Menyadari ini semua, bahwa keberadaan kita di dunia ini, tidak akan pernah lepas sedikitpun dari upaya setan untuk mempengaruhi kita, merayu, melalaikan kita dengan apapun, bahkan mereka mampu masuk bersama aliran darah kita, dengan hanya satu tujuan mengumpulkan manusia sebanyak-banyaknya untuk bersama-sama sesat dan menghuni neraka jahanam. Mengetahui tipu daya setan dan iblis dalam menyesatkan manusia, serta mengetahui cara menghadapi tipu daya tersebut menjadi penting untuk kita sama-sama kita ketahui sehingga kita mampu terhindar dari tipu daya tersebut.

Di antara pintu-pintu dan metode setan menyesatkan manusia yang perlu kita waspadai  adalah:

Pertama: Pintu Syubhat dan Syahwat

Syubhat berarti suatu yang meragukan dan samar-samar, sedangkan syahwat adalah dorongan hawa nafsu, maka dari sinilah setan akan semakin kuat menggoda, kemudian setan menghembuskan bisikan dan rayuannya. Setan akan yang terus membujuk sehingga seakan membuat hati menjadi tenang  untuk melakukan hal perbuatan tersebut. Bahkan setan telah menghembuskan syubhat dan syahwat iniitu sejak awal permusuhan dengan Nabi Adam, setan telah melakukan langkah-langkah kejinya untuk menggelincirkan anak keturunan adam agar tidak mentaati perintah Allah.

Mari kita perhatikan ucapan setan, dengan tipu dayanya di dalam firman Allah berikut:

"Maka setan menggoda mereka berdua untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya, dan setan berkata, "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)". Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya,"Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua,' maka setan membujuk keduanya dengan tipu daya." 

Dari ayat ini dapat dipetik satu pelajaran penting bahwa setan mempermainkan kecenderungan manusia yang tersembunyi, manusia ingin kekal, diberi umur yang panjang, manusia juga ingin memiliki kepemilikan harta yang tak terbatas padahal usia mereka pendek dan terbatas.

Maka tipuan setan ini adalah kekuasaan yang abadi dan umur yang kekal. Keduanya merupakan syahwat atau kecenderungan yang paling kuat dalam diri manusia, selain syahwat terhadap lawan jenis, yang banyaknya kita dengar bersama berbagai macam kasus dan skandal terjadi, ini membuktikan bahwa setan sudah banyak berhasil dalam menyesatkan manusia.

Ketika Iblis ini mengetahui bahwa Allah melarang Adam dan Hawa memakan buah ini, dan larangan ini terasa berat dalam jiwa mereka, maka untuk menggoyang hati  mereka, iblis menimbulkan khayalan dan angan-angan kepada mereka, di samping juga mempermainkan syahwat dan keinginan mereka.  Bahkan iblis memperkuat dengan sumpah bahwa ia adalah pemberi nasehat yang berlaku jujur.

Pintu setan yang kedua adalah : Al-Hirsh wal Hasad

Menurut Imam Al-Ghazali, diantara pintu-pintu setan yang sangat besar adalah al-hirsh atau tamak dan hasad, yaitu kedengkian. Rasa tamak dan sifat hasad ini menjadi salah satu pintu yang menyebabkan setan bisa masuk ke dalam pikiran dan jiwa manusia kemudian setan menguasainya. Ketika setan sudah mampu menguasai jiwa, maka itu pertanda akan membawa pada kebinasaan.

Imam Abu Dawud dalam Kitab Sunnan-nya menyebutkan sebuah riwayat. Ketika Nabi Nuh ‘Alaihissalam menaiki perahu, dan memasukkan ke dalam perahu itu berbagai makhluk  secara berpasang-pasangan, tiba-tiba beliau melihat seorang tua yang tidak dikenal. Orang itu tidak memiliki pasangan. Nabi Nuh ‘Alaihissalam bertanya, “Untuk apa kamu masuk kemari?” Orang itu menjawab, “Aku masuk kemari untuk mempengaruhi sahabat-sahabatmu supaya hati mereka bersamaku, sementara tubuh mereka bersamamu.” Orang tua itu adalah setan.

Lalu, Nabi Nuh ‘Alaihissalam berkata, “Keluarlah kamu dari sini, hai musuh Allah! Kamu terkutuk!” Iblis itu kemudian berkata kepada Nabi Nuh, “Ada lima hal yang dengan kelimanya aku membinasakan manusia. Akan kuberitahukan yang tiga, dan kusembunyikan yang dua.” Allah mewahyukan kepada Nabi Nuh: “Katakan, aku tidak membutuhkan yang tiga. Aku membutuhkan yang dua.” Lalu Nuh bertanya, “Apa yang dua itu?” Iblis menjawab, “Dua hal yang membinasakan manusia adalah ketamakkan dan kedengkian. Karena kedengkian inilah, aku dilaknat sehingga menjadi terkutuk. Karena dorongan ketamakkan itu pula, Adam dan Hawa tergoda untuk menuruti keinginannya.”

Ketiga : Memandang kecil dan meremehkan dosa-dosa kecil.

Dosa-dosa kecil dampaknya sangat berbahaya bagi manusia, seorang yang menganggap kecil suatu perbuatan dosa maka dengan demikian setan akan selalu menjadikan orang tersebut meremehkan dosa-dosa kecilnya, sehingga dia akan terus menerus melakukannya dan dosa itu akan membinasakannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya
tentang dosa-dosa kecil dengan sabdanya,

“Jauhilah dosa-dosa dan sesuatu yang dianggap dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu ketika dilakukan seseorang maka ia akan membinasakannya.

Tentu ketika kita mengetahui pintu-pintu masuknya setan ini, Allah Swt dengan rahmat-Nya memberikan petunjuk kepada para hamba-Nya melalui Al-Quran dan melalui lisan Rasul-Nya, untuk menghadapi dan  mengusir setiap bisikan dan  godaan setan tersebut. Di antara hal-hal yang dapat dilakukan agar terhindar dari tipu daya setan dan kawanannya adalah sebagai berikut:

Pertama, Menjaga keikhlasan dalam setiap amal ibadah dan perbuatan. Setiap ibadah ataupun amal perbuatan yang dilakukan oleh hamba Allah, pasti setan akan berupaya menyimpangkan amal tersebut agar tidak dilakukan dengan ikhlas, setan akan berupaya keras agar amal itu tidak bernilai di hadapan Allah, bahkan perbuatan itu menjadi amalan yang riya dan syirik. Karena ini sudah merupakan janjinya kepada Allah.

Hamba-hamba yang ikhlas akan dijaga dan diselamatkan dari gangguan setan. Allah yang menyatakan pengakuan setan tersebut  dalam firman-Nya: "Iblis berkata, "Ya Rabb-ku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlash di antara mereka."

Dalam ayat yang lain disebutkan:

"Iblis menjawab, "Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka."

Allah Swt telah menjamin bahwa seorang yang mampu menjaga keikhlasannya dalam beramal setan tidak punya kemampuan dalam menggodanya,

"Sesungguhnya hamba-hamba-Ku yang ikhlas tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat".

Kedua : Menjaga Kestabilan kondisi  Iman. Setan selalu berupaya untuk menggoda dan melemahkan iman seseorang dengan berbagai macam carannya, baik itu kelalaian ataupun perbuatan maksiat. Dengan kemaksiatan, keimanan seseorang akan semakin menurun sehingga dengan mudah setan akan mencelakakann seorang tersebut sehingga ia melakukan perbuatan dosa.

Sesungguhnya seluruh kekuatan, kekuasaan, kesempurnaan hanyalah milik Allah. Oleh karena itu, seorang hamba yang ditolong dan dilindungi Allah dengan menjaga kondisi imannya dengan amal ibadah yang kontinyu, maka tidak ada satu makhlukpun yang mampu mencelakakannya. Allah Swt telah memberitakan hal ini di dalam Al-Quran, sebagaimana firmannya:

"Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb-nya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah"

Ketiga:  Berlindung Kepada Allah Swt. Untuk menghadapi setan dan terhindar dari godaannya, kita dianjurkan bahkan diperintahkan oleh Allah untuk senantiasa berlindung kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan jika kamu digoda oleh setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". 

Dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim disebutkan:

Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda: “Setan datang kepada salah seorang dari kalian lalu berkata, siapakah yang menciptakan ini dan ini? Sehingga setan berkata, “siapakah yang menciptakan Tuhanmu, maka apabila jika telah sampai kepadanya hal tersebut, hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan (waswas tersebut)".

Kelima: Menyelisihi Setan dari setiap perbuatannya. Setan adalah musuh manusia, maka wajib pula untuk menjadikannya sebagai musuh, dan membenci serta meninggalkan perbuatannya. Sebagaimana firman Allah:

"Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala".



Share:

Senin, 05 Januari 2026

Hadis Berdasarkan Sifat Sanadnya

 


A. Hadis Muttaṣil 

1. Pengertian Hadis Muttaṣil

Muttasil adalah bentuk isim fail dari akar kata ittisal yang berarti bersambung. Hadis muttaṣil adalah hadis yang didengar oleh masing-masing periwayatnya dari periwayat di atasnya sampai kepada ujung sanadnya. Hadis muttaṣil disebut juga hadis mauṣūl. 

Melihat pengertian di atas, Hadis muttaṣil mencakup semua hadis yang riwayatnya bersambung, baik itu hadis muttaṣil marfū' (sampai kepada nabi) dan hadis muttaṣil mauqūf (sampai kepada sahabat), atau muttaṣil maqthū‟(sampai kepada tabiin). 

Namun karena hadis yang sampai pada tabi'īn biasa disebut hadis maqthū' (terputus), maka predikat muttaṣil tidak bisa disematkan kepada hadis maqthū', karena akan memunculkan satu hadis dengan dua sifat yang berlawanan (bersambung dan terputus). Oleh karenanya, ibn Sholah berpendapat bahwa hadis muttaṣil hanya terjadi pada hadis marfū' dan mauqūf.

Namun al-Iraqi berpendapat, hadis yang sanadnya bersambung sampai tabi'īn bisa disebut muttasil jika disebutkan nama tabi‟īn yang menjadi ujung sanad.

Contoh:

“Sanad hadis ini muttaṣil sampai kepada kepada Said bin Musayyab (Tabi'īn), Zuhri, Malik, dan lain sebagainya.”

Hukum hadis muttasil adakalanya shahih, ḥasan, dan daīf memandang dari terpenuhinya syarat-syarat masing-masing hadis di atas.


2. Contoh Hadis Muttaṣil

a. Contoh hadis muttaṣil marfū' adalah:

Hadis ini diriwayatkan Imam Abu Dawud dari Abdullah bin Maslamah dari Mālik dari Nāfi' dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Orang yang tidak mengerjakan shalat Asar seakan-akan menimpakan bencana kepada keluarga dan hartanya”. 

b. Contoh hadis muttaṣil mauqūf adalah hadis yang diriwayatkan oleh Mālik dari Nāfi‟ bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar berkata:

 “Barang siapa yang mengutangi orang lain maka tidak boleh menentukan syarat lain kecuali keharusan membayarnya.”

Masing-masing hadis di atas adalah muttaṣil atau mauṣūl, karena masing-masing periwayatnya mendengar hadis dari periwayat di atasnya, mulai dari awal sanad hingga akhir sampai.


B. Hadis Musnad 

1. Pengertian Hadis Musnad

Kata musnad berarti disandarkan atau dikategorikan. Adapun pengertian hadis musnad menurut ahli hadis ialah, “Hadis yang sanad dan periwayatnya sambung hingga kepada nabi muhammad Saw.” Menurut al-Khatib al-Baghdadi, hadis musnad adalah:

“Hadis yang bersambung sanadnya. Hadis ini banyak ditemukan pada sanad yang bersambung sampai nabi Muhammad Saw, bukan yang lain.”

Melihat pengertian di atas, maka hadis musnad tidak harus hadis yang sanadnya sampai pada nabi Muhammad Saw. Artinya mencakup juga hadis mauquf dan hadis maqthu'. Menurut al-Hakim, hadis musnad adalah hadis yang bersambung sanadnya sampai kepada Rasulullah Saw., bukan yang lain.

Dari definisi di atas, hadis musnad mempunyai dua syarat, yakni hadisnya harus sampai kepada nabi (marfū') dan sanadnya bersambung. Imam hakim juga memberi syarat, dalam hadis musnad rawi tidak memakai kata.


2. Contoh Hadis Musnad 

Hadis yang dikeluarkan oleh Bukhari:

“Telah bercerita kepadaku Abdullah bin Yusuf dari Mālik dari Abi Zanad dari al-A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Jika seekor anjing meminum dari bejana salah satu dari kalian, maka cucilah sebanyak tujuh kali.”

Hadis ini sanadnya bersambung dari awal hingga akhir, juga marfū' sampai kepada Nabi. 


C. Hadis Musalsal 

1. Pengertian Hadis Musalsal 

Menurut bahasa, musalsal berasal dari kata musalsal yang berarti berantai. Menurut istilah, hadis musalsal adalah:

“Adalah hadis yang setiap rawinya mengikuti satu sifat atau keadaan tertentu dari para perawi atasnya pada satu kesempatan, dan mengkuti sifat atau keadaan saat periwayatan pada kesempatan yang lain.”

Hadis ini dinamakan musalsal karena saat meriwayatkan hadis, ada keadaan unik tertentu yang dilakukan rawi yang meniru rawi atasnya hingga bersambung sampai Rasulullah Saw. 

Saat menyampaikan hadis ini, para rawi mengucapkan kata tertentu atau melakukan gerakan tertentu sesuai dengan apa yang mereka tiru dari rawi atasnya hingga sampai Rasulullah Saw.


2. Macam-macam Hadis Musalsal

Hadis musalsal memiliki banyak macam, di antaranya: 

1. Hadis musalsal dengan gerakan/tindakan para rawinya.

Contoh hadis ini adalah hadis yang diriwayatkan Imam Hakim;

Para periwayat hadis ini selalu melakukan tasybik (menjalin jari jeri) sebelum menyampaikan hadis. Hal ini karena mengikuti perawi atasnya hingga sampai pada nabi Muhammad Saw.

2. Hadis musalsal dengan perkataan para perawinya

Contoh hadis ini adalah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Muadz bin Jabbal, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, 

“Wahai Muadz, aku mencintaimu. Maka ucapkanlah doa setiap selesai salat: Ya Allah, bantulah hamba untuk berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”

Hadis ini musalsal, karena saat periwayatannya, setiap rawi selalu berkata: wa ana uhibbuka (dan aku mencintaimu)

3. Hadis musalsal memandang sifat periwayatannya

Contoh dari hadis musalsal ini adalah satu hadis yang mana seluruh perawinya menggunakan kata sami'tu fulan atau akhbarna fulan.

4. Hadis musalsal memandang waktu periwayatannya

Contoh dari hadis ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh ibn Abbas Ra, 

“Aku menyaksikan hari raya idul fitri dan idul adha bersama Rasulullah Saw. ketika nabi selesai melakukan salat id, nabi menghadap ke arah kami dan bersabda: wahai manusia, kalian telah menemukan kebaikan. Barang siapa yang ingin pulang, silahkan. Dan barang siapa yang ingin tinggal dan mendengar khutbah, maka tinggallah.”

Hadis ini musalsal karena setiap rawinya memilih hari raya untuk meriwayatkan hadis tersebut.


3. Hikmah dan Hukum Hadis Musalsal

Kegunaan atau hikmah di balik keberadaan hadis musalsal adalah untuk menunjukkan tingkat hafalan rawi yang tinggi. Sedangkan hukum hadis musalsal harus dilihat dari dua elemen hadisnya; asal matan hadis dan sifat tasalsul sanadnya. Jika melihat dari asal matan hadis, maka banyak dari hadis musalsal yang shahih. Namun jika dilihat dari sifat tasalsul sanadnya, maka jarang ada sifat tasalsul sanad hadis yang lepas dari sesuatu yang melemahkannya. Oleh karenanya, dalam meneliti sifat sanad hadis musalsal, perlu pembahasan dan penelitian yang mendalam.


D. Hadis Mu’an’an 

1. Pengertian Hadis Mu’an’an 

Hadis Mu'an'an adalah Hadis yang dalam sanadnya memakai redaksi "'an" ْ (dari) tanpa menyebut dengan jelas, apakah perawi mendapat hadis dengan cara mendengar langsung, diberitahu perawi atasnya, atau yang lain. Ketika redaksi "'an" diucapkan pada sanad tingkat sahabat, maka ada dua kemungkinan:

a. Apabila sahabat yang meriwayatkannya termasuk sahabat yang sebagian besar hidupnya senantiasa bersama Nabi, maka redaksi "'an" sama dengan redaksi "sami'tu"

b. Apabila sahabat yang meriwayatkannya merupakan sahabat yang sedikit kesempatan bertemu nabi, maka sanadnya perlu ditinjau ulang.

 Untuk bisa dikategorikan sebagai hadis muttaṣil dan bisa diamalkan, hadis mu'an'an harus memenuhi beberapa syarat:

a. Perawi adalah orang yang adil dan bukan seorang mudallis. 

b. Setiap perawi hadis dan perawi atasnya harus pernah bertemu.  

Syarat kedua ini dikemukakan oleh imam Bukhari. Namun menurut imam Muslim, kedua rawi cukup disyaratkan hidup berada dalam satu masa meskipun tidak diketahui keduanya pernah bertemu. Abul Mudzoffar as-Sam‟ani memberi syarat ketiga, yakni kedua rawi disyaratkan harus pernah hidup bersama dalam waktu yang lama.

Hadis mu'an'an banyak ditemukan di kitab shahih muslim. Hal ini tak lepas dari pendapat beliau yang tidak menyaratkan kedua rawi hadis mu‟an‟an harus bertemu, melainkan cukup hidup dalam satu masa. 

2. Contoh Hadis Mu’an’an

“Artinya: “Utsman bin Abi Syaibah menceritakan kepadaku, dia berkata: Muawiyah ibn Hisyam bercerita kepadaku, dia berkata: Sufyan bercerita kepadaku dari Usamah ibn Zaid, dari Utsman ibn Urwah, dari Urwah, dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat merahmati orang yang salat berada pada shaf kanan.” (HR. Ibn Majah)

Hadis ini disebut hadis mu'an'an karena dalam sanadnya memakai huruf “'an"


E. Hadis Muannan 

Kata mu'ann'an adalah isim maful dari kata kerja annana  yang berarti mengucap lafad anna Sehingga pengertian hadis muannan adalah hadis yang perawinya mengucap lafad anna seperti haddasana fulan anna fulan.

Adapun hukum hadis muannan menurut imam Ahmad dan beberapa ulama lain adalah munqothi' sampai diketahui urutan persambungan sanadnya. Sedangkan menurut mayoritas ulama, hadis muannan sama dengan hadis mu'an'an sehingga bisa dikategorikan muttasil selama memenuhi syarat-syaratnya.


F. Hadis ‘Aly dan Nazil 

Secara bahasa, 'aly berarti tinggi. Sedangkan secara istilah, hadis 'aly adalah hadis yang jumlah perawinya sedikit. Hadis 'aly terbagi menjadi dua:

1. Hadis 'aly mutlak

Adalah hadis yang memiliki mata rantai sanad yang pendek sebab sedikitnya rawi, namun dengan sanad yang bersih dari sesuatu yang melemahkannya. Ini adalah tingkatan tertinggi hadis 'aly.

2. Hadis 'aly nisbi 

Hadis 'aly nisbi adalah hadis yang meski memiliki mata rantai sanad yang panjang, namun memiliki keistimewaan dibanding dengan sanad yang lain. Hadis 'aly nisbi terbagi menjadi empat: 

a. Hadis 'aly yang disebabkan dekat dengan salah satu imam hadis seperti Imam Malik, Imam Auza'iy, dan yang lainnya, meski setelah imam tersebut banyak rawi sebelum sampai pada nabi Muhammad Saw. 

b. Hadis 'aly yang disebabkan riwayat dari kitab shahih bukhari, shahih muslim, dan kitab induk hadis lainnya. 

c. Hadis 'aly yang disebabkan periwatnya meninggal terlebih dahulu. 

d. Hadis 'aly yang disebabkan oleh rawi hadis mendengar hadis lebih lama dari rawi yang lain. Contoh jika dua orang mendengar hadis dari orang yang sama. 

Namun rawi satu telah mendengar hadis tersebut sejak enam puluh tahun, dan yang lain mendengarnya sejak empat puluh tahun.

Sedangkan hadis nazil adalah kebalikan dari hadis 'aly, di mana dalam riwayatnya terdapat banyak rawi dibanding dengan riwayat yang lain. Menurut mayoritas ulama, hadis nazil lemah dibanding dengan hadis 'aly, kecuali jika ada keistimewaan dalam riwayatnya (seperti rawinya lebih alim fikih dll). Jika demikian, maka hadis nazil yang lebih dipilih daripada hadis 'aly.

Share:

Hadis Maudhu' dan Cara Mendeteksinya!

 

Sudah semenjak dulu, cara paling ampuh untuk membuat wacana yang membenarkan salah satu pihak adalah dengan membuat berita palsu. Apalagi dengan mengatasnamakan Rasulullah Saw. yang tidak pernah berdusta. Dimulai dari perbedaan pandangan politik, muncul hadis hadis palsu untuk membenarkan kelompoknya dan memperkuat argumen mereka, sehingga yang salah seakan-akan benar. Ketika hadis-hadis palsu mulai beredar, terjadilah gejolak yang tidak berkesudahan. Dengan berita palsu inilah, para musuh Islam merasakan angin segar yang dapat merusak Islam dari dalam untuk menciptakan adu domba antar kelompok Islam. Untuk mencegah hal itu terjadi, ulama-ulama yang benar-benar ikhlas untuk mencari ridha Allah berjuang keras untuk memerangi hadis palsu.


A. Pengertian Hadis Mauḍu’

Secara bahasa, maudhu' diambil dari kata wada'a yada'u yang berarti al-ittiro` dan al ikhtilaq (mengada-ada atau membuat-buat). Sedangkan secara istilah, pengertian hadis Maudu' adalah: 

 “Perkataan bohong yang dibuat-buat dan direkayasa kemudian disandarkan kepada Rasulullah Saw.”

Jadi, hadis maudhu‟ adalah hadis yang penyebab cacatnya karena berdusta dengan mengatasnamakan Rasulullah Saw.


B. Sejarah Hadis Maudhu’

Kronologi munculnya hadis-hadis palsu sudah ada pada era sahabat. Berawal pada peristiwa terbunuhnya Usman bin Affan yang berdampak terjadi instabilitas politik antara kedua golongan, yakni Ali bin Abi Thalib yang didukung penuh oleh masyarakat Hijaz dan Irak serta Muawiyah yang didukung oleh masyarakat Mesir dan Syam.

Ketegangan antara kedua kelompok tersebut berujung dengan terjadinya perang Siffin yang berujung pada peristiwa arbitrase (tahkim). Kesepakatan dilaksanakannya tahkim sendiri telah menimbulkan perpecahan dalam kelompok-kelompok Islam. Mulai munculnya Khawarij, Syiah (pro-Ali) dan golongan Pro-Muawiyah. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Hadis As-Syarif menjelaskan:

“Pemalsuan hadis tampak sejak tahun 41 H. ketika terjadi perpecahan kaum Muslimin menjadi beberapa golongan secara politik, yaitu Syiah, Khawarij, dan jumhur sehingga muncul para ahli bidah dan orang yang mengikuti hawa nafsunya. Mereka membuat-buat beberapa hadis untuk mendukung golongan mereka serta menyebarkan perbuatan bidah mereka.”

Dipercaya atau tidak, ketiga golongan ini sebenarnya muncul atas landasan politik. Hal ini terbukti peristiwa tahkim antara Muawiyah dan Ali yang merupakan proses politik. Kemunculan tiga golongan inilah yang menjadi asal-muasal munculnya hadis-hadis palsu yang digunakan untuk membela kepentingan-kepentingan mereka.

Muncullah hadis-hadis palsu tentang kelebihan dan keutamaan khulafa‟u rasyidin dan kelebihan-kelebihan atau partai tertentu. Bahkan muncul pula hadis-hadis yang secara tegas mendukung aliran-aliran politik dan kelompok-kelompok agama tertentu.

Masa-masa instabilitas politik saat itu sebenarnya disebabkan adanya hoaks berupa hadis-hadis palsu yang telah terdistribusikan dengan sangat masif. Baik melalui mulut ke mulut, maupun dari mimbar-mimbar ceramah. Penyebaran hoaks berupa hadis-hadis palsu tersebut bisa dilakukan oleh perorangan atau perkelompok.

Menurut Ibnu Abi Al-Hadid dalam Syarh Nahju Al-Balaghoh, golongan yang pertama kali membuat hadis palsu adalah kaum syiah. Mereka membuat hadis palsu untuk menyerang musuhnya. Setelah itu, musuh kaum Syiah membuat hadis palsu untuk membela kelompoknya dan untuk melawan Syiah. Kemudian muncul musuh-musuh Islam berpura-pura sebagai golongan Syiah untuk menutupi kedoknya dan ikut membuat hadis hadis palsu mengatasnamakan Syiah. Maka terjadilah fitnah yang sangat luas.

Setelah muncul beberapa fitnah disebabkan adanya penyebaran hadis palsu tersebut, para ulama melakukan seleksi ketat untuk memilah-memilih hadis yang memang benar-benar dari Nabi Saw. Keseriusan para ulama menelurkan karya keilmuan yang luar biasa dan bisa kita pelajari hingga sekarang. 


C. Sebab Terciptanya Hadis Maudhu’


Ada beberapa sebab yang mendorong orang untuk memalsukan hadis. Di antaranya:  

1) Membela pendapat kelompok tertentu. 

Sebagaimana sejarah awal pembuatan hadis a'īf adalah untuk memperkuat faham yang dianut oleh kelompoknya. Seperti kaum Rofidhoh yang melakukan bid‟ah sehingga mereka membuat hadis yang dapat membenarkan fahamnya.

 2) Untuk merusak Islam dari dalam.

Saat daulah Islam mengalami kejayaan, kebenaran ditegakkan. Yang salah dihukum, dan orang yang dizalimi dapat menuntut haknya. Saat itu Islam menyebar luas dan orang-orang yang tertindas mulai condong untuk masuk Islam. Mereka merasakan Islam sangat menghormati kemanusiaan.

 Musuh-musuh Islam mulai merasa terancam. Mereka tidak mampu melawan kaum muslim dengan peperangan karena kuatnya kekuatan kaum muslim yang begitu besar. Oleh karenanya, mereka menyusup ke kelompok-kelompok Islam dan ikut membuat hadis palsu agar umat Islam terpecah belah dan salah memahami agamanya.

Di antara orang yang pernah melakukan ini adalah Abdul Karim bin Abi al Auja`. Sebelum dihukum pancung, dia mengakui telah membuat hadis palsu. Dia mengatakan, “Demi Allah, aku telah membuat empat ribu hadis yang di dalamnya mengharamkan hal yang halal dan menghalalkan hal yang haram.”

3) Untuk mendekati penguasa.

 Sebagian pemalsu hadis membuat hadis palsu yang berkaitan dengan penguasa. Tujuannya untuk memuji dan mendekati penguasa. Misalnya, kisah Ghiyats bin Ibrahim an-Nakha‟i yang memalsukan hadis agar bisa dekat dengan Amirul Mukminin al-Mahdi.

4) Untuk mencari harta.

Biasanya hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berprofesi sebagai pencerita atau pendongeng. Melalui cerita-cerita itu, mereka mendapatkan uang dari pendengarnya. Untuk menarik pendengar, sebagian mereka memalsukan hadis. Di antara yang melakukan ini adalah Abu Sa‟id al-Mada'ini.

5) Untuk mencari popularitas.

Supaya semakin populer dan dikenal banyak orang sebagai periwayat hadis, golongan ini membuat hadis yang tidak pernah diriwayatkan oleh orang lain. Melalui hadis palsu itu mereka semakin dikenal karena tidak ada yang meriwayatkan selain dia. Di antara yang memalsukan hadis demi popularitas adalah Ibnu Abi Dahriyah.

6) Untuk memotivasi ibadah

Maksudnya, pemalsu hadis membuat hadis dan mengatasnamakan Rasulullah agar orang lain termotivasi untuk beribadah. Memang niatnya bagus, tetapi caranya tidak benar. Salah satu pemalsu hadis dengan tujuan ini adalah Maysarah bin Abdu Rabbihi. Ibnu Mahdi, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Hibban, pernah bertanya kepada Maysarah:

“Dari mana kamu mendapatkan hadis ini, orang yang membaca ini akan mendapat pahala ini? Maysarah menjawab, Saya memalsukannya supaya orang-orang termotivasi.”  


D. Contoh Hadis Maudhu’

Setelah mengetahui sejarah pembuatan hadis a'īf dan motif-motif pembuatannya, berikut beberapa contoh hadis da'īf.

1) Hadis yang dibuat oleh golongan Syiah (golongan yang fanatik terhadap Sahabat Ali), di antaranya 

“Pengganti kepemimpinanku adalah dari keluargaku. Dan orang terbaik yang menjadi penggantiku adalah Ali.”

“Wahai Ali, sesungguhnya Allah memaafkanmu, keluargamu, kedua orangtuamu, golonganmu, pengikutmu dan orang-orang yang mencintai pengikutmu.”

2) Hadis yang dibuat oleh golongan pendukung Muawiyah  

“Orang-orang yang terpecaya di sisi Allah ada tiga: aku, Jibril, dan Mu'awiyah”


E. Cara Menghindari Hadis Maudhu’

Para ulama yang ikhlas sangat bersungguh-sunguh dalam memerangi hadis Maudhu‟ ini. Mereka meneliti dan memisahkan hadis-hadis Maudhu‟ demi menjaga kemurnian ajaran agama. Mereka mengkaji semua hal-yang berkaitan dengan hadis Nabi Saw. baik dari sisi riwayat ataupun isi matan hadis. Berikut hal-hal-yang dilakukan oleh ulama untuk menjaga kemurnian hadis:

 1) Menetapkan sanad

Para sahabat, tabi‟in, dan pengikut tabi‟in sangat bersungguh-sungguh dalam mencari sanad dari rawi, karena nasab dalam hadis seperti jalur nasab bagi seseorang. Abdullah ibnu al-Mubarak berkata, “Sanad termasuk bagian dari agama, seandainya tidak ada sanad maka setiap orang akan mengatakan apa yang dikehendakinya.”

Mengambil sanad yang muttasil termasuk hal yang sangat diperhatikan sejak masa tabi‟in. Sehingga menjadi kewajiban bagi orang yang menyampaikan hadis untuk menyebutkan sanadnya. Dengan sanad ini, hadis dapat diyakini kebenarannya dari Rasulullah Saw. sehingga hati kita akan lebih menerima hadis dengan sanad muttasil.

2) Berkembangnya keilmuan di bidang hadis

Semangat keilmuan di bidang hadis mulai menggeliat dari era sahabat. Pada masa tabi‟in, jika mendapat hadis bukan dari sahabat, mereka akan mencari sahabat nabi yang masih hidup untuk memastikan kebenarannya. Begitu juga para pengikut tabi‟in terhadap tabi‟in, dan begitu seterusnya. Mereka melakukan rihlah (perjalanan) untuk mencari sumber hadis yang terpercaya.

Ahli hadis sangat bersemangat dalam menghafal hadis dan mendiskusikan hadis bersama para ahli hadis yang lain. Mereka menghafal hadis shahih, a'īf dan maudhu‟ sehingga tidak ada yang kekeliruan dalam menstatuskan hadis. 

3) Membentengi hadis dari kebohongan

 Ulama ahli hadis sangat berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan hadis. Mereka menjelaskan hadis-hadis maudhu' dan tidak lengah untuk memerangi para pendusta. Hasilnya, orang-orang awam dapat mengetahui hadis palsu dan menghindarinya.

4) Menjelaskan sifat-sifat rawi

Para ahli hadis mencari tahu sifat-sifat rawi, tentang kejujurannya dan kemampuan menjaga isi hadis, supaya dapat membedakan mana hadis yang shahih dan yang  bukan. Karena itu, mereka meneliti kehidupan rawi untuk mengetahui sifat-sifat kesehariannya.

5) Membuat kaidah untuk mengetahui hadis maudhu'

Ulama ahli hadis membuat kaidah untuk menentukan hadis maudhu' sebagaimana kaidah untuk menentukan hadis shahih dan ḥasan. Untuk kaidahnya akan dijelaskan di sub setelah ini.


F. Cara Mengetahui Hadis Maudhu’

1) Pengakuan dari pemalsu hadis itu sendiri.

  Misalnya, Abu „Ismah Nuh bin Abu Maryam pernah mengaku bahwa ia permah memalsukan hadis terkait keutamaan beberapa surat dalam Al-Qur‟an. Hadis palsu ini ia sandarkan kepada sahabat Ibnu Abbas RA.

2) Membandingkan tahun kelahiran rawi dan wafat gurunya.

Cara berikutnya adalah menelusuri orang yang meriwayatkan hadis dengan tahun wafat gurunya yang disebutkan dalam silsilah sanad. Jika perawi hadis itu lahir setelah wafat gurunya, maka hadis tersebut bisa dikategorikan hadis palsu. Karena bisa dipastikan keduanya tidak mungkin pernah bertemu.

 3) Melihat ideologi perawi hadis.

Sebagian perawi hadis ada yang fanatik dengan aliran teologi yang dianutnya. Misalnya, perawi hadis Rafidhah yang sangat fanatik dengan ideologinya, maka hadis-hadis yang disampaikannya terkait keutamaan ahlul bait tidak dapat diterima kebenarannya.

 4) Memahami kandungan matan hadis dan bahasanya.

Biasanya, hadis palsu secara tata bahasa tidak fasih. Sehingga ahli bahasa sadar kalau isi bahasanya tidak fasih apalagi disabdakan dari Nabi Saw. dan terkadang maknanya bertentangan dengan Al-Qur‟an, Hadis mutawatir atau dengan ijma‟.

Share:

Mengenal Hadis Dhaif dan Kehujjahannnya dalam kehidupan Sehari-hari!

 

Dalam menggunakan hadis sebagai dalil, ada klasifikasi hadis yang bisa dijadikan hujjah untuk menentukan masalah akidah atau keimanan, halal atau haram dan ada yang hanya bisa dijadikan sebagai dalil untuk anjuran melakukan hal-hal yang sunah.

Dalam bab ini disajikan klasifikasi hadis yang tidak bisa dijadikan hujjah yaitu hadis daīf. Selain itu dalam bab ini juga disajikan hal-hal yang berhubungan dengan hadis Dhaif seperti sebab-sebabnya dan macam-macamnya.

A. Pengertian Hadis Ḍa’īf

Secara bahasa, da'īf berarti lemah. Sedangkan definisi menurut istilah adalah “Hadis yang tidak memenuhi ketentuan dari hadis ḥasan, karena tidak memenuhi satu syarat dari syarat-syaratnya hadis ḥasan.”

Dengan tidak memenuhi ketententuan syarat dari hadis ḥasan, berarti juga tidak memenuhi ketentuan syarat hadis ṣaḥīḥ, karena syarat hadis ṣaḥīḥ lebih ketat.

Contoh hadis daīf:

“Rasulullah Saw. berwudhu dengan mengusap dua kaos kaki dan kedua sandal”

Hadis ini daīf karena hanya diriwayatkan dari jalur Abi Qais al-Audiy. Sedangkan Abi Qais al-Audiy merupakan perawi yang daīf.


B. Sebab-sebab Hadis Ḍa’īf


1. Sanadnya tidak bersambung, karena ada beberapa periwayat yang tidak saling bertemu (gugur) dengan pemberi informasi (guru).

2. Adanya cacat pada periwayat baik pada aspek sifat adil atau kekuatan menjaga hadis dengan hafalan atau tulisan.

3. Bertentangan dengan riwayat yang diriwayatkan oleh rijāl al- ḥadīṡ yang lebih ṡiqah.

4. Terdapat cacat yang samar yang dapat merusak ke ṣaḥīḥan ḥadīṡ. Seperti; katakatanya tidak mungkin diucapkan oleh Nabi Saw.


C. Macam-macam Hadis Ḍa’īf

Macam-macamnya hadis daīf banyak sekali. Satu ulama membagi hadis daīf menjadi 81. Ada yang mengatakan 49 dan ada juga yang mengatakan 42. Dari banyaknya pembagian ini, tidak semua memiliki nama. Maka dari itu, perlu untuk dikasifikasikan lebih lanjut.

Untuk mempermudah pembagiannya, ulama mengklasifikasikan hadis daīf berdasarkan sebab ke daīfannya, yaitu; yang disebabkan putusnya sanad dan yang disebabkan faktor lain.

1. Hadis ḍa’īf sebab putusnya sanad

a. Al-Mursal

Hadis al-mursal adalah hadis yang disampaikan oleh tabi`in baik berupa ucapan, perbuatan maupun ketetapan yang disandarkan pada Rasulullah Saw. tanpa menyebutkan sahabat yang meriwayatkan kepadanya.

Pendapat ulama tentang kehujjahan hadis mursalnya tabi'in:

1) Pendapat pertama: diperbolehkan membuat hujah dengan semua hadis mursal. Ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad menurut satu keterangan.

2) Pendapat kedua: tidak diperbolehkan membuat hujjah dengan hadis mursal secara mutlak. Ini merupakan merupakan pendapat Imam Nawawi dari mayoritas ahli hadis dan Imam Syaf'i'i.

3) Pendapat ketiga: diperbolehkan membuat hujjah dengan hadis mursal, dengan syarat hadis memiliki penguat. Penguat tersebut bisa berupa hadis yang sanadnya sambung, hadis mursal yang diriwayatkan dari jalur lain. Hadis tersebut juga bisa dikuatkan dengan adanya sebagian sahabat atau banyak ulama yang mengamalkannya.

Contoh

Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya penyakit demam (panas) berasal dari panasnya neraka jahanam”

Hadis ini termasuk hadis mursal, karena  Atha` yang merupakan tabi'in langsung menyandarkan hadis pada Rasulullah Saw. tanpa menyebutkan sahabat yang meriwayatkan padanya.


b. Al-Munqathi'

Hadis al-munqathi' adalah hadis yang dalam sanadnya terdapat rawi yang tidak disebutkan atau tidak jelas identitasnya.

Contoh yang hadis yang salah satu rawinya tidak disebutkan adalah hadis:

Rasulullah Saw. bersabda: “Apabila kalian menjadikan Abu bakar sebagai pemimpin maka dia adalah orang yang kuat dan terpercaya”

Dalam sanad hadis di atas, ada rawi yang tidak disebutkan dalam dua tempat, yaitu 'Abdurrazaq tidak mendengar dari ats-Tsauri, akan tetapi mendengar dari an-Nu'man bin Abi Syaibah yang mendengar dari as-Tsauri, dan as-Tsauri tidak mendengar dari Abi Ishaq tetapi dari mitranya Abi Ishaq. 


c. Al-Mu' al

Adalah hadis yang menggugurkan dua rawi atau lebih secara berurutan. Contohnya tabi'in-tabi'in langsung menyandarkan hadis pada Rasulullah Saw. Termasuk hadis mu' al adalah hadis yang diriwayatkan oleh ulama fikih dengan langsung mengatakan Rasulullah Saw. bersabda demikian........


d. Al-Mudallas

Arti tadlis adalah menyembunyikan aib. Tadlis terbagi menjadi dua, yaitu tadlis pada sanad dan tadlis pada guru. Tadlis pada sanad adalah rawi memberi pemahaman kalau dia mendengar langsung dan meriwayatkan dari orang yang hidup sezaman, padahal dia belum pernah berjumpa, atau pernah berjumpa akan tetapi tidak mendengar langsung darinya. Contohnya meriwayatkan dengan kata “saya mendengarnya padahal dia tidak pernah mendengar langsung. Tadlis Syuyukh yaitu rawi menamakan gurunya dengan nama julukan yang tidak dikenal. Contoh ungkapan Abi Dawud Al-Muqri', “saya mendengar dari Abdullah bin Abi Abdullah” dengan menghendaki Abdullah bin Abu Dawud as Sajastani. Abi Dawud tidak dikenal dengan sebutan Abi Abdullah.


e. Al-Mu‟allaq

Mu'allaq secara bahasa adalah isim maf'ul yang berarti terikat dan tergantung. Sanad yang seperti ini disebut mu‟allaq karena hanya terikat dan tersambung pada bagian atas saja, sementara bagian bawahnya terputus, sehingga menjadi seperti sesuatu yang tergantung pada atap dan yang semacamnya.  Hadis mu‟allaq menurut istilah adalah hadis yang gugur perawinya, baik seorang, baik dua orang, baik semuanya pada awal sanad secara berturutan. Diantara bentuknya adalah bila semua sanad digugurkan dan dihapus, kemudian dikatakan : “Rasulullah Saw. bersabda begini....”. Atau dengan menggugurkan semua sanad kecuali seorang shahabat, atau seorang shahabat dan tabi‟in. Hadis mu‟allaq adalah hadis mardud (ditolak) karena gugur dan hilangnya salah satu syarat diterimanya suatu hadis, yaitu bersambungnya sanad, dengan cara menggugurkan seorang atau lebih dari sanadnya tanpa dapat diketahui keadaannya.


2. Penyebab Hadis Ḍa’īf selain Faktor Putusnya Sanad

a. Al-Muda'af

Adalah hadis yang masih diperselisihkan ke- daīf-annya. Sebagian ulama ahli hadis mengatakan suatu hadis daīf dan menurut sebagian yang lain hadis tersebut ṣaḥīḥ, namun ke-daīf-annya lebih unggul daripada ke-ṣaḥīḥ-annya atau tidak ada yang diunggulkan dari dua pendapat tersebut. Oleh karena itu hadis mu a'af merupakan hadis daīf yang paling tinggi derajatnya.

b. Al-Muttharib

Adalah hadis yang memiliki banyak jalur sanad dengan isi yang berbeda-beda, dan satu sanad tidak lebih unggul dari yang lain. Bila mungkin diunggulkan salah satunya, maka yang dipakai yang unggul dan bisa dihukumi ṣaḥīḥ. Diunggulkannya satu sanad ini karena para perawinya lebih terpercaya. Hadis yang diunggulkan ini tidak disebut hadis mutthorib lagi. Perbedaan isi matan hadis ini menjadikan hadisnya daīf karena menunjukan tidak adanya sifat ābiṭ dari periwayatnya. Padahal ābiṭ merupakan syarat hadis ṣaḥīḥ dan ḥasan.

c. Al-Maqlub

Adalah hadis yang sebagian rawi membalik isi matan hadis, nama rawi, atau sanadnya dengan matan hadis lain. Contoh hadis yang terbalik isi matannya adalah hadis Imam Muslim yang menjelaskan tujuh orang yang mendapat naungan Allah Swt. di hari tidak ada naungan sama sekali, dengan redaksi: 

“Dan seorang laki-laki yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai tangan kanannya tidak tau apa yang diberikan oleh tangan kiri” 

Matan hadis ini terbalik melihat dari isi matan yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang lain yaitu:

“Dan seorang laki-laki yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai tangan kirinya tidak tau apa yang diberikan oleh tangan kanan”

Contoh membalik nama rawi separti Marroh bin Kaab dan Kaab bin Marroh. Hukum membolak-balik sebagaimana di atas dengan tujuan menyamarkan hadis atau supaya hadisnya dapat diterima adalah tidak diperbolehkan menurut semua ulama ahli hadis seperti halnya membuat hadis maudhu‟ Sedangkan membolak-balik sanad ataupun matan dengan tujuan untuk menguji ahli hadis diperbolehkan. seperti yang dilakukan para ahli hadis pada imam Bukhari di Baghdad. Karena dengan ini, dapat diketahui ketinggian derajat keilmuan seorang rawi. Karena seorang rawi tidak akan tahu satu hadis terbalik kecuali seorang yang ilmunya luas dan dalam.


d. As-Syaż

Definisi hadis syaż adalah hadis yang diriwayatkan oleh orang yang diterima riwayatnya namun bertentangan dengan periwayat yang lebih utama darinya. Imam Syafii pernah berkata, “hadis syaż bukanlah hadis yang diriwayatkan oleh satu-satunya rawi yang ṡiqah tanpa ada rawi yang lain. Akan tetapi hadis syaż adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak rawi yang ṡiqah akan tetapi ada salah satu rawi yang meriwayatkan berbeda.”

Maka dari itu syarat hadis syaż ada dua, diriwayatkan dari satu rawi dan berbeda dengan rawi-rawi yang lain. Kalau ada hadis yang berbeda dan salah satunya lebih unggul karena lebih kuat hafalannya atau rawinya lebih banyak, maka yang unggul disebut hadis maḥfudz dan yang lemah disebut hadis syaż.

Contoh hadis syaż.

“Apabila salah satu kalian telah sholat dua rakaat fajar maka hendaklah dia berbaring miring di atas pinggang kanannya”

Al-Baihaqi mengatakan “Abdul Wahid berbeda dengan rawi-rawi yang lain.” Karena kebanyakan rawi meriwayatkan berupa perbuatan Nabi Saw., bukan dari sabda Nabi Saw. Maka riwayat Abdul Wahid bertentangan dengan kebanyakan riwayat kemudian dihukumi syaż.

Contoh hadis maḥfu :

“Rasulullah Saw. ketika telah shalat dua rokaat fajar maka dia berbaring miring di atas pinggang kanannya”


e. Al-Munkar

Adalah rawi daīf yang bertentangan dengan rawi-rawi yang terpercaya. Maka dari itu syarat munkar ada dua, diriwayatkan oleh satu rawi a‟īf dan bertentangan dengan hadis yang lain. Seandainya ada hadis yang hanya diriwayatkan oleh rawi aaīf dan tidak bertentangan dengan rawi-rawi yang lain, maka tidak dapat dikatakan hadis munkar melainkan hadis daīf.


f. Al-Matruk

Adalah hadis yang diriwatkan oleh rawi yang diduga berbohong dalam meriwayatkan hadis, sering berbohong dalam ucapannya, orang yang fasik, atau orang yang melakukan kesalahan berat dalam menyampaikan hadis dan sering lupa. Seperti hadis yang diriwayatkan Amr bin Syamr dari Jabir Al-Ja'fii. Hadis matruq merupakan hadis a‟īf yang derajatnya paling rendah.


D. Kehujjahan Hadis Ḍa’īf

Terdapat perbedaan mengenai apakah hadis daīf dapat dijadikan hujjah atau tidak. Perbedaan ini terbagi menjadi tiga: Pendapat pertama mengatakan tidak boleh mengamalkan hadis daīf secara mutlak, baik dalam permasalahan fadailul amal atau yang lain. Ini merupakan pendapat imam Ibnu Hazm. Pendapat kedua mengatakan boleh mengamalkan hadis daīf secara mutlak. Ini merupakan pendapat imam Abu Dawud dan Imam Ahmad. Pendapat ketiga mengatakan boleh mengamalkan hadis a‟īf jika berisi keutamaan-keutamaan suatu amal dan petuah asalkan memenuhi beberapa syarat. Ibnu Hajar menyebutkan syarat-syaratnya sebagai berikut:

1. Ke- daīf-annya tidak terlalu berat, maka tidak boleh mengamalkan hadis yang diriwayatkan oleh rawi pembohong.

2. Masuk pada cakupan keumuman hadis yang ṣaḥīḥ.

3. Ketika mengamalkan tidak bertujuan membenarkan/melegalkan hadis, akan tetapi bertujuan untuk hati-hati.


E. Cara Meriwayatkan Hadis Ḍa’īf

Menurut ulama ahli hadis, bagi orang yang meriwayatkan hadis daīf tidak diperbolehkan meriwayatkan hadis dengan ungkapan yang meyakinkan. Contohnya mengatakan:

Rasulullah Saw. bersabada demikian, dan sesamanya.

Namun riwayat hadis daīf dengan ungkapan yang menunjukan keraguan ke-ṣaḥīḥ-an hadis seperti Ketika meriwayatkan hadis ṣaḥīḥ, makruh menggunakan ungkapan ini, tapi harus dengan ungkapan yang meyakinkan.


Share:

Sifat Kikir Manusia Dalam Al-Quran


“Katakanlah: ‘kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhan-Ku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.’ Dan manusia itu sangat kikir.”

(QS. Al-Isra: 100)

 

Kikir sering kali dikaitkan dengan harta benda kepemilikan. Seseorang dikatakan kikir apabila ia tidak mau berbagi dengan apa yang ia miliki terkait kewajiban dan hak orang lain. Kikir merupakan penyakit hati yang sulit dideteksi terutama bagi orang yang mengidap penyakit tersebut. Seolah ia merasa baik-baik saja. Dengan tidak memberi, ia beranggapan hartanya akan bertambah, hidupnya berkecukupan, kebutuhannya terpenuhi, sehingga tidak ada yang kurang dan merasa hidupnya aman. Padahal Allah berfirman:

“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (dilehernya) pada hari kiamat. Milik Allah lah warisan (apa yang ada) dilangit dan dibumi. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kikir adalah mempersempit pergaulan, merasa berat memberikan kepunyaannya untuk orang lain dan apa yang ada padanya tidak ingin berkurang. Dalam Al-Quran terdapat empat term yang digunakan untuk menyebut sifat kikir yaitu al-bukhl, asy-syuhh, al-qatura dan aḍḍan.

Salah satu contoh seperti firman Allah dalam QS. An-Nisa: 37

“(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.”

Hamka dalam tafsirnya menjelaskan bahwa bakhil pada ayat ini dipandang lebih luas dan bukan hanya perihal harta benda saja. Seseorang yang punya pengetahuan luas dan mendalam mengenai agama lalu tidak mau mengajarkan kepada penduduk kampungnya yang awam, maka itu juga di sebut bakhil.

Jika dilihat dalam kehidupan bermasyarakat banyak dijumpai sikap dan tindakan yang mencerminkan sifat kikir. Bisa dikatakan sifat kikir ini telah menjadi gejala sosial yang sulit diatasi sampai saat ini. Seperti permasalahan harta warisan yang kerap kali mengakibatkan rusaknya persaudaraan, enggan mengeluarkan zakat dan tidak mau peduli dan berbagi dengan orang disekitarnya yang membutuhkan. Harta memang dipandang sebagai sarana mencapai kebaikan dan merupakan perhiasan hidup serta kunci kesejahteraan untuk kemashlahatan hidup manusia. Sebaliknya harta juga merupakan fitnah terbesar yang menyebabkan sebagian orang terlalu mencintai dan rakus terhadapnya.

Kemudian jika diperhatikan lagi sifat kikir itu bukan hanya terkait tidak mau memberi, akan tetapi orang yang kelihatannya dermawan suka memberi ternyata mereka itulah orang yang sebenarnya kikir. Ketika memberi ada rasa sakit dan ketidakrelaan yang ia rasakan sesungguhnya itu mencerminkan dari sifat kikirnya. Selain itu praktek memberi dengan tujuan mendapatkan hasil yang lebih besar dari apa yang diberikan disertai adanya unsur riya’ yakni ingin mendapatkan pujian dan kemasyhuran di tengah masyarakat. Seperti budaya kampanye dalam kegiatan pemilu. Biasanya oknum-oknum yang mencalonkan diri itu berlagak seolah orang yang paling dermawan dengan memberi sumbangan atau bantuan kepada masyarakat bawah. Pada dasarnya memberi dalam hal itu bukanlah karna rasa dermawan akan tetapi karna ingin memperoleh yang lebih banyak dari apa yang telah diberikan buktinya setelah namanya naik dan terpilih, mereka hanya sibuk memperkaya diri dan tidak lagi menghiraukan kebutuhan masyarakat.

Kemudian ada juga fenomena tahunan tepatnya bisa disaksikan ketika lebaran saat jamaah suatu kampung berkumpul di masjid. Sebelum menunaikan shalat Id, biasanya pengurus masjid menyeru jamaah untuk berinfak atau bersedekah. Nyatanya di antara jamaah ada yang antusias tiap tahun mengeluarkan infak dengan syarat meminta agar pengurus masjid tersebut menyebutkan namanya dan nominal infak yang diberikan. Sehingga dengan demikian menjadikan dia berbangga diri dengan apa yang telah diberikan. Bukankah hal itu sebenarnya mencerminkan sifat kikir dalam jiwa seseorang? Berbuat hanya untuk dinilai dermawan oleh manusia dan berbuat hanya untuk kemasyhuran di tengah masyarakat. Bukan karena Allah semata.

Adapun karakteristik sifat kikir sebenarnya telah disebutkan secara terang-terangan dalam Al-Quran.

1.      Kikir dan Menyuruh Orang Lain Berbuat Kikir serta Menyembunyikan Karunia Allah swt

Sifat kikir yang dimiliki oleh seseorang bukan hanya menjadikan dirinya sendiri yang berlaku kikir akan tetapi sifat ini juga menariknya untuk mengajak dan menyuruh orang lain berlaku kikir serta menyembunyikan karunia Allah swt. Firman-Nya.

“(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.”

Ayat yang lalu Allah menyatakan ketidaksukaan-Nya terhadap orang yang sombong dan membanggakan diri maka pada ayat ini Allah menyebutkan hal yang sama yakni Allah juga tidak menyukai orang-orang yang terus menerus berlaku kikir. Ini dapat dipahami dari penggunaan bentuk kata kerja fi’il muḍariʻ yang menunjukkan masa kini dan masa yang akan datang. Lebih lagi mereka tidak hanya kikir tetapi juga terus menerus menyeruh orang lain untuk berbuat kikir, baik dengan ucapan mereka dengan menghalangi kedermawanan maupun dengan perbuatan mereka yang memberikan contoh buruk dalam memberi sumbangan yang kecil bahkan tidak memberi sama sekali dan terus menerus menyembunyikan apa yang telah Allah anugerahkan kepada mereka dari karunia-Nya, misalnya dengan berkata “saya tidak memiliki sesuatu” saat diminta sumbangan kepadanya.

Orang seperti itu dinamakan dengan al-kufru yakni sikap menutupi nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, menyembunyikan dan mengingkarinya. Sehingga Allah menyebut mereka dengan kafir untuk memberi peringatan bahwa perilaku bakhil merupakan perwujudan dari sifat kufur. Tepatnya kufur terhadap nikmat. Karakter bakhil dalam ayat ini dapat juga berarti mereka yang menginginkan atau mengambil sebanyak-banyaknya dari masyarakat namun amat sedikit sekali dalam memberi. Hanya mau bersahabat dengan mereka yang akan membawa keuntungan dan mendatangkan harta bagi dirinya. Bahkan membanggakan sikapnya yang salah itu dan mengatakan itulah yang benar.

2.      Merasa Dirinya Cukup

Merasa dirinya cukup sehingga tidak lagi butuh orang lain bahkan Allah sekalipun sebagaimana firman-Nya : “Dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup”

Bakhil yakni tidak mau memberikan hartanya kepada mereka yang berhak diberikan serta tidak adanya keinginan untuk beramal jariyah sebab terlena akan hartanya. Ia mengumpulkan harta untuk dikuasai oleh hartanya sendiri sehingga menjadikan hatinya buta tidak mengenal kasih sayang, hidup tolong menolong dan bersilaturrahmi. Orang bakhil dengan hartanya merasa segalanya cukup. Ia takut ditolong orang sebab khawatir nantinya akan membalas budi baik dari orang yang telah menolongnya dengan menolongnya kembali. Sehingga orang yang seperti ini seolah mengingkari adanya kebaikan. Tidak percaya bahwa di dunia ini ada unsur-unsur kebaikan, baik kebaikan yang berhubungan dengan manusia maupun kebaikan dengan Allah selain didapatkan di dunia juga ditemuinya di akhirat kelak.

3.      Menahan dan Takut Membelanjakannya

Firman-Nya: Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". dan adalah manusia itu sangat kikir.

Sikap menahan dan takut mengeluarkan hartanya serta khawatir akan habis seperti ini tidak lain datang dari dorongan naluri kikir yang ada dalam diri manusia itu sendiri yang tidak mampu dikontrol dan dikendalikan sebab terlenanya dengan kehidupan duniawi dan melupakan akhirat. Ini merupakan gambaran yang paling tinggi dari sifat kikir. Padahal rahmat Allah itu meliputi segala sesuatu. Tidak dikhawatirkan akan lenyap ataupun berkurang. Akan tetapi karena jiwa-jiwa manusia yang sudah terlalu kikir serta sangat pelit itu, maka ketika mereka yang punya rahmat-rahmat Allah tersebut niscaya mereka akan tetap menahannya.

4.      Kikir Saat Mendapat Kebaikan dan Lupa Akan Ikrarnya

Sebagaimana firman-Nya: “Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir” Ayat ini menyebutkan tentang sifat naluri manusia. Kata hala’ secara bahasa dapat berarti sangat kikir, sangat buruk dan sangat keji kegelisahannya. Sehingga dipahami maksud ayat itu adalah manusia sesungguhnya tidak mampu bersabar baik terhadap kebaikan maupun pada keburukan, sehingga melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan baik pada kebaikan maupun pada keburukan. Pendapat lain menyebutkan kata al halū’ dapat berarti orang yang tidak pernah puas dan kata manu’ adalah orang yang tidak menunaikan hak Allah dari harta yang didapatkannya. Kemudian kebanyakan manusia lupa dan berpaling saat ia diberi kenikmatan oleh Allah sebagaimana firman-Nya:

“Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).”

Ayat ini turun berkenaan dengan harta Hathib bin Abu Balta‟ah pernah tertahan di negeri Syam maka ia pernah bersumpah di hadapan suatu majelis golongan Anshar bahwa apabila ia telah menerima kembali harta itu maka ia akan menyedekahkan sebagiannya dan memberikan sebagiannya kepada keluarganya. Akan tetapi setelah ia menerima hartanya itu ia menjadi kikir.

Lantas hal ini banyak terjadi di tengah kehidupan masyarakat ketika Allah mengabulkan harapan-harapan di antara mereka yang dulunya miskin sekarang mulai kaya menjadikan mereka bakhil. Mereka menganggap harta yang ada pada mereka tak lain adalah hasil jerih payah mereka sendiri dan mulailah terasa enggan untuk mengeluarkannya. Pada awalnya bakhil kemudian menjadikannya berpaling dan akhirnya menjadi tidak peduli.

Keberpalingan yang dilakukannya itu bukanlah secara tiba-tiba tetapi dengan segenap kekuatan dan dorongan jiwa yang telah menguasai dan mencegah mereka untuk bersedekah. Sehingga saat diingatkan akan kewajiban, mereka tidak akan ingat dan saat diperintahkan untuk memenuhi kewajiban itu, mereka tidak akan melakukannya.

5.      Cintanya terhadap Harta

Orang yang bakhil dengan hartanya disebabkan rasa cinta nya yang begitu besar dan terlalu terhadap hartanya. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.”

Mencintai dengan kecintaan yang banyak maksudnya berlebihan diiringi dengan ketamakan hal ini menjadikan manusia itu berupaya untuk terus mengumpulkannya kemudian menjadikannya kikir dan tidak mau menginfakkannya. Mencintai harta secara berlebihan merupakan sikap yang dikecam disebabkan sikap demikian menjadikannya abai terhadap yang lain. Ini juga menunjukkan cintanya kepada dunia sehingga menjadikannya kikir, congkak, sombong dan terkadang menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginan dan ambisinya, meskipun dengan cara mencuri, merampok dan korupsi. Orang seperti ini lupa bahwa semua itu tidaklah abadi dan tidak dapat dibawa mati. Sama halnya dalam firman-Nya: “Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.”

Kikir adalah salah satu akhlak yang harus dihindari. Anehnya, orang kikir sendiri justru menganggap perkara tersebut adalah sebuah kebaikan. Allah mengancam orang kikir yang melampaui batas kejahatannya (menganjurkan orang lain berbuat kikir) dengan menunjukkan kekuasaan Allah diatas segalanya tanpa bergantung kepada yang lain. Al-Quran mengancam pula logika berfikir orang kikir yang hanya mementingkan diri sendiri dan mencari alasan pembenaran atas sikapnya. Orang kikir itu lupa bahwa harta yang dia dapatkan itu adalah pemberian Allah yang Maha Kaya, maka berpalingnya dia dari ketentuan Allah tidaklah membuat Allah butuh padanya.

Memiliki kehidupan yang berkecukupan adalah idaman semua orang, sehingga dengan kondisi itu manusia tidak perlu bergantung atau mengharap bantuan dari yang lain. Nyatanya, kondisi hidup sering kali berubah-ubah. Manusia terkadang menghadapi hal sulit dalam kehidupannya sehingga berharap bantuan dari sesamanya, namun di waktu lapang manusia diuji dengan keprihatinannya kepada orang yang membutuhkan. Disini jati diri orang pelit akan tampak jelas. Sesuai dengan firman Allah Swt: “Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.”

Diantara manusia di waktu mendapatkan kenikmatan, akan timbul rasa enggan untuk berbagi yatu pelit berbagi kepada orang lain yang membutuhkan dan bahkan enggan menunaikan kewajibannya kepada Allah berupa zakat. Ayat diatas menunjukkan karakter orang pelit yang sesungguhnya. Orang pelit enggan berbagi dikala lapang tapi sangat berharap bantuan dikala butuh. Bantuan yang diberikan pun itu sangat terbatas sekali dari kemampuan yang bisa dia berikan. Sangat perhitungan dengan harta yang dimiliki. Allah Swt berfirman: “Serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi.” 

Sifat kikir menumbuhkan rasa yang berlebihan akan kehilangan harta. Makanya, orang kikir hidup penuh perhitungan. Bahkan jika dirinya memiliki harta yang banyak sekalipun dia tetap takut berinfak karena begitulah tabiat dan kecenderungannya.

Yahya bin Mua’dz berkata: “Aku heran dengan seseorang yang kikir dengan hartanya sedangkan Allah meminta pinjaman (menafkahkan hartanya di jalan Allah) tapi tidak ia berikan sedikitpun.” Menafkahkan harta di jalan Allah seperti memberikan modal investasi bisnis yang tidak mengenal rugi. Meskipun begitu, kesadaran sebagian manusia untuk berinfak masih sangat rendah.


Share:

Sifat Buruk Manusia yaitu Suka Berkeluh Kesah

 

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh”

(QS. Al Ma’arij: 19)

 

Setiap manusia tidak akan terlepas dari masalah. Berbagai macam masalah manusia dalam kehidupan ini secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori. Pertama, permasalahan yang berhubungan dengan diri sendiri. Kedua, permasalahan yang berkaitan dengan harta. Ketiga, permasalahan yang berhubungan dengan kehormatan. Keempat, permasalahan yang berkaitan dengan keluarga atau orang yang dicintainya.

Dalam hal ini tidak ada pengkhususan, masalah tersebut sifatnya umum baik itu orang mukmin yang shalih, para pendosa bahkan orang kafir. Para ulama menjelaskan bahwa manusia akan mengalami susah payah dalam menanggulangi suatu urusan dari perkara urusan dunia hingga perkara akhiratnya. Sesuai dengan Al-Quran yang menggambarkan bahwa manusia sejak dalam Rahim ibunya sampai dengan kematian bahkan sesudah kematiannya tidak pernah luput dari kesulitan demi kesulitan.

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”

Semua manusia Allah beri cobaan bukan hanya dalam memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga dalam memelihara serta melindungi diri dan keluarganya. Bahkan dalam upaya melakukan hal-hal yang baik, manusia juga masih harus berjuang menghadapi dirinya sendiri sebelum menghadapi orang lain. Setiap cobaan yang Allah berikan di dunia yang fana ini memiliki hikmah namun sayangnya manusia tidak menyadari hal tersebut dan lebih memilih untuk mengeluh dari pada menghadapinya dengan prasangka baik.

Sebagai contoh ketika manusia sudah menetapkan cita-cita kemudian usaha untuk memperoleh cita-cita tersebut Allah beri ujian, cobaan dan kesulitan dan pada akhirnya cita-cita yang didambakan tidak tercapai. Akibatnya, manusia menjadi stress, frustasi, cemas, dan khawatir. Pada umumnya hal tersebut wajar saja dialami oleh manusia, akan tetapi tentu akan lebih berbahaya jika berlebihan.

Dalam kenyataan sekarang ini, tentu sering terjadi kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Pada akhirnya akan melahirkan perilaku manusia yang suka mengeluh dan ingkar. Sifat dan perilaku tersebut Allah jelaskan dalam Al-Quran:

“Sungguh manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila di timpa kesusahan dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan (harta) ia amat kikir.”

Ayat diatas menegaskan bahwa pada umumnya manusia itu suka mengeluh. Mereka punya sifat buruk berupa keinginan (ambisi) yang berlebihan, sedikit kesabaran, banyak berkeluh kesah. Jika ditimpa kesulitan berupa kemiskinan atau sakit, mereka banyak mengeluh, meratapi nasib, mengutuk keadaan serta diliputi kesedihan yang berkepanjangan.

Tetapi sebaliknya, jika diberi kebaikan dan kemudahan berupa kesehatan yang sempurna, kekayaan melimpah, pangkat yang tinggi, jabatan yang baik, mereka cenderung bersifat kikir, sombong dan tidak peduli dengan orang lain.

Begitulah sifat buruk manusia pada umumnya. Ketika kesulitan hidup datang mendera. Dia merasa seolah-olah langit akan runtuh, bumi bergoncang dan dunia akan kiamat. Dia ceritakan penderitaannya kepada semua orang, dengan tujuan agar orang lain tahu bahwa dia sedang dalam keadaan susah, dengan harapan orang akan iba dan menaruh belas kasihan kepadanya. Sedikitpun dia tidak berpikir tentang betapa besarnya karunia serta nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.

Di sisi lain, ketika manusia tengah diliputi kebaikan dan kemudahan hidup. Lagi-lagi sifat buruknya muncul. Dia menjadi orang yang sangat kikir, tidak mau berbagi sedikit pun kebahagiaan yang dimilikinya kepada orang lain. Dia simpan dan genggam erat-erat nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.

Manusia berbangga diri dengan kekayaan melimpah yang dimilikinya. Dia menjadi jumawa dengan jabatan dan kedudukan yang telah berhasil direngkuhnya. Menjadi sombong dengan segala yang dimilikinya, menjadi lupa bahwa semua yang diperolehnya merupakan nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Karena sesungguhnya semua yang dimilikinya hanyalah titipan Allah semata.

Untuk menyadarkan kita semua akan sifat buruk ini, Allah berfirman: “Katakanlah (Muhammad) wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Allah memberikan uraian yang jelas bahwa segala kekuasaan, kelimpahan harta, kedudukan yang tinggi yang ada pada manusia semua berasal dari Allah. Sebaliknya, segala kehinaan, kerendahan, ketidakberdayaan akan Allah hadirkan kepada mereka yang terlena dan terbuai oleh tipu daya gemerlap dunia.

Keluh kesah merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Penyakit ini timbul disebabkan pengaruh kehidupan dunia yang penuh dengan ujian dan cobaan. Semua itu karena manusia disibukkan oleh kepentingan dunia. Sifat keluh kesah menunjukkan tidak adanya rasa percaya diri dan juga mengekspresikan keputusasaan. Sifat keluh kesah juga menurunkan rasa syukur dan lebih bahayanya seseorang yang memiliki sifat berkeluh kesah ini akan menunjukkan tidak antusias menghadapi hidup.

Penderita keluh kesah akan menjadikan seseorang murung, sedih, tidak menaruh harapan yang tinggi dalam hidup, dan lain sebagainya.  Penyakit ini akan mendobrak hati untuk berbuat dzalim, menimbulkan permusuhan, kebodohan, bahkan terjadinya pembunuhan.

Tidak ada satupun manusia yang tercipta secara sempurna. Setiap manusia pasti memiliki permasalahan untuk dikeluhkan, tetapi tidak dibenarkan untuk berkeluh kesah dalam ajaran Islam. Keluh kesah termasuk penyakit hati yang hanya akan menjadi penutup pintu-pintu solusi dari masalah yang sedang menimpa. Sifat tercela tersebut akibat ulah manusia yang menggunakan nikmat dan cobaan Allah dengan jalan yang tidak sesuai dengan jalan-Nya.

Allah Yang Maha Sempurna menjawab semua keluh kesah manusia dalam Al-Quran.

Keluhan manusia : “Saya lelah”

Allah menjawab dalam Surah An-Naba’ ayat 9: “….dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.”

Keluhan manusia: “Saya tidak sanggup dengan ujian/cobaan ini.”

Allah menjawab dalam surah Al-Baqarah ayat 286: “Aku tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Keluhan manusia: “Mengapa masalah ini sulit sekali?”

Allah menjawab dalam surah Asy-Syarh ayat 5-6: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Keluhan manusia: “Saya tidak mungkin bisa”

Allah menjawab dalam surah Yaa Siin ayat 82: “Apabila Allah menghendaki sesuatu, Allah hanya berkata: ‘Jadilah! Maka jadilah sesuatu.”

Keluhan manusia : Saya Stress”

Allah menjawab dalam surah Ar-Ra’d ayat 28: “Hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang.”

Keluhan manusia: Sia-sia sudah usaha yang telah saya lakukan.”

Allah menjawab dalam surah Al-Zalzalah ayat 7: “Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarrah niscaya ia akan melihat blasannya.”

Keluhan manusia: “Saya bersedih”

Allah menjawab dalam surah At-Taubah ayat 40: “Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”

Keluhan manusia: “Tidak ada orang yang mau membantu saya.”

Allah menjawab dalam surah Al-Mu’min ayat 60: “Dan Tuhanmu berkata, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.”




Share:

Pengikut

Definition List

Unordered List

Support